
"Dengan perasaan gusar aku mengaku kalah, seseorang itu tak membiarkan aku menyerah. Bolehkah aku selalu bersamamu, disampingmu dan memelukmu." Batin Keila saat itu menggenggam tangan ayahnya yang tertidur dengan alat bantu detak jantung di dadanya.
Lelaki itu tertidur seakan bermimpi indah cukup lama, beberapa balutan perban melingkar di kepalanya. Gadis itu masih menggenggam erat tangan lelaki itu.
"Ayah kumohon bangunlah." Ucap Keila dalam hati.
Gadis itu masih menunggu ayahnya tersebut hingga paginya ia harus bergegas mengurus anak dan suaminya.
Leon yang melihat Keila yang lemas itu langsung mengangkatnya ke tempat tidur untuk istirahat.
Keila yang tak bisa menolak menidurkan dirinya sebentar dan Leon menyelimutinya. Lelaki itu lalu keluar dari kamar dan "Ssttt…. Menutup pintu perlahan, ibumu masih tertidur. Jangan di ganggu dulu ya." Ucap lelaki itu perlahan kepada jagoan kecilnya itu.
Keyran hanya mengangguk dan kembali ke meja makan menyiapkan sereal untuknya sarapan dan ayahnya tersebut yang sibuk dengan pekerjaannya sendiri tanpa managernya yang masih berada di Paris.
"Iya hallo, tolong keamanan ketat penjagaan untuk mertuaku. Dan jangan biarkan siapapun menjenguknya kecuali keluarga saja. Ingat, tak ada yang boleh masuk tanpa izinku dan istriku, ah satu lagi selidiki apa yang terjadi di rumah mertuaku sampai-sampai ayah mertua terluka." Tegas Leon sebelum menutup teleponnya.
Keyran hanya menggeleng dan mengunyah makanannya, "ayah sinis ku telah kembali lagi. Kelihatanya dia akan menghabisi orang yang ada di balik semua ini. Anak lelaki itu kembali mengunyah makanannya dan menggeser-geser tabletnya melihat gambar mereka selama ada di Paris, terlihat wajah wajah ayah ibu dan dirinya amat bahagia didalam foto itu. Ya ampun kenapa ya kebahagiaan baru saja melanda kami, tapi sudah ada kesedihan yang menerpa keluargaku." Gumamnya meletakkan sendoknya di dalam mangkuk lalu memakai tas sekolahnya.
Leon melihat Keyran sudah selesai sarapan dan bergegas menatap istrinya kembali ke kamar dan mengecup keningnya lalu meninggalkan catatan kecil, "Sayang aku pergi dulu ya." Sembari menutup pintu kamar itu dengan perlahan.
Lelaki itu menghampiri anak lelakinya dan mengantarnya ke sekolahnya.
Di Dalam mobil yang melaju itu, anak kecil itu menatap kedalam mata ayahnya yang sangat serius berharap agar segala sesuatunya membaik.
"Ya tuhan, aku cuma mau kalau segalanya menjadi baik dan akan baik-baik saja." Gumamnya sambil menatap ke arah luar jendela.
Permainan dan sekolahan membuat Keyran menjadi sangat tidak bersemangat, namun ia tahu dan paham jika dia berleha-leha dan tidak melakukan sebisanya dia takut akan mengecewakan ayah dan ibunya.
Jam menunjukkan pukul 1 siang, wanita itu rerbangun dan kaget dengan apa yang ia liat.
__ADS_1
"Astaga. Sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Pasti Leon yang membawaku pulang." Gadis itu menatap ke arah meja di sampingnya ada segelas air putih dan catatan kecil dari suaminya.
"Sayang, segala sesuatunya akan membaik. Istirahatmu mungkin akan cukup, bangunlah minum air putih itu dan mandi lalu bergegas ke rumah sakit ya, tetap hati-hati dan jangan lupa makan. Aku selalu mencintaimu dan akan ada bersamamu." Tulis Leon di kertas tersebut.
Senyuman Keila menghiasi wajahnya ia berdiri dan menatap jam.
"Aku harus bergegas." Gadis itu dengan cepat meluncur ke rumah sakit.
