Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
46. Leon : Takkan ku biarkan kau pergi


__ADS_3

Lelaki itu terjatuh tepat di pelukan gadis itu, gadis itu berteriak begitu pula dengan anak kecil itu. Suasana kala itu tidak ramai malahan sangat sepi.


"Pak Leon, pak Leon. Gadis itu berteriak membangunkannya darah sudah mengalir tepat di telapak tangannya. Astaga ini apa?" Tiba-tiba saja Keila mengingat kejadian siang tadi saat Leon mengerem mendadak mobilnya.


Lelaki itu menatap gadis itu dan tersenyum.


"Akhirnya ketemu." Dan mencoba memegang pipinya dengan satu tangannya dan terjatuh begitu saja. 


Lelaki itu pingsan dan kehilangan kesadarannya.


Keyran mengambil tabletnya dan menelpon ambulan terdekat.


Mereka berlarian mendorong Leon menuju IGD.


Wajah Keila sangat tegang begitu juga Keyran, mereka menunggu di ruang tunggu.


Tak lama Ken dagang dengan Icha menemui Keila dan memeluk Keyran.


"Ada apa ini?" Tanya Icha histeris.


Gadis itu hanya terdiam saja tanpa kata dan menangis memeluk Icha yang ada di hadapannya.


"Tenanglah tenang, ayo ke toilet bersihkan dirimu dari simbahan darah ini." Ucap Icha.


"Iya pergilah aku akan menjaga disini, bersama Keyran." Ucap Ken.


Keila mengangguk dan pergi ke toilet sedangkan Icha menelpon Lana untuk menjemput Keyran pulang.


 "Posisi kalian dimana? Aku segera kesana." Ucap Lana dari ujung telepon bergegas mengambil jaketnya dan berlari.


Icha kembali mendatangi Keyran dengan mata yang menyembah dan bengkak.


"Sayang kamu tidak apa?" Tanya Icha perlahan dan memeluk anak itu.


"Gimana kalau aku kehilangan ayahku kak?" Tangis Keyran.


Icha membatin. "Keyran sudah lama tahu kalau Leon ayahnya namun tak memberitahukan Keila. Icha menghela nafas. Tidak apa sayang." Sambil menepuk punggung anak itu dan tertidur.


Lana datang dengan tergesah-gesah dan mengambil Keyran dari pelukkan Icha.


"Bagaimana oprasinya?" Tanya Lana.


"Masih belum ada hasil. Tolong bawa pulang Keyran ke rumahnya. Dia harus sekolah besok pagi." Ucap Icha.


Keila menghampiri mereka.

__ADS_1


"Kau tidak apa kak?" Ucap Lana.


"Tidak. Ini kunci mobil dan rumahku, aku akan berjaga disini tolong jaga Keyran untuk malam ini saja." Gerutunya.


Dan duduk di samping Ken. 


"Aku akan antar mereka dahulu." Gadis itu berdiri dan mengantar Lana dan Keyran ke mobil. 


Keila hanya mengangguk dan masih bingung, bajunya berbau amis dan terlihat bekas darah di kemejanya itu.


"Kau tak mau menjelaskan sesuatu kepadaku?" Tanya gadis itu menatap lelaki yang duduk disampingnya itu. 


Ken menghela nafas panjang dan sedikit membungkukkan badannya kebawah.


"Sebenarnya beberapa tahun lalu saat ulang tahun Icha, kami memesan satu hotel yang terdapat sebuah bar. Saat itu Prilly begitu ingin memiliki Leon sehingga mencampur obat ke minumannya. Leon menyadari hal itu dan dia pergi begitu saja, kesalahannya adalah meletakkan minuman itu sembarangan didekatmu. Setelah kejadian malam itu, paginya dia membelikan pakaian ke kamar hotel kalian tapi kau sudah menghilang. Leon merasa bersalah dan mencarimu 5 tahun terakhir dan menjauhi semua gadis yang mendekatinya. Kecurigaan dimulai saat kau melamar menjadi sekretarisnya dan makan malam bersama partner kerja kami pak Arfandy." Menghela nafas panjang.


"Bagaimana mungkin, bagaimana lelaki itu tau Keyran anaknya?" Menatap Ken dan membuang pandangannya.


"Saat makan malam itu aku mencabut rambut Keyran dan melakukan tes kepada mereka berdua. Diluar dugaan, kau adalah orang yang iya cari selama ini. Ucap Ken. Bukankah kalian ditakdirkan bersama dengan berbagai pertemuan?" Tanya Ken.


Keila tak menjawab pertanyaan Ken, ia masih sulit menerima kejadian yang terjadi padanya saat ini. Dan juga karena Keila kaget dengan semua ini sampai tak sadar melukai Lelaki itu.


