Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
65. Makan Malam Romantis


__ADS_3

Malam itu adalah malam yang ditunggu-tunggu Keila setelah sekian lama dia tidak makan malam bersama keluarga besar Leon. Ketegangan di hatinya pasti ada terlebih adik ipar lelakinya itu kerap sekali mengganggunya pada saat bekerja dikantor.


Tangan leon memegang tangan Keila yang mengepal di atas pahanya. Leon menatap gadis itu dan tersenyum.


Sedangkan Keyran memperhatikan segala anggota keluarga termasuk unclenya yang datang di makan malam yang sedikit menegangkan baginya. 


Karena anak kecil itu merasa sedikit terusik oleh kehadiran pamannya. Paman yang kali pertemuan pertama bertemu dengannya dan melakukan hal buruk dengan dirinya dan Tabletnya. Lagi-lagi anak kecil itu menggelengkan kepalanya.


"Ternyata hal yang paling tidak aku sukai adalah bertemu dengan pamanku, yah adik ayahku sekaligus kakak dari tante Icha.


Sudah kuduga dia juga tampan tapi ketampanan ayahku dan aku. Ternyata wajahnya jika dipikir-pikir lebih buaya dari uncle ku. Sambil menatap Lana dan Dily saling membandingkan kedua orang tersebut. Aku jadi merindukan paman kesayanganku, paman Arfandy." Mendadak lemas mengingat Arfandy memegang kedua pipinya dengan kepalan tangannya yang disanggah di meja.


"Sepertinya pertemuan kali ini seperti pertemuan keluarga besar ya. Ucap Lelaki itu. Mari bersulang." Sambil mengangkat minumannya.


"Bersulang." Serentak.


"Bagaimana kabarmu Keyran?" Tanya Kakeknya dengan senyuman menatap anak kecil itu.


Ya anak kecil ini menjadi cucu lelaki pertama di keluarga tersebut. Alis Keyran mendadak naik.


"Saya baik kek. Bagaimana dengan kabarmu? Sepertinya kau terlihat lebih muda dari pertemuan kita beberapa waktu lalu." Pujinya, ingin mengambil hati kakeknya.


Semua orang tertawa dan tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh anak kecil itu. Lana tahu maksud anak kecil itu dan menggeleng kepala karena beberapa trik sudah diajarkan sebelumnya padahal trik itu hanya untuk mendapatkan hati para wanita tapi berlaku untuk kakeknya saat ini.


"Hohoho. Ternyata cucuku ini sangat memahami segala sesuatu yang terjadi, bukan begitu Leon." Tanya lelaki itu menatap Leon dari balik kacamatanya yang sedikit menurun dengan tawa kecilnya.


"Ah iya ayah. Sepertinya anakku sangat mendoakan anda panjang umur dan sehat selalu. Semoga kau selalu diberikan kesehatan yang berlimpah." Mendadak Leon yang kaku dan dingin itu mendoakan kesejahteraan ayahnya.


Semua mata keluarga menuju Leon, Icha tertawa.


"Astaga kakak ipar, kau berhasil mengubah kakak ku yang kaku ini menjadi orang yang penuh perhatian ya. Kakak ku yang sekarang sangat diluar dugaan." Ucapnya menyeletus begitu saja.


Keila hanya tertawa dan menepuk punggung tangan Icha perlahan.


"Kau bisa saja adik ipar." Tawa Keila lalu menatap suaminya tersebut.


Leon selalu bisa menempatkan diri dimanapun hal kecil dan besar takkan mengulanginya, yang sulit hanyalah murah senyum itu sangat sulit dilakukannya.


Dily hanya berseru. "Mck." Sambil menggeleng.


Leon menatap Icha dan istrinya sambil menggeleng dan mengedipkan matanya.


"Bagaimana kabarmu Keila." Tanya Ibu mertuanya.

__ADS_1


Semua pandangan mata di meja malam itu  menuju kepada Keila dan nyonya besar itu.


"Ah. Tawa Icha. Ibu aku tak salah dengar?" Tanyanya.


"Icha." Bantah Ayahnya tidak menyukai anak perempuan satu-satunya itu melawan ibunya.


"Ah maafkan aku." Celetusnya lalu menenggak minumannya


"Aku baik bu. Ibu bagaimana?" Tanya Keila.


"Aku baik, sering-seringlah berkunjung." Ucap wanita itu.


"Ah baiklah, aku akan sering melihatmu di galeri bersama Keyran. Benar begitu Keyran sayang?" Tanya ibunya.


"Tentu saja ma. Akun Bersama nenek menggambar karya seni yang takkan bisa orang mengalahkan karya kami." Anak kecil mulai berimajinasi.


"Wah bagus sekali sayang." Mengelus kepala putranya.


"Itu semua berkat nenekku yang cantik." Tawa Keyran.


Hal itu membuat nyonya besar itu terharu dan tertawa. Dan ayah Leon menyadari bahwa suasana baik hati istrinya itu datang dari cucu mereka.


