Alexavier Archie

Alexavier Archie
Perhatian Dady


__ADS_3

Jajaran gedung pencakar langit terlihat amat gagah dari sudut kota. Seorang gadis dengan kacamata hitamnya duduk dicaffe menunggu seorang. Secangkir cappucino hangat telah habis setangah saat seorang gadis lebih muda darinya menyapa.


"kakak" sapa gadis dengan rambut seatas bahu yang kemudian duduk disebrang seorang yang tengah menunggunya.


"aku harus kembali, kematian harus dibalas dengan kematian" sahut gadis yang dipanggil kakak itu.


"tidak! aku akan ikut denganmu kak, kita bisa menguasai dua lelaki itu. Tak akan ada yang dapat menolak kecantikan juga kemolekan kita berdua" mereka berdua terlihat sangat serius dengan sesekali menatap gedung-gedung disekitar mereka.


...


"mamy! mamy!" seru Divya begitu Belen memasuki pintu rumah.


"tidak nona kecil, mamy harus banyak istirahat, tidak ada gendongan dari mamy sampai mamy benar-benar sembuh" Ibra merengkuh tubuh kecil Divya saat berlari menuju Belen dengan menjulurkan tangannya rindu digendong mamynya.


"iya sayang, mamy kan masih sakit, Divya gendong Oma aja ya" imbuh Oma Riri menghampiri.


"dady, aku mau peluk aja" tawar gadis dengan setelan baju bunga-bunga itu.


"aku ngga papa abang" Belen pun menunduk dan memeluk erat anak kecil yang amat dirindukannya.


"banyaklah istirahat Belen, katakan pada Oma bila kau membutuhkan sesuatu ya" ucap Oma mengusap lembut pundak Belen.


"Belen sudah tak apa Oma" jawab Belen dengan senyum dibibirnya.


"ayo istirahat dulu, nanti lagi temu kangennya" ujar Ibra merengkuh tubuh Belen dan mengajaknya kekamar.


Dengan sangat hati-hati Ibra membantu Belen berjalan meski sebenarnya Belenpun mampu berjalan sendiri.


Belen didudukan diranjangnya, dengan cekatan Ibra menjulurkan selimut menutup kaki Belen hingga paha. Meletakan obat juga air putih dinakas dekat Belen bersandar.


"mau makan buah?" tawar Ibra dengan memegang apel ditangannya dan siap mengupas dengan pisau kecil ditangan kanannya.


Belen hanya tersenyum dan mengangguk dengan perlakuan manis Ibra beberapa hari ini. Usai mengupas apel, Ibra menyuapkan potongan kecil pada Belen.


"abang" ucap Belen lirih.


"hm" jawab Ibra yang masih sibuk memotong kecil apel.


"terimakasih" Ya Belen benar-benar tak menyangka seorang Ibrahim Ankawijaya yang amat terkenal dingin pada wanita, seorang Alexavier Archie yang sangat kejam pada musuhnya bisa sehangat ini padanya.


Ibra hanya tersenyum dan kembali menyuapkan potongan apel untuk istrinya. Hanya ada senyum yang mengembang samar di bibir keduanya tak ada obrolan lain hingga apel habis separuh.

__ADS_1


srekk


"ada apa?" ucap Ibra saat mendapat pelukan dari Belen.


"terimakasih abang mau menerima dan menjaga Belen" Belen merasa sangat bahagia karena kini dia punya tempat untuk bersandar dan melewati hidupnya kedepan.


"kau istriku, itu kewajibanku, cepatlah sembuh" balas Ibra dengan mencium pucuk kepala Belen.


Usai makan malam yang amat panjang karena Divya terus saja bertanya ini dan itu, juga amat manja pada Belen akhirnya Ibra meminta Belen untuk kembali kekamarnya dan meminum obatnya. Semua keperluan Belen Ibra yang menyiapkan termasuk mengganti perban pada luka Belen.


"duduklah, aku akan mengganti perbanmu" dengan perlahan Ibra menyingkap blouse yang dikenakan Belen.


Meski hanya bagian perut yang terlihat hal ini selalu membuat jantung Ibra berdetak menahan hasratnya. Dengan perlahan dibukanya perban yang menutup luka yang telah dijahit itu, membersihkannya perlahan dengan sesekali melihat eksprei Belen yang menahan perih.


"apa masih sakit? Tahan sebentar lagi" Ibra memang pernah bahkan beberapa kali mendapat luka tusuk juga tembakan tapi dia tidak menganggap rasa sakitnya.


