Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
68. Keberuntungan 2


__ADS_3

Kebanyakan dari kita merajuk pada keadaan yang membuat kita belajar bahwa sekian lama kesulitan menghampiri bisa jadi menjadi kebaikan di masa depan. 


Bagaimana saat ini kau mengerti keadaan tersebut dan membuat keadaan tersebut menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Keila menatap Keyran dan Leon dengan sangat bahagia walaupun dia tahu setelah ini pasti akan ada keadaan yang membuatnya tak karuan. Terutama saudara perempuannya itu. Ya Lily, sudah dipastikan bahwa ayahnya sudah mengetahui segalannya dan akan membuat adiknya dan ibu tirinya itu membencinya seperti dahulu. 


Setelah pertemuan Lilly dengan Dilly membuat gadis itu tampak sangat percaya diri dengan statusnya saat ini. Bahkan hubungan baik dirinya dengan ayahnya mulai membaik.


"Ayah aku datang membahas kontrak kerja dengan mitra kita perusahaan Bio teknik." Gadis itu kembali memberikan berkas kepada ayahnya untuk yang kedua kalinya.


Lelaki itu hanya menatap berkas yang diberikan oleh Lily kepadanya dan hanya menatap berkas tersebut dan menggeleng pada asisten pribadinya.


Lelaki muda di sampingnya mengambil berkas tersebut dan membacanya perlahan satu persatu.


Gadis itu hanya menatap ayahnya sambil melipat kedua tangannya bak model. Lelaki itu masih sibuk dengan surat kabar yang ada di hadapannya.


"Ah baiklah nona. Sepertinya di beberapa hal kita akan mengalami kerugian direproduksi lewat pengemasannya dan lagi nona, anda harus menekan biaya produksi agar kita mendapatkan bagi hasil yang menguntungkan Medical Center kita dan kemajuan rumah sakit kita." Ucap Lelaki itu kembali meletakkan berkas tersebut di atas meja lelaki tua itu.


"Apa?!" Lily tersentak.


Lelaki itu masih asik menatap surat kabar yang ada di tangannya dan tak bergeming akan hal itu.


"Coba baca ulang, aku sudah banyak membuat kemajuan dalam perkembangan ini." Ucap Gadis itu sedikit menyentak.


Lelaki tua itu meletakkan surat kabarnya lalu melepaskan kacamatanya dan mengucek matanya perlahan.


Lalu menatap isi berkas yang terlihat di hadapannya dan hanya membacanya sekilas lalu mencampakkannya.


"Ulangi sesuai prosedur perusahaan." Ucapnya.


"Ayah…" teriaknya.


Lelaki itu kembali memakai kacamatanya.


"Kau tak mengerti apa kataku?" Ucapnya.


"Maksudku bukan begitu." Pungkasnya.


"Disini aku adalah pemimpin perusahaan. Jangan panggil aku ayah." Gerutunya.


Terlihat pandangan lelaki tua itu sangat ganas kala itu. Lily memutuskan untuk mengambil berkasnya dan memperbaikinya dan mengurungkan niatnya untuk bertindak seperti dahulu sesuka hatinya.


Gadis itu kembali ke kantornya dan membuka komputernya memperbaikinya dan kembali lagi ke kantor ayahnya.


"Ini, tolong di periksa." Pungkasnya.

__ADS_1


"Baik nona. Setelah membacanya dan merevisinya bak skripsi. Masih harus diulangi." Ucap asisten ayahnya.


"Apa?" Pungkasnya.


"Silahkan diulang dan kembali lagi nanti nona." Pungkasnya.


Lily hanya mengambil berkasnya dan kembali ke kantornya.


Gadis itu kembali ke kantornya dengan ekspresi yang sangat marah. Dan melihat satu demi satu hal yang harus diperbaiki.


Asisten pribadi ayahnya menghadap ke kantornya.


"Tuan ini aku." Ucapnya.


"Ah iya, bagaimana perkembangannya?" Tanya lelaki itu.


"Diluar dugaan tuan nona sudah 3x mengulang pekerjaannya. Dan masih di kantornya mengerjakan kontraknya." Ucap lelaki itu.


"Benarlah? Ayo makan siang dan melihat dia benarkah sesuai katamu." Lelaki tua itu tersenyum.


Lelaki tua itu dengan sistemnya berjalan melewati kantor Lily. Dan menatap anak gadis manjanya itu sedang berusaha keras menunjukkan siapa dirinya saat ini.


"Ayo pergi." Ucap lelaki itu, melihat sekilas anak perempuannya itu yang menjabat sebagai direktur di perusahaan.


"Baiklah tuan." Lelaki itu mengikutinya dari belakang.


"Bagaimana dengan Keila?" Tanya lelaki itu.


"Ah iya dia sehat tuan dan sedang menikmati liburannya di Paris." Ucapnya.


