
"harusnya kita habisi mereka ketua" geram Raka yang sealan tidak terima dengan ucapan yang Titan katakan"
"ini bukan sekedar masalah menghabisi" Alexavier menginjak puntung rokok yang barusan ia hisap, dia bukan suka merokok namun jika sedang banyak pikiran begini dia jadi suka dengan rokok.
"setiap musuh yang mengibarkan bendera perang harus menanggung penderitaan yang lebih dari sebuah pelenyapan. Kita harus menunjukan semua yang kita punya agar kelompok lain tidak lagi bermain-main dengan Galaxy" badan tegap yang menghadap ke arah luar jendela ia balikan menatap anak buahnya yang duduk mengitari meja marmer diruang utama markas mereka.
"kita terlalu terburu-terburu menghabisi Gerhana aku khawatir ada akar yang masih tertancap" sambungnya duduk dikursi yang menjadi ujung dari meja.
Raka, Louis, Dominic, Ivan, Grey, Martin bahkan Max sedang berkumpul disana. Mereka sengaja berkumpul untuk membicarakan taktik kedepan untuk menghadapi Titan. Kumpulan yang dikenal dengan kelicikan dan kekejian mereka.
Anggota difokuskan untuk mengamankan wilayah-wilayah mereka. Juga mengawal keluarga Ankawijaya. Dengan kondisi Kenrich yang belum pulih membuat mereka harus lebih lagi berhati-hati, membuka lebar mata mereka, menajamkan pendengaran dan meningkatkan kemampuan mereka.
...
Setelah berdebat panjang dengan suaminya Belen akhirnya diperbolehkan berkunjung ke toko, ia benar-benar rindu lebih dari seminggu tak mengunjungi toko kuenya. Aroma kue disetiap sudut ruangan itu amat menenangkan baginya. Sela, Nana juga Romi sudah mendengar berita kehamilan Belen mereka juga amat senang dengan hal itu.
Bahkan pagi sesaat Belen tiba di toko kue setelah mengantar Divya ke sekolah Ibra pun berkunjung. Dia menyampaikan banyak pesan juga larangan yang harus Belen patuhi, tentunya Sela juga Romi mendapat tanggung kawab lebih menjaga Belen. Romi bahkan dibuat geleng-geleng mendengar penuturan seorang Ibrahim Ankawijaya mengatakan secara rinci dan berulang kali, berbeda dengan sosok Alexavier yang ia kenal sebagai ketua yang tegas dan dingin.
"nah sudah semua kan? aku akan mengantar puding juga kue ini ke Popular Caffe aku juga sudah lama tidak kesana" ujar Belen memandang empat tumpuk box ukuran besar dimeja kasir yang baru saja Sela siapkan.
"kak Belen tuan Ibra akan marah nanti kalau kaka kecapekan" Sela buru-buru menghampiri bosnya yang berniat pergi itu, pasalnya selama seminggu itu Romi yang bertugas mengantar kue.
"biar aku saja kak Belen" Romi mengangkat 2 box kue menuju motornya.
"ayolaahh aku hanya akan duduk didalam mobil aku bahkan tidak menyetir sendiri, kalian ini sama-sama berlebihan! Romi masukan semua itu kedalam mobilku, aku akan mengantarkannya lihat ada Dom yang siap mengantarku kemanapun" Belen mengarahkan pandangannya pada sopir serta pengawal pribadinya Dominic yang mendapat tugas langsung dari ketuanya.
__ADS_1
Dominic juga melakukan penyamaran, dia menggunakan rambut palsu juga memakai lensa mata serta mengenakan masker. Jika ia menampakan sosok aslinya tentu akan memancing para musuh untuk datang.
Pejalanan tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke Popular Caffe yang juga usaha milik Ibrahim Ankawijaya. Dominic menurunkan box kue dibantu oleh karyawan, sementara Belen memasuki ruangan kantor, biasanya dia mendapat laporan kue ataupun puding yang sedang banyak diminati sehingga ia tahu apa yang akan dibawa besok hari.
Dominic dengan setia berdiri di samping pintu, pandangannya fokus dengan keadaan sekitar. Didepannya Belen sedang mendengarkan laporan dari manajer caffe. 15 menit berlalu kemudian Belen mengajak Dominic untuk kembali dan menjemput Divya mengingat 30menit lagi jam pulang anaknya.
