Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
10. Ku Temukan Kembali


__ADS_3

Tadinya aku berfikir akan kehilangan seseorang yang sangat-sangat aku sayangi. Bahkan pelukanku tak terlepas, perasaanku tak karuan. Dan rasa takut itu berhasil melanda diriku kembali.


Perasaan ku sangat gusar melihat bangku kosong di lobby dan tak menemukan anak itu. Sungguh diluar dugaan dan membuatku berlari kesana dan kemari mencari-cari dan bertanya ke resepsionis. 


Perasaan yang berusaha tetap tenang mencari di sekeliling lantai dasar perusahaan tersebut. Tak pernah aku berfikir akan kehilangan dirinya. Kehilangan anak yang sudah lima tahun ini bersamaku.


Seorang gadis menggenggamnya masuk lewat pintu keluar masuk perusahaan. Dengan spontan aku berlari ke arah gadis dan menangkap anak tersebut.


"Ma. Maa. Maa. Maaf ya ma, sudah bisa di lepaskan aku sesak." Ucap seorang anak kecil itu yang sesak akibat pelukan mamanya.


"Astaga maafkan mama sayang, kau membuatku khawatir saja." Memeluknya kembali dengan lebih renggang.


"Maaf kak, aku lupa menghubungimu." Ucap salah seorang gadis yang ada di hadapannya.


"Icha. Mengusap air mata di wajahnya dan berdiri. Kenapa kau bisa disini?" Terheran.


"Hehe. Boleh kita bicara di suatu tempat." Ucap gadis itu menggaruk kepalanya.


Di plaza mall terdekat, seperti biasa kepadatan penduduk dan banyaknya orang berlalu lalang membuat suasana kota menjadi sangat ramai, laju kendaraan dan kemacetan kota ini sedikit berkurang jika dilihat dari beberapa tahun lalu.


"Kamu lapar ya sayang, pelan-pelan makannya ya." Ucap mamanya menenangkan diri, menatap anaknya memakan makanannya.


"Kau yakin akan kembali kesini? Tanya gadis itu perlahan. Sungguh bukan kepayang aku kaget sekali melihatmu ada disini." Ucap gadis itu menatap Keila sambil memegang cangkir kopinya.


"Sepertinya aku harus beradaptasi kembali dengan negara asalku dan membesarkan anakku dengan baik. Tersenyum. Bagaimana denganmu, mengapa kau sudah disini sedangkan seminggu lagi kau sudah ada graduation?" Tanya balik Keila sedikit penasaran dengan gadis cantik yang ada di hadapannya.


"Aku lulus lebih cepat, sepertinya kamu melamar kerja di perusahaanku." Menatap Keil dan menyangga pipinya dengan tangan menyiku meja dengan ekspresi santai.


"Entahlah aku hanya memasukan beberapa resume kerja." Kembali menata anaknya dan mengusap pipinya yang cemang cemong.


"Benarkah?! Sedikit kaget. Kau masih membantu kakak fandy di perusahaannya?" Tanya penasaran.


"Masih, aku butuh pekerjaan ini untuk membesarkan anakku." Tawanya menghilangkan ketegangan takut perkataannya menyinggung Keila, seorang ibu muda yang sangat bersemangat mengurus diri dan anaknya.


"Pernahkah sekali saja kau mencintai dan melihat ketulusan kakak ipar?" Tanya gadis itu sambil mengaduk kopinya dengan sendok perlahan 


Keil hanya terdiam membisu sejenak.


"Entahlah, aku belum yakin. Sambil mengibas rambutnya perlahan. Jika aku sudah yakin kami akan melangsungkan pernikahan." Menatap manis dan sedikit menutupi keraguannya.


"Benarkah? Wah aku sangat terkejut. Ucap gadis tersebut. Kapan? Aku sangat menantikannya." Tiba-tiba saja nada suara merendah.


Keil menggenggam tangan Icha.


"Tenanglah, akan tiba saatnya bocah itu akan melamarmu." Ucap wanita itu menenangkan gadis cantik yang ada di hadapannya.


"Baiklah. Jadi kamu melamar sebagai apa di perusahaanku?" Tanya gadis itu antusias.


"Astaga ah iya itu perusahaanmu, aku tertarik dengan standar kerjanya yang sudah go internasional serta beberapa manajemen perusahaannya yang menurutku bagus untuk oengembangan diriku selama disini." Tawanya sedikit.


"Hei anak kecil mau tambah lagi?" Tanya gadis itu.

__ADS_1


"Tidak kak. Aku sudah banyak makan. Ma boleh aku bermain prosotan itu?" Menunjuk tempat bermain di samping tempat makan mereka.


"Hati-hati ya, jangan menghilang lagi. Membuat jantung mama copot saja." Ucap mamanya dengan senyuman dan mengelus lembut kepalanya.


"Siap ma." Memberi jempol dan melambai.


"Wah senangnya." Menghela nafas dan menatap anak kecil tersebut.


"Kau juga ingin?" Tanya Keil menggoda gadis tersebut.


Gadis tersebut hanya menaruh kepalanya diatas meja membuat rambut pendek sebahunya itu sedikit berserakan.


