
Pada dasarnya hidup seperti jalanan, kadang lurus, kadang berbelok. Kadang pula mulus bisa jadi berbatu dan tak ada yang tahu.
Akankah kita bisa melewatinya? Atau malah jadi berhenti di suatu tempat yang menurutmu nyaman dan menetap? Astaga kau pasti tau, kau butuh orang untuk menetap dan berteduh dari rasa nyaman tersebut dan penuhilah seperti mimpimu.
Malam itu berlalu begitu saja, Keila dan Leon menikmati hari-hari indah mereka. Tidur bersama di tempat paling nyaman, ya dengan kasur empuk saling berpelukkan dan memandangi langit malam dari kaca jendela kamar mereka.
Telepon Leon terus berdering di dalam mobil hingga mati begitu saja. Dan tak ada yang tau perihal kejadian sebelumnya. Akankah mereka mengetahui apa itu?
Malam itu adalah malam yang membahagiakan bagi Dilly, karena beberapa waktu lalu gadis yang mengajaknya bekerja sama menuruti keinginannya. Lelaki itu lalu tersenyum jahat dengan menaikkan ujung bibirnya.
"Tuan sepertinya nona itu datang kemari membawa dokumen anda." Ucap sekretaris lelaki itu.
"Ah benarkah?" Lelaki Itu yang sedang duduk manis sambil menyandarkan tubuhnya memegang segelas anggur di tangannya sambil menyilangkan kakinya.
"Dia menuju ke apartemenmu tuan." Ucap lelaki itu.
"Bukakan saja pintunya, setelah itu ksu boleh pergi." Ucapnya.
"Baik tuan." Lelaki itu membukakan pintu apartemen tersebut dan keluar langsung berhadapan dengan gadis yang sedang tetlihat begitu acak-acakannya.
Gadis itu menahan tangisnya, "Ada yang bisa saya bantu nona?" Tanyanya sambil melihat gadis itu memegang sebuah berkas yang di remas oleh satu tangannya.
Gadis itu hanya mengangguk dan lelaki itu hanya mempersilahkan ia masuk.
Tanpa kata gadis itu masuk dan melihat lelaki itu duduk santai memandangi pemandangan keluar dengan membaca bukunya.
Sontak lelaki itu meletakkan bukunya di meja samping lampu belajarnya dan meletakkan segelas anggurnya.
Mata mereka saling menatap dan gadis itu duduk disampingnya. Dia duduk dan meremas berkas tersebut, terdengar telepon dari seseorang.
Gadis itu ingin mengangkatnya namun dihalangi lelaki itu. Lelaki itu menggeleng.
Tapi terdengar telepon masuk kembali ke nomor gadis itu. Gadis itu mengangkatnya dan kaget langsung berdiri masih meremas berkas tersebut.
"Maafkan aku pak aku harus pergi." Ucap Lily kepada lelaki itu.
Dengan cepat gadis itu berlari menuju parkiran apartemen tersebut dengan cepat menaiki mobilnya dan memasang sabuk pengaman dan menggas mobilnya bak pembalap yang mengejar startnya.
Di perjalanan gadis itu menangis senggugutan, sambil melihat berkas yang ia bawa di samping jok depan mobilnya.
"Astaga Lily, kalau saja kau tidak meninggalkan Ayah pasti dia tidak begini." Batinnya sambil menangis menuju rumah sakit.
Telepon terdengar kembali bertuliskan "Arya" gadis itu mengangkat telepon tersebut.
"Lily kau dimana?" Tanya Arya.
Sambil menahan tangis ia menjawab, "Aku sedang dalam perjalanan kesana, bagaimana ayahku?" Tanyanya sambil menggas mobilnya dengan sangat brutal.
"Dia kekurangan darah, apakah darahmu cocok dengan beliau." Pungkas Arya.
"Iya, aku segera kesana." Ucapnya.
__ADS_1
Gebrakkk… mobil gadis itu ditabrak salah satu mobil lainnya membuatnya berputar 60 derajat.
"Lilly… Lily kau tak apa?" Teriak Arya.
Gadis itu terbangun dengan kepala yang berdarah di depan kemudi stirnya, lalu menggeleng kepalanya.
"Aku tidak apa." Jawabnya dan melihat mobil di sampingnya sudah penyok.
Gadis itu keluar dari mobilnya, "Arya aku akan terlambat, aku tak apa sampai ketemu nanti ya." Langsung mematikan teleponnya.
"Ly … Lily. Teriak Arya tapi telepon sudah mati, lelaki itu mondar mandir IGD dan ruang radiologi. Astaga Lily apa yang kau lakukan." Batin Arya.
Gadis itu keluar mobilnya dan menelepon sekretarisnya. "Pak aku di persimpangan 4 menuju rumah sakit, tolong bawa mobil sekarang. Mobilku hancur." Pungkasnya.
Belum sempat sekretarisnya itu menjawab dia sudah mematikan teleponnya.
Seorang pemuda yang sedang mabuk itu keluar dari mobilnya dan satunya masih terjepit di bangku kemudinya.
"Hei nona, kau tak melihat mobil melintas?" Ucap salah seorang pemuda itu yang menunjuk-nunjuk Lily sambil menunjuk mobil yang ia kendarai.