"Ah kamu bisa saja. Oh iya berkat cucu kira ini banyak orang mendaftarkan diri ke galeri kita sebagai seniman baik pelukis, penyanyi, pianis dll. Ayo bersulang untuk Keyran." Ucapnya


Suasana menjadi keruh, bahkan Dily tak menyangkah atas apa yang telah ia saksikan sendiri. Ibu yang dia anggap menyayanginya dan berpihak kepadanya telah beralih kepada menantu di keluarga tersebut dan cucunya.


"Apa-apaan ini? Dily menatap ibunya yang tersenyum kepada menantu perempuannya tersebut. Apa yang dilakukan oleh ibuku?" Batinnya dan menghela nafas.


Lana yang tak tahu apa-apa hanya terdiam dan tak berbicara apapun.


Suara dari Leon pun terdengar.


"Ah iya, sebagai pencapaian Icha mengurus perusahaan di bidang keuangan sebelum jatuh tempo 6 bulannya namun ia sudah menyelesaikannya dengan baik maka aku takkan mengubah jabatannya dan akan tetap menduduki jabatannya." Ucap Leon.


"Benarkah itu Icha?" Tanya Ayahnya.


"Iya ayah berkat Lana. Gadis itu langsung menggandeng tunangannya. Beberapa hal iya selalu membantu walaupun saat ini dia menjadi CEO di perusahaan IT nya." Tegas gadis itu.


Ayah Leon sekaligus Icha itu terkesan dengan kemampuan calon menantunya tersebut.


"Benarkah? Jadi bagaimana pekerjaanmu Lana, apakah Icha tak mengganggumu?" Tanya lelaki tua itu.


"Tentu saja tidak paman, malahan aku sangat senang jika dilibatkan olehnya dalam berbagai situasi." Jawab Lana tegas.

__ADS_1


"Baiklah sepertinya aku tidak salah pilih menantu. Hohoho. Tawanya. Bagaimana dengan tugasmu Dilly?" Tanya Ayahnya.


"Sepertinya dalam kerja sama kali ini kita akan bekerja sama dengan rumah sakit dalam naungan Medical Center sebagai partner. Aku akan mengurus sisanya dan bahan produksi yang ada Ayah." Ucap Dily sedikit tidak tenang karena sudah merasa kesal.


"Coba Lah yang terbaik anakku." Ucap Ibunya Menatapnya.


"Ah dia masih memikirkan aku." Batin Dilly.


"Yang dikatakan ibumu benar. Sepertinya kita harus sering-sering makan malam bersama. Ah iya Lana bagaimana dengan kakakmu?" Tanya Lelaki Tua itu.


"Apakah ayah menyinggung Arfandy?" Batin Keila.


"Akhirnya ada yang menanyakan paman kesayanganku." Batin Keyran.


"Ah iya beliau ada disini dalam beberapa minggu kedepan paman." Ucapnya.


"Haha. Sesekali kau bisa mengajaknya. Bukan begitu Leon? Dia sudah menjadi pemilik saham mayoritas kita juga kan?" Tanya Ayahnya kepadanya.


"Ah iya benar ayah." Jawab cepat Leon.


"Sepertinya seluruh Asetnya sudah pindah ke tangan Keyran." Ucap Lana.


Semua mata menatapnya termasuk Icha apalagi Keila mengerutkan dahinya.


"Apa, anak kecil itu? Memangnya siapa anak kecil ini?" Batin Dily.


"Ternyata paman kesayanganku menepati janjinya." Suara anak kecil itu mendadak memecahkan keheningan.


"Bagaimana bisa?" Tanya Lelaki tua itu ke Lana lalu menatap cucunya.


"Ah ayah sebenarnya aku sudah lama berteman dengan Arfandy di London. Jadi dia dan Keyran sangat dekat dan sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Bukan begitu Lana?" Tanya Keila.


"Benar sekali, aku melihat Keyran besar bersamaku juga bahkan Icha juga mengetahuinya." Jawab Lana menatap tunangannya tersebut.


"Astaga kalian bersekongkol menyembunyikan cucuku yang genius ini?" Tanya lelaki tua tersebut sambil menggeleng.


"Maafkan aku ayah, aku tak tau jika keponakan ku itu adalah anak kak Leon." Mendadak Icha membuang semuanya kepada Leon. 


Leon hanya menggeleng. 


"Ah iya mungkin semuanya salahku membiarkan istriku mengalami masa sulit dan menyelesaikan studinya sambil mengasuh anakku seorang diri di negara orang. Maafkan aku ya sayang." Mendadak lelaki itu mencium kening Keila dan memeluknya.


Leon tak memperdulikan orang-orang yang ada di meja makan malam itu, lelaki itu tetap memeluk istri tercintanya.

__ADS_1


"Aku sangat menyayangimu sayangku." Bisik Leon memeluk gadis itu.


__ADS_2