
Suasana kantor terlihat ramai seperti biasa, Adam dan Amanda munuju ke mobil yang sudah terparkir didepan loby. Pagi ini mereka akan mendatangi pertemuan dengan seorang pengacara mengenai tindak lanjut tanah yang pernah bermasalah beberapa waktu lalu.
Adam sudah melepas penyangga tangannya tapi meski begitu dia belum kuat untuk menyetir sendiri sehingga masih diantar oleh sopir. Tujuan mereka kali ini ada sebuah kantor pengacara yang tak jauh dari gedung AnkaGroup.
Sebelum melangkah keluar ia berpapasan dengan abangnya yang baru saja keluar dari mobil pribadinya.
"loh abang dari mana? bukannya tadi abang ada diruangan?" tanya Adam.
"aku baru dari toko kue Matahari menemui Belen sebentar"
...
Pertemuan dengan pengacara itu berjalan mulus. Mereka mempercayakan urusan itu pada seorang yang sudah bekerja sama dengan AnkaGroup bertahun-tahun. Meski urusan ganti rugi sudah terselesaikan namun mereka harus meluruskan urusan surat-menyurat agar tidak terjadi masalah kedepan.
Amanda sedari tadi terlihat tegang dan berkali-kali melihat ponsel juga jam ditangannya. Wajah cantiknya tak secerah biasanya, ia terlihat banyak diam kecuali bila Adam memintanya menyampaikan sesuatu.
"ada apa Amanda?" Adam memecah keheningan didalam mobil yang sedang menuju ke sebuah restoran tempat meeting dan makan siang bersama client selanjutnya.
Amanda menoleh kaget ke arah Adam, lelaki yang membuat harinya berwarna.
"tidak, bukan apa-apa pak" ia memilih menggunakan bahasa formal karena ada sopir kantor yang bisa mendengar pembicaraan mereka.
20 menit memebelah jalanan mobil MPV putih yang mereka tumpangi berhenti di sebuah restoran elit ditengah kota. Dua orang yang sama rapinya dengan balutan kemeja serta jas itu menuju meja yang sudah ditempati oleh empat orang client mereka.
Mereka duduk ditempat yang sudah dipersiapkan. Tanpa basa-basi pihak client mulai memperlihatkan layar laptop yang sudah dipenuhi dengan grafik baik berbentuk batang maupun lingkaran. Adam seksama mendengar dan memperhatikan presentasi yang sedang disuguhkan kepadanya.
"Amanda tolong tunjukan form persyaratan kepada rekan kita" tidak ada jawaban setelah beberapa saat membuat Adam menoleh pada Amanda yang sedang melamun.
"Amanda!" seru Adam sedikit kencang dan berhasil membuat Amanda menoleh kaget, kemudian membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
"maaf pak, ada yang bisa saya bantu?" Amanda benar-benar terlihat kosong dan berantakan tidak seperti biasanya.
Setelah mengulangi perintah dan melanjutkan pertemuan mereka Adam meminta waktu untuk berbicara pada Amanda sebentar sebelum mereka melanjutkan acara makan siang.
Amanda mengekor dibelakang tubuh kekar Adam. Mereka menuju sisi samping restoran dimana tak banyak pengunjung disana. Adam menghentikan langkahnya kemudian berbalik badan tanpa aba-aba membuat Amanda menubruk dada bidang milik Adam.
"ma-maaf pak, saya tidak tahu anda berhenti" Amanda menundukan kepalanya tak berani menatap Adam yang sudah menunjukan raut curiga.
"ada apa denganmu Amanda? pikiran apa yang sedang mengganggumu? kamu enggak fokus Amanda" dua tangan Adam sudah diletakan dipundak Amanda, matanya terus tertuju pada wajah Amanda yang terus menunduk.
"lihat aku Amanda" satu tangannya mengangkat lembut dagu wanita yang memenuhi hatinya.
"hei, katakan padaku" kening Adam berkerut melihat mata Amanda sudah berkaca-kaca.
Tanpa aba-aba dan tanpa memperdulikan sekitar Amanda memeluk tubuh Adam, menghirup dalam-dalam aroma yang ia yakini dapat menenangkan dirinya. Sontak dengan air mata yang mulai menetes namun sorot mata yang tajam Amanda menatap Adam.
