
Setelah Arfandy pulang saatnya siang ini membereskan beberapa kekacauan yang ada di rumah ini.
"Ma ada email masuk ke emailku." Memberikan Ipadnya.
"Ah sayang sore nanti pianomu akan datang." Ucap gadis itu.
"Baiklah aku sangat senang." Berjoget riang.
"Kalau begitu ayo bereskan kamarmu. Kau bilang akan dimasukkan ke dalam kamarmu." Tersenyum menatap anak tersebut.
"Baiklah ma. Aku akan segera bereskan dan akan membereskan semua alat tulis dan gambar ku." Langsung menuju kamarnya.
"Anak pintar mama." Sambil membereskan seisi rumah.
Setelah rumah rapi dan tertata dengan sempurna, piano itu datang dengan jasa angkut. Piano termahal yang hanya ada beberapa saja di dunia.
"Leon menggila atau bagaimana? Padahal Keyran bukan anak kandungnya. Sambil memandangi Keyran dan tep jantungnya terasa sakit. Astaga aku kenapa?" Sedikit terjatuh dan menahan beban tubuhnya memegang meja.
"Kau tidak apa-apa?" Ucap Lelaki itu yang tak lain adalah Leon.
"Ah pak Leon anda datang? Tanya Keila menatapnya dan lelaki itu membantunya berdiri. Baunya sama dengan lelaki itu, apa mungkin?" Keila membatin dan mereka saling menatap.
"Kau sudah periksa kesehatan? Kenapa begitu pucat?" Tanya Leon.
Keila berdiri dan bangkit dari peluk lelaki itu.
"Mungkin kelelahan saja dan kurang minum vitamin." Ucapnya.
"Hmm kau ini." Menatap Keyran yang kegirangan di kamarnya.
"Ayah datang? Pianonya bagu sekali, kapan kau memesannya?." Tanya anak kecil itu.
Lelaki itu berbisik.
"Key ayo coba mainkan." Lelaki itu menatap anak kecil itu yang memainkan pianonya sambil bersandar di bahu pintu.
Keila hendak memasuki pintu dan di tahan Leon.
"Disini saja. Sambil memeluknya dan berbisik. Aku merasakan perasaan yang aneh belakangan ini. Maukah kau menjadi kekasihku?" Tanya Leon.
Keila tercengang dan diam saja menikmati alunan suara piano tersebut dan tak menjawab pertanyaan Leon.
"Kau tak mau menjawab? Tanya Leon sambil memasangkan kalung di leher indah Keila. Bagus tidak?" Tanya lelaki itu masih memeluknya.
Gadis itu hanya mengangguk.
"Kuharap itu jawaban iya." Pelukkan semakin erat.
"Hmm. Sepertinya aku tidak bisa bernafas dan menjawabnya saat ini pak. Aku akan ambilkan minum untuk anda." Ucap Gadis itu keluar dari pelukannya.
__ADS_1
"Menarik sekali baru dia gadis yang terang-terangan menolakku." Batin Leon.
"Ayah sini. Ayo main bersama." Ucap Keyran yang menyadari ibunya menolak ayahnya dan tertawa kecil.
Lelaki itu bersamanya memainkan piano itu dengan nada indah.
"Sepertinya sainganmu memiliki start yang lebih di depan." Ucap Keyran.
"Tidak apa. Tok kamu anak kandungku jadi tak masalah pria manapun mendekati Ibumu." Ucap Leon.
Keila memegang minuman menghentikan langkahnya mendengar percakapan Leon dan anaknya itu dan bersembunyi di balik pintu.
"Ha, Ayah kandung? Tangan Keila gemetar dan hampir terjatuh. Jangan-jangan Keyran sudah tahu? Aku harus cari tau terlebih dahulu." Menarik nafas dan menghembuskannya.
"Kenapa lama sekali cantik." Ucap Leon menggoda.
"Tidak apa-apa ini jus jeruk kesukaanmu." Memberikan kepada Leon.
Dan tak sengaja membuat kancing bajunya tersangkut di kepala Leon.
"Astaga maaf pak." Dengan Ekspresi gemetar mengambil gunting dan memotongnya sedikit.
Ekspresi Leon mendatar lalu mencoba tersenyum.
"Kau tau saja aku belum sempat memotong rambut." Ucap Leon memperbaiki rambutnya.
"Hmm kalau begitu pergilah dengan Keyran ke barbershop nanti aku akan menyusul." Ucapnya.
"Ide yang bagus." Lalu berbisik ke Leon.
