
Ibra berjalan dengan dua kantong kresek ditangannya, raut wajah tegasnya terlihat suram karena belum mendengar kabar dari anak buahnya mengenai kecelakaan yang menimpa adiknya. Sesekali ia melirik kebeberapa orang yang sedang membaur seperti pengunjung atau keluarga pasien yang sebenarnya adalah anak buahnya.
ceklek
Belen juga Amanda menoleh ke arah pintu saat Ibra melangkahkan kakinya masuk.
"makan lah dulu Belen" ucap Ibra sembari meletakan dua kantong kresek diatas meja.
"abang juga harus makan, aku siapkan ya? Oiya Amanda kamu sudah makan?" Amanda menolehkan pandangannya kearah Belen dan mengangguk, matanya terlihat sembab setelah menangisi seorang yang kini terbaring dibangsal dan belum juga sadar.
Amanda merasakan ponselnya bergetar, ia melihat pesan masuk dari Nina sekertaris Adam, selain menanyakan keadaan bosnya Nina juga memberitahu beberapa pekerjaan yang mendesak dikantor. Dengan nafas berat wanita yang mengenakan blazer itu harus meninggalkan lelaki yang sedang mengisi relung hatinya itu.
"Belen, tuan Ibra saya pamit dulu, ada pekerjaan yaang harus diurus dikantor" ucap Amanda pamit seraya bangkit dari duduknya.
"pergilah, aku akan menghubungimu saat Adam sadar nanti" Belen mendekat dan memeluk Amanda sebelum gadis itu pergi meninggalkan ruang rawat inap VVIP itu.
...
Ruang IT di markas Galaxy sangat terasa tegang sedari dini hari tadi. Mereka bergelut dengan perangkat canggih didepan mereka, meretas dan mengambil semua rekaman cctv sepanjang jalan baik cctv jalan, cctv toko dan lain sebagainya untuk mencari jejak kecelakaan salah satu ketua mereka.
Beberapa dari mereka sudah menemukan asal kedatangan 3 mobil lain yang terlibat kecelakaan. 1 mobil berasal dari GalaBar, 1 lagi dari Halfmoon dan yang terakhir dari area pergudangan dekat markas, mobil ketiga itu terus berjalan dibelakang mobil yang Kenrich kendarai meski terlihat menjaga jarak.
"Bagaimana" suara datar dan dingin itu terdengar keseluruh ruangan.
"ketua, kami sedang melakukan penyelidikan dari 3 mobil lain, kami akan memberi informasi ketika menemukan rekam jejak mereka selama 48jam terakhir" tangan kanan Louis Noe yang melapor pada ketuanya Alexavier.
"Louis sudah bilang dia akan menyuguhkan laporan yang matang ketua, dia tidak mau membuat masalah baru seperti kasus lalu" Ivan menemani Alexavier pergi ke markas siang ini.
"apa Grey sudah kembali?" Grey adalah salah satu anak buahnya yang mengurus persenjataan, beberapa bulan ini dia berada diluar negri untuk mengurus urusan pemasokan senjata dari distributor baru.
"sore ini dia akan tiba" sahut Ivan setelah melihat arloji di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"katakan padanya untuk segera mensuply persenjataan baru kepada seluruh wilayah, aku tidak ingin kecolongan lagi, begitu ada serangan datang langsung kita serang markas mereka" Alexavier melangkah lebar keluar meninggalkan markas.
Dia dengan segera menaiki mobil sedannya dan melaju menuju kantor AnkaGroup. Konsentrasinya sedang hilang namun ada banyak meeting yang harus ia datangi juga untuk menggantikan Adam.
Beberapa saat lalu Blen menghubunginya mengatakan bahwa Adam sudah sadar dan keadaannya baik meski masih lemas. Ibra tidak mengijinkan Oma juga Divya datang selama motif kecelakaan ini belum sepenuhnya terbongkar. Ia sangat khawatir dengan dugaannya jika benar musuh yang menyerang, akan sangat riskan jika keberadaan Oma juga Divya diketahui musuh yang bisa jadi melakukan pengintaian dirumah sakit.
Dengan langkah lebar CEO dari AnkaGroup ini menuju keruang meeting dimana sudah ada Raka dan beberapa tamu disana. Tanpa senyum diwajahya ia hanya mengangguk tanda memberi salam pada para tamunya.
"tuan Ibra kami turut bersimpati atas kecelakaan yang menimpa tuan Adam. Media masa sangat ramai memberitakan tentang kecelakaan itu, kami juga sangat kaget mengetahui terdapat 3 korban tewas disana" rapat sudah selesai dan ucapan simpati itu berasal dari salah seorang tamu yang menjadi suplier bahan bangunan untuk proyek-proyek yang ditangani AnkaGroup.
