
Memangnya siapa yang terus membuatmu merasa bahwa kau sangat berharga? Perasaan aman dan nyaman terlebih dahulu; lalu bagaimana ketika bersamaku.
Seorang gadis cantik itu berjalan dan tepat sekali menatap seseorang lelakinya yang ada di dalam toko tepatnya di balik lemari itu bersembunyi.
"Astaga apa yang aku lakukan mengapa aku yang bersembunyi darinya dan mengapa dia tak memberitahu bahwa dia sudah berada di Jakarta. Dasar gadis itu." Berdiri dan menatap kaki jenjang putih memakai rok tile hitam bertumpuk tiga lapis tepat di hadapannya.
"Hallo kakak apa kabar." Ucap anak itu meng tos tangan perempuan itu.
Lelaki itu langsung bangkit dan bergaya super kece.
"Astaga sayang kenapa kau ada disini dan tidak mengabariku. Ucapnya memeluk gadis itu. Mampus aku semoga dia tidak tau apa yang aku lakukan beberapa minggu terakhir." Gumam dalam hati dan melepas pelukkan
"Kejutan sayang. Kenapa kau takut ketahuan?" Menarik kerah baju lelaki itu.
"Tidak sayang bukan begitu. Melepas tangan gadis itu dan menggenggamnya dan menggendong Key dengan satu tangannya. Ayo kita makan, kakakku sudah menunggu di atas." Menggandeng tangan gadis itu.
Tiba-tiba saja rona wajah gadis itu memerah. Tangan yang sudah lama tak bergenggaman di tambah perasaan seperti seorang istri yang digandeng suaminya berjalan di Mall dengan menggendong anaknya.
"Astaga romantis banget." Mengikuti langkah kaki Lana perlahan.
"Kenapa tidak bilang sudah sampai disini biar ku Jemput di Bandara?" Tanyanya.
Menurunkan Key tepat di restoran tersebut membuat anak itu berlari menghampiri mama dan pamannya.
Gadis itu menatap wajah kekasihnya tersebut dan memegang pipinya.
"Kalau aku bilang kamu akan langsung datang?" Nadanya memelas.
Dengan spontan lelaki itu mencium kening gadis yang di hadapannya dan masih menggenggam
Kedua tangannya lalu menyentil dahinya.
"Gadis bodoh. Ayo masuk." Masih menggendongnya.
"Dimana pamanmu sayang." Ucap ibunya.
Anak kecil itu meletakkan tabletnya di meja dan duduk.
"Itu disana ma." Menunjuk keluar. Paman aku mau ini." Menunjuk.
"Ini apa sayang?" Melihat bungkusan yang ada dimeja.
"Uncle menjanjikanku tablet untuk menggambar ma. Mengambil piring yang ada di hadapannya dari pelayan. Terimakasih mbak." Ucapnya sopan.
"Bagaimana sekolahmu? Ucap laman Fandy penasaran dan meletakkan daging di piringnya. Maaf paman tidak bisa mengantar dan menjemputmu." Mengelus kepala anak itu.
"Sayang, mamakan bisa belikan kenapa minta uncle?" Tanyanya sambil menambahkan selada di piring anak itu.
"Itu janji uncle mama." Sambil mengunyah makanannya perlahan.
__ADS_1
Dua orang yang mereka kenali datang dan menghampiri meja mereka, terlihat Lana dan Icha sangat mesra dengan saling bergeng genggaman tangan.
Keil melirik Icha dan dia mengedipkan mata.
"Hallo kakak Keil, hallo kakak Fandy." Sapanya dengan senyuman.
"Astaga Icha kapan balik ke Indo?" Tanya Fandy kaget.
Makan siang pun dimulai dengan canda tawa.
"Sayang pulangnya bersama uncle ya." Ucap wanita itu bergegas hampir pukul 2 siang.
"Baik ma." Anak kecil itu mengiyakan.
"Kakak mau ke kantorku?" Menatap Keil.
"Iya. Kamu juga?" Tanya kembali.
"Iya, kita barengan aja ya. Berdiri dan keluar restoran bersamaan. Sayang jangan lupa call aku malam ini." Mengisyaratkan dengan tangannya kepada kekasihnya.
"Baiklah sayang." Menggandeng Key.
Fandy mengejar langkah kaki Lana dan menepuk pundaknya.
"Jaga anak ini baik-baik ya. Sayang paman pergi dulu." Mengejar Keil Dan Icha.
"Kalian pergi bersama?" Tanya mensejajarkan langkah kakinya agar sama dengan kedua gadis tersebut.
"Baiklah. Aku duluan ya." Pergi dan melambai dengan senyuman yang menawan.
"Aku lupa kalau jadwalnya ada hari ini." Menggeleng.
"Sudah ayo kakak." Menariknya ke toko pakaian formal dan berganti pakaian.
