Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
77. Ini Perasaan apa?


__ADS_3

Keila berlari sejadi-jadinya ke sebuah ruangan VIP tempat ayahnya di rawat yang benar saja lelaki itu terbujur kaku dengan balutan perban di kepalanya. Gadis itu langsung menggenggam tangan ayahnya tersebut dan menemaninya selama berhari-hari.


Beberapa waktu setelah menerima telepon dari Arfandy. Keila menjatuhkan tablet anaknya dan berhasil ditangkap oleh Leon. Syukurnya Ipad tersebut tidak terjatuh, karena Leon tau betul isi dari Ipad tersebut adalah nyawa bagi Keyran dan apa yang didengar Keila adalah sebagian hidupnya.


"Hallo ada apa Fand?" Tanya Leon.


"Ayah Keila berada di IGD saat aku tak sengaja mengantar adik tirinya ke RS." Ucapnya.


"Baiklah terima kasih informasinya, kami akan segera pulang." Ucap Leon.


Keila yang masih terbujur kaku di lantai terduduk sambil menangis.


"Ibu, ibu." Panggil Keyran sambil menarik baju wanita itu.


"Sayang, ayo berkemas." Lelaki itu memegang kedua lengan Keila dan memegang wajahnya.


Keila menikmati kehangatan dari tangan Leon.


"Baiklah." Gadis itu langsung mengemas barang-barangnya.


"Ada apa ayah. Apa yang terjadi?" Tanya Keyra.


"Kakekmu sedang sakit sayang, ayo bantu ibu membereskan pakaian. Ayah akan telepon jet pribadi ayah." Langsung menelepon seseorang yang tak lain adalah Ken.


Ken yang berada di rumah sakit menemabi Prilly pun tersadar akan panggilan dari Leon..


"Ada apa pak Bos?" Tanyanya.


"Ayah Keila jatuh sakit, aku akan pulang di penerbangan pertama. Siapkan Jet pribadi untukku." Pungkasnya.


"Apaa?!" Teriak Ken kaget membangunkan Prilly.


"Terserah kau masih mau disini bersama Icha dan Lana. Siapkan saja pesawatnya." Gumanya.


"Hei bagaimana bisa?" Tanya Ken kwatir.


Prilly yang terbangun menarik lengan Ken yang sedang menelepon.


"Aku tak bisa menjelaskannya sekarang, cepat siapkan saja." Langsung mematikan telepon.

__ADS_1


"Leon. Leon." Teriak Ken.


Prilly yang kebingungan bertanya kepada lelaki yang ada di hadapannya dengan tatapan penasaran.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Mertua Leon, ayah Keila kecelakaan. Sambil melihat jam tangannya. Aku akan kembali 2 jam lagi kau disini saja dan jangan banyak bergerak, mengerti." Ken berdiri berjalan keluar sambil memakai jasnya menuju bandara.


Prilly memegang kepalanya dan menghela nafas.


"Banyak sekali kejadian aneh yang terjadi belakangan ini. Gadis itu lalu melihat ke arah perutnya dan memegangnya. Tapi aku adalah anugrah bagiku." Tersenyum lalu merebahkan diri dan menyelimuti dirinya sendiri.


Suasana begitu mendesak. Malam itu Arya mondar mandir mengecek ruangan ayah Keila dan mantan istrinya. Terlihat ibu mertuanya itu tertidur di sofa menjaga suaminya.


"Ibu, tidurlah. Biar aku yang berjaga." Ucapnya.


Tangan wanita tua itu memegang tangannya.


"Dia Tak apa kan? Bagaimana Lily?" Tanyanya dengan mata berkaca-kaca.


"Lily hanya kelelahan setelah transfusi darah, dia sedang tertidur di ruangan sebelah. Ayah baik-baik saja, besok pagi kita akan Ct Scan lagi di bagian otaknya. Tenang saja bu, istirahatlah." Dengan senyuman Arya menenangkan wanita itu.


"Baiklah kalau begitu." Dengan nada yang masih sangat cemas.


Sambil membaca buku lelaki itu duduk diam tak membangunkan gadis itu. Lelaki itu terus mempelajari lembar demi lembar buku yang ada di hadapannya.


Gadis itu terbangun dan memegang kepalanya dengan tangannya, kepalanya terasa pusing dan badannya sedikit berkeringat dingin. Ia sedikit menarik selimutnya dan menoleh ke samping.


Benar saja, lelaki itu terus menemaninya sepanjang malam dan kini ia mengerti akan lelaki itu. Bahkan saat ini ia baru sadar dan merasakan bahwa dirinya kurang pengertian lalu menghela nafas.


