
Sorotan mata dan lampu malam itu memberikan nuansa baru untuk hubungan Leon dan Keila menjadi lebih dekat. Perasaan-perasaan yang telah lama terkubur itu akhirnya meledak juga.
Kegilaan-kegilaan yang sering terlupakan kali ini emosi tersebut meluap dengan gilanya. Dan malam itu terlewati begitu saja.
Tibalah mereka ke sebuah taman kota dan berkeliling usai acara tersebut.
Mengapa hadirmu madih menyegarkan di mataku? Senyumanmu yang sangat manis itu masih membuat hatiku gemetar, sayang sekali kau bukan milikku. Akan tetapi biarkan saja perasaan ini menyelimuti hatiku, dadaku dan hanya menjadi milikku.
Perjalanan kali ini membawaku bertemu dengan gadis cantik itu, terlihat sekali saat senyumannya menatapku dari jauh.
Aku berjalan dengan senyumanku ke arahnya sambil memasukkan satu tanganku ke dalam kantong jaket. Dan satu tangan lagi melebarkan pelukkan.
Anak kecil itu sudah mendahului gadis tersebut berlari memelukku. Anak kecil yang sudah kuanggap seperti anakku sendiri selama 6 tahun terakhir ini.
Pelukanmu sangat erat kepadanya begitu juga anak kecil itu kepadaku. Terlihat jelas pelukannya sangat membuatku nyaman dan hatiku tentram.
"Pamanku sayang, kenapa baru nongol sudah 6 bulan ini aku tidak melihatmu." Pungkas Keyran.
"Iya paman juga merindukanmu sayang." Masih memeluknya dan mengelus kepala anak kecil tersebut.
Leon hanya menatap anak dan istrinya tersebut dari belakang dan berbisik kepada Keila.
"Sapah saja tidak apa." Ucap lelaki itu lembut walaupun dia agak cemburu dengan lelaki yang menemani istri dan anaknya tersebut di negara orang.
"Ah baiklah." Keila mendekatinya dan melihat kedua orang tersebut.
"Hei kau sehat?" Tanya Arfandy sambil berdiri.
"Tentu saja. Bagaimana dengan dirimu? Kau terlihat sangat kurus kali ini." Pungkas gadis cantik itu.
"Ah benarkah? Sambil memperhatikan tubuhnya sepertinya kau benar." Ucap Arfandy.
Terlihat Icha berlari ke arah mereka dan memeluk Arfandy begitu saja. Hal itu tambah membuat Leon sedikit menaikkan alisnya, karena adik manjanya itu tidak pernah bersikap sangat manja kepadanya. Atau hanya saja Leon yang tak pernah mengizinkannya untuk Icha berlaku seperti itu kepadanya.
"Ah, astaga Icha aku bisa mati jika kau peluk seperti ini." Arfandy sesak dipeluk oleh Icha.
"Ah maaf kakak." Spontan mengangkat kedua tangannya.
Lana mendekati kakaknya tersebut.
"Kau sehat kak? Lama sekali ya. Jarang memberi kabar juga." Pungkasnya.
"Ah aku baik. Menepuk tangan adik lelakinya itu. Bagaimana denganmu?" Lana menaikkan alisnya.
__ADS_1
"Aku baik kak." Saling tos dengan bahunya.
Leon mendekati mereka dan menepuk bahu Arfandy.
"Apa kabar?" Tanyanya dengan pandangan sedikit ketat.
"Ah baik." Arfandy hanya tersenyum menatap lelaki tersebut. Lelaki yang telah menikahi orang yang dicintai 6 tahun terakhir ini.
Leon masih menatap lelaki itu, lelaki yang sama tampannya dengannya dengan perbedaan sifat yang sangat jauh dan perbedaan tata cara dalam memperlakukan orang-orang yang ada si sekitar mereka.
Leon memeluk Keila dan menatap Arfandy.
"Sebagai partner kerja sekaligus kita semua yang ada disini akan menjadi keluarga besar, mengapa kau tak mencari kekasih saja agar pasangan kita lengkap." Ungkap Leon yang sedikit kekanak-kanakan karena cemburu.
Keila langsung mencubit perut lelaki nya itu dan Icha pun ikut berteriak. Sedangkan Lana dan Anak lelakinya itu menggeleng kepala.
Arfandy hanya tertawa dan menepuk punggung bahu Leon.