"tidak, abang jangan terlalu khawatir" Belen selalu mencoba untuk berucap baik-baik saja.


Setelah keduanya berganti pakaian dan Ibra selesai membersihkan diri, dia memilih duduk disamping Belen yang sedang membaca laporan penjualan yang dikirim oleh Sella. Belen yang menyadari Ibra berjalan kearahnya mematikan ponselnya dan menaruhnya diatas nakasnya.


"abang beristirahatlah, bukankah abang harus kekantor besok?" ucap Belen saat Ibra menyandarkan punggungnya diranjang.


Entah sejak detik keberapa bibir keduanya sudah saling bersambut, Belen pun tak menolak karna tak bisa dipungkiri rasa itu mulai tumbuh dihatinya. Merasa ciumannya terbalas Ibra terasa panas menjalar seluruh tubuhnya. Tangannya berjalan kebagian tubuh Belen yang cukup menonjol itu.


"apa tak apa jika sekarang?" ucap Ibra dengan nafas tersengal setelah ciuman yang cukup lama.


Belen yang juga sedang berusaha mengatur nafasnya hanya terdiam kemudian mengangguk pelan. Mendapat persetujuan Ibra dengan pelan melepas pakaian yang menutup tubuh mulus istrinya.


Setelah bermain-main dan tak bisa menahan hasratnya karena suara-suara yang keluar dari mulut Belen, Ibra pun melangsungkan acara opening disana. Dengan perlahan penyatuanpun berlangsung. Belen tetap terlihat merintih meski Ibra melangsungkannya dengan lembut, hingga sesuatu yang telah lama ditahannya berhasil keluar.


...


Meja makan sudah sangat ramai dengan ocehan Divya yang merajuk karena Adam terus menggodanya, Oma hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Adam yang selalu jahil kepada keponakannya.


"kenapa dengan Belen Ibra?" Oma meletakan kotak susu yang sedang dipegangnya yang berjalan cepat menuju tangga saat melihat Belen berjalan turun tangga dengan menahan sakit dengan Ibra membantunya berjalan perlahan.


"apa jahitannya rusak? bawa dia kerumahsakit Ibra" imbuh Oma meraih sisi kiri Belen.


"tak perlu Oma lukanya sudah tidak apa-apa" jawab Belen yang sudah duduk dikursinya.


"iya Oma, biar dia sarapan dan minum obatnya dia pasti akan lebih enakan" Imbuh Ibra menenangkan Omanya.

__ADS_1


"kakak ipar benar tak apa?" kini ganti Adam bertanya.


"lukanya sudah sembuh Adam, aku tidak apa sungguh" jawab Belen yang sedang menyuap Divya.


"Divya makan sendiri anak pintar, mamy engga boleh capek-capek ya, Divya harus jadi anak pintar oke?" ujar Ibra yang melihat anak kecil itu begitu manja pada istrinya.


engga boleh capek gimana, dia sendiri pagi buta sudah membuatku lelah hingga susah berjalan begini.


Kini Belen berada dirumah sendiri, Ibra juga Adam berangkat ke kantornya, sementara Oma sedang mengantar Divya kesekolah. Tak ada yang dilakukannya didalam kamarnya, ya karena memang dia belum boleh melakukan hal berat agar lukanya cepat kering.


kling


-Ibra- Belen belum sempat mengganti nama kontak suaminya.


(chat room)


Ibra : Jangan lupa makan buah dan minum air putih. Juga jangan dulu menggendong Divya atau melakukan hal berat lainnya.


Belen : Iya aku mengerti


Ibra : Duduk saja jika berjalan masih sakit


(--)


Belen kembali merasa sedikit kesal karena Ibra memaksanya berhubungan lagi pagi tadi. Tapi disisi lain Belen merasa bahagia Ibra benar-benar mau menerimanya meski Belen pun belum tahu pasti apakah Ibra juga mempunyai perasaan yang sama sepertinya.


...


Dikantor Ibra yang baru saja selesai makan siang dengan Adam, Raka juga Louis, kedatangan teman lama yang sudah menghubunginya sejak semalam.


"selamat siang tuan Ibrahim" sapa seorang wanita dengan dres merah setas lutut.


"Casandra! duduklah" sapa Ibra dan mempersilahkan wanita itu duduk disofa.


.


.


.


BANTU LIKE YUK KAWAN-KAWAN, JANGAN LUPA TULIS KOMENTAR BUAR LEBIH RAME

__ADS_1


__ADS_2