Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
8. Milikku


__ADS_3

Langkah kakiku mulai gemetar melihat sosok yang sangat lama ku kenali. Spontan badanku berbalik kepalaku mendadak merunduk dan mulai menghela nafas panjang dan menaikkan kepalaku berjalan perlahan seakan tak mengenali apapun dan siapapun.


"Selamat siang bu, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang pelayanan customer service.


"Saya ingin mengurus pemindahan buku tabungan dari sini ke sini." Tunjuknya dan memberikan berkas.


"Sebentar saya cek dahulu namanya ya bu." Melihat data.


"Baiklah silahkan." Merapikan rambutnya dan menaruh beberapa rambut kecil di belakang telinganya.


Lelaki itu berjalan mendekatiku, aku tak tau apa yang dia pikirkan di kepalanya saat ini. Aku masih duduk tenang dengan satu kaki menyilang di atas pahaku.


Lelaki itu menyadari kehadiranku dan terus melihatku kesana dan kesini.


"Ibu sesuai data dan pemindahan atas nama ibu semuanya sudah saya lakukan ya. Ada yang bisa saya bantu kembali? Terlebih dulu bisa di cek sesuai atau tidak bu data-datanya." Menyerahkan berkasnya.


Wanita itu mengambilnya dan melihatnya perlahan dan tak sengaja menjatuhkan berkasnya ke bawah. Langkah kaki lelaki itu berhenti tepat di depanku. Aku semakin gugup.


"Hei pak dokter anda disini. Ayo ikut ke kantor saya, ada yang ingin saya bahas tentang rumah sakit." Ucap salah seorang manager menggiringnya ke kantornya.


"Ah iya-iya pak baiklah." Mengikuti lelaki itu ke kantornya namun matanya masih tertuju pada Keil.


"Fyuhhh. Menghela nafas panjang. Syukurlah." Membereskan berkasnya.


"Bu anda tidak apa-apa? Atau Kurang sehat?" Tanya pelayan di depannya.


"Ah tidak-tidak. Saya cek dahulu isi berkasnya ya. Membolak balik berkas dan mengecek dengan teliti. Baiklah sudah benar. Terimakasih bu." Merapikan berkas dan memasukkannya ke dalam map dan bergegas pergi.


Langkah kakiku tak karuan, detak jantung yang kian membludak di dada.


"Astaga, kenapa bisa si Arya di Bank ini. Padahal ini bank Central. Memasuki mobilnya dan menghela nafas lalu menjatuhkan kepalanya di kemudi stir. Ayolah Keil, semuanya akan baik-baik saja. Semangat." Memutar kemudi dan kembali ke hotel.


Di dalam kantor general manager.


"Yang amat disayangkan ketika aku tak melihat hadirmu lagi, sosok yang kerap sekali menghantui pikiranku hingga saat ini. Mungkinkah aku bisa bertemu lagi. Mungkinkah sosok wanita yang tadi itu seseorang yang aku rindukan? Entahlah segala sesuatunya belum bisa dipastikan." Gerutunya dalam hati.


Seorang lelaki meletakkan 2 cangkir kopi ke meja yang ada di hadapanku.


"Pak Arya. Pak Arya. Arya." Memegang pundak lelaki tersebut.


"Ah maafkan saya pak. Saya melamun." Ucapnya melihat 2 cangkir kopi sudah ada di meja.


"Sepertinya kamu kelelahan. Silahkan diminum." Mempersilahkan lelaki itu meminum kopinya.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya, saya baru pulang dinas malam oprasi malam ini. Sekalian mengecek beberapa berkas." Ucap Arya meminum kopinya perlahan.


"Kau direpotkan oleh istrimu lagi?" Tanya Dion seorang lelaki yang ada di hadapanku.


"Iya. Kau tahukah yang aku cintai siapa. Dan siapa pada akhirnya aku nikahi karena permasalahan kontrak kerja perusahaan." Jawabnya dan menghela nafas.


"Aku mengerti perasaanmu, namun berkat hal itu kau menjadi kepala rumah sakit bukan? Lebih tepatnya sebagai direktur disana." Pungkasnya meletakkan cangkir kopinya perlahan diatas meja.


Arya hanya menghela nafas.


"Mungkin jika bukan karena ibunya Lili yang sangat berpengaruh di kota ini aku takkan menikahinya." Menggenggam cangkir kopi dengan kedua tangannya.


"Kau masih memikirkan gadis itu?" Tanya Dion perlahan takut menyakiti Arya.


"Tentu saja masih. Tegas Arya. Namun dia menghilang dan keluarga menyembunyikannya aku tau akan hal itu, kau tau bahkan surat kematian pun sengaja dibuat oleh ibu mertuaku." Menahan sesak di dada namun wajah tersenyum amat kecut. 