"Aku akan berkencan bahkan menikah setelah menemukan wanita yang jauh lebih cantik dari gadis itu. Sindir ke Keila. Dan jauh lebih cantik dari gadis itu. Sindir kedua ke Keila. Andai saja." Arfandi menghela nafas dan tersenyum menggandeng Keyran.
Lelaki itu membawa anak kecil itu berkeliling.
"Paman boleh aku makan gulali dan coklat yang ada disana?" Tunjuk anak kecil itu.
"Ah tentu saja sayang." Ucap Arfandy.
"Astaga baru kali ini kulihat kau sangat kekanak-kanakan." Ungkap Keila sedikit kesal dengan suaminya tersebut.
"Keila, Keil, Keil sayang." Ucapnya mengejar setengah berlari.
Icha dan Lana hanya menggeleng melihat mereka. Lalu Ken menghampiri mereka dengan wajah yang memerah habis minum banyak minuman.
"Astaga kak Ken. Kau abis dari mana?" Memegang kerah blazernya dan mencium bau alkohol yang sangat menyengat lalu mendorongnya.
Lelaki itu tak jatuh hanya bergoyang sedikit loyo karena pengaruh dari alkohol tersebut.
"Ah dimana yang lain?" Tanya Ken mendekati Icha.
Lana maju dua langkah ke depan Icha tepat di depan Ken, seolah tak ingin lelaki itu mendekati tunangannya.
"Masih di daerah sini kak. Kau bisa berkeliling sendiri lagi atau mengikuti kami dari belakang." Pungkasnya.
"Ah iya baiklah. Aku ikuti kalian saja." Pungkasnya dengan jalan sempoyongan.
__ADS_1
Icha hanya menggeleng dan mengabaikan lelaki itu.
"Ayo sayang." Memeluk tunangannya itu dan merangkulnya tanpa memperdulikan lelaki itu.
"Iya ayo. Kita tinggalkan saja dia." Ucap Icha yang sedikit kasihan dan setengah hati.
Malam-malam kelabu, padahal cahaya bintang gemerlap di angkasa sangat cantik. Nuansa kali ini sangat indah dengan pemandangan yang jarang sekali terlihat. Tentu saja kota Paris adalah kota yang paling cantik di Prancis, banyak orang yang selalu ingin berkunjung ke negara ini.
Telepon Ken kembali berdering lagi namun dia mengabaikannya.
Malam itu penuh haru dari bahagia, ambekan, sedih sampai galau. Masing-masing pemilik hati memiliki perbedaan satu sama lain tentang apa yang ia rasakan.
Bisakah manusia tetap berada di tarafnya? Merasa bahagia dan cukup? Akan tetapi manusia tetap memiliki satu sifat buruk yaitu cemburu. Dari sifat ini manusia bisa mengendalikan konflik dan terkadang tidak bisa mengendalikan dirinya.
Jadi bagaimana dengan diri saat ini? Pernahkah mengalami perasaan itu atau jarang sekali mengalaminya?
Keila yang duduk di sebuah bangku kecil menghadap menara itu duduk menikmati kopinya lalu menyeduh dengan perlahan menatap Leon.
"Lelaki ini sangat tampan, pintar, pendiam, kaku dan pencemburu. Astaga paket komplit. Bagaimana bisa seseorang seperti dirinya menjadi manusia yang sempurna?" Batin gadis itu.
Tatapan Keila terlihat oleh Leon dan menatapnya kembali.
"Ada apa?" Tanya lelaki itu menaikkan alisnya.
Seakan kejadian barusan tak pernah terjadi dan tak pernah masuk dalam memori otaknya bahwa beberapa saat lalu dia cemburu dengan orang yang dekat dengan istrinya tersebut.
"Tidak apa-apa. Hanya saja aku baru melihat sisimu yang lain kurun waktu setahun ini. Gadis itu berbisik. Ternyata suamiku yang paling tampan ini bisa cemburu juga di hadapanku dan bersikap layaknya anak kecil." Lalu Keila menjauhkan dirinya dari Leon.
Wajah Leon mendadak memerah bagaikan tomat yang sudah matang.
"Ah mana ada." Sambil menenggak minumannya.
Sifat grogi lelaki itu dan acuh kepada Keila bahkan tak mengakui hal yang diungkapkan istrinya tersebut.
"Ceile cemburu ya." Ungkapnya.
"Tidak!" Jawabnya.
"Cemburu." Balas Keila.
"Tidak!" Jawabnya kembali.
"Hayo mengaku saja." Keila tertawa menutup mulutnya.
__ADS_1
Lelaki itu masih tidak mengakuinya.