Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
16. Degupan Hati


__ADS_3

Sebelum makan malam bersama klien besarnya di restoran milik keluarganya. Leon sedang menikmati harinya dengan membaca buku sambil menyeduh teh asli dari perkebunan milik keluarganya. Seseorang lelaki yang sudah sangat ia kenali datang menggunakan pakaian yang sangat santai, mendatangi dirinya.


Mata Leon melirik laki-laki itu dan menyeduh teh nya.


"Aku merasa sedikit aneh melihatmu tidak berpakaian formal." Tawanya kecil melanjutkan buku bacaannya.


"Wah, wah, wah. Entah setan apa yang merasukimu. Kelihatannya kau tampak senang hari ini." Gerutu Ken duduk di sampingnya.


Sangat terlihat jelas, ruangan baca yang terbilang perpustakaan yang cukup besar karena setiap detailnya tersusun rapi segala jenis buku.


"Ya, kukira adik perempuanku bercanda perihal kelulusannya ternyata dia mendaftar di dua universitas di USA. Benar-benar mengejutkan." Tawa Leon sambil menggeleng.


"Ha. Benarkah?" Memastikan omongannya benar.


"Ya. Selain jurusan seni dia juga mengambil manajemen Bisnis, aku saja tak menyangka dengan hal ini. Kemungkinan dia akan melanjutkan studi S2 nya di London." Masih tak menatap Ken mengatakan semua hal tersebut.


"Wah adikmu memang luar biasa mengejutkan. Pantas saja dia ingin posisi yang gak nanggung-nanggung." Bertepuk tangan.


"Hmm. Apa yang membuatmu kemari?" Tanya Leon lagi.


"Seperti yang kau inginkan, ini semua data tentang gadis itu. Memberikan semua berkas kepada Leon yang sedang menikmati rebahan santainya di Apartemen mewahnya. Kelihatannya gadis itu memang berasal dari Indonesia, menurut sumber mereka memang tinggal bersama." Ucap Ken sambil duduk di samping Leon.


Lelaki itu masih menikmati alunan musik dan membaca buku bacaannya, terlihat dia sedikit terusik oleh kehadiran Ken yang mengganggu keheningannya sore itu.


Mengambil berkas tersebut dan melihatnya satu persatu.


"Ah ternyata Lana si tender itu adiknya Arfandy. Memang sulit sekali mengorek informasi tentang keluarga klien besarku ini." Minum tehnya dan meletakkan kembali gelasnya ke meja masih terus membaca.


"Aku juga baru tau setelah kau menyuruhku menyelidikinya. Lana itu pacar Icha saat ini." Meminum bir kaleng sambil sedikit menghela nafas.


"Kau cemburu. Tawa Leon dan lanjut membaca. Ah jadi mereka tinggal bersama dan punya anak yang sama. Terkejut melihat anaknya sama sekali tak terlihat mirip dengan kliennya. Tapi anak ini tidak mirip dengannya?" Gerutunya.


"Hmm. Kabarnya anak itu bukan anak pak Fandy. Tapi dia mengurusnya, anak itu sangat pintar dan sangat terkenal di Inggris." Ucap Ken penuh semangat.


"Aku jadi ingin buruh-buruh mengetahui anak itu. Ucapnya. Hmm jadi ini yang menyebabkan adikku bolak balik Indonesia, London dan USA. Menaikkan alisnya. Kelihatannya tidak buruk. Melihat tawa Icha bersama Sekretarisnya itu. Anak ini tak pernah tertawa sebahagia itu." Gumamnya dalam hati melihat foto adiknya bersama Keila Fay.

__ADS_1


"Sepertinya jangan dilihat statusnya ya karena dia single parents, kalau kau mendapatkannya kau akan menjadi lelaki beruntung. Ucap Ken. Lihat ini aku seni anak itu." Menunjukkan gambar yang baru saja di uploadnya.


"Astaga ornamen manusia dan gajah dan ini." Sedikit terkejut.


"Kau kenapa? Menyadari lukisan ini sangat indah untuk anak usia 5 tahun?" Tawa Ken.


"Bukan. Kau lihat ini, gambar yang di tengah ini. Menunjuk tablet Ken dan memperbesar layarnya. Ini gambar rantai tapi mirip sekali dengan gelangku yang hilang pada malam itu." Ucapnya sambil mengusap wajahnya.