"Sabar ya Bro. Dion menyemangati Arya. Ah iya ini berkas yang kau minta, kau yakin melakukan ini?" Tanyanya sekali lagi.


"Iya. Semua aset sudah dipindahkan atas nama Keil. Karena itu rumah impian kami. Aku memang tak tau dia dimana, masih hidup atau hal buruk apa yang terjadi. Selama dia bersamaku, dia tak pernah meminta apapun dariku. Ini cuma hadiah untuknya. Aku pergi duluan ya." Melambai dan memegang erat berkas tersebut.


"Baiklah. Hati-hati di jalan." Melambai.


Bergegas keluar kantor dan melihat sekeliling, memantau satu persatu orang dan melihat jam tangannya.


Di hotel.


"Sayang ayo bangun sudah jam 9.15 ni, kau bisa terlambat. Ucap wanita itu memarahi anaknya. Sayang mama ni hayuk buruan mandi." Ucapnya membuka piyama anak itu.


"Mama sabar ya sabar. Memulihkan diri dan meregangkan badannya. Ma sudah pagi ya?" Tanyanya sambil mengucek mata.


"Iya saya. Ayo buruan." Memberikan handuk ke anaknya.


"Iya ma iya. Memasuki kamar mandi. Waduh dingin ma." Teriaknya.


"Haha. Kamu sih, udah buruan jangan sampai telat loh bahaya." Teriak mama dari luar.


"Sebaiknya aku cepat." Jebar jebur jebur jebur suara guyuran air.


"Ini pakai baju ini." Ucap mamanya memberikan satu style baju.


"Wah mama ini keren sekali. Tapi Key mau beli sepatu lagi, banyak barang-barang yang tertinggal di rumah lama kita." Ucapnya selesai mengenakan pakaian memakai sepatu dan menyisir rambutnya perlahan.


"Iya sayang setelah kita mendapatkan rumah untuk tinggal nanti barang-barang yang ada disana kita kirim kesini ya." Ucap wanita itu menenangkan dan merapikan beberapa berkas resumenya.

__ADS_1


"Baiklah ma, tapi jangan semua donk ma biar pas kembali lagi kesana barang-barang kita masih ada. Ma aku dah selesai." Ucap anak itu.


"Iya mama juga. Anak mama tersayang sudah ganteng sekali. Thank you, you're a beautiful mom." Memberikan jempol pada mamanya.


"Thanks baby. Ayo." Menggenggam tangan anaknya dan pergi ke mobil.


"Perjalanan kali ini diawali dengan hal yang mendebarkan. Jangan sampai senyuman kita ini menghilang dan tak menghiasi di wajah kita ya." Gumamnya dalam hati.


Di sekolahan.


"Waktu ujian 60 menit ya." Ucap salah seorang guru pembimbing.


"Baiklah bu. Ucap anak itu menyelesaikan semua ujian kurang dari 30 menit. Saya sudah selesai bu." Memberikan kertas ujiannya kemeja guru.


"Ah. Terkejut dan mengambil kertasnya. Tunggu sebentar ya nak ibu periksa sebentar." Memeriksa lembar jawaban.


Terlihat ekspresi Key sedikit membosankan dan menguap karena mengantuk.


"Astaga aku lelah, baiklah tidur 30 menit selesai ujian tak masalah." Gerutunya dan tertidur.


"Luar biasa. Semua dijawab dengan hasil sempurna. Nilai 100. Key." Memanggil anak itu dan anak itu tertidur.


Guru itu keluar dan mendatangi orang tuanya. Wanita itu masih sangat serius melihat banyak karya seni anak-anak sekolah disini yang terpampang di dinding lorong sekolah. 


"Bu ini hasil anak anda, sangat sempurna." Memberikan kertas ujiannya.


Wanita itu tidak kaget lagi. Berjalan-jalan dengan guru pembimbingnya menuju ruangan ujian anaknya.


"Jadi bagaimana bu." Tanya wanita itu.


"Berdasarkan hasil tes anak ibu akan masuk langsung ke kelas 2 sekolah dasar." Ucap guru itu dengan senyuman.


"Benarkah." Ibunya sampai kaget.


"Iya benar bu. Anda bisa ke Tata Usaha untuk mengurus administrasinya. Silahkan." Membukakan pintu kelas.


"Astaga sayang. Menghampiri anaknya yang tertidur. Kamu ngantuk ya." Langsung menggendongnya.


"Ma aku lelah boleh tidur sebentar lagi?" Gerutunya.


"Iya-iya boleh sayang." Ucap wanita itu menenangkan anaknya.


"Mari bu, saya pergi dahulu." Ucap guru pembimbing.

__ADS_1


"Terimakasih bu. Pergi meninggalkan kelas.Hal yang paling membahagiakan dimuka bumi adalah memilikimu nak. Terimakasih telah hadir untuk menemani mama ya." Batinnya sambil memeluk anaknya.


__ADS_2