Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
17. Temu


__ADS_3

Jika tuhan memberikanmu kesempatan atas pertemuan yang kedua kalinya maka apa yang akan kau lakukan untuk memanfaatkan kesempatan emas tersebut.


Akankah kau menahannya agar tetap bersamamu atau boleh jadi melepaskannya dan membiarkannya berpergian kemanapun dia mau.


"Ma, cinta itu apa?" Tanya anak lelaki itu memastikan jawaban mamanya.


"Cinta itu perasaan yang mewakili perasaan suka, sayang, nyaman, dan menerima segala kekurangan dan kelebihan jadi satu." Sambil memeluk anak kecil tersebut.


"Jadi ma, mama mencintai paman Fandy atau Ayahku?" Tanya anak kecil tersebut.


"Hmm. Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang?" Menatap anak lelaki tersebut.


"Karena aku melihat paman telah melakukan segalanya demi kita ma. Aku tak keberatan jika pada akhirnya mama dan paman menikah." Sambil memeluk erat mamanya.


"Akan mama pikirkan." Mengecup lembut kening anaknya.


"Jika pada akhirnya mama memilih paman dan. Dan. Sedikit terbatah-batah berbicara. Dan suatu saat nanti, bolehkah aku bertemu papa ku ma?" Tanyanya san tertidur.


Gadis itu hanya menatap anak lelakinya dan menyanyikan lagu tidur untuknya sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Hmmm. Ayahmu ya. Aku saja tak tau siapa lelaki itu. Haruskah aku menemukannya?" Batin dalam hati sambil memeluk erat anak tersebut.


Di rumah sakit.


Terlihat Dokter Arya sedang berkeliling dari bangsal satu ke bangsal lainnya mengecek satu persatu pasiennya.


Kali ini Arya di pindahkan ke rumah Sakit cabang yang ada di tengah kota.


"Sayang, kamu agak demam. Ayo kita periksa darah di rumah sakit, mama takut anemia mu kambuh kembali." Ucapnya.


"Baik ma." Bergegas.


Gadis itu menatap anaknya, ya saat baru lahir anak ini mengidap penyakit anemia bawaan. Dan saat ini sudah dalam tahapan penyembuhan namun tidak boleh terlalu lelah atau kelelahan.


"Berdasarkan hasil tes. Anak ibu ini bersih dari berbagai penyakit, namun saya menyarankan untuk meminum vitamin seminggu 2 kali saja." Memberikan resep dokter.


"Baiklah donk terimakasih." Keluar dari ruangan sambil menggandeng anaknya.


Tak lama Lana datang menyapa mereka melambai dari kejauhan.


"Uncle. Teriak anak itu memeluk kearah pamannya. Apa yang akan kita lakukan di akhir pekan ini?" Tanyanya.


"Kita akan main bersama Kakak Icha. Menatap anak itu dan menatap wanita yang berjalan kehadapannya. Bolehkan?" Tanya lelaki itu sekali lagi.


"Tentu saja boleh dong." Jawabnya dengan senyuman paling manis


"Hmm. Kamu mau kemana lagi kak?"Tanya Lana.

__ADS_1


"Kalian pergilah, aku akan mengambil resep vitamin untuk Key. Menunjukkan resep dokter. Hati-hati ya." Melambai.


"Baiklah dada mama." Ucap Key. 


"Hati-hati ya kak. Dah."Ucap lelaki itu pergi.


"Hmm kelihatannya segala sesuatunya tampak membaik." Memutar badannya dan menabrak seorang dokter yang tak sengaja terburu-buru berlari ke dalam rumah sakit.


"Maafkan saya." Tanpa menoleh ke arah Keil.


"Iya tidak apa-apa. Menunduk mengambil resep dokternya yang jatuh di lantai lalu menoleh dokter itu telah menghilang. Astaga apa dia sangat terburu-buru" berjalan ke apotik sambil menggeleng kepalanya.


Gadis itu memberikan resepnya kepada apoteker yang berjaga di apotik dan mengambil vitamin tebusannya.


"Silahkan ke bagian pembayaran di pojok kiri sana ya bu. Untuk penebusan obatnya." Memberikan arah.


Gadis itu menatap struk pembayaran dan berjalan ke arah yang diinstruksikan apoteker tersebut. Memberikan struknya dan membayar. Sambil mengambil dompet di tas kecilnya. Tangannya dan tangan seorang dokter bersinggungan kembali.


Keil hanya mengatakan, "Maaf pak saya tak sengaja." Dan terdiam sejenak.


Dokter itu dan dirinya saling menatap cukup lama, kedua pasang bola mata itu saling bertemu setelah sekian lama. Perasaan rindu yang tak karuan menjadi-jadi. Detak yang sama masih bedegup dengan kencangnya.


"Maaf mbak totalnya 258rb." Ucap seorang kasir tersebut.