Wanita itu merapikan bagian poni gadis tersebut.


"Kau sudah beritahu Lana kalau kau disini?" Tanya Keil tak yakin bocah lelaki itu tau gadisnya disini.


"Tidak, dia tidak tahu apapun tentang aku. Aku sengaja datang hanya untuk memberi kejutan dan menghabisi setiap gadis-gadis yang dia pelihara di sekelilingnya." Mode emosi dan mengepal tangannya lalu menghentakkan di meja.


Keil hanya tertawa dan menghentikan gadis itu.


"Hei haha sudah, sudah. Apa yang akan kau lakukan sore ini?" Tanyanya perlahan.


"Aku mau pinda ke Apartemen daerah B. Bagaimana denganmu kak?" Tanya gadis itu.


"Astaga benarkah? Aku juga pindah ke daerah sana." Ucapnya.


Mata gadis itu mendadak berbinar.


"Iya benar. Mau menemani kami berbelanja kebutuhan rumah?" Tanya wanita itu.


"Ayo. Aku juga ingin membeli beberapa perlengkapan." Ucap gadis itu penuh semangat.


"Baiklah kalau begitu. Sayang, sayang. Ya sini sayang." Memanggil anaknya yang masih asik bermain perosotan.


"Sabar ma." Melambai.


"Hei ini." Seorang anak gadis kecil memberikan permen untukku.


"Itu apa?" Tanya Keiran.


"Permen. Karena kau begitu manis kakak." Ucap gadis kecil itu.


"Terimakasih, jika bertemu aku akan memberimu sesuatu." Ucap Keyran bergegas menghampiri mamanya.


Gadis itu menari lengan kemeja Keyran.


"Tunggu. Siapa namamu?" Tanya gadis itu malu.


Anak lelaki itu berbalik dan menjabat tangan gadis kecil tersebut.


"Keyran. Kalau kamu?" Tanya balik.

__ADS_1


"Elly, Emilly." Membalas jabatan Keyran.


"Sampai bertemu lagi. Melambai ke gadis kecil tersebut. Mama aku datang." Teriaknya dari jauh.


"Sayang, jangan lari-lari nanti kamu jatuh." Mengingatkan anaknya.


"Baik ma, jadi kita berbelanja?" Tanya anak kecil itu.


"Tentu saja sayang ayo." Menggandeng tangan anaknya.


"Tan. Eh kakak Icha Juga ikut?" Tanya anak itu heboh dengan senangnya.


"Iya donk sayang." Mengedipkan matanya.


"Yang paling menyenangkan semasa hidupku adalah berbelanja dan menghambur-hamburkan uang dan ternyata aku salah." Batinku dalam hati menatap ibu muda ini.


"Cha, menurutmu peralatan yang mana yang paling bagus?" Tanya wanita itu.


"Kamu jangan ambil itu kamu costum aja. Aku juga sedang merintis usaha properti di bidang furniture kayu. Ini kartu namanya." Memberikan ke wanita itu.


Keil yang mendorong troli nya mengambil sebuah kertas nama tersebut. Dan membacanya dengan seksama.


"Wah di usia semuda ini berapa banyak hal yang sudah kau lakukan?" Tanyanya memuji gadis itu.


"Bagaimana dengan peralatan masak ini sepertinya kokoh dan bagus. Menunjuk. Hmm entahlah saat Sekolah Menengah aku sangat suka sekali dengan seni pahat, namun ibuku menolak hal tersebut." Memasukkan peralatan masak tersebut ke keranjang.


"Eh. Menatap troli, sepertinya ini terlalu mahal." Ucapnya.


"Tenang saja, aku yang bayar untuk kado kepindahan kembali ke negara asal." Mengedipkan satu matanya dan melihat rak-rak lainnya.


"Baiklah, jika itu maumu." Ucap Keil menggeleng.


"Ma, ma gimana udah selesai, bisakah kita ke toko elektronik." Menarik lengan baju ibunya.


"Apa yang ingin kau beli?" Ucap wanita itu berjongkok dan menyentuh hidung anaknya tersebut.


"Sesuatu yang sangat aku perlukan ma." Tersenyum menampakkan semua giginya.


"Kakak sini cepat, ada beberapa nugget, sosis dan daging mau yang mana?" Melambaikan tangan ke arah ibu dan anak tersebut.


"Kau mau makan apa, Cha?" Tanya Keil.


"Semua masakkan, aku suka sangat lezat. Aku akan ambil ini, ini dan ini." Memasukkan bahan-bahan makanan ke troli baru.


"Astaga gadis ini. Baiklah setidaknya aku memiliki teman bicara saat dirumah dan saat makan." Tersenyum.


"Ayo kita bayar." Ucap Icha bersemangat.


Seorang gadis kaya raya yang tak pernah kekurangan makan atau hal apapun di hidupnya kecuali perhatian dan kasih dari kedua orangtuanya.


"Menatap wajah anak ini aku sangat bangga, karena dia bisa sampai di tahap yang dia inginkan. Cha, terimakasih sudah tumbuh menjadi gadis yang baik." Gumam Keil dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2