
Analia menjabat tangan Leon dan menatapnya dengan senyuman yang sangat manis, mata mereka saling menatap puas akan keadaan selama ini.
Dalam acara pembagian sertifikat dan piagam tersebut. Terlihat Analia berdiri tepat di samping Keyran. Ya tentu saja acara itu acara besar internasional.
Leon tersenyum puas menatap anaknya dan gadis itu dengan mata berseri-seri. Keila yang ada di sampingnya pun menyenggol bahu Leon dengan bahunya.
Leon menoleh tepat ke ke gadis tersebut. "Cemburu ya?" Lalu menatap kedepan dan menggenggam tangan istrinya tersebut di dadanya.
Keila hanya terdiam dan menatap legah lelaki itu, lelaki dingin itu bisa juga tersenyum. Ya dia tersenyum kepada mantan kekasihnya yang sudah lama tak bertemu.
"Kau masih menyukainya?" Tanya Keila.
Leon menggeleng dan mencium tangan istrinya tersebut sambil menepuk lembut tangan gadis itu.
"Tidak, aku hanya bersyukur. Jika aku tak bertemu dengannya mungkin kita takkan bertemu dan menjadi satu saat ini." Ucap Leon dengan senyuman dan melambai kepada Keyran.
Keila mendadak tersenyum puas mendengar kata-kata lelaki itu. Karena dia paham betul bahwa Leon bukan seseorang yang bisa menggombal atau memberikan ia rayuan seperti itu.
"Jadi jika kalian tidak putus apa yang akan kau lakukan?" Tanya Keila sekali lagi.
"Entahlah, mungkin aku akan menikah dengan seseorang yang di jodohkan oleh Ibu tiriku." Ucapnya.
Keila mendadak tertawa. "Maksudmu Prilly?" Ucapnya tertawa menutupi mulutnya dengan satu tangannya.
Mendadak di sisi lain Prilly yang berjalan di tengah kota Paris itu bersin. "Hachim. Astaga, ada apa denganku." Pungkasnya.
Leon menarik gadis itu dan memeluknya agar tidak kemana-mana.
"Istriku ini pandai sekali untuk membuatku tersudut ya." Bisiknya.
"Hahaha, bukankah memang benar sekali." Ucapnya.
Keyran yang ada di panggung turun dan memberikan piala dan piagam tersebut kepada ibunya.
"Lihat ini bu, aku menjadi pelukis cilik di umur 7 tahun. Hebatkan aku." Sambil menyentuh hidungnya menyombongkan diri dengan satu tangan di pinggangnya.
Keila sedikit merunduk dan mengelus kepala anak tersebut. "Anak ibu yang paling tampan ini sangat berbakat." Ucapnya.
"Anak dari Leon Hartono memang harus berbakat seperti ayahnya." Sambil menggendong anak itu.
"Ah baiklah, bagaimana tujuan kita berikutnya?" Tanya Keyran.
Keila memeluk Leon dan berjalan bersama keluar gedung menuju parkiran.
"Hmm apakah kita akan menonton." Tanya Keila.
"Hmm boleh saja ibu, tapi perutku sudah keroncongan dari tadi." Ucap anak itu sambil memegang perutnya.
"Haha, sayang kau mau makan apa?" Tanya Leon.
"Steak Iga disini terkenal sangat enak, aku mau makan itu dengan bumbu black paper nya dan beberapa makanan lainnya." Ucap anak tersebut.
"Baiklah tuan muda kita berangkat." Ucap Leon.
__ADS_1
"Wah bapak pelayan kita sangat sigap ya." Ucap Keila mengejek suaminya.
Dan mereka tertawa bersama.
"Terkadang kita memiliki kesempatan untuk berupaya mewujudkan kebahagiaan, terkadang juga kesempatan itu bisa saja hanya sedikit bukan berarti kita tidak memanfaatkannya dengan baik. Yah walau sedikit aku ingin terus menikmatinya." Batin Keila.
Gadis itu memegang piagamnya menatap keluarga kecil tersebut yang sangat harmonis dimatanya.
"Sepertinya dia memang sudah mendapatkan kebahagiaannya. Lelaki sedingin es, tatapan tajam dan tatapan acuh tak acuh itu sudah menemukan titik terang hatinya." Batin Analia.
Seorang lelaki menarik tangan gadis itu membuatnya berputar dalam pelukan lelaki itu.
Lelaki itu memegang pinggang gadis itu dan menatapnya. "Maafkan aku sayangku. Ucapnya sambil memberikan bunga mawar putih kesukaannya. Ini hadiah untukmu." Sambil mengembalikan posisi berdiri awal.
Analia menatap bunga itu dan tersenyum sembari menatap tunangannya tersebut.
"Ah, so sweet sekali baby." Ucapnya.
"Mau kita rayakan? Belum sempat Analia mengiyakan. Lelaki itu sudah menggendongnya. Mari kita pergi." Ucapnya.
"Astaga sayang kau membuatku malu saja." Ucap gadis itu menutupi wajahnya.
"Pegangan di leherku atau kita akan terjatuh." Tanpa banyak kata lelaki itu membawa gadis itu ke mobil lamborghini nya.
Terdengar banyak teriakan dan tepuk tangan untuk mereka, beberapa orang menganggap hal tersebut adalah hal yang sangat romantis apalagi di kota Paris tersebut.
