
"Belen" Suara oma memanggil Belen yang tengah membatu para koki untuk memasak makan malam.
Dengan cepat Belen mencuci tangannya dan melepas celemek yang ia kenakan.
"ia oma?" ia duduk dikursi makan sebelah oma.
"jangan terlalu lelah sayang, kamu sudah sangat sibuk mengurus Divya, pergi ke toko belum lagi mengurus Ibra, masalah rumah serahkan pada bibi juga mbak disini saja." Oma benar-benar tak habis pikir Belen itu seperti tidak punya lelah.
"oma jangan khawatir sama Belen ya, Belen kuat kok oma, Belen juga senang kok bisa urus rumah" diraihnya tangan oma untuk memberi ketenangan.
"Oma hanya khawatir kamu kelelahan sayang" mendengar perhatian Oma membuat hati Belen menghangat, akhirnya dua wanita beda generasi ini saling berpelukan.
tap tap tap
"ada apa Oma, Belen?" Ibra menuruni tangga dengan langkah cepat karena panik melihat oma juga istrinya tengah berpelukan disana.
"engga papa bang, Belen cuman senang Oma perhatian sekali sama Belen" ucap Belen pada lelaki yang kini berdiri tepat dibelakangnya.
"Ibra katakan pada istrimu untuk tidak terlalu lelah, Oma hanya takut dia kelelahan, juga oma khawatir kalau-kalau ada calon cicit Oma disana" Oma mengalihkan pandangannya pada perut rata Belen.
Ibra mengulas senyum, hatinya seolah mendapat getaran saat omanya berkata demikian.
"aku tidak akan membiarkan hal buruk menimpanya Oma" kini ketiga orang itu berpelukan dengan posisi Ibra yang masih berdiri.
"hei ada hal apa ini?" Adam gantian mengerutlan dahinya melihat tiga orang dihadapannya sedang asik berpelukan.
"sudah sudah ayo makan" ajak Oma kepada cucu-cucunya.
"aku ketinggalan apa sih bang?" Adam masih tak terima.
"bukan apa-apa dasar kepo"
Malam ini Divya tidak ikut makan karena sudah tidur lebih awal, kelihatannya gadis kecil itu sangat kelelahan.
__ADS_1
Suap demi suap mereka nikmati hingga makanan didepan mereka tandas. Dengan lihai Belen menuangkan air putih untuk suaminya, Oma juga Adam kemudian mengambil puding buah dari lemari pendingin.
"terimakasih kakak ipar" Adam menerima puding buah yang sangat menyegarkan mata juga mulut itu.
"bang, Raka bilang dia sudah dapat pembeli untuk tempat karaoke yang akan kita jual"
"bagus, nanti malam kita ke bar" sahut Ibra sembari menikmati puding buatan istrinya.
"kebetulan nanti malam pembeli itu akan menyelesaikan transaksi bang, Raka bilang mereka akan bertemu di tempat karaoke itu. Abang mau ikut?" lanjut Adam.
"boleh, kita pergi ya Belen?" Ibra menoleh pada istrinya yang sedang membereskan piring diatas meja makan.
Belen hanya mengangguk pada Ibra.
Malam minggu malamnya para anak muda. Sebenarnya bukan cuma para muda-mudi saja, tapi banyak keluarga yang memilih keluar di malam minggu. Tentunya jalanan sangat ramai.
Mobil wrangler hitam ditumpangi oleh Adam, sementara Belen dan Ibra menggunakan Jeep kelualaran terbaru milik Ibra, mobil mereka mengarah kesebuah tempat hiburan karoke yang cukup terkenal HalfMoon.
Sebelum turun Adam mengenakan topi hitam juga masker serta jaket kulit hitam, ia masuk terlebih dahulu menuju ruangan yang Raka beritahu. Ibra pun sama, ia memggunakan topi serta masker dan memakai sebuah parka hitam. Kali ini Belen pun menutup identitasnya. wanita itu menggunakan celana jeans yang robek dibagian lututnya, kemudian memakai parka yang senada dengan suaminya dan sudah memakai hairclip agar rambutnya terlihat lebih panjang dan jangan lupa ia juga mengenakan masker juga topi.
ceklek
Didalam sana sudah ada Raka dan Ivan, juga tamu mereka Dev Armano. Ibra sengaja mengajak Belen agar Belen tahu siapa Dev sebenarnya dan dia malas mendengar kebaikan-kebaikan Dev dari mulut istrinya.
