Alexavier Archie

Alexavier Archie
Apa Yang Kau Lakukan!


__ADS_3

Menjelang dini hari Ibra dan Adam sudah berada didalam mobil mereka menuju hotel. Raka pun mengabarkan dia baru saja memasuki kamarnya.


Ibra masuk kedalam kamarnya pukul satu dini hari. Dia melepas semua pakaiannya dan mulai beristirahat.


...


"hai Amanda baru aku akan mengetuk pintu mu" sapa Adam dengan pakaian rapinya berdiri tepat didepan pintu kamar Amanda.


"ah hai, apakah aku kesiangan?" balasnya dengan senyum.


Adam melihat arloji berwarna silver yang melingkar ditangan kananya.


"tidak, ini masih pukul 7 kurang, aku hanya ingin mengajakmu turun bersama, abang dan Raka sudah dibawah"


Amanda hanya mengulas senyum, mereka berdua berjalan beriringan menuju lift menuju lantai dasar untuk sarapan.


tring


Pintu lift terbuka, nampaknya hanya mereka berdua penghuni disana.


Entah angin apa Adam menahan pandangannya pada sosok disampingnya. Gadis dengan rambut bergelombang sebawah bahu berwarna coklat terang.


"kau terlihat cantik Amanda" ucapnya pelan namun membuat Amanda salah tingkah. Ah sepertinya mulut Adampun lepas kontrol.


"ah maaf Amanda aku tidak bermaksud, ehm aku hanya mencoba memujimu" ucap Adam dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"apa kau juga melakukan rayuan itu kepada setiap wanita?" Amanda hanya tersenyum menanggapi Adam, sebenarnya dia juga sedang menyembunyikan mukanya yang terasa panas.


Tring


Begitu pintu lift terbuka Amanda dengan cepat melangkah keluar dengan senyum mengejek ke arah Adam. Adam malah salah tingkah sendiri melihat wajah lucu Amanda.


...


Usai sarapan mereka berempat mengarah kemobil mpv putih keluaran terbaru itu. Kini mereka menuju kantor cabang Anka Group untuk melakukan pengecekan.


Tak lama, 20menit membelah jalan raya yang cukup padat dijam kerja mereka sudah berada diloby kantor dan menuju ruang pertemuan.


"Selamat pagi Tuan Ibrahim, Tuan Adam" sapa pimpinan kantor cabang itu melihat dua bosnya memasuki ruangan.


"Baik cepat selesaikan, saya sudah mengatakan untuk beres pagi ini juga, jadi saya mau melihat perkembangan akhirnya, saya tidak suka buang-buang waktu" ucap Ibra tegas. Ya dia memang terkenal galak oleh para karyawan dikantornya.


...


Setelah semua urusan selesai empat orang itu melakukan perjalanan menuju bandara.

__ADS_1


Tak lama perjalanan pesawat yang mereka tumpangi pun mendarat dibandara kelas international kota X. Setelah mengambil barang bawaan mereka pergi menuju mobil jemputan.


"Raka, Amanda kalian bisa langsung pulang kerumah, tak apa kan kalian satu mobil?" suara Ibra memecah perjalanan mereka menuju pintu keluar.


"tak apa tuan Ibra, terimakasih" sahut Amanda dengan senyum.


"Raka, aku titip ya antarkan dia hingga masuk gedung apartnya" kini Adam yang bersuara.


Raka hanya memberi isyarat dengan mengangkat ibu jarinya.


...


"sepertinya kau tambah dekat dengan dia" ucap Ibra melirik Adam yang ada disisi kirinya.


"ya kami bertemu dan bekerja bersama bang" Adam tertawa.


"memangnya kau selalu begitu dengan bawahanmu?" selidik Ibra.


Adam hanya tersenyum dan memalingkan pandangannya keluar jendela mobil.


"apapun itu selalu gunakan logikamu" imbuh Ibra yang tak mendapat jawaban.


...


Jam menunjukan pukul 2 siang Belen yang baru saja menerima notifikasi dari Ibra dan bersiap pulang dari tokonya. Ia harus menyambut suaminya yang barusan kerja luar kota itu.


Hah lelah sekali rasanya hari ini, pesanan banyak, orderan untuk popular caffe juga dua kali lipat, dari pagi aku buka pun toko ramai, senang sih tapi capek banget.