"Amanda stop!" Adam mengehntikan langkah mereka ketia tepat berada didepan pintu kaca yang mengarah keluar.
"engga ada waktu Adam, kamu dalam bahaya please kamu harus pergi sekarang, aku akan disini mengelabuhi mereka" pernyataan Amanda menambah rasa bingung pada diri Adam.
"apa?! dalam bahaya? mengelabuhi mereka? apa makasudmu Amanda? mereka siapa dan bahaya seperti apa?" Amanda menarik nafas beratnya ia tak tahu apa yang ia perbuat ini, harusnya ia tidak begini tapi rasa cinta yang mulai tumbuh dihatinya lebih kuat dari rasa takutnya.
"kumohon pergi sekarang! hubungi orang-orangmu untuk mengawalmu kembali, tolong dengarkan aku, pergi dari sini sebagai seorang Kenrich Archie" Mata Adam membulat sempurna, detak jantungnya berpacu seperti mau meledak mendengar sebuah nama yang diucapkan Amanda padanya.
Kali ini ia tahu bahaya macam apa yang akan ia hadapi, tapi satu yang tidak ia pahami apa hubungan Amanda dengan semua ini? mengapa Amanda dapat mengetahui penyerangan yang akan menimpa dirinya.
Tanpa bertanya kembali Adam langsung meraih satu tangan Amanda dan menyeretnya keluar dari restoran, satu tangannya lagi ia gunakan untuk memberi sinyal bahaya kepada markas agar segera menuju kelokasinya.
"lepaskan aku Adam! aku akan disini mengelabuhi mereka! kumohon pergi dan tinggalkan aku disini!" Amanda melepas paksa tangannya dari Adam.
__ADS_1
"aku ngga akan biarkan kamu dalam bahaya Amanda! aku tidak gila! terlepas dari semua fikiran gilaku padamu kali ini aku tidak perduli itu dan kita akan pergi dari sini bersama!" Adam kembali mencekal tangan wanita yang ada dihadapannya dan mencoba kembali melangkah.
dorr
Adam menarik cepat tubuh Amanda kepelukannya, ia sudah memperkirakan adanya snipper yang mengincar sehingga ia menarik Amanda melewati pepohonan, meski tak rindang paling tidak akan membuat para snipper sulit membuat fokusnya. Kini meruka berdua berada dibalik pohon, Adam bisa memperkirakan arah peluru karena hanya ada satu gedung lumayan tinggi didekat mereka. Amanda sudah memintanya lewat samping tapi dari atap gedung tersebut masih bisa melihat pergerakan mereka meski jarak tembak cukup jauh.
doorr
Sekali lagi suara tembakan terdengar, para pengunjung sudah berteriak mencari tempat berlindung. Adam mengepalkan tangannya, ia tidak bisa menyerang dengan hanya pistol yang ada dibalik jasnya, jarak mereka sangat jauh ia hanya berharap anak buahnya segera tiba dan menyadari lokasi penyerang.
doorr
doorr
door
Tembakan kali ini berasal dari pihak Galaxy yang langsung mendekat, mereka memang tidak berada jauh dari para ketua mereka, itu salah satu teknik untuk menghadapi serangan mendadak. Ada sedikit nafas lega saat anak buahnya datang mereka memang sangat bisa diandalkan.
"anda tidak apa?" tanya seorang tim pengawal Adam.
Adam hanya menggeleng dan menatap tajam lokasi tempat penyerang itu berada.
"dia berhasil kabur ketua, maaf kami kurang cepat bertindak, kami akan membentuk tim baru untuk mengepung area gedung tersebut" tak lama sebuah mobil mendekat dan membawa Adam dan Amanda pergi dari tempat tersebut.
Adam terus menatap Amanda yang mencoba membuang muka menghadap kejendela. Pikirannya amat buruk mengenai Amanda kali ini, bagaimana gadis itu mengetahui detail penyerangan yang akan terjadi padanya, dan sejak kapan Amanda mengetahui jatidirinya bahwa ia adalah Kenrich Archie, yang berarti juga mengetahui soal Alexavier Archie.
"ketua, ada sinyal masuk, Lady juga mendapat serangan diwaktu bersamaan, sepertinya ini memang terncana" ujar sopir yang sedang membawa mereka.
Adam memang kaget, tapi Amanda lebih kaget lagi bahkan ia tak sadar menatap mata Adam kali ini.
__ADS_1