"silahkan ketua" sambut Ivan. Sebenarnya bisnis ini akan dikelola Ivan tapi dengan adanya kasus itu mereka harus merelakan salah satu aset Gerhana untuk dijual dan menutup kurangan pembayaran tanah yang lebih dari 1m itu.
Bukan tidak punya uang segitu, tapi itu kan hutang Anthony jadi kenapa pihak Ankawijaya yang harus membayar kan? Lagian sisa uangnya bisa mereka pakai untuk keperluan masrkas.
Dev dan V tangan kanannya mengerutkan kening mereka saat melihat sosok wanita berjalan dibelakang Alexavier.
"ah aku tidak menyangka akan berbisnis dengan Galaxy" suara Dev terdengar menyapa saat Alexavier sudah duduk di sofa tunggal dan Belen duduk di sisi Kenrich.
"kita hanya melakukan jual beli tidak lebih!" Alexavier terlihat malas meski mukanya tertutup masker juga topi.
__ADS_1
"apa Galaxy sekarang juga menerima anggota perempuan?" Dev masih membual.
"dan apa tugasmu nona?" lanjutnya.
"kau tidak perlu bertanya juga kami tidak perlu menjawab hal diluar urusan kita kali ini" giliran Kenrich yang menjawab.
"sayang sekali padahal aku sangat ingin tahu apa yang membuat nona ini masuk menjadi bagian Galaxy" Dev menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"V serahkan sisanya" Untuk urusan seperti ini mereka akan menggunakan uang tunai meski sangat merepotkan, V menyerahkan 2 tas berisi 10M. Sisa dari sebelumnya yang diberikan pada Raka sebelum mereka bertemu di HalfMoon adalah 10M sebagai tanda jadi.
Tanpa basa-basi mereka melakukan transaksi perpindahan kepemilikan dari karaoke tersebut. The Dev tentu sudah dengar kekalahan Gerhana dan semua aset Gerhana dikuasai oleh Galaxy.
Lady yang sudah mendapat arahan sebelum turun dari mobil meraih 2 tas itu dan menuju ruangan sebelah dimana Louis dan anggotanya menunggu untuk melakukan pengecekan dan penghitungan uang.
"ini bagianmu Louis" ucap Lady begitu berada diruangan tempat Louis berada.
"tunggulah sebentar Lady" Louis mulai memerintahlan anak buahnya untuk mengecek uang-uang itu dengan mesin yang mereka bawa, tak tanggung-tanggung mereka membawa 5 mesin sekaligus.
"sudah Lady semua asli dan jumlahnya cukup" lapor Louis setelah selesai menghitung dan melakukan pengecekan.
Dengan alat yang canggih 5menit kemudian Lady sudah kembali keruangan pertemuan.
Lady melangkah kembali ke tempatnya dan memberi memberi kode pada ketuanya bahwa sudah beres.
"baiklah urusan kita selesai" Alexavier bangkit di ikuti para anak buahnya juga Kenrich.
Langkah mereka terhenti karena lengan Lady dicekal oleh Dev. Ivan yang berada paling dekat dengan Lady langsung menahan tangan Dev dan menyingkirkan tangan itu.
"aku hanya tertarik dengannya, Alexavier apa boleh aku membawanya semalam atau aku beli dia dengan nominal yang sama dengan tempat ini? aku hanya ingin tahu kemampuan seperti apa yang dimilikinya" ucapan Dev tentu sudah membuat Alexavier mengeratkan kepalan tangannya.
"lebih baik kau berhenti memikirkan tentangnya atau kau akan menyesal!" Ivan memberi jalan untuk Lady keluar dari ruangan itu.
Hingga diruangan itu hanya menyisakan Dev dan tangan kanannya.
__ADS_1
"ketua mau aku menyelidiki tentang wanita itu?" ucap V pada ketuanya.