Pemandangan siang itu sangat indah dari biasanya. Arya yang duduk di bangku taman rumah sakit menatap ke arah langit. Terdengar suara hentakkan kaki yang sangat ia kenali.
Ya benar sekali, langkah kaki gadis itu yang bukan lain adalah cinta pertamanya.
Mata mereka saling menatap dan bertautan, gadis itu berjalan sedikit gemetar dan diam sejenak di depan Arya.
"Are u okay Keil?" Tanya lelaki itu memastikan keadaan gadis yang dulunya sangat ia cintai tersebut.
Tubuh gadis itu mendadak ingin rubuh, lelaki itu dengan cepat menangkapnya dan hampir saja dia tersungkur di tanah.
"Aku akan membawamu ke ruangan Ayah." Pungkasnya perlahan memegang gadis itu dengan hati-hati.
Tanpa menolak dan gadis itu hanya mengangguk karena lelaki yang ada di hadapannya adalah lelaki yang bisa membantunya saat ini.
Suasana rumah sakit itu kali ini lebih hening dari biasanya akibat penjagaan ketat di pintu masuk ke ruangan ayahnya bahkan orang asing saja tidak boleh melewati pintu kamar tersebut dan harus putar arah.
Keila dan Arya di sambut 10 pengawal di sepanjang menuju pintu ruangan ayahnya. Keila menatap Arya. "Sampai sini saja, aku bisa sendiri. Terima kasih ya." Tangan Keila melepaskan tangan Arya.
Arya memahami bahwa cintanya pada Keila sudah berlalu dan di dalam hatinya dan saat ini mulai ada Lily yang bersemayam di dalamnya.
Pintu dibuka oleh kedua pengawal lalu di tutup secara perlahan setelah gadis itu melewati pintu.
__ADS_1
"Sekarang aku paham, yang aku cintai siapa, dan yang harus aku pertahankan siapa." Batin Arya sambil meninggalkan ruangan tersebut.
Keila yang masih melihat ayahnya terbaring di atas tempat tidur itu dengan bantuan alat bantu, duduk di kursi sebelah dan menggenggam tangan ayahnya.
"Ayah, Keila disini bangunlah." Sambil memohon.
Ternyata ada banyak hal yang berlalu dan sering sekali sebelum kita diberi kebahagiaan akan diuji dengan kesulitan, sampai dimana kita bisa melaluinya. Lihatlah segalanya akan segera berlalu dan akan banyak hal terjadi sedikit demi sedikit.
Semuanya terasa gelap gadis itu terbangun dan menatap sekeliling melihat ayahnya tidak ada di ranjang kasur rumah sakit itu. Dia panik dan melihat sekeliling. Dan terlihat lelaki tua itu berdiri menghadap jendela sambil tersenyum kepada gadis itu.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Tanya lelaki itu.
Mendadak gadis itu berlari memeluk lelaki tua tersebut namun lelaki itu bagaikan bayangan yang tak dapat di peluk dan bayangan itu buyar seketika.
Brakk!!
Keila membuka matanya dan terengah-engah. Tangannya dipegang oleh seseorang yang ikut kaget melihat dirinya bermimpi buruk.
"Ayaahh." Teriaknya dengan badan keringat dingin dan mata penuh ketakutan.
"Sayang kamu kenapa? Leon memeluknya dan menenangkannya. Tenang saja aku disini bersamamu, tenang ya. Tenang ya sayang, ayah tidak apa-apa kok." Sambil mencium kepala gadis itu dan memeluknya erat sembari mengelus pundaknya.
Gadis itu menoleh kesamping dan terlihat ayahnya masih tertidur pulas dengan bantuan alat bantu jantung.
Keila memegang kepalanya dan lelaki itu memberinya minum untuk menenangkannya.
"Semuanya akan baik-baik saja sayang." Leon masih memeluknya dengan erat.
Keila membalas pelukkan lelakinya tersebut.
__ADS_1
"Jika tak ada Leon bagaimana dengan diriku ya tuhan, siapa yang akan menjagaku?" Gumamnya dan memejamkan mata kembali.
Kadang dunia memang seperti itu memberikan ujian dengan banyak cobaan, tentu saja sebelum adanya pelangi yang indah harus ada awan hitam pekat dan hujan yang menyapu dunia bukan?