
Semalaman Ibra juga Belen menginap di markas utama, dan pagi-pagi sekali mereka memilih pulang sebelum masuk jam sarapan. Dengan Mercy AMG milik Ibra mereka melenggang cepat dijalan raya yang masih sepi menuju kediaman Ankawijaya.
Dengan cepat Belen turun dari mobil, berlari kecil menuju kamar gadis kecil yang amat ia rindukan. Dan disana gadis kecil itu sedang menolak dimandikan oleh susternya.
"nona kecil mau mandi sama mamy?" ucap Belen diambang pintu.
Divya yang menyadari kedatangan mamynya langsung berlari kepelukan wanita yang dirasa sangat hangat itu.
"mamy mana adek bayinya? kenapa Yaya ngga diajak sih kan Yaya bisa pilih" protes gadis kecil dengan setelan piyama bergambar unicorn itu.
"nanti ya, adek bayinya pengen punya kakak yang pintar jadi Divya harus rajin sekolah dulu" Belen selalu berhasil membujuk anak kecil itu.
Dengan telaten dan seperti biasa Belen mengurus semua kebutuhan Divya untuk berangkat sekolah. Belen hanya berganti baju setelah menyempatkan mandi sebelum pulang tadi.
Setelah berganti pakaian Belen menyempatkan untuk menyiapkan pakaian suaminya. Dan persis saat itu Ibra keluar dari kamar mandinya.
"aku sudah siapkan pakaianmu, maaf aku lupa menyiapkan air mandimu, aku sangat rindu Divya" ujar Belen dengan memalingkan wajahnya karna kebiasaan Ibra yang hanya melingkarkan handuk dipinggangnya.
Ibra tak memperdulikan ucapan Belen, dia malah menarik istrinya untuk masuk dalam pelukannya.
"Divya selalu mendapat apa yang dia mau, jadi mulai sekarang kita harus memupuk rasa itu agar tumbuh subur dan menghadirkan adik bayi untuknya" Ibra meletakan dagunya di pundak Belen yang amat menarik perhatiannya.
Dengan lembut menghirup aroma tubuh istrinya yang mulai menjadi candu untuknya. Perlahan diciumnya leher jenjang yang terbuka karena Belen menguncir rambutnya.
"abang lepaskan geli, Divya sudah menungguku" Belen mulai panik saat merasa ada sesuatu yang keras dibagian tubuh suaminya.
Ibra tak memperdulikannya, dia merasa ada gejolak dalam tubuhnya untuk berbuat lebih. Dia terus mengeratkan pelukannya dan mencicip tubuh istrinya. Belen pun menahan diri tapi tubuhnya seperti berdesir hingga terlepas suara yang semakin membangkitkan hasrat suaminya.
"lepaskan saja jangan ditahan bila kamu mau" Ibra sudah mendorong Belen keatas ranjangnya menindih tubuh Belen yang mulai gelisah dan berkeringat.
Tangan Ibra mulai menjelajah kesana kemari membuka resleting belakang dres yang dikenakan Belen.
"tolong abang egh hentikan, jangan egh sekarang" Belen tak kuasa menahan lenguhannya saat bagian sensitifnya mulai dijamah oleh Ibra.
"katakan lagi, aku sangat suka mendengarnya" Ibra mencium dan melu*mat habis bibir tipis Belen.
Bagian tubuh Belen sudah terbuka separuh dan dengan mata tertutup dia masih mencoba menahan Ibra meski ia tetap kalah.
"aku ingin sekarang Belen" ucap Ibra yang hendak melepas handuk yang masih melingkar dipinggangnya.
__ADS_1
"egh abang, kumohon jangan sekarang egh" Belen benar-benar tak kuasa dengan perlakuan lembut Ibra meski dirinya belum siap.
tok tok tok
"mamy! kenapa lama!" seruan Divya sangat keras dari balik pintunya.
Dengan hal itu Belen mampu menyingkirkan tubuh Ibra yang menindihnya. Membernarkan pakaiannya dan merapihkan rambutnya.
Melihat suaminya menggerutu kesal Belen merasa tak enak, ia mendekat dan mengecup singkat bibir suaminya.
"aku sudah bilang kan abang, nanti" dengan raut memerah Belen melangkah menuju pintu kamarnya dan mendapati Divya dengan mulut bebeknya.
"dasar dia membuatku gila kali ini" gumam Ibra bangkit dan mengenakan pakaian kantornya.
...
"ingat anak manis jangan keluar kelas sebelum mamy menghampirimu" Belen mengantar Divya hingga kelasnya.
