
Malam di kediaman keluarga Leon, makan malam kali ini adalah sambutan kepulangan anak tertua kedua keluarga Leon yang tak lain adalah adik tirinya yang bernama Dilly. Mereka memiliki satu darah yang sama hanya berbeda ibu saja.
"Papa sudah putuskan general Direktur perusahaan akan dipindahkan ke pada Dilly." Ucap papanya.
Icha menghentakkan meja.
"Mana bisa seperti itu." Tak puas mendengar perkataan papanya tersebut.
"Ini sudah keputusan papa." Sambil menyantap makan malamnya.
"Aku tidak setuju. Berdasarkan kualifikasi dan kinerja Icha selama 3 bulan nilai rata-rata dari produksi yang dia pegang naik dan tingkat penjualan juga naik. Saya tidak punya alasan untuk menurunkan jabatannya." Tegas Leon.
Wanita itu mencampakkan garpunya. Dan berhasil dihindari oleh Leon.
"Manusia temperamen sepertimu tidak seharusnya menikah dengan papaku dan menjadi nyonya besar disini. Semua orang disini bisa mati karena mu." Ucap Leon membersihkan jas nya yang sedikit terkena sisa makanan tersebut.
"Kurang ajar kau." Wanita itu berdiri sambil menunjuk Leon.
"Ibu diamlah. Gertak Icha. Jika kalian ingin menyingkirkanku dan menaikkan dia. Menunjuk ke arah Dilly. Bukankah kita harus melihat kinerjanya terlebih dahulu sebagai manajer penjualan perusahaan." Pungkas Icha dengan tenang padahal ia ingin mencabik-cabik saudara lelakinya itu dan menusuk ibunya.
"Aku setuju. Ucap Leon menghabiskan air es nya sekali tenggak. Kita harus melihat kualifikasinya, jika ayah bertindak seenaknya bersama wanita gila itu. Menunjuk ibu Icha dan Dilly. Aku akan menurunkan posisimu sebagai Presdir perusahaan dan Aku tidak sedang mengancam. Aku sangat-sangat serius." Menatap tajam wanita itu lalu berdiri.
"Aku akan mendukung kakak." Ikut berdiri
"Ayo kita pergi dari neraka ini Cha." Ucap Leon.
Meja kembali di gebrak.
"Seperti itulah tugasmu sebagai seorang anak yang terkaya ke 5 di negara ini." Ucap papa mereka.
Leon menoleh ke arah saudara lelaki nya itu.
"Kau bisa lihatkan. Banyak perpecahan yang terjadi setelah kepulanganmu, sebaiknya kau angkat kaki saja dan jangan menjadi duri di setiap tempat." Ucap Leon dengan pandangan sangat datar dan dingin.
"Ayolah kakak aku hanya." Sebelum selesai berbicara Leon memotongnya.
"Aku tidak memiliki adik sepertimu. Adikku cuma satu. Menatap Icha. Jadi jika aku dan ibumu mau mengganggu ku persiapkan saja otak dan kualifikasi sebagai seorang pemimpin." Dan pergi begitu saja diikuti Icha.
Gadis dan lelaki itu berjalan keluar rumah terlihat mobil mereka sudah terparkir di halaman rumah.
"Kakak apakah tidak apa-apa begitu?" Tanya Icha melemas.
"Tenanglah ada aku yang akan selalu membantumu. Mengelus kepala adik perempuannya itu. Maka dari itu kau harus lebih giat memegang jabatan ini dan tetap antisipasi perusahaan furniture mu sendiri, ini baru permulaan." Ucap Leon menyemangati.
"Baiklah kakak ku sayang mohon bantuannya." Memeluk lelaki itu.
__ADS_1
Ken yang sedari tadi melihat mereka pura-pura batuk.
"Uhuk. Sepertinya drama keluarga dan kakak beradiknya harus kita sudahi. Ini sudah pukul 11 malam." Ucap Ken mengejek sekaligus mengingatkan.
"Baiklah kak. Aku akan berusaha. Tolong bantuannya." Ucap Icha.
"Aku akan selalu membantumu. Pulanglah dan hati-hati." Ucapnya.
"Baiklah kak. Dah." Memasuki mobilnya.
"Mau ku antar?" Mendekati jendela kaca mobil adiknya.
Dan tak menghiraukan Ken.
"Tidak usah kak. Dah Kak Leon dan dah kak Ken." Mengendarai mobilnya dan pergi secepat kilat.
Leon hanya melambai.
"Ayo kita pulang. Leon memasuki mobil. Biar aku saja yang nyetir." Ucap lelaki itu.