Belen melangkah keluar dari ruang kantor setelah Dominic membukakan pintu kaca itu. Senyumnya mengembang saat beberapa karyawan menyapanya. Ya Belen memang sangat terkenal ramah pada karyawan di caffe suaminya itu.
"Belen!" panggilan seseorang membuat wanita berbalut dress berwarna cream dengan cardigan coklat tua menolehkan kepalanya mencari sumber suara.
Dominic memasang tubuh siaga saat melihat sosok yang mendekat. Matanya terus tajam menatap seorang dengan kemeja maron dan jas berwarna hitam itu. Tanpa melihat jelas sebenarnya ia juga tahu siapa laki-laki yang sedang mengarah ke arahnya.
"oh hai Nano!" Belen kembali tersenyum ramah meski dihatinya muncul perasaan berhati-hati setelah pertemuannya yang dikenalkan Alexavier sebagai Lady.
"apa yang kau lakukan disini? apa kali ini kau juga bersama suamimu?" Dev Armano sekilas meirik pria disamping Belen dengan setelan celana dan kemeja hitam dengan masker yang menutup sebagian wajahnya.
"maaf nyonya kita harus segera pergi" suara Dominic membuat dua orang yang sedang berbincang itu menoleh padanya.
"oh iya, maaf Nano aku harus segera pergi lain kali kita bisa mengobrol lagi" Belen melambaikan tangan dan keluar menuju tempat mobilnya terparkir.
Dominic membukakan pintu sedang Belen hendak masuk kedalam mobil sebelum sebuah suara mengagetkan seluruh pengunjung dan karyawan caffe terdengar.
dorr
doorr
__ADS_1
dorr
Dominic reflek mendorong pelan tubuh Belen agar masuk kedalam mobil setelah suara tembakan pertama terdengar.
Armano yang masih menjatuhkan pandangannya pada teman lamanya itu melebarkan matanya melihat mobil yang Belen tumpangi mendapat serangan bahkan ditempat umum seperti ini. Dia berlari keluar dan berusaha meraih pistol yang ada di balik jasnya. Ia mengambil posisi bersebrangan dengan Dominic, ia bisa melihat jelas bahwa pria yang menjadi sopir pribadi Belen itu tengah mengarahkan pistol ke tempat dimana tembakan berasal.
dorr
Satu tembakan Dominic langsung mengenai pelaku penembakan dan membuatnya terjatuh ke lantai.
berjarak 50 meter dari caffe ada sebuah gedung apartemen 20 lantai, dilantai 5 ada seorang sniper yang mengarahkan tembakannya pada mobil milik Belen yang sudah dirancang anti pleuru itu. Selang satu menit setelah suara tembakan ketiga sudah tidak terdengar suara tembakan lagi.
Dev Armano masih memperhatikan sopir pribadi itu tengah melakukan panggilan mungkin memberi kabar pada bosnya bahwa mereka mendapat serangan. Dia mencoba mendekat dengan mengangkat dua tangannya ia tahu pria didepannya bukan orang sembarangan.
"maaf tuan sebaiknya anda menjauh sekarang" sebelum Armano bersuara Dominic sudah mendahuluinya.
Dominic membuka pintu belakang dan memeriksa keadaan Belen.
"nyonya tidak apa?" tanyanya dibalik pintu.
"ti-tidak Dom aku hanya kaget, aku kita segera pulang aku takut Divya dalam masalah" Belen teringat pada anaknya, takut-takut Divya akan menjadi sasaran empuk.
"para pengawal sudah berada disana nyonya, aku sudah memberitahu tuan Ibrahim, kita akan bertemu setelah menjemput nona kecil" Belen mengangguk dengan raut tegangnya.
"tunggu tunggu! beri aku sedikit waktu" Dev Armano melebarkan langkahnya sebelum Dominic menutup pintu.
__ADS_1
"Belen apa yang sebenarnya terjadi ? apa tuan Ibrahim memiliki masalah dengan seorang mafia?" Dev Armano terlihat panik bagaimana pun Belen adalah teman kuliahnya juga wanita yang pernah ia dambakan.
"maaf Nano aku tidak bisa menceritakan padamu aku harus pergi. Ayo jalan" setelahnya Dominic melajukan mobilnya dan meninggalkan kerumunan pegawai dan pengunjung yang ikut kaget demgan kejadian beberapa saat lalu