...


"mamy ayo kita kehalaman belakang, Yaya mau lihat kupu-kupu" ajak gadis kecil dengan dress kuning bermotif bunga.


"ayo sayang kita tunggu dady pulang disana" sahut Belen dengan menggandeng tangan mungil itu.


Divya berlarian kesana kemari, bermain ayunan dengan riangnya, hari ini tak begitu panas cocok untuk main dihalaman belakang.


Belen menunggui Divya main sembari duduk disebuah bangku taman dekat kolam renang. Melihat gadis kecil itu berlarian sungguh membuat hatinya senang.


Bahagia sekali melihatnya tersenyum senang begitu. Aku jadi tidak bisa bayangkan bagaimana jika dia mengetahui kenyataan bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal. Apakah dia nanti bisa menerima Ibra dan aku sebagai orang tuanya sama seperti sebelum ia tau kenyataan pahit itu.


Aku juga sebenarnya tidak siap mengahadapi kenyataan bila nanti identitasku sebenarnya terkuak, aku juga yakin Divya nanti ikut sedih. Aku tak masalah bila mereka merendahkanku soal statusku sebelumnya, tapi sepertinya aku juga tidak akan tega bila mereka menyangkut pautkan dengan status Divya nantinya.


"Divya!" suara teriakan Ibra membuyarkan lamunan Belen dan,


Byur!

__ADS_1


Divya terjebur kedalam kolam renang. Ibra yang melihat hal itu langsung berlari cepat dan ikut masuk kedalam kolam menyelamatkan gadis kecil itu. Adam yang berada dibelakang abangnya pun ikut berlari menuju kolam dan membantu Divya juga abangnya untuk naik.


Belen dengan mata berkaca-kaca menghampiri mereka yang berdiri disebrang kolam tempat ya duduk.


"divya tak apa sayang?" tanya Adam panik, setelah membawa Divya naik.


"Tidak om Yaya kan jago berenang" jawab gadis itu dengan tubuh basah kuyup.


"Divya ma-maafkan mamy sayang" Belen memeluk tubuh Divya.


"ada apa ini?" oma muncul dari balik pintu dengan susternya Divya.


"ya tuhan nona kecil!" suster pun panik melihat tuan besar dan nona kecilnya basah kuyup.


"mbak gantikan Divya baju dia bisa kedinginan" Oma menyuruh suster itu membawa Divya masuk.


Bagitu Divya dan suster itu menghilang dibalik pintu.


"apa yang kau lakukan Belen!" Bentak Ibra kepada Belen.


"kau itu sedang apa! Divya berada dipinggir kolam sendirian dan kau diam saja!"


Belen tak bisa menjawab baru ini dia dibentak sekeras itu oleh Ibra, air matanya lolos begitu saja.


"abang sudah, gantilah baju dulu, Divya juga tidak apa bukan?" ujar Adam mencoba menenangkan abangnya.


Ibra langsung berlalu meninggalkan tiga orang disana. Adam pun menyusul dibelakangnya. Adam tahu persis bahwa abangnya selalu mengkhawatirkan Divya seperti anaknya sendiri, dia juga panik saat melihat Divya tersungkur kedalam kolam. Tapi ia juga tak tega melihat Belen yang dibentak oleh abangnya itu.


"maafkan Belen oma" lirih Belen kepada Omanya.


"sudah, sekarang temui suamimu siapkan baju untuknya"


Belen hanya mengangguk dan masuk menuju rumah, tapi ia mencoba masuk kamar Divya dulu untuk memastikan kondisinya.


...


"nyonya Belen sungguh maafkan saya, saya meninggalkan nona kecil saat bermain diluar" kata suster Divya.


"tidak mbak, aku yang tidak memperhatikan Divya" Belen masih mendekap tubuh mungil Divya. Kemudian meninggalkannya menuju kamarnya.


Belen membawakan segelas susu hangat juga menyiapkan pakaian ganti untuk Ibra. Sebenarnya ia sangat takut sekarang tapi dia harus meminta maaf atas keteledorannya.


ceklek


Pintu kamar mandipun terbuka, Ibra mengambil baju dilemarinya tanpa memperdulikan baju yang telah disiapkan untuknya.

__ADS_1


Belen hanya menghela nafas panjangnya melihat hal itu.


__ADS_2