Lily hanya mengambil rokok dan bersandar di mobil putihnya itu, tanpa memperdulikan pemuda itu.
Tak berapa lama lelaki itu marah dan hendak menampar gadis itu dan terlihat sorot lampu jauh dari mobil di hadapan mereka.
Terlihat Arfandy menarik Lily dan terlihat sekretaris Lily datang.
"Kau tak apa?" Tanya Arfandy yang tahu persis jika gadis itu adalah adik tiri dari Keila.
"Maafkan aku nona, aku akan urus segera." Ucapnya.
"Tuan bisa tolong antar aku ke RS, dan kau. Menunjuk Sekretarisnya, aku di tabrak jangan lupa cek CCTV itu, itu dan itu." Menunjuk.
"Masuklah, kau butuh pengobatan." Ucap Arfandy.
"Baiklah, terimakasih." Ucap Lily memasuki mobil.
Pemuda yang tidak terima itu mendatangi gadis itu namun dihadang oleh Arfandy.
"Urusan mu bersama dia." Ucap Arfandy mendorong dada lelaki itu menggeleng ke arah sekretaris gadis itu.
Lily yang hanya menatap kosong ke arah jendela tersebut diam tanpa kata dan lupa memasang sabuk pengamannya.
"Maaf nona. Arfandy memasangkan sabuk pengamannya. Kita pergi ya." Tanpa kata-kata ia Arfandy sudah menggas mobilnya.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit Lily hanya diam saja, dan seusai sampai di rumah sakit dia langsung lari dari mobil itu dan mengucapkan, "Terima kasih."
Arfandy hanya melihat gadis itu dari dalam mobil berjumpa dengan seorang dokter yang ia kenali.
"Bagaimana kabar ayahku?" Tanya Lily pada Arya sambil berlari dan terjatuh karena heels nya yang tinggi membuatnya terpelekok.
Arya tanpa banyak bicara menggendongnya ke ruangan transfusi darah. Mengambil sebagian darahnya lalu mengobati kepala mantan istrinya tersebut.
__ADS_1
"Kau tak mau bertanya aku kenapa?" Pungkas Lily.
"Aku ingin tahu, tetapi sebaiknya kau istirahat saja dahulu." Ucap Arya.
"Dimana ayahku? Keadaannya." Tanya Lily yang sedang terbaring di kasur rumah sakit itu.
"Operasinya lancar, cuma kekurangan darah saja. Setelah sadar kita akan ct scan kepalanya, sepertinya dia terbentur keras saat jatuh di tangga." Pungkas Arya
"Tak ada yang menjaganya, aku harus bangun." Ucapnya.
"Ibumu sudah disana, aku akan menjelaskan keadaanmu. Lagi pula tangan kanan ayahmu sudah di sana juga." Menghentikan gadis itu ingin bangkit.
"Baiklah. Aku akan tertidur sebentar." Kembali merebahkan tubuhnya.
"Oke, aku tinggal dahulu ya." Melambai dan menutup pintu.
Terlihat Arfandy mengikuti gadis itu dan melihat ia tertidur di bangsal rumah sakit dan hanya meliriknya lalu mengikuti dokter tersebut ke ruangan IGD.
Terlihat Ibu tiri Keila dan dokter itu, ya dokter itu adalah Arya. Arya adalah mantan pacar Keila yang direbut adiknya sendiri menjadi suaminya yang kini menjadi mantan suaminya.
"Astaga, ayahnya Keila terjatuh." Dengan cepat Arfandy menelpon Keila berulang kali namun tak diangkat.
Lalu menelepon keponakan tersayangnya lalu diangkat dan sedikit basa basi.
"Halo keponakan paman yang paling paman sayang." Sambil menunggu anak kecil itu menjawabnya.
Sambil mengucek mata dan melihat panggilan masuk dari ipad nya dan menyadarkan dirinya sudah jam 9 pagi di Paris.
"Hallo paman, apa kabarmu? Maaf aku baru bangun." Ucapnya.
"Ayo cuci muka dan gosok gigimu." Ucap lelaki itu.
"Baiklah. Anak kecil itu ke kamar mandi melakukan ritual paginya dan kembali ke Ipadnya dengan wajah segarnya. Hai paman aku." Dengan antusias dan gemas ia menjawab.
"Bagaimana liburanmu, menyenangkan?" Dengan ekspresi senyuman seperti biasa.
"Paman disini sangat menyenangkan, paman dimana aku rindu bercerita panjang lebar denganmu." Gerutu anak itu.
"Aku di Indonesia sayang, kapan kalian pulang?" Tanya Arfandy.
"Sore nanti paman, yes ketemu." Ucpa anak itu sangat antusias
"Boleh berikan telepon ini ke ibumu. Ada yang ingin paman sampaikan padanya." Sambil mengangguk.
"Baiklah paman. Ibu ada telepon dari paman." Keyran memberikan Pad nya kepada Ibunya.
"Hei Fandy, apa kabar?" Tanya Keila.
"Jadi begini … "
Ipad yang ada di tangan Keila mendadak meluncur dari tangannya dan berhasil ditangkap Leon yang pada saat itu ada di depan Keila.
__ADS_1
"Ada apa Fan?" Tanya Leon.