"Ada masalah apa lagi?" Tanya Ken.
Leon menjelaskan intinya.
"Sepertinya aku harus mengubah strategi. Bagaimana dengan perusahaan rintihanku? Dan beberapa pembangunan hotel di luar perusahaan?" Tanya Leon.
"Perusahaan rintisan aman beserta hotel dengan. Eh tunggu dulu, bagaimana jika kita membuat nama Keyran sebagai nama hotel pasifik barat?" Tanya Ken mendadak mendapat ide.
"Hmm boleh juga. Setidaknya itu menjadi peran penting untuk masa depan Keyran." Leon menaikkan alisnya.
"Bisa jadi suatu hal yang bagus untuk saat ini. Kita hanya perlu mencari desainer grafis untuk hotel ini." Ucap Ken mengotak atik tabletnya.
"Keila, dia saja." Ucap Leon.
"Astaga benar sekali. Kau memang brilian." Ucap Ken.
Malam panjang itu terlewati juga namun baru beberapa hal saja yang terjadi beberapa lagi akan segera dimulai. Akan banyak kekacauan-kekacauan yang datang dan harus segera dibersihkan.
Leon menggas mobilnya dengan kecepatan tinggi seolah dirinya sedang berada di sirkuit balapan. Banyak orang akan mengatakan bahwa sirkuit menjadi tempat paling berbahaya namun juga dapat menjadi tempat paling menyenangkan untuk orang yang senang sekali hal ekstrim seperti Leon.
...
Malam itu berganti pagi yang indah gadis itu membuka tirai kamar anaknya dan menatap lelaki itu tertidur pulas di samping anak lelakinya.
Yang ku ingat aku hanya tertidur di bahu lelaki itu dan hanya mengingat dia membangunkanku dan sontak saja aku sudah berada di kamar apartemenku dan kedua lelaki ini sudah tertidur pulas di kamar anakku.
__ADS_1
"Lelaki bodoh ini berbeda dengan banyak lelaki lain yang mengambil banyak keuntungan dari perempuan. Dia hanya akan tidur ya tidur saja disampingku tanpa melakukan apapun atau aku harus waspada akan suatu hal karenanya. Tertawa. Ternyata budaya barat selama lima tahun ini tetap terbawa setelah kepulangan ke Indonesia." Gadis itu membangunkan Keyran.
"Key ayo bangun." Ucap gadis itu.
Tangan lelaki itu menariknya dan membuat gadis itu tidur diantara mereka.
"Hei kalian ini sudah jam 10 ayo bangun." Sambil menatap ke langit dan menelan air ludahnya.
"Ma ini wekeed. Hari minggu ini bolehkah aku tidur sepanjang hari?" Pinta anak kecil itu.
Lelaki itu tertawa.
"Jadi ingat semasa di pantai saat di Inggris." Tawanya sambil memeluk kedua orang itu.
"Benar sekali, sepertinya 3 bulan lagi kita bisa mengambil sisa barang-barang kita yang tertinggal disana." Sambil mencoba bangkit.
"Oh No. Mari kembali tidur." Serentak lelaki itu dan anaknya.
"Hei ayolah aku mau menyiapkan sarapan." Ucap gadis itu dalam pelukan kedua lelaki itu.
"Go food saja." Serentak menjawab.
"Key kau lupa akan sesuatu ya?" Bisik ibunya yang membuat anak itu terbangun.
"Ah iya paman ada film terbaru ayo kita bangun dan nonton." Bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi.
"Kau tidak bangun?" Tanya Keila kepada Arfandy.
"Sebentar lagi. 5 menit lagi. Ok." Memeluk erat gadis itu.
"Kau kelelahan ya?" Tanya gadis itu.
"Hmmm." Hanya mengangguk.
"Kenapa tidak mengirim beberapa tugas ke email ku agar ku kerjakan?" Tanya gadis itu mengelus kepala lelaki itu.
"Tidak apa-apa kelihatannya kau kelelahan. Hmm. Nyaman nya." Gerutu Arfandy.
"Baiklah sudah 5 menit, aku harus menyiapkan sarapan. Setidaknya sarapan terlebih dahulu baru pulang." Menatap lelaki itu kembali tertidur.
"Hmmm." Tertidur dengan sangat tampan.
"Ya ampun mungkin jika kita menikah pekerjaan kita hanya tidur saja." Keila membatin dan pergi ke dapur.
"Sepertinya malam ini adalah malam dimana aku tertidur nyenyak setelah lama tak tertidur dengan pulasnya." Batin Arfandy yang masih tidur di kasur Keyran.
__ADS_1