
Jika ada sebuah keikhlasan, akankah kau menerimanya dan mengikhlaskan segala macam yang terjadi? Ku harap kau masih mau memaafkanku jika akulah orang tersebut yang pernah membuatmu kecewa dan sangat mengecewakanmu. Karena aku mau memperbaiki segala sesuatunya.
"Kalian langsung pulang?" Tanya Icha pada Keila.
"Iya ni Keyran dh kelelahan." Sambil menggendong anaknya.
"Kami duluan ya." Ucap Leon.
Icha mau menghentikan kakak lelakinya namun ditarik oleh Ken dan lelaki itu menggeleng.
"Aku ada beberapa pertanyaan padamu." Ucap Icha menarik kerah baju Ken.
"Eh Ichak." Sedikit teriak lelaki itu.
Icha membawanya ke sebuah ruangan kerjanya di kantor Furniturenya.
"Wah kantor ini menjadi lebih besar dan lebih bagus ya." Ucap Ken berkeliling melihat-lihat kantor itu.
Icha mendekati papan tulis transparan yang tertulis laporan penyelundupan barang dan korupsi oleh Direktur lama.
Ken mendekati Icha dan membaca papan tulis itu lalu mengangguk dan menyandarkan tubuhnya di meja masih menatap papan tulis itu.
"Wah aku kira aku saja yang menyadari hal ini." Lalu mengeluarkan ponselnya.
Icha mendekatinya dan mengambil ponselnya.
"Aku membawamu kesini bukan untuk ini." Gadis itu menatap Ken.
Ken mendadak menelan ludahnya.
…
Sesampainya di apartemen Keila, lelaki itu membukakan pintu mobil gadis itu dan langsung mengambil anak lelaki itu dari pelukannya.
Keila menyadari Leon adalah ayah yang baik mungkinnya untuk anaknya kelak lalu ia menggeleng kepalanya sembari mengikuti langkah kaki lelaki itu.
"Astaga Keila mimpimu ketinggian." Batin nya dan kepalanya menabrak punggung lelaki itu yang berhenti di depan lift.
Lelaki itu menoleh dan menatap gadis itu.
"Kau kelelahan juga? Mau ku gendong belakang?" Tanya lelaki itu.
Mata Keila menjadi melebar dan kaget menatap lelaki itu yang masih sedingin es namun sangat perhatian.
"Tidak pak saya hanya melamun." Lift terbuka dan mereka menaikinya.
Mendadak suasana mendadak canggung.
Lift terbuka dan mereka melangkah ke pintu apartemen gadis itu.
Terlihat seorang lelaki sudah menunggu didepan pintu apartemen, hentakan kaki Keila berhenti begitu pula Leon yang menggendong anak itu.
"Ah Arfandy." Sapa Keila.
"Ah iya, aku membawa ini?" Menunjukkan beberapa mainan dan makanan.
Susana menjadi aneh ketika Arfandy dan Leon berada di satu meja di Apartemen Keila.
Keila berinisiatif memasakkan mereka makan malam.
"Mau aku bantu." Ucap Arfandy.
"Gak usah. Kalian ngobrol aja." Ucap gadis itu.
__ADS_1
"Hmm. Kamu sering kesini pak Arfandy." Ucap Leon minum air es yang disediakan oleh Keila.
"Ah iya pak. Keyran sudah seperti anak saya sendiri." Ucap Arfandy meminum minuman nya juga.
Keila hanya menggeleng mendengar percakapan mereka sambil memotong bawang.
"Ah begitu, sudah lama kalian kenal?" Tanya Leon.
"Sudah 5 tahun ini pak, kami berencana menikah tahun ini." Ucap lelaki itu memberitahu agar Leon selaku atasannya tak terlalu mendekati Keila.
"Ah begitukah. Benarkah Keila?" Tatap Leon menoleh ke arah gadis itu.
Gadis itu mendadak berhenti memotong bawangnya dan menatap kedua lelaki itu.
"Ha, iya pak." Melanjutkan pekerjaannya dan menghela nafas yang cukup panjang.
"Keila memang ibu rumah tangga yang baik." Puji Arfandy dengan senyuman kearah Leon dan menatap gadis itu.
Leon mendadak meremas gelasnya dan tersenyum.
"Haha begitulah, sepertinya ada belum bisa menikah sampai kontrak kita habis nona Keila." Ucap Leon.
"Tidak apa, kita akan melakukan pertunangan terlebih dahulu." Ucap Arfandy.
Perang dingin antara pria pun terjadi. Tatapan mereka saling melawan namun tetap tersenyum seolah tak ada yang terjadi.
Makanan selesai dan gadis itu menyusun di atas meja secara perlahan. Bel apartemen berbunyi.
