
Lelaki itu sedang membolak balik dan tersenyum menatap gadis itu datang ke hadapannya.
"Tuan sepertinya nona itu belum menyerah juga." Pungkas sekretarisnya.
Lelaki itu hanya menatap gadis itu keluar masuk kantornya. Dari kaca jendela kantornya ia menatap gadis itu begitu gigi dan bersemangat.
Dan brakk … tabrakan kecil terjadi.
Gadis itu terjatuh ditabrak oleh salah seorang pengantar paket tepat di depan kantor Dilly. Lelaki itu hanya memperhatikan dan tersenyum.
"Ah maafkan aku nona. Maafkan aku." Ucap seorang pengantar paket.
Gadis itu mengenakan pakaian kantor dengan memakai celana setelan berwarna abu-abu sebagai bawahannya.
Langsung berdiri dan membersihkan baju dan celananya dan tak sengaja melihat lengan sikunya terluka lalu menghela nafas.
"Sabar Li sabar Lily. Batinnya dan menghela nafas. Pergilah sebelum aku semakin marah." Pungkas gadis itu.
Seorang pemuda itu menunduk dan pergi begitu saja.
Dilly menatap sikap gadis itu yang mulai berubah secara perlahan.
"Aneh sekali, di pertemuan pertama dia sangat sombong. Namun kali ini segala hal ia buang dengan sekejap." Batin Dilly.
Gadis itu mendatangi resepsionis dan mencari Direktur Operasional bernama Dily di perusahaan tersebut..
"Maaf mbak saya ingin bertemu dengan Pak Dilly Hartono." Pungkasnya dengan sedikit terengah-emgah tapi tetap tersenyum.
"Maaf mbak, apakah sudah ada janji?" Tanyanya sambil menggenggam telepon tersebut menatap gadis yang sedikit kacau di depannya.
"Sudah-sudah." Dengan suara terengah-engah, dan masih tersenyum.
Tak berapa lama Dilly turun dengan sekretarisnya menatap gadis itu berdiri di resepsionis. Lelaki itu memperhatikan luka yang ada di siku gadis tersebut dan menaikkan alisnya lalu menggeleng.
"Maaf tuan, nona ini mau." Sebelum sempat melanjutkan perkataannya. Dily mengangkat tangannya.
"Ah baiklah. Bawa dia kepadaku dan bawakan P3K." Bisik Dily kepada sekretarisnya.
"Baik tuan." Berjalan ke arah Lily.
Gadis itu hanya menatapnya pergi dan sekretarisnya mendatangi Lily.
"Nona ayo ikut saya." Ucapnya.
Tanpa menjawab lelaki itu Lily mengikuti mereka, dengan memegangi tangannya.
Lily berhasil masuk ke dalam mobil Dily, lelaki itu lalu menatapnya, lalu pintu mobil pun ditutup.
"Mana laporannya?" Ucap Dily mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Gadis itu hanya memberikan berkas yang sebelumnya sudah berulang kali di revisinya bersama asisten ayahnya tersebut.
Lelaki itu membuka satu persatu dan membacanya lalu menarik nafas.
Lily merasa tampilannya kurang baik dan berfikir apakah isi laporan tersebut kurang sempurna.
Dily yang sama kaku nya dengan Leon itu menatap gadis itu.
"Gadis ini mirip dengan Keila." Batinnya melihat gadis itu menoleh ke samping seperti sedang malu. Hmmm, apakah ini sangat penting?" Tanyanya sambil memukul berkas itu ke telapak tangannya.
Gadis itu hanya mengangguk.
"Baiklah." Ucapnya.
Terdengar ketukan dari jendela pintu mobil Dilly, lelaki itu langsung menurunkan kacanya dan mengambil kotak P3k dari asistennya.
Perlahan mengambil rivanol meneteskannya di kapas.
"Sini. Ucapnya dan gadis itu mendekatkan siku tangannya kepada Dilly, Dilly dengan perlahan membersihkan luka tersebut. Sakit?" Tanyanya menatap gadis itu.
"Iya." Dan hanya mengangguk.
Lelaki itu lalu menetesi betadin sedikit ke sikunya.
"Untung saja hanya tergores." Ungkap Dily.
Hal itu membuat jantung Lily bergetar dan mengingat kejadian saat di sekolah.
"Sudah aku obati dan sudah tidak apa-apa. Lain kali hati-hati ya." Ucap Arya bergegas keluar dari UKS tersebut.
Terlihat Lily menggenggam tangan Arya dan pintu UKS terbuka. Keila menatap mereka berdua.
"Kau Tidak apa-apa dik?" Tanya gadis itu.
