
Mobil itu melaju kencang dan menembus kabut malam itu, terlihat sangat keren untuk seumuran pria tua seperti lelaki itu.
"Paman, lelaki tua itu keren sekali untuk ukuran kakek-kakek." Keyran menunjuk ke arah mobil tersebut.
"Kenapa sayang, kamu ingin mobil seperti itu." Ucap Arfandy membawakan sebuah hadiah untuk anak itu.
"Iya. Anak kecil itu mengangguk. Apa ini paman?" Sambil menerima kotak tersebut.
"Bukalah." Ucap Arfandy.
"Wah sepatu roda dengan helm dan pelindung sikunya. Terima kasih banyak paman." Memeluk lelaki itu.
"Sebaiknya letakkan saja di mobil ibumu." Ucap Lelaki itu.
"Baiklah ini kuncinya, ayo kesana." Menarik lelaki itu bersamanya ke mobil Ibunya.
"Baiklah selesai. Sebaiknya kita kembali kedalam untuk acara puncaknya." Menggandeng tangan anak kecil itu.
"Baiklah paman." Memasuki Aula tersebut.
Terlihat acara sangat meriah dan dihadiri banyak orang termasuk kalangan atas.
Terlihat Ayah Leon bersama ibu tirinya itu sangat senang. Ayah Leon mendekati Icha dan mengucapkan selamat.
"Selamat putriku. Tapi jika ujianmu 3 bulan ini tidak lulus kamu berhak memberikan posisi kepada kakakmu." Bisik ayahnya.
"Yah, ayah. Muka Icha mendadak cemberut dan merapikan rambut pendeknya. Aku pasti akan memenangkan ujian ayah. Tenang saja!" Pergi menggandeng Lana dan memasuki acara puncak penukaran Cincin.
Mc sibuk meramaikan acara. "Baiklah para hadirin saatnya menyematkan cincin di jari tunangan perempuan. Ucapnya. Lana bersujud dan memasangkan cincin di jari kekasihnya. Baiklah beri tepuk tangan semuanya." Ucap Mc dan banyak tepuk tangan para hadirin sekalian.
Dili menatap adiknya itu tersenyum sinis seolah senang karena jabatannya akan beralih kepadanya. Dan mengarahkan pandangan kepada Leon dan Keila istrinya.
"Bisa-bisanya mereka menikah tanpa ada acara, akan ada hal menarik yang terjadi setelah ini." Pergi keluar dari acara tersebut.
Terlihat ibunya Icha yang tak lain ibu tiri Leon mendekati Keila.
"Salam ibu mertua dan ayah mertua. Apa kabar?" Ucap Keila.
"Hahaha. Kami baik, bagaimana dengan Leon apakah dia menyusahkanmu?" Tanya Ayahnya.
"Sama sekali tidak ayah." Tersenyum manis.
"Maafkan dia karena dia tidak romantis atau menggelar acara pernikahan kalian." Ucap Lelaki itu menahan tawanya.
"Haha. Iya tidak apa ayah." Mengangguk.
Lelaki itu memukul bahu anaknya.
__ADS_1
"Kau harus memperlakukannya dengan baik. Kau mengerti?! Setidaknya ajak dia dan anakmu jalan-jalan sebagai gantinya. Hohoho." Gerutu lelaki itu.
"Baiklah Ayah." Mengangguk.
"Kakek … kakek. Teriakan anak kecil dari jauh berlari menghampirinya. Kakek kemana saja?" Tanya Keyran menyalam orang tua itu.
"Aku disini. Bagaimana kabarmu? Kenapa kau tidak berkunjung kerumah kakek?" Tanya lelaki itu sedikit memanyunkan mulutnya.
"Baiklah aku akan kesana jika nenek tidak memarahiku karena aku anak baik." Lalu tersenyum masih memeluk pria tua itu.
"Nenekmu baik hanya saja sudah tua dan sedikit butuh perhatian. Mainlah Ke galerinya dan lukis beberapa gambarmu, kakek akan mempersiapkan suatu ruangan untukmu menggambar." Mengelus kepala anak itu.
"Ah benarkah?" Bertanya dengan mata berbinar.
"Tentu saja." Ucap Pria tua itu.
Leon hendak menghampiri Keyran yang ada di pelukkan ayahnya. Keila menahan tangan Leon dan menatapnya lalu menggeleng.
Keila sedikit menunduk ke anaknya.
"Sayang ayo bilang terima kasih kepada kakek." Membersihkan wajah anaknya dengan lembut.
"Baiklah terima kasih kakek. Gracia." Memberi hormat.
"Hahaha. Kamu membesarkan anak ini dengan baik. Kau harus terus menjaganya ya. Aku pergi dulu. Menghampiri istrinya. Ayo pulang." Berjalan berdua bersama.
Leon memegang tangannya. "Sudahlah wanita tua itu tak memerlukan hal itu." Gerutu Leon kesal.
