
Tuhan jika aku diberikan cinta bisakah cinta itu juga mencintai malaikat kecilku ini? Sebuah anugrah darimu yang kau titipkan padaku. Melihat tawanya saja dan banyak orang yang mencintainya membuatku sangat bahagia.
Jika diberi kesempatan bertemu dengan lelaki itu, akankah dia mengenalku atau menerima anak ini. Bukan, bukan berarti dia berhak mengambilnya dari sisiku namun setidaknya dia tau bahwa anak ini anaknya juga dan kuharap dia mengakuinya juga, itu saja sudah cukup.
"Ma ayo sini main sama Uncle. Ucap anak itu sangat senang menarik tangan mamanya. Bagaimana pekerjaan pertamamu ma?" Tanya anak itu lagi sambil bermain.
"Wah sangat menyenangkan sayang." Ucapnya.
Lana melihat keharmonisan ibu dan anak sangat senang karena sudah 10 tahun dia mendambakan sosok ibu yang ingin sekali mendampinginya tapi tak ada. Dia dan Keila hampir sama, sama-sama kehilangan orang yang dicintai, walaupun pada akhirnya ayah Keila menikah lagi namun ibu sambungnya tak pernah menjadi ibu untuknya.
Keila mendatangi Lana yang sedang sibuk melihat naik turunnya saham investasinya, dan mengambil secara langsung tab yang ada di tangannya.
"Wah jelas sekali sangat bagus, bagaimana bisa kau kaya secepat ini." Ejek Keila.
Lana berbisik, "Ini juga salah satu jalan ninjaku." Tertawa.
"Kau bisa saja. Memukul lelaki itu perlahan. Bagaimana lamaranmu?" Tanya gadis itu.
"Ah menyebalkan, aku tak tau dia menerimanya atau tidak. Dia hanya mengambil cincinnya." Menghela nafas dan memainkan ayunannya.
"Wah sungguh menyebalkan kalau aku jadi dirimu. Tapi cincin itu memiliki 3 permata?" Tanya Keila penasaran.
"Iya. Lana mendadak menegakkan badannya dari posisi awalnya. Bagaimana kau tau kak?" Tanyanya penasaran juga.
"Haha benarkah. Tadi kami makan siang dan dia memakainya. Kelihatannya dia menyukainya." Gadis itu memberikan tepuk tangan sebagai dukungan.
"Wah luar biasa. Gadis itu memang gak mau mengakui jika dia menyukainya atau hanya menyukai cincin itu saja." Menghela nafas kembali.
"Seharusnya Uncle membawanya ke taman, menghiasi taman itu sebagus-bagusnya. Memberikan dia bunga dan memberikannya beberapa hak yang mengejutkan lainnya. Begitu saja tidak tahu." Ucap Keyran memarahi Lana.
"Benarkah? Kenapa aku tak berpikir seperti itu ya. Hei anak kecil kah belajar hal itu dari mana?" Tanya Lana.
Anak itu tak menjawab dan hanya mengingat kejadian di taman bermain itu saat Leon mengucapkan. "Mana mungkin diterima, Icha memang menyukai hal yang mengkilap dan juga hal romantis." Gerutu lelaki itu.
"Hei sayang ada apa?" Tanya Keila mendekati anak itu dan memegang kedua bahunya.
"Tidak bu. Ayo pulang sudah mau malam. Aku lapar." Mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah. Gadis itu berdiri dan menatap Lana. Jadi kau mau ke rumah Icha?" Tanyanya.
"Tidak, dia ada makan malam keluarga di rumahnya.Aku pulang saja, kalian hati-hati ya." Melambai.
"Ah iya terimakasih Lana." Ucap Keila.
"Uncle sayang, terimakasih sudah menaniku main." Teriak Keyran.
"Baiklah kakak. Baiklah keponakan paman sayang dada." Melambai.
__ADS_1
"Ayo pulang." Ajak ibunya.
"Ayo ma." Menggandeng tangan ibunya.
"Kelihatannya mereka akan pulang, sebaiknya kita ke bar saja. Ucapnya pada Ken melajukan mobilnya jauh dari mereka dan menutup kaca jendelanya. Wajahnya sangat bahagia, akankah lebih bahagia jika bersamaku?" Batin Loen.
"Sepertinya kau memang menyukai ibu dan anak itu. Tapi jika gadis itu tau kau adalah lelaki waktu itu, akankah dia mau menemuimu lagi atau malah mendekat. Kalian sangat rumit." Pungkas Ken.
"Iya, kehidupanku sangat rumit. Bagaimana bisa kami menjalani hubungan yang rumit ini." Gerutu lelaki itu sambil menghela nafasnya.
