
Mata lelaki itu memerah dan menajam penuh emosi, dia berjalan menghampiri lelaki dan gadis yang lama oa cintai. Tangan Arfandy tepat di kerah baju Leon, Keila membantu melepaskan tangan Arfandy dari kerah Leon.
"Fandy. Keila menggeleng. Ayo bicara sebentar." Langsung menarik tangan lelaki itu.
Lelaki itu masih diam tanpa kata tak memperdulikan gadis itu berkata-kata.
"Fan ayolah kumohon. Fandy." Ucap Keila.
Lelaki itu kehilangan kesadarannya sementara. Lana memegang bahu lelaki itu.
"Kakak." Ucap Lana perlahan.
Lelaki itu melepaskan tangannya dari remasan kerah baju lelaki itu. Dan ikut dengan Keila, suasana di bandara begitu riuh.
Keyran menenangkan Leon. "Ayah tidak apa?" Tanya anak kecil itu.
"Tenang saja sayang. Mengelus kepala Keyran. Pak direktur saya mohon maaf atas keributan ini." Pungkas Leon.
Tiba-tiba saja pondasi tubuh Leon runtuh dan terjatuh, Ken memanggil manggil Loen yang kelelahan berlari mengejar Keila dari turun mobil tadi.
"Lana bantu aku angkat dia. Teriaknya. Pak Direktur tolong ambulan." Ken memohon.
"Kakak, kakak sadarlah?" Icha kaget melihat Leon tiba-tiba runtuh.
Leon berhasil masuk ke dalam ambulan bersama Ken dan Keyran begitu pula Icha.
Ken menghentikan Lana ikut masuk ke ambulan.
"Lana tolong jaga Keila. Kami akan kembali ke rumah sakit, tolong ya agar dia tidak kabur lagi." Ucapnya.
Lana memegang kepalanya dengan kedua tangannya lalu menghela nafas dan mengangguk dan berteriak tentang kejadian hari ini.
Wajah Icha memucat melihat kakaknya tersebut dan Lana terus memandanginya hingga pintu belakang ambulance itu tertutup.
Lana kembali mencari kakak nya dan Keila, kekanan dan kekiri dan menempatkan mengambil bagasi Keila.
Arfandy menggeleng menatap gadis itu yang kelihatannya juga berwajah pucat. Penerbangan Arfandy berhasil di tanggal kan 2 jam kemudian demi mendengar penjelasan pujaan hatinya tersebut.
__ADS_1
"Sebelumnya aku banyak berterima kasih denganmu karena sangat banyak membantuku. Aku juga … aku … aku juga tak paham aku ini sedang dalam keadaan yang bagaimana. Tapi … tapi boleh aku mengungkapkan satu hal?" Gadis itu menatap Arfandy yang membekudi sampingnya.
"Aku gak tau harus cerita bagaimana, tapi … tapi Leon, Leon itu …" tiba-tiba membisu.
"Siapa Leon." Menggenggam tangan Keila dan menatap wajahnya yang menunduk, mencoba tegar walaupun hatinya berantakan.
Keila memejamkan matanya dan mengatakan. "Aku baru tahu kalau Leon ayah kandung Keyran." Menghela nafas panjang.
"APA?! Apa maksudmu?" Tanya Arfandy.
Keila hanya mengangguk. "Aku tak tau ini pasti sangat menyakitimu tapi, aku … aku." Ucapnya terbata.
Arfandy masih menggenggam tangan Keila dan menepuknya perlahan dan menghela nafas.
"Ha… aku akan bahas bulan depan setelah kepulanganku. Apapun jawabanmu aku sudah siap. Aku pergi dulu ya, jaga diri dan Keyran baik-baik selama aku pergi." Bangkit dan melambai.
Keila ikut berdiri dan menarik tangan lelaki itu kepalanya masih menunduk, lelaki itu tidak berani berbalik karena air matanya sudah menetes begitu saja.
"Maaf dan Terima kasih. Menarik nafas. Aku akan menunggu kepulanganmu." Gadis itu tersenyum.
Lelaki itu terus berjalan tanpa menoleh kebelakang dan lambai seolah-olah dia baik-baik saja.
Lana menghampiri kakaknya dan memeluk lelaki itu begitu saja.
"Kak maaf aku juga baru tahu beberapa menit sebelum kau datang, seharusnya aku segera meneleponmu." Ucapnya memeluk lelaki itu.