Karena masih merasa bersalah soal tadi pagi yang sebenarnya bukan salahnya juga, Belen ingin memasak khusus untuk Ibra. Dia buru-buru kembali kerumah dan mulai berkutat dengan alat masak.
Tongseng kambing sudah matang dan siap dibawa kekantor suaminya. Dengan rasa berbunga dia meminta tolong Oma dengan diantar sopir untuk menjemput Divya. Tentu Oma tak keberatan karena seperti ya hubungan keduanya sudah mulai rekat.
...
"Jody" Belen berhenti dimeja Jody. Namun Jody terlonjak kaget saat melihat Belen dihadapannya.
"bisa tolong antarkan ini keruangan Adam?" Belen tak terlalu menghiraukan raut kaget Jody dan menyerahkan rantang susun 4 ditangan kanannya.
"i iya bu, tapi bu-" Jody terlihat terbata saat Belen hendak masuk keruangan Ibra.
"tak apa akan ku tunggu dia diruangannya" Belen tersenyum dan membuka ruangan suaminya.
Dibukanya handle pintu dan dipasangnya senyum manis dibibirnya.
"Hentikan Sarah!" Langkahnya terhenti saat mendengar suara Ibra dan melihat Sarah entah bagaimana dengan dua kancing kemeja yang terbuka dan duduk dimeja suaminya.
"Belen!" Ibra tersentak melihat kehadiran istrinya. dia segera bangkit dan menuju tempat istrinya masih berdiri.
Belen dengan nafas memburu dan dada naik turun sangat jelas dia amat emosi. Baru dia ingin membuka hatinya tapi apa yang dia lihat saat ini.
__ADS_1
Melihat Belen terdiam menahan marah Ibra lalu memeluknya, mencium bibirnya mencoba untuk menenangkan istrinya. Belen yang amat kesal dengan hal itu malah mengambil kesempatan membalas ciuman Ibra dengan panas, ya karna hanya itu cara membalas wanita ******* itu.
Dilepasnya ciuman Ibra, dengan langkah percaya diri Belen mendekat kearah Sarah yang masih berdiri disana.
plaakk!
"apa yang kau lakukan dasar penggoda! Ibra seharusnya menjadi suamiku!" teriak Sarah mendapat tamparan dari Belen.
"siapa yang penggoda disini! dan siapa yang jadi istrinya disini! keluar atau akan kubuat kau menyesal!" bentak Belen masih dengan memegang rantang ditangan kirinya.
"lihat saja suamimu akan meninggalkanmu!" Sarah yang kesal kemudian keluar dengan pipi yang merah.
Ibra baru kali ini melihat Belen emosi, dia mendekatinya dan memintanya duduk, ditaruhnya rantang itu di meja.
"kau tidak menjemput Divya?" ucap Ibra mencairkan keadaan.
"bila aku terlambat mungkin kau sudah tergoda olehnya bukan? aku memang belum memberikan apa yang membuatmu puas dan mungkin ******* itu bisa memberinya untukmu" Belen memalingkan wajah kesalnya.
"dengar Belen kau tahu aku tak suka wanita penggoda seperti dia atau kebanyakan wanita yang dengan murahannya mau telanjang dihadapannku, aku tidak peduli" Ibra memang belum pernah menghadapi wanita yang merajuk.
"mana ada lelaki seperti itu. Meski aku tahu kau terpaksa menikah denganku tapi aku istrimu, aku yang bertugas menjaga kehormatanmu begitu sebaliknya. Jika ada wanita yang bertingkah seperti tadi sama saja sudah merendahkan kehormatanku." Belen masih mencoba meredam emosinya.
"maafkan aku, aku tak bermaksud seperti itu" Ibra merasa bersalah dan mengusap halus rambut Belen.
"Sudah itu kubawakan kau makan siang. Makanlah!" Belen berdiri, meraih tasnya dan hendak pergi.
"kau mau kemana? kau sudah memasaknya temani aku makan dulu" ucap Ibra sambil memegang pergelangan tangan Belen.
"duduklah, sebagai permintaan maafku aku akan menyuapimu" Ibra meminta Belen duduk disisinya.
Membuka susunan rantang dan memgambil piring serta sendok. Dengan lembut dia menyuapi Belen yang masih dibakar emosi.
"ayo makanlah, ini kali pertamaku menyuapi wanita selain Divya dan Oma" Ibra menyodorkan sesendok nasi dan daging kambing untuk Belen.
Masih dengan muka masam Belen menerimanya.
"tak usah menyuapiku makanlah sendiri aku tidak lapar" Belen menggeser duduknya.
"apa kau cemburu? brati kau sudah mulai memupuk rasa itu ya?" dengan senyum menggoda Ibra menoleh pada Belen.
__ADS_1