
Malam itu adalah malam yang panjang dan gila bagi Ken, bisa-bisanya dia mabuk bersama Prilly dan tidur bersamanya di apartemen gadis itu.
Saat terbangun paginya dia menjerit mengingat-ingat kejadian malam itu.
"Astaga Ken. Bisa-bisanya kau bersama gadis gila ini." Teriaknya di dalam mobilnya.
Mengingat dia telah tidur bersama perempuan itu.
Ken bergegas pergi dari apartemen gadis gila itu menurutnya hal yang ia lakukan dengan gadis itu adalah kesalahan besar.
"Jangan sampai aku bertemu lagi dengan dirinya." Batin Ken kala itu pulang ke apartemennya.
Ken yang datang ke kantor kelihatan sangat lesu dan Leon menyadari sahabatnya sekaligus yang menjadi asistennya itu terdiam di meja kerjanya dan menidurkan kepalanya tidak seperti biasanya.
Leon yang melewatinya mengambil berkas di sampingnya dan memukul kepalanya perlahan.
"Ada apa denganmu?" Tanya Leon dan membalikkan badannya.
"Astaga aku sudah gila kurasa? Terbangun dari sandaran meja tersebut dan kembali menyadarkannya kembali. Bisakah aku cuti selama 3 hari." tanya Ken pada Leon.
"Hmm sebaiknya kamu libur minggu depan agar ikut kami ke paris. Bagaimana?" Leon kembali meletakkan berkas tersebut di meja Ken.
"Ah, benar juga. Ucap lelaki itu menghela nafasnya panjang. Ada apa dengan hidupku selama 30 tahun ini ya tuhan." Ucap nya menggerutu.
"Ha tuhan. Kau mengingat kau memilikinya?" Ejek Leon memasuki kantornya.
Lelaki itu memasuki kantor dan duduk di meja kerjanya.
"Hmm haruskan aku mengirim hadiah ke rumah ayah Keila?" batinnya.
Siang itu Icha membawa berkas-berkasnya san menangkap semua bawahan yang pernah mengalihkan dana perusahaan menjadi dana korupsi dan tentu saja dengan bantuan Lana semua dana itu aman dan kembali ke rekening perusahaan tanpa mereka tahu.
"Ini adalah berkas-berkasnya. Memang semua keuangannya telah kembali lagi ke perusahaan namun aku ingin menarik aset yang telah diberikan perusahaan kepada bapak Susilo, termasuk mobil dan lainnya. Satu lagi, aku akan membuat dirinya dan keluarganya tidak bisa bekerja di perusahaan manapun? Silahkan tanda tangan disini." Icha mengarahkan tangannya ke arah berkas agar Leon setuju menandatanganinya.
Leon tersenyum dengan kedua tangan saling terkepal lalu melepaskan tangannya satunya memegang pulpen dan membaca isinya dan banyak bukti yang telah diselesaikan Icha kurang dari satu bulan sebagai ketentuan dirinya sebelum menikah dan berhasil mempertahankan posisinya.
"Bagus sekali, sangat mendetail dan semuanya sangat rapi." Ucap Leon.
Hal Itu membuat Icha tersenyum dan senang, sambil mengibaskan rambut pendeknya yang sebagus itu.
Terdengar ketukan pintu dari Ken. Lelaki itu datang dengan wajah sedikit lesu dan menaruh berkas itu di meja Leon.
"Aku permisi dulu." Ucapnya dengan wajah yang sedikit ditekuk.
Icha yang tak kuasa menarik lengan bajunya.
__ADS_1
"Kak, kau tak menyapaku?" Tanya gadis itu mengerutkan dahinya dan menaruh satu tangannya di pinggang.
"Ah iya. Hallo Icha apa kabar, kalau begitu aku permisi dulu." Ucapnya.
Membuat Leon menaikkan alisnya.
"Ken." Panggil Leon.
Lelaki itu menoleh ke arah Leon dan mengangguk.
"Pergilah keluar dan ambil cuti setengah hari." Ucapnya.
"Baiklah terima kasih bos." Berbalik lagi dan berjalan keluar pintu.
"Kenapa dia?" Tanya Icha.
Bahu dan kedua tangan Leon menaik dan menggeleng.
"Jadi aku tanda tangan dimana?" Tanya Leon.
"Disini kakak. Ini." Menunjuk.
"Oke sudah. Kau dan tim mu bisa pulang cepat hari ini." Leon mengedipkan mata kearah adiknya itu.
