
Lelaki itu menghadap ke rumah orang tuanya kakinya sedikit gemetar dan menarik nafas panjang, kali ini ia datang dengan berpakaian santai dan membawa beberapa bingkisan untuk kedua orangtuanya dan keluar dari mobilnya di sambut para penjaga rumah.
Lelaki itu adalah anak dari keluarga menengah keatas. Semenjak ia menjadi dokter semuanya berubah dan keluarganya termasuk ayahnya berhasil membangun rumah sakit besar di Ibu kota dengan dia juga sebagai dokter spesialis dalam terbaik di kota itu.
"Tuan anda sudah datang?" Sambut seorang pembantu tua yang masih kuat yang sudah dianggap sebagai ibu juga baginya.
"Ah iya … saya sudah datang. Melangkahkan kaki ke dalam rumah." Sambil gemetar.
"Tuan, anda sudah ditunggu di ruangan keluarga. Silahkan masuk." Ucap Bibi itu.
"Baiklah bi ambil ini saya akan masuk. Menghela nafas panjang lalu mengetuk pintu. Ayah ini aku Arya." Ucap Lelaki itu.
"Sebenarnya aku ingin meminta maaf dan memohon ampun kepada ayah dan ibu. Aku ingin menceraikan Lily." Sontak saja mereka kaget mendengar penjelasan Arya.
Gila saja lelaki itu memohon kepada kedua orang tuanya untuk menyetujui dirinya untuk bercerai dengan istrinya.
"Kau sungguh-sungguh ingin bercerai dengan Lily?" Tanya Ayahnya kala itu.
"Ayah dan ibu taukan aku mencintai Keila bukan adiknya Lily. Aku mohon ini sudah 5 tahun dan kalian berhasil mendapatkan status seperti yang kalian inginkan." Ucap Arya memohon dengan sangat.
"Tapi sayang, kau memiliki kedua anak bagaimana kau bercerai, bagaimana dengan mereka?" Tanya Ibunya mendadak resah.
"Bu Ana adalah anakku dengan Lily aku tak masalah jika Ana bersama Lily. Sedangkan Billy anak kakak. Aku akan tetap mempertahankan hak asuhnya. Ku mohon." Ucapnya sambil bersujud di kaki Ayahnya.
"Baiklah jika keputusanmu sudah bulat, kita akan mendatangi orang tua Lily. Tapi … tapi kau yakin jika jabatanmu itu dicabut kau tidak apa-apa?" Tanya ayahnya.
"Aku bisa membuka klinik untukku bekerja ayah." Menyakinkan kedua orang tuanya.
"Baiklah, bangun klinik selama sebulan ini. Jika sudah, kita akan mendatangi rumah ayah Lily. Tapi apa yang membuatmu yakin bercerai dengannya?" Tanya lelaki itu sebelum dia mengiyakan anaknya lebih lanjut.
"Keila ayah, dia masih hidup tidak seperti berita yang dikabarkan keluarganya." Ucap Arya.
"APA?!" Lelaki tua dan wanita itu terkejut mendengarnya.
…
Rumah keluarga Leon saat sarapan pagi.
"Baiklah karena ini hari pertamamu kau harus ingat menjaga sikapmu. Kau akan diangkat menjadi manajer divisi regional sementara. Setelah itu kau akan menjadi Direktur pemasaran." Ucap Lelaki itu sambil memakan makanannya.
Ya lelaki itu adalah kepala keluarga besar Hartono. Lelaki terkaya ke 5 di kota itu.
"Baiklah ayah aku akan mengikuti perintah ayah dan mengikuti pelatihan 3 bulan ini untuk mencapai jabatan di Direktur seperti saran ayah." Ucap Anak itu.
"Kau harus bekerja keras anakku." Memberikan daging panggang ke piring lelaki itu.
__ADS_1
"Baiklah Ibu. Tersenyum manis. Sepertinya aku harus mulai dari awal untuk mengalahkan kakakku." Membatin dan tersenyum dengan sedikit menaikkan ujung bibirnya.
"Aku akan membantu semua perkembanganmu." Ucapnya.
"Baiklah ayah. Kalau begitu aku berangkat kerja dahulu. Permisi Ayah, ibu." Memberi salam.
Lelaki itu bersama asisten pribadinya bernama Erik. Melaju ke arah perusahaan dan melihat kendaraan semua berhenti karena lampu merah, mata Dilly menatap ke jendela kaca pintu mobil menembus toko roti yang ada di seberangnya.
"Hmm menarik. Ucapnya melihat Icha dengan gadis dan anak itu, anak yang memanggil Leon ayah. Rik, cari tau yang bersama adik perempuanku itu siapa? Mengapa gadis itu memiliki anak yang memanggil kakak ku ayah?" Ucapnya menoleh ke Erik.
"Aku akan cari tau segera pak. Tapi sepertinya nona itu adalah sekretaris tuan Leon." Ucapnya.
