Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
54. Nada dasar


__ADS_3

Sebulan setelah sidang perceraian Lily dengan Arya, gadis itu lebih giat dari biasanya. Karena mungkin dia menyadari sifat manjanya tak bisa di bawa sampai ia tua.


Arya tersenyum senang sekaligus senang menerima akta perceraiannya. Gadis yang semula itu manja dan selalu merengek agar tidak diceraikan dan selalu emosional kali ini lebih tenang dan stabil. 


"Sebaiknya aku segera pulang dan melihat Alya, aku tak mau di kekurangan kasih dan sayang karena ulahku." Bergegas membuka pintu mobilnya.


Seseorang menggenggam tangannya dan memeluknya dari belakang. Arya menyadari itu Lily mantan istrinya.


"Kau…" mendadak hening.


"Biarkan sebentar saja. Ucap Gadis itu lalu melepaskan pelukannya. Pergilah jangan melihat kebelakang." Pungkasnya menaiki mobilnya.


Dan Arya menaiki mobilnya dan melaju terlebih dahulu dari mobil mantan istrinya.


Saat diperjalanan menuju rumah orang tuanya. Arya mengingat kejadian barusan dan jantungnya berdetak kencang. Mendadak Arya mengerem mobilnya di pinggiran jalan dan memegang dadanya.


"Ada apa denganku? Mengapa jantungku berdetak dengan kencang? Astha Arya Fokuslah." Ucapnya meletakkan kepalanya di kemudi stir nya.


Gadis itu melaju dengan cepat melewati mobil mantan suaminya lalu tersenyum.


"Kena kau." Batin Lily yang pergi langsung ke Perusahaannya.


Gadis itu dengan gairah yang baru dan membawa suatu perubahan di perusahaan milik orang tuanya berhasil menjabat menjadi CEO sementara. 


Gadis itu memasuki kantor dan melihat papan nama di mejanya dan mengelusnya lalu memegang meja kerjanya dan mencoba berputar di kursi tersebut.


Lalu meletakkan kedua sikunya di atas meja dan tangannya menopang kepalanya.


"Segalanya harus dimulai, bagaimana mungkin aku diam saja. Ini baru permulaan." Ucap Gadis itu dengan senyuman.



Siang itu Keila dan Ken berhasil membawa Mr. Jo berkeliling ke galeri seni milik keluarga Leon, terlihat Ibu mertua Keila berada di galeri tersebut.


Wanita tua itu sudah tua namun tidak kelihatan ada keriput atau garis di dekat matanya, perawatan yang selalu dipakainya sangat eksklusif dan jarang sekali.


Terlihat Ken membantu membantu membuka pintu untuk Mr. Jo dan anaknya.


"Silahkan tuan. Saya akan mengajak anda berkeliling." Ucap Ken.


"Oh ya tentu. Mari Ms. Keila." Ucapnya.


Ken yang sibuk memperkenalkan satu persatu ruangan hingga sampai di ruangan ibu mertua Keila yang melukis untuk pagelaran seni bulan depan. 


Terlihat sanggar seni ini bukan hanya memamerkan lukisan, tarian dan juga permainan alat musik.

__ADS_1


"Mr Jo. Perkenalkan, ini mertua saya sekaligus pemilik galeri ini." Keila membawanya ke hadapan Ibu mertuanya.


Wanita itu menatap Keila dan menatap tamu itu dan menunduk memberi hormat.


"Ibu perkenalkan, Mr. Jo dari Us. Klien kita yang sangat tertarik dengan sangar ibu, rekomendasi oleh CEO kita." Ucapnya.


Terlihat para Klien ke kanan dan kekiri memperhatikan semua karya yang dipajang di dinding di ruangan itu.


Wanita itu berdiri dari kursinya dan menatap klien itu.


"Hello Mr. Jo. Menjabat tangannya. Semoga perjalanan anda menyenangkan disini." Ucapnya.


"Saya akan senang jika bertemu anda dan Mr. Keila disini." Ucapnya.


Ken menyapa mereka kembali. "Mr. Jo mari kita berkeliling lagi." Ucap Ken.


"Ah baiklah. Nyonya saya permisi dulu." Ucap lelaki itu keluar ruangan dan mengikuti Ken.


"Sepertinya kau lebih cakap dari penampilanmu." Ucap wanita itu berseru kepada Keila sambil melipat tangannya.


Gadis itu menoleh dan menatap ibu mertuanya tersebut.


"Terima kasih atas pujiannya ibu, kalau begitu saya izin pergi dulu. Semoga harimu menyenangkan bu." Ucap gadis itu dengan senyuman.