"Ah sebentar ya." Ucap gadis itu menuju pintu rumah.
Terlihat seseorang tinggi dengan celana jeans yang banyak koyakan dan baju kaos polos dengan jaket kulit ternama.
"Keyran Uncle datang." Ucap Lana membawa sebuah mainan dan sebuah hadiah.
Lelaki itu langsung masuk ke dalam rumah tanpa disuruh dan kaget melihat kakaknya bersama calon kakak iparnya.
"Eh kalian disini." Ucapnya.
Tatapan kedua lelaki itu menatap Lana.
"Wah cocok sekali aku bawa bir nih, kebetulan belum makan malam. Langsung duduk di meja makan bersama mereka berdua. Kakak aku mau piringnya." Ucap Lana sedikit memerintah.
"Iya sebentar ya." Membuka celemeknya dan mengambil piring.
Leon tanpa kurang senang melihat gadis itu diperintah orang lain selain dirinya.
Keila mengambilkan nasi satu persatu untuk mereka.
"Terimakasih." Ucap Arfandy dengan senyuman.
"Kakakku memang kakak terbaik." Lana Memberi jempol.
Leon menatap masakan gadis itu. Masakan sederhana yaitu tauco cumi dengan udang dan sayur rebus dengan gongsengan bawang putih yang dicincang bahkan dia menyiapkan chicken wings dan sambal.
"Benar-benar makanan sehat. Syukurnya tidak terlalu banyak minyak." Batinnya, takut kebutuhan lemaknya terlalu banyak di tubuh.
"Ada apa pak?" Tanya Keila pada Leon.
"Tidak apa-apa. Memakannya. Wah enak sekali." Ucapnya.
"Silahkan dimakan lagi pak masih banyak." Gadis itu menyiapkan kupasan jeruk dan puding untuk pencuci mulut.
"Kak aku mau cuminya lagi untuk ku bawa pulang." Ucap Lana.
__ADS_1
"Baiklah aku akan bungkuskan." Ucap gadis itu menempati cumi itu diwajah tempat makan.
"Akhirnya aku bisa makan masakan kakak besok pagi." Ucap Lana dengan wajah berbinar.
"Ah iya gimana pekerjaanmu?" Tanya Keila.
"Hmm, sesekali kamu juga harus belajar di perusahaan." Gerutu Arfandy ke adiknya.
Leon menaikkan alisnya.
"Memangnya bermain game tak merusak matamu?" Tanya Leon.
Semua mata menuju pada Leon yang sedang memakan puding nya dengan sendok.
Arfandy dan Keila tertawa.
"Kau sama seperti Icha." Tawa Fandy.
Keila menyambung. "Memang kakak adik sama saja ya pak Leon." Tawanya kembali.
Lana hanya menggeleng.
"Baiklah aku akan pulang dan menghubungi gadisku terlebih dahulu. Terlalu banyak komentar tawa manusia yang membuatku patah hati dalam sekejap." Berekspresi sedih.
"Astaga gitu aja kamu kesal ya." Geruru Keila.
"Ah iya sudah malam juga kami pulang ya." Arfandy mendadak merangkul Leon.
Yang membuat lelaki itu menatap Arfandy.
"Dia tak mau aku lebih lama disini?! Apa dia cemburu." Batin Leon tersenyum dengan menaikkan ujung bibirnya.
"Iya sudah malam baiklah besok juga kita bekerja, saya undur diri bersama Pak Arfandy." Ucap Leon.
Lana melambai dan memakai sepatunya.
"Aku pergi dulu ya." Wajahnya melemas.
Keila menghampirinya.
"Kau lupa membawa ini." Memberikan bungkusan cumi.
"Ah iya terimakasih kakak. Jangan lupa mainannya di kasih Keyran, bilang Unclenya main kesini dia tidur. Dah kakak, dah Semuanya." Keluar dari pintu.
"Hei hati-hati." Ucap Keila.
Arfandy melewati gadis itu bersama Leon.
"Terima Kasih makan malamnya, aku pergi dulu ya." Melambai.
"Iya sama-sama. Dah." Melambai.
Leon merapikan rambutnya dan menatap gadis itu.
"Saya pulang dulu ya." Memasukan tangannya ke saku celana.
"Pak Leon." Memegang baju lelaki itu.
Leon menoleh ke gadis itu.
"Besok jika anda ingin membawa anakku kabari 3 jam sebelumnya ya. Hati-hati pak." Melambai dan menutup pintu rumahnya.
Leon hanya mengedipkan mata, karena dia belum sempat menjawab gadis itu sudah menutup pintunya.
__ADS_1
"Astaga gadis itu?" Kaget karena pintu apartemennya langsung ditutup.