Kediaman keluarga Leon.
Suasana begitu dingin sentuhan pun masih tak berasa. Rumah ini bak neraka setelah kematian ibu. Masa-masa kelam itu selalu menghantuiku, jika saja ayah tak menikah lagi mungkinkah ibu akan masih hidup saat ini dan tidak mati dalam kecelakaan mobil waktu itu.
Leon menghela nafas dan memasuki rumah itu, banyak pelayan yang menyambut kedatangannya. Lelaki itu langsung memasuki kamarnya dan bergegas membersihkan dirinya.
Di bak mandi pun dia menghabiskan beberapa batang rokoknya, menghilangkan sesak di dada yang melanda dirinya saat ini. Hanya senyuman gadis itu dan wajah anak kecil itu yang membuatnya sedikit tersenyum.
Suara ketukan dari luar pintu kamar mandi.
"Maaf tua Leon, anda segera dipanggil ke ruangan makan untuk jamuan makan malam." Ucap Kepala pelayan keluarganya.
Keluarga Darma Jaya, keluarganya adalah keluarga nomor satu di kota ini dan banyak disegani oleh banyak orang.
"Pergilah." Ucap Leon.
Leon tak menghiraukan lelaki tua itu, dia senang sekali melihat ibu tirinya mengeluarkan amarah dan memelototinya hingga matanya ingin keluar. Hal itu terkadang menjadi kesenangan sendiri baginya.
Banyak cerita di baliknya, dan banyak keresahan yang sengaja dibuat olehnya agar ibu tirinya tak betah dirumah. Keusilannya masih ada sampai saat ini namun lebih bisa menjaga sikapnya.
Dengan santai Leon bergegas berjalan ke meja makan, terlihat semua keluarga termasuk Prilly sudah duduk manis bergabung bersama keluarganya. Leon hanya duduk dan tak menghiraukan banyak orang.
"Kenapa lama sekali?" Ucap ayahnya.
"Tidak enak badan saja." Ucapnya datar.
"Sebaiknya kamu memeriksakan kesehatanmu, sebelum saatnya kau menikah." Perintah ibu tirinya.
"Ibu." Bantah Icha dan menatap Leon.
Leon tak bergeming dan hanya diam saja.
"Kau harusnya banyak istirahat." Pungkas ayahnya.
"Baiklah." Menjawab patuh.
"Prilly bagaimana kabar keluargamu?" Tanya Ibu tirinya basa-basi.
__ADS_1
"Aku sudah menyelesaikan makananku, sekarang aku boleh pergi?" Berdiri dan meninggalkan meja.
Ayah Leon hanya diam saja.
"Kau. Kurang ajar sekali kau." Teriak Wanita itu melempar garpu.
Leon berbalik dan mendorong vas bunga kesayangan wanita itu.
"Ah maaf, aku kaget karena lemparan garpu. Jangan salahkan aku. Melambai. Icha ayo." Ajaknya.
"Ah baiklahlah kak. Jawabnya. Ayah ibu permisi. pungkasnya langsung berdiri mengejar Leon.
Di dalam mobil.
"Cepat naiklah." Perintah Leon.
"Astaga kakak." Memasuki mobil dan melihat bekas tancapan garpu melukai punggung tangannya.
Leon hanya menatap tangannya dan tak merasakan sakit apapun.
"Ah tak apa, besok juga sembuh. Pakai sabuk pengamanmu." Memutar mobil dan melaju kencang.
"Maafkan ibuku ya kak." Nada sedih.
"Memangnya kenapa dia? Tanya Leon dan mengusap kepala adiknya tersebut. Sudahlah." Memenangkan gadis itu.
"Baiklah." Mengangguk.
"Aku antar ke apartemen ya." Ucapnya.
"Ah baiklah."
Sesampainya di apartemen terlihat ibu dan anak itu pergi ke supermarket terdekat.
"Kakak tidak apa lukanya?" Tanya Icha.
"Tidak apa-apa masuklah." Ucap Leon dengan senyuman.
"Baiklah hati-hati kak." Melambai, mobil itu melaju dan tak terlihat lagi.
Icha memasuki apartemennya.
Leon memarkirkan mobilnya di samping supermarket itu dan duduk di bangku yang ada di depannya. Anak kecil itu keluar sambil memakan es creamnya menyadari Ayahnya ada disana.
"Ayah." Ucapnya membuat kaget Keila dengan panggilan tersebut.
"Ha Ayah?" Menatap Leon, mata mereka berdua saling menatap.
__ADS_1