"Sulit dipercaya tapi dia cukup kompeten menjadi menanti di keluarga ini, terlepas dari latar belakangnya." Gumam Wanita itu.


Beberapa sampul tidak mencerminkan semua isi buku, malahan hanya sebagian saja. Sangat terlihat jelas jika kamu tidak mencoba membaca seluruh isinya dan maknanya.


Keila berjalan menuju kerumunan di ujung lorong, terdengar suara alunan musik yang sangat merdu. Beberapa nada dari suara piano yang merdu itu menggetarkan jiwa. 


Terlihat anak kecil laki-laki yang sangat ia kenali memainkan alat musik kesukaannya.


Keila menghampiri Mr. Jo dan anaknya yang sedang memandangi Keyran dari jendela kaca tersebut.


Keila menunduk ke anak kecil itu.


"Kamu merindukannya?" Tanya Keila.


"Ya sangat. Ucap Gadis cantik itu. Bolehkah aku masuk kedalam Ms. Keila?" Tanya gadis cantik itu.


Keila mengangguk. "Tentu saja Emily sayang." Membukakan pintu gadis itu.


Keyran menyadari seseorang yang ada di belakangnya, suara gadis yang sangat Khas ia dengar pada saat di London.


"Hy tuan bisakah kau mainkan melody biasa yang sering aku dengarkan?" Tanya gadis itu.

__ADS_1


Keyran berbalik dan terkejut menatap semua orang diruangan itu sangat ramai menyaksikan pertunjukannya. Salah satunya ibunya, tuan Ken dan Emily dengan Ayahnya.


"Oh hy, sudah lama sekali ya." Keyran turun dari kursinya dan memeluk gadis kecil itu.


"Oww." Banyak orang terharu melihat mereka.


Ken menyenggol tangan Keila.


"Mereka saling kenal?" Bisik Ken.


Keyran mengajak gadis itu bermain bersama dan duduk di kursi piano itu bersamanya memainkan nada.


"Mereka teman di sekolah di Juliet international London." Bisik Keila.


"Astaga kau dan anakmu penuh dengan kejutan ya. Betapa beruntung aku memiliki keponakan seperti Keyran." Ucap Ken terharu melihat permainan anak kecil itu dan gadis kecil tersebut.


"Sepertinya kau harus punya anak agar kau bisa memiliki anak sepertiku." Bisik seorang lelaki yang tiba-tiba saja berada di belakang Ken dan Keila.


"Benar juga aku harus menikah terlebih dahulu. Eh kau mengejekku ya." Menoleh kebelakang dan Leon ada di hadapan mereka.


"Astaga kau seperti setan saja tiba-tiba datang." Ucap Ken.


Keila tertawa dan tersenyum. Dan Leon memeluk pinggang istrinya tersebut.


"Wah kau ibu yang luar biasa." Sambil menatap Keyran dan anak perempuan bule itu.


"Siapa dulu ayahnya." Bisik Keila.


"Wah aku seperti nyamuk saja." Gerutu Ken.


Leon dan Keila tertawa melihat jones di sampingnya itu. Jomblo ngenes, sebenarnya tidak bisa di bilang seperti itu. Karena Ken termasuk cowok populer di kampus mereka dan disini juga.


"Apakah aku harus mengatur seleksi wanita untukmu sahabat baikku?" Ejek Leon.


Membuat Keila tambah tertawa dan menyenggol dada Leon agar dia terdiam sejenak.


Alunan melodi ini masih permainan dasar, tak pernah kubayangkan diriku bisa sangat bahagia sekali saat ini. Memiliki keluarga kecil, sahabat yang aneh dan Klien seperti teman sendiri.


Bagaimana kau akan melalui semua kesulitan yang ada? Maukah kau berbagi kekurangan bersama pasanganmu? Jika bisa, maka cobalah. Semuanya tampak lebih sempurna kali ini.


Wanita itu menatap cucu lelakinya bersama anak Klien memainkan nada dasar yang sangat bagus dengan panduan gurunya di belakang mereka.


"Sepertinya benar, suamiku benar. Mulai saat ini aku tidak boleh egois dan melihat semua keahlian mereka tanpa terkecuali dengan perspektif yang berbeda pula. Mck. Sepertinya anak itu sangat berbakat, syukurlah anak seperti itu adalah cucuku." Gerutu wanita itu dan pergi dari kerumunan tersebut.


Banyak hal, banyak kata yang terlalu sulit dikatakan. Namun perlakuan kerap sekali ambigu jika tidak dilakukan dengan pasti.

__ADS_1


__ADS_2