"Baiklah aku akan siap-siap. Ucap Keyran. Wah akhirnya aku seperti anak-anak lain potong rambut bersama ayahnya. Ma aku sudah siap pergi dulu ya." Ucap anak itu menarik Leon.
"Baiklah hati-hati sayang. Titip anak saya ya Pak Leon." Ucap Keila melambai.
Keyran sudah berada di luar pintu apartemen dan Leon menyapa gadis itu.
"Anakku juga." Lalu mencium pipi gadis itu dan pergi.
Wajah gadis itu memerah dan dia menggelengkan kepalanya dan menuju kamar Keyran. Terlihat beberapa helai kecil rambut tersebut lalu mengutip nya.
"Apapun yang terjadi aku harus tahu kebenarannya. Sambil menatap rambut itu yang berhasil di taruh di dalam plastik klip. Bagaimana jika benar dia ayah Keyran apa yang harus aku lakukan? Dan jika tidak bagaimana kedepannya?" Menatap dengan serius potongan rambut tersebut.
"Sudahlah ayo bersiap pergi lap rumah sakit. Dalam 3 hari hasil akan keluar, dan tiga hari ini aku harus berpikir serius karena hal ini akan mengubah kehidupanku." Batin Keila.
Gadis itu dengan mobilnya berjalan ke Mall tempat Leon membawa anaknya.
"Ayah bagaimana potongan rambut ini?" Tanya Keyran.
"Bagus sekali apakah kita harus memotong rambut yang sama?" Tanya Leon menyenangkan anak itu.
__ADS_1
"Haha. Boleh banget." Mata Keyran berbinar.
"Dasar anak kecil." Batin Leon sambil membaca majalah fashion.
Setelah habis memotong rambut mereka berdua pergi ke pusat mainan anak. Bermain games layaknya ayah dan anak, memainkan segala jenis permainan dari basket, tembak-tembakan, motor gp, hingga memukul tinju.
"Sepertinya kita sudahi disini ayo cari makanan." Menggandeng anak kecil itu.
Anak kecil itu mengayunkan gandengan Leon dan menatap toko baju fashion.
"Haruskah kita membeli beberapa pakaian anak dan ayah?" Tanya Key menunjuk toko yang ada pajangan orang dewasa dan anak.
"Boleh tentu saja boleh. Ayo masuk dan pilih sesukamu." Ucap Leon.
Anak kecil itu melompat-lompat kegirangan.
"Ayahku terbaik." Ucapnya.
Beberapa mode dan model dari kaos polos, formal dan informal, klasik dan kemeja kotak-kota menjadi sasaran mereka berdua.
"Key pakai topi ini." Ucapnya.
Sambil bercermin ayah dan anak itu memakai topi tersebut.
"Wah keren sekali yah." Ucapnya.
"Baiklah. Pelayan pisahkan pakaian anak ini, ini dan ini. Danboakaian dewasa ke alamat ini." Langsung membayar.
Keyran menyadari ayahnya sangat kaya raya begitu pula pamannya yang memberikan kartu black card untuknya.
"Sepertinya untuk saat ini aku tak perlu lagi menggunakan black card paman selagi punya ayah." Batin anak kecil itu.
"Baiklah ayo ke tempat makan. Aku akan search ke ibumu." Menggandeng anak itu mencari tempat makan.
"Ayah bagaimana makan sushi, dimsum dan makanan lainnya." Ucap Keyran.
"Apapun boleh asalkan perutmu tidak meledak." Mencubit hidung anak lelaki itu.
Sekilas lilly melihat CEO dengan pianis muda itu.
"Jangan-jangan kakak disini." Menarik anaknya dan mengintip dari sela-sela patung pakaian di depan toko.
Tak lama Keila datang dengan memakai dres yang sangat manis dan membuat tubuhnya sangat cantik, kaki jenjangnya itu memakai heels yang tak terlalu tinggi menghampiri kedua orang tersebut.
"Mama, kenapa lama sekali. Aku dan ayah sudah menunggu." Ucap anak itu sedikit bawel.
"Haha iya sayang sekarang mama sudah datang ayo kita cari makanan." Ucap Gadis itu menggendong anaknya dan lelaki itu juga menggandeng Keyran.
"Apa-apaan itu. Intip Lili dari kejauhan. Ibu? Ha? Ayah? Jangan-jangan anak mereka bersama? Apa mungkin." Lily menggeram menatap mereka berjalan menuju restoran.
__ADS_1