"Apa mungkin dia gadis waktu itu dan ini anak kalian. Astaga luar biasa. Tapi bagaimana bisa dia tak mengenalimu." Ucap Ken bertanya.


"Mana aku tau. Tugasmu menyelidiki hal itu dan di makan malam nanti kau harus ambil rambut anak itu." Perintah Leon.


Di pertengahan makan malam bersama, aku yang tak pernah mau tau tentang banyak hal itu mempertanyakan sesuatu yang tidak penting namun membuatku sangat penasaran." Batinnya sambil memperhatikan gadis itu memakan makanannya dan memperhatikan anaknya.


"Jadi kalian sudah menikah?" Menatap Keila lalu menatap Fandy.


Mendadak gadis itu tersedak makanannya, dia tak menyangkah sekelas Bos nya mempertanyakan perihal yang lebih pribadi.


"Kenapa dia bertanya seperti itu? Mungkin karena penasaran saja. Karena malam ini kan membahas tentang hal pribadi bukan sedang di perusahaan menjadi atasan dan bawahan." Batinnya masih tersedak.


"Ah kami belum menikah, namun tunggu saja kabar baiknya." Ucap Fandy kepada Leon sambil menggenggam tangan Keila.


Anak kecil itu memperhatikan CEO muda itu terlihat dia sedang cemburu dengan paman Fandy dan hanya menggeleng kepala.


"Ma, mama gapapa?" Sambil mengelus belakang punggung ibunya.


"Terimakasih sayang, mama gapapa kok. Sudah lanjutkan makananmu." Tersenyum kepada anaknya dan sedikit menjadi canggung.


"Astaga Leon ini. Menyenggol kaki lelaki bodoh itu. Bisa-bisanya dia yang berkarisma seperti ini bertanya pertanyaan itu." Batin Ken yang sedikit sebal melihat sahabatnya tersebut.


Leon hanya menggeleng kepalanya ke arah Ken.


Keila menatap Leon dan bertanya.


"Bagaimana dengan anda Tuan, sudah menikah?" Tanyanya lembut.

__ADS_1


"Belum. Jawabnya tegas. Aku sedang menunggu seorang gadis selama lima tahun ini." Ucapnya dengan penuh percaya diri.


"Wah, siapa itu tuan. Seorang CEO muda yang banyak di gandrungi wanita, sedang menunggu satu wanita." Tawa Fandy kagum.


"Wah seperti apa gadis itu tuan. Hening. Ah tidak usah dijawab." Tiba-tiba saja Keila malu dengan pertanyaannya dan menyapu rambutnya ke belakang telinga dengan wajah sedikit menunduk.


"Hmmm apa mamaku sedang mencoba menggoda calon ayah." Batin anak kecil itu sambil memotong steak nya.


Leon menatap anak kecil itu yang sedang kesusahan memotong daging tersebut, spontan mengambilnya.


Fandy sedikit terkejut dengan perkataan Keila namun memakluminya.


Sambil memotong daging steak milik anak itu.


"Dia cantik dan membuatku sulit membuka hati dengan wanita lainnya. Aroma tubuhnya wangi lavender cerry." Menyelesaikan potongannya dan mengembalikan piring anak tersebut.


"Ah terima kasih paman." Ucap Keyran.


"Sama-sama. Siapa namamu tadi nak?" Tanya Leon.


"Keyran paman." Sambil mengunyah dagingnya.


Keila mendadak terpaku mendengar ucapan Bosnya tersebut.


"Wangi Lavender Cerry,  wah kami punya kesamaan. Mungkin hanya mirip saja." Batinnya


"Wah selera wanitamu sama denganku tuan, Keila juga senang sekali memakai wangi parfum tersebut. Benarkan Keil?" Tanya Fandy.


"Iyaa. Tersenyum kepada Fandy. Ayo dihabiskan makanannya." Ucap Keila sambil menambahkan beberapa hidangan ke piring lelaki itu.


"Wah, benarkah nona. Pantas saja aku mencium bau yang sangat aku kenali." Mata mereka berdua saling menatap.


Deg. Deg. Deg. Deg. Deg.


Degupan jantung Keila dan Leon tak beraturan namun seirama, sontak saja Leon menggenggam garpunya sangat kuat takut malu memegang dadanya, sedangkan Keila memegangi dadanya dan melepaskannya kembali.

__ADS_1


"Astaga perasaan apa ini?" Serena batin Keila dan Leon.


__ADS_2