"Haruskah aku menyusul ya?" Tanya lelaki itu.


"Ah. Mendadak asistennya tersebut terkejut. Tentu saja boleh tuan, disana juga ada cucu tuan." Ucapnya.


"Begitukah? Bisakah kau mencari tahu berapa lama mereka disana?" Tanya lelaki tua itu.


"Tentu saja tuan." Sambil mengikuti lelaki itu menaiki mobilnya dan duduk di sampingnya. 


Lelaki muda itu mengkotak katil tabletnya.


"Ah sepertinya cucu anda mengikuti pagelaran seni di Paris tuan, lihat ini." Menunjukkan banyak foto Keyran di berbagai majalah Paris.


"Hohoho. Sepertinya didikan anakku jauh lebih baik daripada aku sendiri dalam mendidik anak-anakku.  Mulai saat ini aku akan memperhatikan mereka sebaik mungkin terutama Lily agar aku bisa membuatnya menjadi gadis mandiri, kalau Keila aku tak akan pernah lagi merasakannya." Pungkasnya sambil menonton video dan beberapa potret cucunya bersama anak dan menantunya.


Acara penyambutan tersebut dihadiri oleh banyak orang. Bukan hanya Keyran yang menjadi sorotan namun Icha juga, berhubung Icha juga adalah seorang desainer baju yang cukup terkenal di UK. Dia berhasil mendapatkan Undangan VIP seperti Keyran.

__ADS_1


Beberapa hal yang sangat diluar dugaan tapi Leon masih memperhatikan segala hal yang terjadi saat ini. 


Mobil panjang yang dinaiki Leon bersama Keila terparkir di sebuah gedung.


Pelayan membukakan pintu mobil mereka, terlihat Leon keluar terlebih dahulu. Banyak sorotan dari kamera memotretnya. Lelaki itu membantu anak dan istrinya turun dari mobil setelah itu berjalan di karpet merah menuju altar untuk berpose.


Keila terlihat menggunakan dres dibawa lutut dengan berwarna navy senada dengan baju Keyran dan Leon.


Diiringi mobil Icha dan Lana di belakang mobil mereka. Lana keluar terlebih dahulu dan membantu tunangannya menggunakan gaun hitam super mewah dan kemeja abu hitam yang digunakan oleh Lana. 


Ternyata hobby anak nya dan karya tangan anaknya itu sangat mahal disini. Lelaki itu menggeleng menatap sebuah karya seni yang nilainya jutaan dolar yang dirupiahkan mungkin bisa mencapai milyaran bahkan triliunan. 


"Kau sedang apa sayang." Bisik gadis itu menemani suaminya memandangi beberapa gambar.


"Ah karya ini sangat unik, pelukisnya pasti sangat unik. Lihat beberapa ukiran ini, mungkin waktu pengerjaannya mencapai 3 bulan." Ucap gadis itu.


"Benarkah." Ucap Leon menatap Keila.


"Wah mata kakak ipar sangat jelih ya." Gerutu Icha.


"Benar sekali." Ucap Lana.


"Sepertinya keponakanku menjadi bintang malam ini. Astaga aku ingin satu anak yang seperti itu." Keluh Icha.


"Benarkah, kita akan punya banyak anak setelah menikah." Bisiknya.


"Jangan menggodaku disini. Pungkas Icha memukul kekasihnya itu agar menjauh sedikit darinya. Ayo berkeliling." Ucapnya.


"Haha. Dasar gadis itu. Tunggu aku sayang." Lana berlarian kecil mengejar tunangannya tersebut.


Keila terlihat tersenyum melihat sepasang kekasih tersebut.


"Apa yang kau tertawakan sayang?" Leon menatap Keila dengan pandangannya dan menaikkan alisnya.


"Mereka lucu sekali." Ucapnya.


"Tidak seperti kita ya?" Lelaki itu mendekati Keila dan menahannya di sebuah tembok.


"Oh no no no. Jangan di tempat umum, terlalu banyak kamera." Bantah Keila berjalan menuju Keyran 


"Astaga perempuan ini. Tawa Leon sambil mengikuti langkah kaki Keila di tengah banyaknya para tamu undangan. Ibu dari anak-anakku tunggu aku." Teriaknya.


"Astaga Leon. Batin Keila. Kekanak-kanakkan sekali, untung saja mereka tidak bisa berbahasa Indonesia yang baik." Gerutu Keila 


"Hei my baby. Langkah kaki Leon mendekati Keila di tengah kerumunan pesta dansa saat itu. Dapat." Ucap Leon. 

__ADS_1


Lampu mendadak mati lelaki itu langsung mencium gadis cantik itu.


Di tengah pesta dansa dan sorotan lampu kelap kelip ke kanan dan kekiri, ciuman Leon begitu manis malam itu.


__ADS_2