
Perasaan bagaimana saja yang tidak bisa dikatakan? Hanya Bisa lewat perlakuan dan pengutaraan.
Lihatlah dari jauh ada gadis cantik, seorang janda kembang bernama Lily. Seorang Manajer perusahaan di bidang medical Center, anak pemilik rumah sakit terbesar ke 3 di kota itu.
Lelaki itu tertawa dan sangat senang melihat gadis cantik itu, seperti ingin mendapatkan mainan baru untuknya.
"Apa yang kau pikirkan tuan?" Tanya sekretarisnya.
Dily hanya menggeleng. sepertinya akan seru." Jawabnya begitu saja.
"Oh apakah anda menyukai klien cantik kita itu tuan?" Ucap Lelaki itu sambil berjalan ke meja Lily.
Dilly berhenti.
"Sepertinya dia sengaja mengadakan meeting sekaligus makan malam bersamaku." Ucapnya.
"Bisa jadi tuan." Sambil membawa berkasnya.
Lily yang memakai baju setelan dres putih itu sangat cantik pada malam itu.
Dily menghampirinya dan duduk di hadapan gadis tersebut.
"Maaf nona. Apakah kau lama menunggu." Ucap Dilly basa-basi.
Gadis itu melihat jam tangannya, terlihat jam tangan DW keluaran terbaru.
"Ah sepertinya tidak pak. Saya hanya lebih cepat datang 15 menit dan anda tepat waktu." Ucapnya dengan senyuman sangat manis.
Seorang pelayan datang membawakan menu.
"Ah silahkan pak." Ucap Lily sangat lembut.
"Baiklah terima kasih." Lelaki itu mengangguk.
"Sepertinya lelaki ini lebih tampan dari kakaknya yang berkarisma itu." Batin gadis itu.
Tibalah Leon membawa Keila dan Keyran ke sebuah toko baju langganannya, dan membeli beberapa baju untuk perjalanan mereka nantinya.
Sambutan hangat dari pemilik toko baju kepada mereka, dan pelayanan VIP memang berbeda dengan pelanggan biasa.
Keila yang menatap semua barang persediaan yang ada dan beberapa pajangan baju yang ada di patung.
"Wah disini lengkap juga ya." Ucap gadis itu.
"Hmm mirip Vogue Paris ya Ma." Ucap Keyran.
Anak itu paham betul tentang desain dan gambar, dia menyadari tempat ini pasti tempat mahal dan tertawa memegang saku bajunya dimana ada kartu black card hitam dari Leon.
Keyran menatap Leon. Leon mengangguk dan menggeleng, tanda untuk anak itu memilih apapun yang ia mau.
__ADS_1
"Wah ayahku memang the best." Anak itu mengacungkan jempolnya kepada Leon.
Keila yang memilih milih baju ti kagetkan oleh 2 orang pelayan yang sudah membawa baju custom untuknya.
"Maaf nona, mau ikut kami?" Tanyanya.
"Ah iya." Gadis itu mengikutinya keruangan ganti san berganti pakaian.
Terlihat Keila memakai gaun setengah lengan dan setengah lagi memperlihatkan bentuk lengannya.
Tirai terbuka, terlihat Leon sedang menikmati jamuan. Leon menatap Keila yang ada di balik tirai.
"Hmm. Terlalu terbuka, ganti." Ucapnya.
Keila menyadari juga hal tersebut dan menggeleng. Tirai kembali ditutup.
Terlihat gadis itu memakai gaun putih diatas lutut dengan banyak payet di bagian dada. Tirai kembali dibuka.
"Hmm. Boleh juga, untuk pesta dadakan nanti." Ucapnya. Dan tirai kembali tertutup.
Terlihat beberapa kali Keila berganti pakaian. Keyran hanya ikut ngemil makanan di samping Leon.
"Astaga, mama pasti capek harus berulang kali berganti pakaian." Gerutu anak kecil itu.
Leon menyadari Keila sudah berganti lebih dari 30 pakaian. Lelaki itu tertawa.
"Baiklah. Ayo kamu menggunakan gaun itu saja." Ucap Lelaki itu.
"Ah iya. Keila melangkah dan hampir terjatuh dari atas podium itu. Leon dengan cepat menangkap gadisnya tersebut. Aww." Ucapnya.