Pelukannya semakin keras kepada Lana.
"Kak tolong pahami Keila juga ya. Maaf." Ucap Lelaki itu.
Arfandy hanya mengangguk dan menghela nafas panjang dan perlahan.
"Baiklah aku pergi ya, jaga mereka selama aku perjalanan bisnis." Ucap Arfandy melambai.
"Baiklah kak. Kabari aku jika sudah sampai ya." Teriak Lana.
Lelaki itu langsung menelpon Keila dan mencarinya di cafe sedang menikmati pesanannya. Lelaki itu langsung duduk di hadapan gadis itu dengan pandangan kosong.
__ADS_1
Lana mengetuk meja 3 kali namun gadis itu belum tersadar dari lamunannya. Dan mengetok 5 kali lagi dengan kuat.
Gadis itu menyadarinya dan menatap lelaki itu sambil memegang secangkir kopinya dan menghela nafas.
"Menangislah jika kau ingin, aku akan menunggumu. Aku sudah ambil semua barang-barangmu, sebaiknya kamu harus tetap tinggal di Indonesia saja jangan kemanapun." Ucao Lelaki itu.
Gadis itu tak mampu membendung air matanya lagi. Bendungannya sudah runtuh dan air itu meluncur deras melewati pipi.
Gadis itu akhirnya menangis sesenggukkan dengan satu tangan mengelapnya perlahan.
"Astaga dasar cengeng. Ejek lelaki itu sambil menggelapkan tisu ke wajah Keila. Cup cup cup, sudah-sudah." Menepuk bahu gadis itu.
Gadis itu terus mengis di pelukkan Lana dan akhirnya selesai menghabiskan secangkir kopinya.
"Ayo kita pulang. Kita jemput Keyran di Rumah sakit." Ucap lelaki itu perlahan.
"Apaa?" Gadis itu menyentak kaget.
"Leon pingsan tadi di bawa dengan ambulan. Kelihatannya dia kelelahan karena berlari mengejarmu. Lelaki itu menatap gadis yang ada di hadapannya tersebut. Sepertinya dia mencintaimu dan berharap kau menjadi Istrinya, coba pikirkan kembali dan rasakan apa yang ada di balik dadamu." Ucap Lana perlahan.
Dada Keila mendadak sakit mendengar Leon dibawa kembali ke rumah sakit.
"Jika kau mencintainya ayo pergi melihatnya dan berikan dia kesempatan. Bukannya aku tak mendukung kakakku atas segala hal dan perjuangannya kepadamu. Tapi … tapi aku baru ini melihat ada lelaki yang sangat begitu menginginkanmu. Jadi ayo hapus air matamu ya kak." Nada Lana melembut.
Keila hanya mengangguk dan dirinya bersama Lana sudah berjalan menuju rumah sakit Leon.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kukatakan kepadanya? Apakah aku benar-benar menginginkannya?" Membatin.
Mobil melaju perlahan dan Lana membuka sedikit kaca jendela mobilnya. Membuat rambut gadis itu berkibar dan membuatnya menghirup udara segar agar menenangkannya.
"Hmm. Kuharap segala sesuatunya baik-baik saja, apapun itu tuhan maha baik dan pasti sudah merencanakan yang terbaik." Batin Lana menatap Keila.
Jika ada pepatah yang mengatakan tentang apakah cinta bisa dihilangkan begitu saja? Tentunya tidak.
Bahkan kita bisa menikah dengan siapapun namun kita tidak bisa berencana untuk mencintai siapapun.
"Dan aku sudah mencintaimu. Leon. Keila mengingat wajah Leon dan setiap kejadian yang telah mereka lalui. Tuhan bolehkah aku mencintainya? Jika boleh izinkan aku tetap bersamanya." Batin Keila menatap Leon dan Keyran tidur di tempat tidur yang sama di rumah sakit.
__ADS_1
Pesawat Arfandy lepas landas, lelaki itu menatap awan dan langit biru dari luar kaca jendela.
"Ya tuhan, kau katakan jika aku tulus dalam mencintai aku akan mendapatkan yang terbaik tapi mengapa aku merasa aku tak mendapatkan sesuatu yang menurutku baik? Akankah aku menemukan seseorang yang terbaik menurutmu?" Arfandy membatin dan menutup matanya perlahan.