"Hai pria tampan, kau harus bisa mengolah emosimu. Bagaimanapun dia tetap ibu tirimu. Ibu smabungmu." Mencubit hidung lelaki itu.
Mendadak ekspresi Leon meredam, amarahnya tak lagi ada. Matanya yang tadinya tajam terlihat lebih berwarna dan lebih teduh.
"Nah begitu baru bagus." Ucap Keila.
"Sayang ayo. Kau pasti belum makan?" Ucap wanita itu.
"Gadis ini selalu tau saja apa yang aku butuhkan dan tahu betul bagaimana mengolah emosi ku. Tersenyum menatap gadis itu dan anaknya pergi ke arah meja yang penuh dengan makanan. Jika aku tak bertemu dengannya mungkin aku takkan menikah. Membatin dan tiba-tiba ingat perkataan ayahnya tadi. Haruskah aku melamarnya di bawah menara di paris ah maksudku menikahinya disana?!" Mendadak berpikir serius.
Ken menghampiri lelaki itu dan menatapnya dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Ada apa? Ini pesta kenapa kau begitu sangat serius." Ucap Ken memegang segelas anggur merah terbaik.
"Haruskah aku menikah dengan Keila di paris?" Tanyanya kepada Ken.
Ken mendadak tersedak minum anggurnya dan mengelap mulutnya dengan saputangan.
"Ha? Boleh juga, toh setahun ini selama jadi istrimu dia cukup membantu. Lagi pula dunia juga harus tahu kalau kau sudah menikah bukan?" Tanya Ken balik ke pada Leon.
__ADS_1
"Benar juga, akad nikah sederhana itu sepertinya tak cukup." Gerutu Leon.
Mengingat kejadian setahun lalu saat Leon membawa Keila dan Keyran ke keluarganya dan menyatakan ingin menikahinya.
Kala itu, kedua orang tua Leon juga sudah mengetahui wajah Keila di acara makan keluarga.
Walaupun ayahnya terlihat kaget namun amat senang melihat profil menantu perempuannya lulusan luar negeri dan memiliki banyak pengalaman dan juga cucu lelakinya yang sangat terkenal di Eropa apalagi pernah menjadi bintang di perusahaan mereka.
"Baiklah, besok kita akan adakan akad nikah sederhana buat kalian. Sisanya terserah kalian mau kapan mengadakan resepsinya." Ucap Ayah Leon dengan amat santai.
Ibu tirinya hanya menggerutu dan tak bisa berkata-kata, karena Leon sudah membawa surat dari pengadilan yang menyatakan mereka suami dan istri.
"Baiklah aku tak tau apa yang akan dilakukan oleh orang tua Prilly, kalian yang lurus dan jangan melibatkanku." Ucap wanita itu menenggak tehnya lalu pergi.
Keila memahami masuk kedalam keluarga super kaya itu tak mudah, terlebih ibu tiri suaminya yang tak lain Ibunya Icha kurang menyukai orang baru.
"Key, Keyran sayang salam kakekmu." Ucapnya.
"Baiklah ma. Kakek mohon bimbingannya dan bantu aku untuk menjadi anak yang baik ya, aku takkan menyusahkan kakek." Ucapnya.
"Anak yang baik. Mengelus kepala anak itu. Akhirnya aku punya cucu." Memeluk anak itu.
"Ah ini rasanya memiliki keluarga utuh seperti ayah, ibu dan memiliki kakek dan nenek." Batin Keyran dalam pelukkan pria tua itu.
"Entah mimpi apa, Keyran sudah memiliki ayah sekaligus keluarga besar. Ayah bagaimana kabarmu? Kau sehat?" Batin Keila mengingat ayah kandungnya.
Leon memeluknya dari belakang.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya lelaki itu.
"Tidak ada, hanya senang saja." Tak berani menatap lelaki itu.
"Syukurlah jika kau senang. Tidakkah kau ingin mencari tahu keberadaan ayahmu?" Ucap Leon
"Sepertinya tidak usah. Kita berkunjung saja ke makam mamaku. Oke?" Ucapnya.
"Baiklah jika itu keinginanmu." Ucap Lelaki itu lembut.
Tibalah gadis itu membawa anak sekaligus suaminya di depan makam ibunya. Gadis itu menangis dan memeluk makamnya.
"Jika ada hal yang paling aku rindukan, itu pasti senyuman ibu yang selalu menenangkan hatiku.
Kau lihat aku dari atas sana? Terima kasih telah menjagaku hingga saat ini. Terima kasih telah menjadi ibuku dan maafkan aku tak menemui ayah beberapa tahun ini." Menangis tersedu-sedu.
Dalam pelukan hangat lelaki ini aku tenang, bagaikan tempat pulang yang telah lama aku cari. Anak kecil itu juga memelukku dengan hangat.
Daun daun berguguran cahaya matahari kali ini tampak cantik menyinari dari sela-sela pepohonan.
__ADS_1