"Cari tahu lebih lanjut." Mobil melaju dan lampu menghijau.
Beberapa kendaraan berjalan perlahan ke kanan dan lurus.
"Baiklah tuan." Ucap Lelaki itu.
Di toko roti kesukaan Keyran.
"Ma aku sudah selesai boleh beli lagi untuk nanti malam?" Ucap anak itu.
"Tentu saja sayang." Ucapnya.
"Kau akan menggemuk mengkonsumsi gula terus menerus." Ejek Icha.
"Baiklah ayo pergi ke sekolah." Ucap wanita itu.
"Baiklah kakak kami ber berangkat duluan ya." Anak Itu memakai tasnya dan melambai.
"Baiklah kalian hati-hati yah?" Ucap Icha bertahan disana menunggu kekasihnya itu datang sambil menatap jarinya yang melingkar cincin pemberian kekasihnya.
Lelaki yang lama ia tunggu datang juga membawa beberapa bingkisan.
"Sayang aku datang." Duduk di depan bangku Icha.
"Apa ini?" Membuka beberapa bingkisan.
"Iya aku mendapatkan beberapa hadiah kecil dan aku inget kamu suka banget tas ini." Menunjuk dan memakan makanan yang sudah dipesankan oleh kekasihnya.
"Wah tas Di*R terbaru. Ah sayang." Ucapnya.
"Iyaa suka gak?" Ucap lelaki itu.
Gadis itu memeluk tas itu dan mengangguk.
__ADS_1
"Seneng banget." Ucapnya.
"Oh iya sepertinya 1 bulan kedepan harus fokus di sea games." Ucap lelaki itu perlahan menghabiskan sandwich nya.
Icha menghela nafas.
"Baiklah. Aku juga akan lebih sibuk karena kakak lelaki ku kembali dan mau merebut posisiku." Ucapnya.
"Ha? Si manusia dingin itu!!" Ucap Lana.
"Tenang saja saat ini jabatannya masih sebagai manajer." Sambil meminum jeruk hangatnya.
"Baiklah sayang kau selalu bisa atas apapun tapi jangan kelelahan ya. Memegang tangannya dan mengambil sekotak produk kecantikkan untuk gadis itu. Bagaimana? Suka?" Tanya lelaki itu.
"Astaga sejak kapan kau menjadi lelaki yang sangat romantis seperti ini?" Tanya gadis dengan senyuman dan mood pagi yang sangat bagus.
"Kelihatannya mood mu sudah sangat bagus untuk menjalani hari yang cukup berat. Jangan sakit ya." Menggenggam erat tangan gadis itu.
Sesampainya di Perusahaan seperti biasa lelaki itu datang dan hendak memprovokasi diriku yang sedikit temperamen. Setidaknya aku sudah berubah menjadi gadis yang sudah bisa mengolah emosi dan menjadi lebih dewasa.
"Ah hallo pak manajer. Selamat untuk hari pertama anda semoga hari anda baik." Ucap Icha mendekati lelaki itu memperbaiki disisinya.
Tangannya menangkap tangan Icha.
"Adikku … ah tidak maksudku Ibu Direktur sangat perhatian sekali. Terima kasih." Ucapnya.
Icha menaruh kedua tangannya di belakangnya dan melipatnya sambil bergurau kepada kakak kandungnya itu.
"Semoga prosesmu menyingkirkan orang-orang dapat berjalan lancar." Menepuk bahunya dan pergi.
"Hei. Lelaki itu membalikkan badan. Setidaknya kau menjemputku dan mengajakku makan malam bersama, bukannya mengacuhkanku." Ucap Dilly dengan nada yang sedikit tinggi, tanpa ia sadari para karyawan dan staff menatap mereka.
Icha memandang sekeliling dan menghela nafas dengan senyuman dan berbisik kepada kakaknya tersebut.
"Tuan, ayolah kendalikan temperamen. Jangan seperti ibumu yang suka mengacaukan segalanya. Kau lihat, hari pertamamu jadi rusak karena kesan pertama sangat buruk di mata para karyawan dan staff." Pergi menjauhi lelaki itu dengan kemenangan.
Para staf dan karyawan berbisik dan memandang lelaki itu menggunakan kekuasaan untuk berada di jabatannya.
Bisik. Bisik. Bisik.
Lelaki itu menggeleng.
"Tuan sebaiknya kita pergi." Ucap Asistennya itu.
"Astaga. Menghela nafas. Dia bisa saja." Pergi ke kantor barunya.
__ADS_1
Icha menoleh ke belakang menatap lelaki itu berjalan dan menghela nafas.
"Sepertinya perang saudara akan segera dimulai, akan ada banyak hal yang harus aku kerjakan." Memasuki kantornya dan mendatangi kantor divisi keuangannya dan menyuruh semuanya bekerja keras termasuk dirinya.