"iya terimakasih atas perhatian anda semua" hanya senyum tipis yang diperlihatkan oleh pengusaha muda itu.
...
Beberapa pertemuan dan laporan sudah Ibra selesaikan jam menunjukan pukul 17.48 sudah cukup sore dia harus cepat kembali kerumah sakit.
Kaki jenjangnya ia bawa melangkah cepat menuju mobil hitamnya. Mobil sedan itu melaju meninggalkan area kantor AnkaGroup dan melaju dijalan raya yang cukup padat oleh kendaraan. Berkali-kali Ibra harus menekan klaksonnya agar pengendara yang berada didepannya cepat melajukan kendaraannya.
"Amanda!" Seru Ibra sedikit kencang.
Amanda yang merasa terpanggil menghentikan langkahnya dan menoleh mencari sumber suara. Sosok lelaki dengan setelan jas abu tua itu berdiri tidak jauh dibelakangnya.
"tuan memanggil saya?" ucap Amanda setelah berjalan mendekat beberapa langkah.
"ini bukan dikantor, panggil saja seperti yang Adam panggil untukku" Ibra mengarahkan matanya kearah mobilnya, seolah memberi kode mengajak Amanda masuk.
Seperti mengerti Amanda pun masuk ke mobil yang Ibra parkir dipinggir jalan itu. Setelahnya Ibra kembali melajukan mobilnya.
"ada apa tuan- ehm bang Ibra?" tanya Amanda setelah beberapa saat belum ada pembicaraan dari Ibra.
"kau mau pulang atau ke rumah sakit?" Ibra masih fokus pada jalanan didepannya, banyak sekali kendaraan yang asal menyerobot jalurnya.
__ADS_1
"Belen bilang Adam sudah sadar, aku ingin menengoknya" jawabnya dengan menundukan kepalanya.
Ibra tengah berfikir keras, ia ingin melarang Amanda datang karena situasi bisa buruk jika musuh menjadikannya kelemahan, tapi motif kecelakaan itu belum juga bisa dipecahkan, memang direncana atau memang takdir. Tidak mungkin juga ia jujur dengan keadaan saat ini jika berbohong, kebohongan macam apa yang akan Ibra buat untuk membuat sebuah alasan.
"untuk sementara waktu jangan temui dia selain untuk urusan pekerjaan" Amanda menoleh cepat ke arah Ibra, ia tak mengerti maksud dari perkataan lelaki yang sedang berada dibalik kemudi itu.
"ta-tapi kenapa?"
"aku tidak bisa katakan sekarang, mungkin Adam akan jelaskan nanti jika keadaannya sudah stabil" tanpa menoleh Ibra menjawabnya dengan datar dan terdengar dingin.
Amanda seolah syok mendengarnya, apa alasannya ia tidak boleh menemui Adam.
Ibra menghentikan mobilnya tepat didepan apartemen Amanda.
"turunlah, pulang dan beristirahatlah" Amanda yang hanyut dalam pikirannya baru sadar mobil yang dikendarai Ibra mengarah ke tempat tinggal ya bukan ke rumah sakit.
Meski dengan beribu pertanyaan dihatinya Amanda memilih menurut dan turun dari mobil Ibra.
"maaf, tapi ini demi kebaikanmu" suara Ibra menghentikan pergerakan Amanda yang hendak menutup pintu.
Melihat orang yang barusan menumpang mobilnya ya masuk Ibra langsung melajukan mobilnya dan kali ini menuju rumah sakit.
"tambahkan anggota di apartemen X, awasi gadis bernama Amanda dari kejauhan" ucap Ibra kepada seorang disebrang sambungan teleponnya.
...
"entah aku juga tidak tau bang, kejadiannya begitu cepat" suara Adam masih terdengar lemah, abangnya baru menjelaskan dan menceritakan kejanggalan juga dugaan-dugaan yang ada dipikirannya.
"abang tidak usah terlalu memikirkannya, yang penting aku baik-baik saja, aku tidak akan mati hanya dengan luka seperti ini" lanjut Adam yang melihat raut lelah abangnya lalu terkekeh untuk mencairkam suasana.
"Adam benar bang, jika kecelakaan ini disengaja pasti kita bisa membongkarnya. Bukankah anak buah Louis juga belum bisa menyimpulkan bahwa ini sebuah kesengajaan bukan?" Belen ikut bersuara, ia khawatir pada suaminya yang baru tidur beberapa jam sejak kemarin.
__ADS_1
"baiklah, kita lihat saat kebusukan itu terbongkar, dan sampai saat itu Adam jangan ada urusan dengan Amanda selain urusan pekerjaan" Ibra berdiri hendak keluar dari ruangan mirip kamar hotel itu.