Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
30. Dimana Anakku?


__ADS_3

Pintu apartemen itu terbuka terlihat seorang pria memegang segelas jus dan menyapanya.


"Yeh Hai Keil." Sapa Ken melihat gadis itu agak pucat.


Gadis itu langsung memasuki rumah tersebut dan melihat sekeliling ruangan yang sangat megah dan mewah.


"Dimana Keyran?" Tanya Keila dengan ekspresi pucat mencari anak lelakinya itu.


Terdengar suara piano di ruang utama, terlihat piano putih besar dan dua orang lelaki duduk diatas sana memainkan piano itu dengan suara yang cukup indah.


"Keyran." Ucap wanita itu dan berdiri mendekati piano tersebut.


Suara piano berhenti sejenak, anak kecil itu menghampiri ibunya dan memeluknya.


"Mama sudah datang, kenapa lama sekali." Memeluk ibunya tersebut.


"Ah iya sayang." Masih memeluknya.


Terlihat Loen masih memainkan pianonya. 


"Baru datang ya." Ucap Leon masih memainkan nada indah dari piano tersebut.


"Ah iya pak." Ucap Keila.


"Ma gak marahkan?" Ucap anak itu dengan tatapan takut.


Ken datang membawa segelas jus Jeruk baru, kembali menempelkan gelas itu ke pipi Keila.


"Ini." Memberikan minumannya.


"Ah iya terima kasih pak Ken. Ah iya sayang nggak kok. Mengelus kepala anaknya. Astaga aku seperti orang gila saja." Batinnya.


Leon menghentikan permainannya.


"Kau seperti kehilangan berlian saja." Ucap Lelaki itu lalu tertawa.


Anak kecil itu memeluk Leon dari belakang.


"Ayah kenapa menghentikan memainkan Pianonya." Pungkasnya.


"Ha ayah. Batin Keila. Apa aku tak salah dengar?" Batinnya lagi.


Anak itu memainkan beberapa baris nada di piano tersebut dan menghentikannya.


"Ma boleh aku memainkan piano untuk acara pembukaan nanti bersama ayah?" Tanyanya sambil duet bersama lelaki itu.


"Ha, ayah?" Baru menyadari yang didengarnya itu tidak salah.


"Iya ayah Leon." Ucapnya.


"Sayang dia bukan." Sebelum menyelesaikan ucapannya.


"Aku tak masalah menjadi ayah untuk Keyran." Ucap lelaki itu.

__ADS_1


"Ah begitukah, tapi." Lagi-lagi lelaki itu memotong omongan gadis tersebut.


"Aku tak keberatan. Dan es di gelasmu sudah mencair, kau boleh habiskan." Ucap lelaki itu.


Anak itu menatap lelaki yang ada di sampingnya dan sudah dia panggil ayah itu. "Ayahku sangat cerdik." Batinnya.


"Ah baiklah. Menenggak minumannya. Key besok harus sekolah ayo pulang." Ucap gadis itu meletakkan gelasnya di meja samping Ken.


"Ayolah Keila, mereka baru bertemu sebentar. Lagi pula tuan sedangengajarinya bermain piano untuk acara pembukaan pekan nanti." Ucap Ken membantu membujuk.


"Iya bisa di sambung besok saja. Ayo nak." Ucapnya mengambil tas anaknya yang ada di sofa.


"Yah. Baiklah ma. Ayah aku pulang dulu ya, sampai ketemu besok. Melambai dan membungkuk. Paman Ken aku tunggu besok jam 6 yah." Ucapnya menggenggam tangan ibunya.


"Kalau begitu saya permisi ya pak Ken dan pak Leon." Ucapnya.


"Dada ayah." Anak itu melambai.


Di Dalam mobil dan baru sempat mengecek hpnya terlihat Arfandy memanggilnya beberapa kali.


"Kenapa tidak bilang mama sayang?" Tanya Gadis itu ke anaknya.


"Tadi aku mendapatkan email masuk dan ku kira mama melihatnya juga di email hp mama, jadi ku kira mama sudah tau dan aku sudah meninggalkan pesan di meja dan resepsionis. Maaf ma." Pungkasnya menunduk.


"Ah baiklah sayang mungkin mama kurang teliti. Tapi usahakan jika terjadi seperti itu telepon mama sampai mama mengangkatnya ya sayang, paham?" Tanya gadis itu.


"Baik ma, ayo pulang." Ucap anak itu.


Telepon kembali berdering gadis itu menyetir sambil mengangkat panggilan tersebut.