"Tidak apa kak." Ucap Lily melepaskan tangan Arya secara langsung.
"Ha? Adikmu?" Tanya Arya pada Keila.
"Iya dia adikku.bMengelus kepalanya Lily. Terima kasih ya." Pungkas Keila.
Arya mengelus kepala Keila.
"Apa sih yang enggak buatmu. Aku keluar dulu ya." Ucap Arya.
"Iya dah." Keila melambai ke arah Arya.
Lily yang pada saat itu duduk di kelas satu SMA dan Keila duduk di kelas 3 SMA.
Perasaan jatuh cinta dan cemburu pun bergemuruh di dalam dada Lily melihat kakaknya dan seseorang yang dia sukai adalah pacar kakaknya sendiri. Lily meremas selimut dan membaringkan badannya.
__ADS_1
"Kakak keluarlah, aku akan tidur." Pungkasnya sambil menahan tangis.
"Baiklah. Aku akan melihatmu lagi nanti." Keila keluar dari UKS meninggalkan Lily.
Jatuh cinta? Seperti itulah cinta pertama yang ku miliki, menyukai milik orang lain apakah salah? Ya aku tak tau pada saat itu aku hanya ingin memiliki lelaki itu.
Dily melihat gadis itu termenung selesai ia mengobati luka di sikunya dan tertawa kecil.
Lelaki itu menyentil dahi gadis itu dan berhasil mengagetkannya.
"Astaga nona, sempatnya kau termenung disini." Tawa Dily yang jarang ia ekspresikan.
"Aw sakit tau." Dengan spontan Lily memukul dada lelaki itu berulang kali dan berhasil di tahan olehnya.
"Ternyata tenagamu kuat juga ya." Lelaki itu menarik gadis itu mendekatinya.
Bola mata mereka saling bertautan, Dilly mengelus lembut rambut sampai ke pipi gadis itu.
Lily menelan ludahnya jantungnya berdebar sangat cepat. "Kenapa lelaki ini tampan sekali?" Batinnya.
Mata mereka terus beradu, lelaki itu mulai mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi dengan gadis itu dan mau menciumnya. Di tengah-tengah hal tersebut yang sangat mendebarkan Lily ketukkan dari kaca jendela pintu mobil itu mengacaukan suasana kala itu.
Lily langsung melepaskan tangannya dari lelaki itu dan merapikan rambut dan pakaiannya.
Dily membuka kaca jendela mobilnya.
"Maaf tuan, kita harus segera pergi." Ucap sekretaris itu.
"Ah iya aku akan bersiap." Pungkasnya.
Lelaki itu menoleh ke arah gadis yang ada di sampingnya tersebut.
"Sepertinya pertemuan kita sampai disini, maafkan aku harus menyudahinya. Aku akan baca ini lagi dan segera menghubungimu." Ucapnya.
"Baiklah, aku menunggu kabarmu tuan. Hendak membuka pintu mobilnya dan lelaki itu berhasil merangkul pinggang gadis itu, Lily menatapnya dan mencium pipinya perlahan. Sampai ketemu lagi." Langsung keluar dari mobil.
Lelaki itu hanya tertawa. "Astaga dia menggoda imanku saja." Gerutu lelaki itu menutupi seluruh wajahnya dengan telapak tangannya.
Gadis itu bergegas keluar mobil dan menuju parkiran mobilnya dam membuka pintunya lalu menatap kearah mobil lelaki itu yang sudah melaju menjauhinya.
"Diluar dugaan jantungku berdegup kencang. Sambil memegangi dadanya. Apakah secepat itu aku jatuh cinta dan melupakan mantan suamiku? Tanyanya sendiri membatin. Setidaknya kontrak kerja kali ini sudah aman. Ayah pasti bangga padaku." Memasuki mobil dan meninggalkan perusahaan tersebut.
Dalam laju mobil Dilly dia menatap tabletnya melihat berita besar yang ia dengar kakaknya itu menjadi bulan-bulanan reporter karena keponakannya sangat terkenal sebagai seorang seniman cilik di Paris.
"Diluar dugaan sekali ya. Liburan mereka menjadi pertemuan bisnis dan kontrak kerja bersama agensi luar negri." Pungkas Dily.
"Hal itu adalah citra yang baik untuk perusahaan kita juga tuan." Balas sekretarisnya.
"Ah, kenapa hidupnya sungguh sangat beruntung, haruskah kita menyusul mereka." Ucap Dilly sambil tertawa.
__ADS_1
Beberapa kemungkinan bisa terjadi, yang dipikirkan tidak terjadi bisa-bisa terjadi.