
Apa yang bisa kamu lakukan jika seseorang yang tak pernah kau pikir ada, dan dia sudah ada di depan matamu, dia yang tak pernah ada dihidupmu kini datang mewarnai kelabu dari mendung yang terus mengganggumu. Kau yang selalu pemilih memilih wanita kini mendapatkan anak karena kesalahan?
Benarkah ini adalah sebuah kesalahan? Aku ingin sekali mengulang waktu jika bisa. Dan jika waktu itu dapat diulang aku takkan melepaskan gadis itu dan bisakah kami hidup bersama?
"Ini bukan kesalahan. Berjalan mendekati anak itu dan memeluknya. Ya ampun sungguh hangat sekali, ingin ku dekap lebih lama. Anakku" Gumamnya dalam hati.
"Apa ini? Batin anak kecil itu. Wangi parfumnya sangat menggoda, apakah dia ayahku?" Batin anak itu lagi.
Ken berlari ke arah Leon dan berhenti ketika melihatnya menggendong anak kecil itu.
Ken menghela nafas panjang dan legah.
"Akhirnya mereka bertemu juga." Mendekati mereka.
Leon melepaskan pelukannya.
"Hei kita bertemu lagi ya. Ucap lelaki itu. Kau disini dengan siapa kenapa sendiri?" Berpura-pura bertanya.
Anak kecil itu menunjuk sepasang kekasih itu. Kelihatannya kekasih adiknya sedang melamarnya.
Lana tiba-tiba saja duduk bersujud di bawah pepohonan itu. Dan mengatakan, "aku tak tau bajingan macam apa diriku, tapi satu hal. Maukah kau menerima baik buruk dan menerimaku menjadi suamimu?" Tanya Lana sambil mengeluarkan sekotak kecil berisikan cincin.
Icha hanya kaget dan tak menyangka kekasihnya bisa seromantis itu. Dengan sigap dia mengambil cincin itu dan memakainya.
"Wah terlihat bagus di jariku, terima kasih. Ucapnya. Akan ku pikirkan baik-baik." Menoleh ke arah jam sebelas dan dia kaget kakak nya ada disana.
"Yah jawabannya donk." Lana langsung berdiri.
Icha mendadak gugup dan seperti biasa bertingkah konyol dan melambai ke arah anak kecil itu dan Leon.
"Ha. Lana menoleh dan lelaki itu mendekatinya bersama anak kecil itu. Wah pemandangan unik." Ucapnya.
"Kakak kenapa bisa disini. Memukul dadanya. Perkenalkan Lana. Menatap Lana. Lana ini kakak ku." Memperkenalkan mereka.
"Oh ini dia. Menjabat tangannya. Hallo saya kakaknya Icha." Menatap Lana.
"Halo kak saya Lana." Membalas jabatan tangannya.
"Wah wah wah. Pertemuan keluarga. Ternyata paman ganteng ini, bos mama aku adalah kakak lelakinya kak icha. Sungguh luar biasa." Anak itu terkejut.
"Haha, iya sayang. Ayo kita cari makanan." Ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Tapi aku mau naik roller coaster itu dahulu." Menunjuk.
__ADS_1
"Baiklah ayo." Menggendong anak itu dan menabrak Ken.
"Eh Icha." Ken menyapa.
Lana langsung permisi dengan Leon menghampiri Icha.
"Ayo sayang-sayangku." Menggandeng kekasihnya dan anak tersebut.
"Wah ni uncle." Ucap anak itu.
"Ayo ikut. Ken menggeleng ke Leon. Akan amat disayangkan jika pemilik tempat ini tidak mencoba menikmati tempat bermain ini bukan." Ejek Ken.
Leon berjalan dan hanya melihat kegembiraan mereka bertiga dan membayangkan dirinya bersama Keil dan anaknya bermain disini.
"Kenapa? Kau iri dengan kemesraan mereka?" Tanya Ken.
Mereka menaiki roller Coaster tersebut, Ken dengan Leon duduk di belakang mereka bertiga dan membuat Icha kaget dan berbalik.
"Kakak kau kenapa hari ini kesini? Sedang mencari suasana baru atau apa?" Tanya gadis itu.
Leon dengan gaya setelan coolnya tidak menjawab dan memasang sabuk pengamannya.
"Jangan bilang kalian memata-matai kami ya." Menunjuk Ken dan Leon.