Kendaraan mereka melaju menjauhi kota tersebut. Dan berpapasan dengan mobil Leon, terlihat mobil mereka menebarkan kelopak mawar bak sepasang kekasih yang sangat romantisnya dan sedang di mabuk asmara.
Mendadak Leon menatap istrinya tersebut. "Maafkan aku sayang, aku memang tidak romantis tapi aku sangat kaya." Gerutu lelaki itu.
Hal itu membuat Keila tertawa dan Keyran hanya menggeleng di bangku kedua mobil tersebut sambil membaca berita dirinya menjadi Hot New di kota tersebut.
"Lihat itu pemandangan malam ini sangat indah." Ucap Leon.
"Wah indah sekali." Gadis Itu Menatap ke arah langit.
Sampailah mereka di sebuah restoran termewah dengan suasana lantai paling atas yang menyuguhkan tampilan kota Paris dengan warna warni kelap kelip lampu kota dan kelap kelip bintang dilangit pada malam itu.
"Wah sangat indah ya, mungkin jika aku tinggal disini aku akan sangat betah." Tutur Keyran.
Terlihat beberapa pelayan menghidangkan makanan ke meja mereka dengan alunan biola pada malam itu membuat suasana menjadi syahdu.
Mendadak Leon mengingat sahabatnya tersebut dan melihat jam tangannya.
"Sepertinya aku harus menelpon sebentar, kalian bisa makan terlebih dahulu." Pungkas Leon.
"Baiklah sayang." Ucap Keila.
Keyran hanya mengangguk dan menikmati makanan tersebut. "Ini sangat lezat ibu." Ungkapnya dengan wajah yang sangat menikmati makanan tersebut.
"Perlahan makannya sayang. Ucap wanita itu mengelap mulut anaknya dan menatap Leon dari tempat duduknya. Apakah dia menelpon Ken?" Tuturnya.
"Hmm apakah paman Ken sedang menyendiri seperti Self Healing ibu?" Tanya anak itu sambil memakan steaknya.
__ADS_1
"Entahlah sayang, makannya pelan-pelan saja ya." Ucap Keila, sembari memakan makanannya juga.
Leon yang pada saat itu menelpon Ken sebanyak 3x dan tak diangkat. "Astaga manusia ini kemana si?" Batin Leon.
"Silahkan tinggalkan pesan suara dan tekan satu." Ucap dari panggilan otomatis tersebut.
Leon menekan angka satu dan berbicara, "kau dimana Ken? Ada masalah?" Langsung Leon mematikan teleponnya dan kembali ke meja makan bersama istri dan anaknya.
"Ada apa?" Tanya Keila.
"Entahlah, Ken tidak biasanya begini." Pungkasnya sambil memakan makanannya.
"Mungkin dia lagi Self Healing ayah." Ucap Keyran sambil menikmati hidangan demi hidangan.
Ekspresi Leon mendadak tertawa melihat wajah kelaparan anaknya tersebut.
"Haha, perlahan saja sayang." Mengelus kepala Keyran.
"Iya perlahan saja." Tutur Keila menambahkan.
Terlihat Ken berada di bar suatu club yang cukup terkenal, dia tak menghiraukan panggilan telepon yang ada di saku bajunya.
Ken sangat menikmati alunan musik Dj disana dan berjoget sesuka hatinya dengan memegang botol minumannya. Terlihat sosok yang sangat familiar lagi di depan matanya.
"Astaga aku mulai berkhayal dan berhalusinasi. Sebaiknya aku kembali ke kursiku." Batinnya dengan jalan yang sedikit sempoyongan.
Tak sengaja dia menabrak sesosok gadis dan membuat tas gadis itu mengeluarkan isinya.
"Maafkan aku nona." Ken membantu membereskan barang gadis itu.
Tangan mereka saling bersentuhan, "Ah maaf nona dan menatap gadis itu." Ken tercengang.
Gadis tersebut adalah Prilly. Pada saat itu Prilly juga kaget menatap lelaki itu dan langsung berdiri dan kabur dari sana.
"Hei Prilly, Hei." Tanpa banyak tanya. Ken mengejar gadis itu, sambil berteriak namanya.
"Astaga kenapa ada dia di Negara ini si, aku kan sudah jauh-jauh kemari." Batinnya dan menyebrang jalanan tanpa melihat laju kendaraan.
Dengan cepat tangan gadis itu berhasil ditarik oleh Ken. Dan hampir saja sebuah truk menabraknya.
"What the ****." Ucap supir truk itu ke arah Prilly dan Ken.
Prilly yang kaget masih terdiam dalam pelukkan Ken.
"Kau tak apa?" Tanya Ken dan memastikan badan gadis itu tidak kenapa-napa.
Tiba-tiba Prilly menangis keras dalam pelukkan Ken dan memukuli badan Ken dengan keras.
"Ken. Huhuhu. Ken. Huhu." Tangisnya.
Ken hanya memeluknya. "Sudah tenanglah sudah, aku disini bersamamu." Memeluk erat Prilly.
Inikah cinta dan inikah getaran di dalam cinta itu? Berbeda negara, saling menghilang dan tak saling berkabar tetapi dipertemukan?
__ADS_1