"Hampir saja. Ucap Leon memeluk Keila. Adakah sepatu yang lebih nyaman lagi?" Ucap Leon.
Terlihat Keila mengenakan sepatu heels yang tinggi bak jarum sebagai penyangganya.
"Ah baiklah tuan." Pelayang itu langsung mengambilkan yang baru.
"Ternyata sepatu cantik namun tak nyaman dapat melukaimu, kamu pakai yang nyaman saja ya." Ucap Lelaki itu melihat kaki gadis itu merasa cemas.
"Mama tidak apa-apa?" Tanya Keyran.
"Sudah-sudah, aku baik tidak ada yang terluka." Ucapnya menenangkan suaminya sekaligus anaknya.
Tangan Keila berada di bahu Leon dan menatap lelaki itu dari dekat dan berbisik.
"Kau terlalu dekat seperti hendak menyerangku. Ingat kita harus segera makan malam." Menggerakkan tangannya.
"Ah kau benar. Leon mengangkatnya ke kursi dan memakaikan sepatu yang dibawakan oleh pelayan tersebut. Kau bisa berdiri?" Tanyanya sambil memastikan gadis itu berdiri tegak.
"Ah iya aku baik-baik saja. Ayo Key kita ke mobil duluan." Ucapanya menggandeng anak kecil tersebut.
__ADS_1
"Baiklah pergilah. Menghidupkan mobilnya dengan kunci dan menghampiri pemilik toko. Aku ambil semua yang aku pilih dan anak kecil itu pilih, kirim semua ke alamatku ya." Memberikan kartu black card nya.
"Baik tuan. Menggesek black card nya. Terima kasih tuan, kami tunggu kedatangan anda kembali." Ucapnya.
"Baiklah." Mengambil black cardnya dan pergi.
Semua pelayan di sana berbisik menatap ketampanan Leon.
"Astaga dia tampan sekali dan istrinya juga cantik anaknya juga tampan. Jadi iri." Ucapan Salah satu pelayan.
"Iya iya benar sekali." Melambai ke arah mobil Leon.
Terlihat mobil Leon melaju menjauhi toko baju tersebut.
"Sayang bagaimana kabarmu hari ini?" Tanya Keola kepada anaknya.
"Hmm. Tadi aku bermain lagi dengan Alya ma dan bermain di galeri seperti biasa. Aku melihat nenek menggambar sangat bagus. Anak kecil itu menoleh kepada Leon. Apakah Nenekku sangat pandai dalam hal itu ayah?" Mendekat dan menatap Leon.
Leon sedikit menghening tanpa kata lalu tersenyum.
"Ah iya sayang dia juga hobi menggambar sama sepertimu begitu juga tantemu." Ucapnya.
"Ah benar sekali, apakah ini turunan?" Tanyanya sambil menatap jalanan.
Keila hanya tertawa menatap Leon kebingungan menjawab anaknya tersebut.
"Sayang bagaimana dengan pelajaran pianomu di galeri?" Tanya Keila.
"Hmm aku bosan … aku bosan belajar teknik dasar terus." Gerutunya.
"Benarkah kenapa?" Tanya Keila.
"Ma bolehkah aku dinaikkan tingkat?" Tanya nya.
"Nanti mama akan berbicara dengan guru Lesmu." Sambil mengelus kepalanya.
"Hmm. Mana mungkin aku belajar hanya teknik dasar, apakah di sini hidup lebih lambat dari kota kelahiranku. Lagi pula aku harus terbiasa dengan perbedaan dan kebudayaan yang ada." Batin anak kecil itu.
Sampailah mereka di sebuah mall dan memarkirkan mobilnya.
Sebelum keluar mobil telepon dari Icha masuk ke telepon Leon. Lelaki itu langsung mengangkatnya.
"Iya Icha ada apa? Tanyanya sambil keluar dari mobilnya. Bersamaan dengan Keyran dan Keila. Ah benarkah, kalian dimana san siapa saja?" Tanya Leon.
"Ayolah kakak, kau taukan Ibu sangat banyak pertanyaan. Aku tunggu di resto biasa lantai 5. Bye kakak. Muach." Gadis itu langsung mematikan teleponnya.
Dan memeluk Lana menggandeng nya masuk ke dalam Restoran.
"Astaga Icha." Sambil menggeleng.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" Membuat Keila dan Keyran khawatir menatap lelaki itu.