Sebenarnya hal yang paling mengganggumu itu apa sih? Mengapa kau sering sekali memikirkan perasaan yang seharusnya tidak seharusnya kau pikirkan.
Sejauh ini manusia sering sekali memikirkan hal penting menjadi tidak penting dan hal tidak penting menjadi penting.
Sesampainya di perusahaan, kedua gadis itu berjalan memasuki lobby dengan sangat cantik dan potongan rambutnya yang pendek itu membuat Icha semakin cantik. Pakaian serba formal ya itu membuatnya menjadi wanita berkelas dan wanita ala-ala kantoran.
Begitu pula Keil dengan rambut panjangnya yang berkibas dan sangat modis. Mereka berdua bersamaan memasuki Lift ke kantor CEO.
"Hallo kakak. Sapa gadis cantik itu. Bagaimana kabarmu hari ini?" Berjalan mendekati meja kerjanya.
Lelaki itu tidak menghiraukan sapaan adik perempuannya dan tertuju hanya pada gadis cantik yang ada tepat di belakangnya.
"Kakak." Teriaknya.
"Ah iya. Kau Sudah jadi pindahan, bagaimana tempatnya membuatmu nyaman?" Tanyanya tanpa melirik gadis itu.
__ADS_1
"Tempatnya bagus. Tapi ada satu hal lagi. Ini temanku yang ada di inggris, dia melamar sebagai sekretaris jika kau menolaknya maka dia akan jadi sekretarisku." Menunjuk Keil.
Keil yang sedari tadi kaget ternyata CEO adalah orang yang ada di lift bersamanya tadi saat ingin keluar perusahaan ditambah kaget lagi dengan perkataan Icha.
"Astaga Icha. Maksudnya Ibu Icha kenapa seperti itu." Berusaha tetap tenang namun Keil menyadari sepertinya pernah mengenal lelaki itu tapi entah dimana.
Kekuranganku hanya tak mengenalimu dan mengenali perasaan ini lebih lanjut. Bagaimana kabar diri? Dan bagaimana kabar dari hati. Mengapa seolah hati merontah dan tiba-tiba saja seperti ada yang bergejolak di dalamnya.
Lelaki itu membolak balik kertasnya dan meletakkan kedua sikunya di meja lalu mengepal tangannya.
"Baiklah, aku beri pertanyaan." Ucapnya.
Icha hanyang instruksikan dengan gerakan tangannya dan kepala yang menggeleng ke kanan.
"Iya baik pak. Apa pertanyaan bapak?" Sedikit gugup namun menjawab sangat tenang.
"Jika waktumu habis 24 jam menjadi sekretaris kau sanggup? Seperti jam-jam genting harus terusik karena ku memperkerjakanmu?" Menatap dan kedua bola mata mereka saling bertemu.
Sedikit menarik nafas.
"Siap pak. Saya akan bekerja sesuai pekerjaan saya dan panggilan kerja darurat dari anda." Jawabnya sigap.
Ujung bibir lelaki itu naik dan tersenyum.
"Baiklah. Lalu Memencet telepon. Ken siapkan kontrak kerja sekarang." Mematikan telepon.
Seorang lelaki tampan lainnya masuk ke kantor dan Icha memeluknya dengan sangat bersemangat.
"Ken ku." Memeluk sangat erat.
Ken adalah cinta pertama Icha saat kecil, dahulu dunianya selalu Ken. Dan saat menginjak umur 13 tahun Ken dan Icha menjalin backstreet selama 5 tahun dan harus putus karena ketahuan oleh Leon. Ya Leon, seorang CEO dingin yang ada di hadapan mereka.
Leon berpikir persahabatannya akan hancur karena sahabatnya menjalin kasih dengan adik tirinya. Ya Leon dan Icha memiliki ibu yang berbeda.
"Ah Icha sayang. Melepaskan pelukkan. Apa kabar kamu, jangan lupa Call aku nanti malam." Meletakkan berkas di meja Leon dan dia pergi melewati Icha dan Keil lalu memainkan matanya ke Icha.
"Dasar kau Ken kurang ajar. Mau ku lempar kau?" Teriaknya.
"Kakak harap tenang." Menenangkan.
"Sini kamu. Baca berkasnya dengan teliti sebelum tanda tangan." Memberikan kertas dan pena.
Dengan teliti Keila membaca kontrak kerjanya. Gaji 3 bulan pertama 100 juta dan setelah 3 bulan gaji naik masing-masing 200 juta perbulan dan mata Keila masi terbelalak. Selama 3 bulan pertama kerja tidak boleh libur, setelahnya akan ada cuti 3 hari selama sebulan.
"Kenapa masih kurang?" Tanya CEO muda itu sambil menatap gadis tersebut.
Leon terus menatapnya, mengingat kenangannya bersama wanita malam itu.
"Perasaanku saja atau memang mirip saja." Batinnya dan menelan ludanya.
__ADS_1