Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
63. Benih Rasa


__ADS_3

Wajah Wanita tua itu sangat berseri melihat cucunya itu. Dia melontarkan kata yang sangat lembut untuk pertama kalinya.


"Cucuku Keyran, bisakah kau kesini." Ungkap wanita itu dengan senyuman menawannya.


Semua mata tertuju kepada mereka. Terlihat para miss sosialita itu melihat keakraban mereka dan merasa cemburu dengan apa yang dimiliki wanita itu. 


"Wajah cantik, kaya dan memiliki anak bahkan cucu yang berbakat. Bisik-bisik. Sungguh beruntungnya." Ucap beberapa orang di belakang mereka.


Sebelumnya beberapa orang mendatangi galeri Ibu Icha dan mencela karyanya yang tidak seberapa menurut mereka.


Wanita itu yang terbiasa temperamen di rumah belajar untuk menahan semua singgungan dan perlakuan dari teman-temannya.


"Segini saja aku juga bisa, bagaimana mungkin lukisan seperti ini sangat mahal di pagelaran seni ini." Ucap salah satu wanita terkaya di kota itu.


"Maaf bu, jika tidak suka jangan menghina apa yang ada disini karena disini adalah hasil kerja keras dari banyak tangan alangkah baiknya anda tidak menghina suatu karya." Ucapnya.


Keyran yang baru datang dengan 2 pengawal dari kakeknya itu pun melihat situasi aneh neneknya.


"Hmm. Apa yang mereka lakukan?" Tanya Keyran kepada dua pengawalnya..


Pengawal itu berbisik.


"Hmm … sambil berpikir Keyran memiliki ide. Dan membisik ke pengawalnya.


"Ah baiklah tuan muda." Ucapnya.


Seperti biasa Keyran mendatangi neneknya dan mencium tangannya di hadapan teman-temannya.


"Hallo nek, maafkan aku terlambat bisa kita mulai?" Ucapnya.


Wanita itu mendadak bingung dan menaikkan alisnya.


"Apa aku bisa mempercayai anak ini?" Batin wanita itu.


Para pengawal menggiring mereka memasuki ruangan Keyran terlihat di sana banyak gambar lukisan dan foto beserta namanya terpampang lebar di terpajang di dinding.


Para wanita itu terkadang menatap Keyran. 


"Ha, Keyran Fay." Ucap salah satu wanita tua yang sombong.


Terdengar suara alunan melodi dari piano dari permainan dasar hingga yang tersulit. Hal itu mengagetkan para wanita itu dan menyadari anak yang di hadapannya adalah Keyran Fay.


Anak kelahiran Inggris Sekaligus pianis dan desainer ternama.


Wanita itu mendekati teman-teman sombongnya.


"Kalian lihat, dia adalah cucuku." Menunjuk Keyran.


"Ha tidak mungkin, Oh my god. Ucap salah satu wanita sombong itu dan menghampiri Keyran. Hei siapa namamu? Keyran?" Tanyanya.


Anak itu menyelesaikan permainannya.

__ADS_1


"Ah benar sekali nyonya. Saya cucu wanita ini. Sambil menggenggam tangan neneknya. Jika kalian ingin mendaftarkan anak-anak kalian silahkan di sebelah kiri." Keyran menunjuk kepada para pengawalnya.


"Ah benarkah baiklah." Para wanita itu langsung menghampiri pengawal Keyran dan mendaftarkan anaknya untuk les privat langsung dengan neneknya.


Neneknya kaget melihat apa yang telah dilakukan cucunya. Keyran mengedipkan matanya dan memberi jempol kepada neneknya.


Wanita itu langsung memeluk Keyran dan mengelus rambutnya.


"Wah cucu nenek sayang." Ucapnya.


Wanita sombong itu menghampiri mereka.


"Maafkan aku nyonya tindakanku kasar tadi dan tidak terlalu paham seni. Untuk kedepannya mohon kerjasamanya. Ah iya tempat pembayaran administrasinya dimana?" Tanyanya.


"Pengawal. Panggil Keyran. Tolong iringi para wanita cantik ini ke bagian administrasi dan bagikan brosurku ya satu persatu jangan lupa." Lalu anak itu memberi salam kepada mereka semua.


"Anak yang hebat." Ucapnya.


Terlihat Keila datang menghampiri mereka dan kebingungan melihat pengawal Keyran menggiring para wanita itu.


"Astaga apa yang terjadi sayang?" Tanya Keila kepada anaknya.


"Ah tidak tahu ma, tiba-tiba saja teman nenek pada ingin mendaftarkan dirinya di galeri ini. Ternyata nenek sangat hebat ya ma." Menaikkan alisnya dan memberi jempol kepada wanita tua yang cantik tersebut.


"Ah kau bisa saja sayang. Ucap wanita itu. Kalian mau kemana lagi? Ayo kita makan bersama." Ucapnya.