"Jadi ia memang ayah anakku." Menghela nafas dan tangannya gemetar.


Terlihat Dokter keluar dari ruang operasi.


"Siapa walinya. Ucap lelaki itu. Kepalanya hanya terbentur cukup keras dan mengalami cedera otak namun tidak terlalu fatal, kami sudah menghentikan pendarahannya. Pasien akan dipindahkan ke ruangan segera." Ucap dokter tersebut.


"Baik dok." 


Lelaki itu didorong keluar dari ruangan operasi ke ruangan pasien VIP. Ken dan Keila mengikutinya dan berpapasan dengan Icha.


"Kak pakailah ini ganti bajumu, jika kau tak mau pulanglah dan datang lagi besok." Ucap gadis itu.


"Ah aku akan ganti baju, lagi pula setelah sadar ada yang jngin aku tanyakan kepada kakakmu." Ucap Keila dengan santai menahan apa yang telah terjadi seharian ini.


"Baiklah kak." Icha hanya mengangguk dan melihat Leon masih tertidur pulas akibat obat biusnya.


Malam itu Keila semalaman menjaga Leon dan tertidur di kursi samping tempat tidur lelaki itu. Keila memberanikan diri memegang tangan lelaki itu dengan kedua tangannya.


"Sungguh hangat sekali. Keila menatap wajah Leon yang tertidur pulas, wajahnya pucat pasir dan tampak tenang dan lelap. Kenapa dari awal kau tak mengakuinya? Kenapa aku harus tahu setelah 6 bulan kita bersama?" Menatap lelaki itu lalu meletakkan tangannya dan mencium kening lelaki itu.


"Sepertinya aku belum siap menerima segala sesuatunya. Mulai saat ini jaga dirimu baik-baik." Ucap Keila keluar dari ruangan Leon.


Keesokkan paginya, Leon terbangun dan mencari gadis itu.

__ADS_1


"Dimana Keila?" Tanyanya kepada Ken.


"Dia pergi berangkat pulang ke Inggris." Ucap Ken menunduk dengan nada melemas.


"Dimana pakaianku? Teriaknya. Aku pernah kehilangan mereka tidak untuk kedua kalinya." Ucao Leon.


Ken berdiri menghalangi Leon.


"Pakai ini, aku yang akan menyetir." Ucap Ken.


Mereka saling menatap dan mengangguk.


Mobil melaju kencang ke arah bandara, kelihatannya masih sempat.


Leon berusaha menelepon pihak bandara penerbangan atas nama Keila Fay dengan Keyran.


"Maaf pak saya Leon. Tolong batalkan penerbangan Atas nama Keila Fay dengan Keyran anak umur 5 tahun. Sekarang tahan mereka sampai aku disana." Ucap Leon.


"Baiklah pak. Berdasarkan prosedur." Sebelum staff itu selesai bicara Leon sudah menyelah nya.


"Jika kalian tak mau mengalami kerugian atas saham yang ku tanam segera hentikan wanita dan anak itu naik ke pesawat." Ucap lelaki itu.


"Ah iya baiklah pak baik." Ucap Staff bandara tersebut.


"Kurang dari sepuluh menit lagi aku datang." Mematikan teleponnya.


Diluar dugaan, Ken ternyata bisa lebih baik mengemudi dari biasanya. Lelaki yang selalu hati-hati ini memiliki skil di sirkuit balap.


"Sepertinya aku menikmati hal ini. Jika mobil ku ini ikut remuk seperti mobilmu. Kau harus menjanjikan aku mobil sport." Ucap Ken tersenyum kepada Leon.


"Semuanya tergantung cepat tidaknya kau mengantarkan aku ke bandara. Masih dengan ekspresi tegang. Keila kumohon jangan pergi." Membatin.


Jika ini hal seperti ini berulang kali terjadi aku akan tetap melakukan hal yang sama sebisa mungkin menghentikan kepergianmu. Jangan pergi sampai aku sampai, jangan pernah menghilang dari pandanganku. Takkan ku izinkan takkan pernah.


Mobil terus melaju sampailah di dalam pintu masuk bandara yang super padat kendaraan.


"Sepertinya kita gak bisa masuk terlalu macet." Ucap Ken.


Leon membuka pintu mobilnya dan berlari sekuat tenaga.


"Hei Leon. Kau gila ya." Teriak Ken dari dalam mobil.


Leon hanya terus berlari menuju bandara ke ruang keberangkatan.


"Semoga masih sampai, semoga." Batinnya sekuat tenaga berlari.

__ADS_1


__ADS_2