"Ah oke kak. Gadis itu mencium pipi Leon. Terima kasih banyak kak, berkatmu aku takkan bertahan hingga hari ini." Mengambil berkasnya dan pergi sambil melambai.
Telepon berbunyi dari Keila.
"Iya hallo sayang?" Ucap Leon mengangkat telepon tersebut.
"Mau makan malam dimana? Aku sudah mulai selesai ni mengerjakan tugas kantor." Ucap gadis itu sambil merapikan mejanya.
"Ah iya sayang, aku sudah hampir selesai. Sebaiknya kita ke butik untuk memberi beberapa pakaian untuk keberangkatan ke Paris minggu depan." Ucap Leon mengingatkan.
"Ah iya benar juga. Keila memegang kepalanya dan baru teringat. Kalau begitu aku akan menjemput Keyran setelah ini." Ucapnya.
"Astaga benar juga. Batinnya. Sayang kita jemput bersama saja." Ucap Leon mematikan laptopnya san memasukkan tabletnya ke dalam tasnya.
"Benarkah? Aku di ruanganku sekarang." Ucap Keila.
"Baiklah aku akan kesana." Lelaki itu berlari keluar kantornya menghampiri ruang kerja istrinya dengan senyuman yang merekah.
"Okey sayang." Mematikan teleponnya.
Gadis itu mengambil tasnya dan keluar dari ruangannya terlihat lelaki itu dengan sedikit ngos-ngosan sudah berada di depan pintu kantornya.
__ADS_1
"Astaga sayang, kau berkeringat." Mengambil sapu tangan dan mengelap air keringat di wajah suaminya.
"Tidak apa. Langsung memeluk Keila. Baru sebentar saja kenapa sudah rindu ya." Gerutunya memeluk gadis itu.
Keila yang malu tertawa sedikit dan merasa terharu membalas pelukkan lelaki itu.
Lelaki itu melintas dan tak sengaja melihat pemandangan unik itu.
"Padahal sudah suami istri tapi sangat manis ya. Haha." Tawa lelaki itu.
Asistennya memperhatikan apa yang dilihat oleh Dilly.
"Ah tuan sebaiknya kita pergi." Ucapnya.
"Ah iya ayo, jangan terlalu lama melihat kemesraan mereka. Gerutu Dilly. Menggelitik bisa juga lelaki kaku dan dingin itu bersikap lembut." Batin Dily mengingat kejadian masa kecil mereka.
Dirumah keluarga Leon.
Wanita itu bersama kedua anaknya memasuki rumah keluarga Leon.
Mata Leon yang belum kering atas derai air mata itu menjadi menggila ketika ayahnya membawa seorang wanita pengganti Ibunya dan juga saudara tiri untuknya.
"Kalian bisa tinggal di lantai dua dan aku sudah menyediakan kamar kalian masing-masing." Ucap Lelaki itu membawa istri barunya berkeliling rumahnya.
Leon yang pada saat itu berumur delapan tahun hanya menatap sini tanpa kata-kata.
"Leon, perkenalkan mulai sekarang dia adalah ibumu dan ini Dilly adik lelakimu dan Icha adik perempuanmu." Ucap Lelaki itu.
Leon hanya menatap mereka dan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Leon." Teriak ayahnya.
"Sayang sudahlah tak apa dia hanya belum terbiasa." Ucap ibu tirinya kala itu menahan amarah ayahnya.
"Kakak." Ucap anak Lelaki itu menghampirinya dan memegang tangannya.
Tangan anak itu dihempas begitu saja oleh Leon dan tak sengaja membuat anak itu terdorong jatuh kebawah.
"Jangan sentuh aku. Jangan berani menyentuhku." Teriak Leon.
Anak lelaki itu sudah terjatuh dengan kepala yang berdarah. Hal itu membuat marah ayahnya namun dihentikan oleh perempuan itu yang menggeleng ke arah ayahnya.
Karahan dan amarah muncul dari dalam diri Dily terhadap Leon. Perasaan kecemburuan dan keinginan ia memiliki apa yang dimiliki Leon menjadi acuannya hidup saat ini.
Dan pandangan tidak suka Ibu tirinya yang dianggap ibu kandung di keluarga besarnya itu terbawa hingga saat ini.
__ADS_1
"Mck. Astaga, kejadian masa lalu yang tak patut untuk diingat." Ucap Dily yang sedang bersandar di pintu mobilnya.