"Astaga kakak, aku tau masa kecilmu kurang bahagia karena harus belajar dan mengurus ini dan itu. Terimakasih ya, semoga kami mendapat kartu VIP ketempat ini." Ucap Icha.
Lana sudah selesai memasangkan sabuk lengan untuk Keyran. Dan mengarahkan gadis itu menghadap ke depan lalu memasang sabuk pengamannya.
"Terimakasih sayang." Berpegangan erat.
"Wah bakalan seru sekali kali ini." Ucap anak kecil itu dengan tawa.
Kereta itu meluncur dengan kencangnya. Leon masih dengan ekspresi biasa saja, icha, Lana, Ken dan Keyra berteriak sangat seru.
Pada akhirnya Icha muntah dan membuatnya harus ke toilet ditemani oleh Lana.
"Kak tolong jaga Keyran ya aku ke toilet dulu dengan Lana." Ucap Icha.
"Gapapa ya sayang." Ucap Lana memegang kepala anak itu.
"Gapapa uncle." Menatap Leon.
"Eh kalian jangan lupa ke pinggiran pantai, kami mendapatkan layanan terbaik tempat ini." Ucap Leon.
__ADS_1
Icha hanya melambai ke arah Leon.
"Ayo paman." Ucap Keyran menggenggam tangan Leon.
"Perasaan apa ini? Gumamnya dalam hati dan memegangi dadanya perlahan. Kau suka tempat ini?" Tanya Leon hati-hati.
"Suka, Key sangat suka. Key jarang sekali bisa ke taman bermain bersama mama. Terkadang jika ada waktu kaki bepergian ke Disney bersama paman Fandy juga." Ucapnya sambil memainkan gandengannya menganyun ke depan dan ke belakang.
"Wah kau dibesarkan dan diperlakukan baik oleh ibu dan pamanmu ya.Tersenyum menatap anak itu dan berhenti. Jika ibu dan pamanmu sibuk panggil saja aku, aku akan menemanimu." Ucap lelaki itu mengelus rambut Keyran.
"Benarkah boleh? Apakah kau tidak sibuk?" Ucapnya.
"Tidak, aku akan meluangkan waktu untukmu." Ucapnya berdiri dan berjalan menuju pinggiran pantai.
Terlihat sore itu, angin sedang baik-baiknya bahkan getaran ombak sangat bagus pasang surut. Air laut saat ini sangat bagus dengan warna birunya dan kilauan dari cahaya matahari menyinari pasir membuat bling dan kilat.
Sampailah Leon dengan anak itu, mereka duduk di kursi pantai yang sudah disiapkan. Terlihat Ken sangat Heboh karena menikmati akhir pekannya yang biasanya membosankan itu menjadi sangat gembira.
"Hei kalian gak mau main di pantai? Para pelayan sudah menyiapkan pakaian kita dan lihat ini ada bannya juga." Ucap Ken sangat kegirangan.
Hal itu memancing Keyran, anak itu menatap Leon.
"Paman aku boleh main air bersama paman Ken?" Menatap.
"Boleh asalkan saat berdua denganku kau memanggilku ayah." Bisiknya.
Hal itu sontak membuat anak kecil itu kaget sekaligus bahagia, matanya berbinar dan dia dengan spontan memeluk lelaki yang ada di hadapannya.
"Baiklah Ayah. Ucapnya berbisik di telinga Leon sedikit terbatah. Hal yang sudah lama ku impikan." Batinnya.
Leon tersenyum dan menatap anak itu.
"Boleh aku peluk agak lama." Ucap Leon meminta persetujuan anak itu.
Anak itu hanya mengangguk.
"Anakku, anakku, anakku." Gumam dalam hati masih dalam pelukkan.
Hal apa yang paling menyenangkan untuk dilakukan dan diungkapkan, yaitu perasaan sayang satu dengan yang lainnya.
Bagaimana bisa cinta satu malam menghadirkan kebahagiaan setelahnya. Bahkan terpikir memiliki anak dalam hubungan tersebut saja aku tak pernah.
Sering sekali mengencani banyak wanita tapi tak satupun yang membuatku jatuh cinta. Namun kesalahan ini membuatku sangat bahagia, benarkah ini adalah kesalahan atau menjadi sumber kebahagiaan bagiku?
__ADS_1