Keil mendadak tersadar dari saling tatap dengan Arya. Ya Arya sang mantan kekasihnya.


Gadis itu tersenyum dan berbalik menjauhi lelaki itu.


"Keil. Keila kan? Tanyanya namun gadis itu berhenti dan menoleh dengan menahan tangisnya. Keila." Ucap Arya kembali.


Gadis itu berbalik dan menatapnya.


"Hei apa kabar dokter Arya." Masih tersenyum dan memperbaiki rambutnya.


Arya masih tertegun bungkam tak bisa berbicara di hadapan kekasihnya tersebut. Tuhan seakan menjawab semua doa-doanya kali ini.


Telepon Keila mendadak berbunyi dan dia menjawabnya langsung berbalik membelakangi Arya menuju apotik menebus obatnya.


"Iya aku sudah selesai kamu dimana." Tanyanya kepada lawan bicaranya di telepon sambil mengambil obatnya dan memasukkannya di tas.


Gadis itu berbalik dan masih melihat Arya mengikutinya namun tak memperdulikannya. "Ah oke aku segera kesana." Jawabnya dan mematikan teleponnya.


Arya menangkap tangan Keil dan menariknya ke dalam ruang gudang penyimpanan obat. Posisi ruangan sedikit gelap, ekspresi Arya tak terlalu jelas. Arya berbalik menghapus tangisnya akan rindunya kepada gadis yang ada di hadapannya.


"Arya." Ucapnya pelan dengan nada sangat lembut.


"Kamu. Kamu. Kamu. Menunjuk Keila. Bisa-bisanya kamu ninggalin aku." Sedikit berteriak lalu memeluk gadis itu dan menciumnya.

__ADS_1


Keila menahannya dan memalingkan wajahnya, namun Arya terus memaksanya dan bibir mereka berdua saling bertemu, dengan sigap Keil menahan rabaan tangan lelaki itu yang hendak masuk ke dalam bajunya.


Tamparan mendarat ke pipi Arya.


"Kurang ajar." Mendorongnya.


"Apa yang kurang ajar, coba jelaskan padaku. Sambil berjalan ke kanan dan kekiri. Kana kau, kemana saja?" Memegangi bahu Keila dengan kedua tangan lelaki itu.


Pupil mata Keila mengecil, dia sadar akan kekecewaan lelaki yang dicintai itu. Tapi itu dulu, dengan cepat Keila memeluk Arya yang sedang kebingungan saat itu.


"Maaf. Maaf. Tenanglah." Menepuk-nepuk pundaknya.


Lelaki itu sedikit tenang dan terdiam sejenak. Telepon gadis itu kembali berbunyi.


"Maafkan aku. Melepaskan pelukannya. Aku harus pergi." Ucapnya meninggalkan Arya sekali lagi.


Lelaki itu memukul loker yang ada di hadapannya dan merasa antara senang dan sedih telah dipertemukan lagi dengan kekasihnya tersebut.


Keila berlari ke dalam toilet dan memperbaiki pakaiannya lalu mengangkat teleponnya.


"Sebentar ya Fan. Aku masih di toilet sebentar. Ini aku jalan keluar." Ucap Keil  teleponnya dan melihat cermin dan merasa kemejanya sudah rapi dan berlari menuju Fandy.


Gadis berjalan ke luar rumah sakit, terlihat lelaki itu sudah menunggunya sambil bersandar ke mobil, lelaki itu membukakan pintu mobilnya  untuk Keila, ia memasuki mobil dan di sambut oleh Fandy. 


"Bagaimana hasilnya?" Tanya lelaki itu sambil menggas mobilnya.


Terlihat Arya berlari mengejar mobil mereka. Sambil berteriak, "Keil. Keila." Dan berhenti mengejar sambil memegangi kedua lututnya kelelahan.


"Ah iya. Syukurlah Keyran baik-baik saja. Hanya perlu minum vitamin saja." Ucap gadis itu kepada Fandy.


"Syukurlah kalau begitu. Tersenyum. Jadi dimana Keyran?" Tanyanya.


"Lana dan Icha membawanya ke taman bermain." Ucapnya.


"Baguslah, dia selalu menantikan bermain dengan Uncle nya." Tawa kecil Fandy.


"Iya kau benar." Ucap Keila sedikit menarik nafas.


"Baiklah nona, kita mau kemana kali ini?" Tanya lelaki itu.


"Bagaimana dengan berbelanja." Ucap gadis itu.


"Baiklah." Mengiyakan.


Mobil mereka melaju sangat kencang, seperti degupan jantung Keila saat ini yang disebabkan oleh Arya, seorang mantan kekasihnya yang menikahi adik tirinya.


"Bagaimana ini. Memegangi dadanya. Harusnya aku sudah paham konsekuensi kembali ke negara asalku." Batinnya.

__ADS_1


__ADS_2