Hal itu membuat Keila kaget karena setahun terakhir dia mendekati ibu mertuanya tak pernah berhasil.


Tibalah mereka di sebuah restoran langganan ibu mertuanya. Terlihat mata wanita itu sangat tegas dan tidak menyukai sesuatu yang tidak rapi.


Keila mengingat kejadian tadi malam prihal kedua orang tuanya.


"Kakak sudah datang?" Lambai Icha dari mejanya bersama Lana.


"Ah sayang mereka disana." Menunjuk ke arah Icha dan Lana.


"Ah baiklah. Ayo sayang." Ucapnya pada anak kecil itu dan anak itu sudah berlari ke arah paman dan bibinya.


"Astaga aku rindu sekali." Ucap anak kecil itu memeluk mereka berdua.


"Ah Keyran sayang, apa kabarmu?" Tanya Icha.


"Sehat sekali. Minggu depan kami akan main ke Paris. Iya kan Yah." Menatap Leon.


"Ah iya. Oh iya kenapa, ada apa emangnya?" Tanya Leon pada pasangan itu dengan nada serius.


"Aku dah pesenin steamboat dan rappoki. Ayo dimakan pesanannya datang." Ucapnya Icha mengalihkan pembicaraan.


Mata Lana dan Keila saling menatap, Lana hanya menaikkan bahunya dan menggeleng.


Keila membatin. "Hmm biarkan Icha menjelaskan apa yang terjadi kepada kakaknya." Gerutunya.

__ADS_1


"Apa!! Ayah mengatakan begitu. Pungkas Leon spontan. Sepertinya tidak boleh begitu." Menatap Icha dengan mata berbinar dan memohon.


"Kakak tau kan aku dan Lana sudah sangat berusaha terlebih dalam mempertahankan posisiku." Memanyukan mulutnya.


"Baiklah sebelum kami berangkat kita harus mengatur makan malam keluarga." Pungkas Leon.


Diluar dugaan Icha, dia yang tau bahwa kakaknya satu ini sangat membenci makan malam keluarga bersama Ibunya.


"Benarkah kak? Benarkah?" Tanya Icha kembali.


"Iya." Tak sengaja Leon membanting gelasnya.


Hal Itu membuat Keila dan Keyran menatapnya.


"Ayah marah dengan tante ya?" Tanya Keyran kaget.


"Bukan begitu sayang, ayahmu hanya kaget." Ucao Icha menenangkan.


"Ah maafkan aku aku mau ke toilet dulu." Ungkapnya pergi.


Keila menatap ibu mertuanya sekaligus menek dari anaknya tersebut.


"Hal apa yang membuat mereka tidak akurnya termasuk kepada kakaknya Icha sekaligus adiknya suamiku. Hmmm." Keila hanya menggeleng dan bertanya-tanya sendiri dalam hatinya karena suaminya juga tidak menceritakan masalah keluarganya sama seperti dirinya.


Keila menatap wanita itu memberi makan Keyran dan mengelus rambutnya dengan senyuman.


Bak seorang nenek yang menyayangi cucunya.


"Syukurlah di keluarga ini Keyran diterima dan disayangi dengan baik.  Menatap kedua orang itu dengan sangat bahagia. Akankah Leon juga bisa menerima ibu tirinya ini." Sambil membayangkan keluarga kecil itu bahagia untuk kedepannya dan seterusnya.


Akankah perasaan itu tetap ada dan bertumbuh di jiwa kita masing-masing, bagaimana membuat hal tersebut terwujud dan mewujudkan? 


Bagaimana waktu membuat setiap hal sembuh dan menyadari banyak hal yang harus dilewati itu menjadi sebuah kenyataan yang sangat baik jika di syukuri.


"Bu bolehkah aku menganggap dirimu seperti ibu kandungku?" Tanya Keila pada wanita itu pada sore itu.


Wanita itu mendadak terdiam dan menatap gadis yang ada di hadapannya. Gadis yang melahirkan anak kecil yang sangat genius dan berhasil menolongnya sekaligus membuat namanya lebih terkenal lagi.


"Astaga apa-apaan dirimu, tentu saja." Ucap wanita itu memberikan makanan ke piring Keila.


Hal itu membuat gadis itu terharu.


"Terima kasih ibu, mohon bimbingannya untuk menjadi seorang ibu yang baik sekaligus menantu di keluargamu." Ucap gadis itu.


Wanita itu tak kuasa menggenggam tangan Keila.


"Tentu saja." Ucapnya.


Hal tersebut dilihat oleh Leon yang hendak menjemput Istri dan anaknya itu.


"Astaga, saat mengetahui wanita gila itu membawa mereka aku sangat ketakutan atas tindasan atau hal apa yang akan wanita ini lakukan tetapi mereka sangat akur diluar dugaanku. Batin Leon. Apakah aku harus bersikap baik juga padanya ya?" Menimbang-nibang perkataannya antara logikanya dengan perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2