Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
13. Getaran Cinta


__ADS_3

Wanita yang sangat Familiar ini siapa? Tidak, tidak sama sekali mirip. Jika gadis itu memang anak ini. Aku akan langsung menyeretnya kembali ke kamar hotel seperti malam itu dan menikmati malam kedua kami, setelah itu aku takkan melepaskannya. Aku harus mengurungnya dan melancarkan banyak pertanyaan untuknya.


"Hei kakak. Dia sudah tanda tangan, jadi sudah bisa bekerja mulai pekan besok." Jawab Icha cepat.


"Baiklah. Karena ini hari Jumat tak masalah dia masuk di hari senin. Jadi siapa namamu?" Tanya lelaki tampan itu.


"Keila Fay tuan." Menatap lelaki itu.


"Baiklah Keila kamu boleh pergi bersamanya sekarang. Masih menatap gadis itu. Baru kali ini ada gadis yang berani sekali menatap mataku secara langsung." Gumamnya dalam hati.


"Terimakasih kakak." Keluar pintu.


"Kau lupa ada rapat dewan 15 menit lagi." Ucap lelaki itu.


Gadis berambut pendek itu berbalik.


"Aku ingat kakak. Aku hanya ingin mengantarnya saja." Ucapnya.


"Oh baiklah. Silahkan pergi." Jawab ketus.


Terlihat Fandy sudah berada di lobby dan menyapa kedua gadis itu.


"Kalian sudah selesai, bagaimana denganmu Keil?" Tanya Fandy.


Keila masih dalam bayangan wajah Leon, dia seperti mengingat ingat sesuatu.


"Dimana aku pernah menemuinya dan mengapa wajahnya seperti tak asing bagiku, matanya bibirnya. Astaga apa yang ku lakukan." Batinnya.


Lamunan nya  terhenti ketika tangan Fandy menyentuhnya.


"Kamu sakit?" Tanya Fandy begitu juga Icha.


"Ah tidak apa-apa." Jawabnya tak mau membuat mereka berdua khawatir.


"Mau beli kopi dulu biar fokus?" Tanya Fandy.


"Ayo ke kantin. Disini sangat lengkap, di sana ada tempat kopi." Ucap Icha menarik Keil.


"Ah iya iya." Mengikuti Icha dan menggeleng ke Fandy.


Fandy hanya mengikuti langkah kaki kedua gadis itu dan menaikkan bahunya tanda tidak tahu ke Keila.


Sesampainya di kantin, tempat makan minum pegawai dengan gratis, bahkan ada tempat Gym, olahraga dan tempat tidur hingga perpustakaan di perusahaan ini.


"Wah perusahaanmu keren sekali Cha." Ucap Keil.


"Berarti kamu adik CEO mudah disini." Tanya Fandy.


"Hahaha. Iya. Perusahaan ini milik ayahku, semakin berkembang saat berada di tangan kakakku." Bisiknya pelan.


"Wah keren sekali. Aku jadi iri dengan anak konglomerat ini haha." Ucap Keil menatap Icha.


"Kakak bisa saja. Jadi kalian disini sebagai apa, patner kerja?" Tanyanya.


"Jadi kakak sudah bekerjasama dengan perusahaan kalian untuk pengembangan peralatan kesehatan di negara kita ini." Jawabnya sambil menenggak kopinya.


"Wah keren kak. Aku akan melakukan hal yang terbaik di rapat nanti." Jawabnya.


"Baiklah aku akan menunggu hal itu terjadi. Sudah jamnya ayo masuk." Ucap Fandy mengingatkan.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu aku pulang duluan." Berdiri dan Fandy menarik tangan Keil.


"Kau kan juga pemegang saham disini sebaiknya ikut rapat kali ini juga." Ucap Fandy.


"Ha aku?" Tanya Keil.


"Iya, aku sudah membeli 10 persen atas namamu dan 15 persen atas namaku." Jawab Fandy.


"Wah luar biasa. Tepuk tangan Icha. Kakak sungguh pasangan idaman." Ucapnya.


"Tapi Fandy itukan mahal dan besar." Jawab Icha menolak.


"Tapi itu hasil gaji yang ditabung dari pekerjaanmu membantu perusahaan dan rangkap kerja menjadi sekretaris di tempatku. Sudahlah kau harus terima dan ikut aku. Oke?" Menatap gadis itu dan masih menggenggam tangannya.


Keil hanya mengangguk.


"Mari." Menggandeng Keil memasuki ruangan rapat.


Yang di dalamnya sudah ada Ken, Leon dan beberapa pemegang saham Mayoritas.


Mata Leon terkejut melihat Arfandy masuk ruangan rapat menggandeng Keil. Dan lelaki itu tersenyum ke arah Fandy dan mengangguk.


Leon membisik ke Ken.


"Ken, coba cari tahu siapa sebenarnya nona Keil. Mengapa dia selalu berada di sekelilingku. Bisiknya."


"Kau cemburu atau apa? Akhirnya sifat cemburumu keluar juga. Aku jadi bersemangat melihatmu mulai tertarik lagi dengan wanita tidak seperti 5 tahun kebelakang." Ejeknya.


Leon hanya memukul bahu Ken dan dia mendadak kesakitan dan mengeluarkan senyuman kecut menahan rasa sakitnya.


Hal yang paling dasar dalam mencintai adalah komunikasi lancar dan rasa nyaman.


Kedatangan Icha membuat kaget kedua orang tuanya dan beberapa pemegang saham yang ada. Karena Dia pernah menolak bekerja di perusahaan dan masih melanjutkan studinya di USA.