"Fyuhhh." Sambil menatap langit-langit.


Lelaki itu tak langsung menoleh ke arahnya, hanya membuka lembaran hingga lembaran.


"Bagaimana keadaanmu kali ini, sudah mendingan?" Tanya Arya dengan serius membaca setiap kata yang ada di lembaran kertas itu.


"Mendingan, sepertinya bapak dokter sangat baik dalam hal menjaga pasiennya hingga siuman." Sambil bangun dari ranjangnya dan menurunkan kakinya.


Arya langsung menoleh kearah gadis yang tak lain adalah mantan istrinya tersebut. Gadis itu masih terlihat cantik seperti biasa, yang beda hanyalah sikapnya yang kekanak-kanakan mulai dewasa.

__ADS_1


Arya tersenyum menatap Lily yang selalu saja tidak pernah menuruti maunya dan yang selalu ingin dituruti.


"Kembali tidurlah, ayahmu baik-baik saja. Besok saja mengunjunginya." Arya menatap gadis itu lalu memalingkan pandangannya ke buku yang sedang ia baca tersebut lalu memperbaiki kacamata bacanya.


"Ah maaf oak dokter sepertinya aku tidak bisa, banyak hal yang harus aku urus dan kerjalan." Sambil melepas jarum infus yang ada di tangannya dengan senyuman.


Lalu berdiri dan hendak berjalan keluar kamar dan di halangi oleh Arya. Lelaki itu langsung menghadangnya dan mengunci pintu kamar tersebut.


"Nona pasien yang bernama Lily sebaiknya kembali ke tempat tidur anda atau aku akan menggendong anda tepat ke atas sana." Menggeleng ke arah tempat tidur tersebut.


Gadis itu tertawa. "Astaga, kau berani sekali memerintahku. Sambil memperbaiki kemeja lelaki itu. Kelihatannya kau menjadi lebih tegas setelah tidak bersamaku,  kelihatannya kau butuh bantuan dalam merapikan dasimu." Mendadak Lily menarik dasi lelaki tersebut keatas.


Membuat Arya sedikit tercekik. "Uhuk uhuk." Lelaki itu terbatuk dan menyingkir dari pintu.


"Maaf tapi aku bukanlah istrimu lagi yang bisa kau perintah ataupun kau atur." Gadis itu membuka kunci pintu dan melangkah keluar dari pintu tersebut. 


Arya merenggangkan dasinya dan menarik lengan gadis itu. Langsung menggendongnya ke atas kasur.


Lily berteriak, "Apa-apaan kau? Aku bukan istrimu." Ucap Lily dengan mata melotot kepada Arya yang berada di atas tubuhnya.


Lelaki itu mengambil kain gorden di sampingnya mengikat tangan gadis itu dan menggeleng.


"Astaga, aku hanya ingin kau istirahat saja dan tidurlah untuk malam ini." Ucap Arya.


Pandangan mereka saling menatap dan lelaki itu tersadar masih di atas mantan istrinya tersebut.


"Maaf, dan tidurlah." Ucap Lelaki itu keluar dari kamar pasien.


Gadis itu hanya terdiam dan tak menyangkah bahwa mantan suaminya itu bisa sangat tegas berbeda dengan lelaki yang ia kenali dahulu.


"Apa-apaan dia. Mendadak jantung Lily berdegup kencang, gadis itu memegang dadanya. Kau sudah gila ya." Sambil menggeleng kepalanya.


Untuk beberapa kata memang sulit untuk diungkapkan, banyak perlakuan yang membuat seseorang berfikir apakah ia memiliki perasaan yang sama atau hanya aku yang merasakan hal ini sendirian.


Aku tumbuh dari banyak hal yang menjadikanku sekeras batu, tapi hanya kau yang mampu melunakkan segala sesuatunya.


Apakah ini karena lembutnya sikapmu? Sabarmu yang tak bisa terhitung lagi? Dan sepertinya kau berhasil mengetuk pintu hatiku sekali lagi.


Arya yang keluar dari kamar itu mendadak menyandarkan tubuhnya dan memegang kepalanya lalu merosot ke lantai.

__ADS_1


"Ya ampun, apa-apaan kau ini Arya. Sadarlah kau dan dia buka. Siapa-siapa lagi. Batinnya lalu mendadak jantungnya berdebar dan tangannya berada di dada. Apakah aku mulai mencintai mantan istriku tersebut." Tanyanya kembali kepada hatinya.


"Apa mungkin kami masih saling mencintai? Atau satu diantara kami mulai merasakan cinta itu satu sama lain?" Batin Arya dan Lily.


__ADS_2