"Ah benarkah, aku ada di depan rumahmu saat ini, ku dengar dari resepsionis kau pergi dan panggilan tak terjawab dari tadi membuatku khawatir." Ucap lelaki itu.


"Ya ampun maaf, tadi Keyran berada di tempat pak Leon, jadi aku menjemputnya." Ucap Keila.


"Ha Leon? Tanyanya. Sedang apa?" Tanya Fandy.


"Kamu masih disana? 10 menit lagi aku sampai." Ucap Keila.


"Baiklah akan aku tunggu di lobby. Hati-hati ya." Ucap lelaki itu lembut.


"Baiklah tuan." Mematikan teleponnya.


Dan menatap anaknya sudah tertidur pulas.


"Astaga anak ini membuatku khawatir sekaligus hampir kehilangannya lagi." Batin gadis itu tersenyum menatap tidur pulas anak lelaki tampannya.


Anak itu yang masih mencoba tertidur mendengar percakapan ibunya dengan paman kesayangannya.


"Hmm. Jadi siapa si diantara kalian yang akan menjadi ayahku." Batinnya dengan mata terpejam.


Bagaimana bisa mata terpejam namun hati mendadak resah akan perasaan yang terbilang tak tau akan kemana dijatuhkan. Kemungkinan kita hanyalah seseorang yang terdiam sejenak dan sulit untuk mengungkap kata namun dua bola mata yang saling bertabrakan dan menatap mesra itu saling tahu akan apa yang dirasakan.


Gadis itu keluar dari mobilnya. Terlihat lelaki itu menunggunya dan membantu mengangkat anak kecil dan imut itu.

__ADS_1


"Ah maaf lama menunggu." Ucap gadis itu membantu menutup pintu mobilnya.


"Tidak apa-apa." Ucapnya dengan penuh senyuman.


"Sudah makan belum?" Tanya Keila.


"Ingin memakan sesuatu?" Tanya balik laki-laki itu dengan senyuman dan tertawa bersama.


Sesampainya di apartemen terlihat Icha sedang menunggu didepan pintu rumah Keila, memencet bel namun tak ada jawaban.


"Icha." Ucap Keila.


"Kakak aku lapar." Dengan ekspresi lemas.


Gadis itu membuka pintunya dan membawa mereka semua masuk.


Arfandy membawa anak kecil itu masuk ke kamarnya, gadis itu memasak makanan untuk mereka.


Icha yang kelihatannya sangat mewah dan sangat suka makanan restoran lebih menyukai makanan rumahan.


"Wahh, pasta tuna ya." Ucap Icha menyantap makanannya.


"Iya makanlah perlahan." Menuangkan 3 gelas air di meja sambil menonton televisi.


"Tadi ngapain ke rumah pak Leon?" Tanya Arfandy sambil memakan pastanya.


"Keyran menjadi pianis cilik pembukaan acara perusahaan." Jawab Keila.


Icha mendadak tersedak dan Keadilan memberinya air.


"Ha?! Kok bisa? Tanya Icha. Keponakanku sangat hebat." Memberikan jempol ke Keila.


"Wah keren, bagaimana bisa?" Tanya Fandy.


"Mereka Menghubungi akun dan email Keyran dan mereka juga baru tau kalau dia anakku, begitu pula aku saat tadi sebelum pulang kerja mengetahui nama Keyran ada di daftar undangan." Ucap Keila memakan pastanya dengan perlahan.


"Wah kakak, anakmu akan terkenal bukan hanya di London tapi di Indo juga." Pungkas Icha senang.


"Hmm. Aku takut dia tak fokus untuk sekolahnya." Nada Keila melemas.


"Tenang saja Key itu anak pintar." Menyemangati gadis itu.


"Iya. Menatap Fandy. Ah iya bagaimana kamu dengan Lana?" Tanya Keila penasaran.


"Sudah baikan." Ucapannya senang.


"Ah memangnya kau sempat putus dengan adikku itu?" Tanya Fandy.


"Eh enak aja mana ada putus. Cuma berantem-berantem manja aja, tahulah dia itu tipikal lelaki yang sangat-sangat santai soal wanita. Ingin sekali aku meninjunya namun kasihan aku terlalu menyayanginya." Kebucinam terjadi.


Keila dan Arfandy hanya tertawa melihat gadis itu mengungkapkan perasaan sayangnya.


"Dasar bucin." Serentak Fandy dan Keila.

__ADS_1


Merekapun tertawa bersama malam itu.


__ADS_2