Pandangan mata Ibunya sangat tajam, lain hal dengan Ayahnya yang tersenyum senang melihatnya. Pemandangan tampak unik, ayahnya menyukai setiap tingkah putrinya itu.


Rapat Pun selesai, Icha kelihatan puas menatap ekspresi kalut ibunya. 


"Nona, anda dipanggil ke ruangan tuan." Ucap salah seorang pelayan.


"Baiklah. Dia menghampiri Keil dan Fandy. Kak sampai bertemu besok ya." Melambai dan mengikuti pelayan tersebut.


"Baiklah hati-hati." Ucap mereka.


Leon mendatangi Fandy dan menjabat tangannya.


"Thanks bro udah datang, jangan lupa jadwal makan malam kita besok." Ucapnya melambai dengan senyuman.


"Baiklah pak Leon. Sampai ketemu besok." Ikut melambai.


Leon membatin sejak kapan Icha mengenal Fandy dan sekretarisnya dan mendadak berhenti berjalan. Ken menabrak Leon.


"Astaga, lu kalo mau berhenti pake lampu merah donk. Menghalangi jalan aja." Gerutu Ken berjalan kedepan.


Leon masih menggeleng dan menyesuaikan langkah kaki dengan Ken.


"Ken. Sejak kapan Icha mengenal Pak Arfandy dan sekertarisku?" Tanyanya.


"Ah aku tidak tahu." Jawabnyam

__ADS_1


"Cari tahu segera." Berjalan meninggalkan Ken.


"Eh iya. Eh, dia kenapa sih semua hal harus dicari tahu." Menggeleng-geleng kepala dan masih sibuk membaca tabelnya.


Di kantor Presdir duduk seorang pria tua yang masih sehat bugar membaca majalan kesayangannya berisikan tentang olahraga saat ini.


Seorang gadis berambut pendek itu memasuki ruangan tersebut, ia menatap  wanita yang di kenalinya itu duduk di sofa dengan ekspresi yang sangat diharapkan. Ekspresinya sangat ketus dan sangat tidak senang.


"Papa. Berlari mendekatinya dan memeluknya begitu saja. Aku rindu, maaf ya pulang tak mengabari." Ucapnya.


"Kenapa tidak bilang, papa kan bisa menjemputmu di bandara." Meletakkan majalah yang ia baca diatas meja.


"Aku lulus seminggu lebih cepat, harusnya papa banggakan dengan hal ini dan mudah-mudahan ada orang lain juga yang bangga." Sindiran ke wanita itu sambil melirik dan kembali menatap pria tua itu.


"Hahaha. Iya iya pasti ayah senang. Jadi apa yang kau mau sebagai kado congratulation mu?" Tanya pria itu tersenyum dan menaikkan alisnya.


"Hmmm. Sedikit berpikir. Bolehkah aku jadi Direktur di perusahaan ini?" Pintanya.


Wanita itu tidak sabaran dan melempar majalah yang ia baca tepat ke meja di depannya lalu menoleh tepat ke ayah dan anak tersebut.


"Tak usah macam-macam dan menggeser posisi adikmu." Ucapnya tegas dan menunjuk ke arah gadis tersebut.


"Astaga, umurnya juga masih 20 tahun dan masih magang. Menatap wanita itu dan berbalik ke papanya. Bolehkan pa?" Tanyanya kembali.


"Hmmm." Sedikit berpikir. 


Seorang pemuda tampan dengan tinggi 175 itu memasuki ruangan. Berjalan ke arah Presdir dan menatap wanita yang sedang marah itu dan tetap berjalan ke arah Presdir.


"Hei kamu pergilah." Ucap lelaki itu.


"Aku akan pergi jika Papa menyetujui mauku." Pungkasnya.


"Memangnya kamu mau apa si Icha sayang?" Ekspresi lelaki itu mendadak berubah dan mencubit pipinya.


"Aku mau jadi Direktur perusahaan ini kak, gimana boleh? Boleh?" Menatap Ayah dan Kakaknya.


Mata mereka saling menatap.


"Bolehlah siapa bilang gak boleh. Jawab lelaki itu. Saya akan pergi mengurus beberapa hal Pa, kemungkinan saya gak akan pulang kerumah akhir pekan ini." Ucapnya.


Gadis itu berekspresi sangat senang.


"Benarkah Pa?" Masih membutuhkan jawaban pasti dari Papanya.


"Boleh, tapi satu hal. Tunjukkan ijasahmu kepada papa besok. Senin kamu bisa masuk kerja." Jawabnya sambil menunjuk gadis itu.


"Tapi pa." Teriak wanita itu yang tak di hiraukan mereka.


"Yes. Oke Pa makasih. Mencium pipi Papanya. Aku pergi dulu da Papa, dan da kakak." Mencium pipi lelaki itu juga.


Leon hanya tersenyum melihat tingkah adik perempuannya itu.


"Kalau begitu saya izin pergi dahulu pa." Menunduk dan menunduk pada wanita tua itu dan pergi tanpa menyapanya.


Hal itu membuat wanita itu menjadi naik darah lagi.


"Kau selalu memanjakan anak-anakmu." Teriaknya dan hendak pergi membuka pintu.


"Sekali kau marah dan tak pulang kerumah, tak ada tempat lagi untukmu." Acam lelaki itu.

__ADS_1


Wanita itu langsung menggebrak pintu lalu keluar dan mengatur ekspresinya agar terlihat bermartabat.


__ADS_2