
Mobil hitam itu melaju amat kencang bak ugal ugalan di pagi itu. Keila menyadari mobil itu hampir menyerempetnya dan mengerem mobilnya dengan cepat dan mendadak.
"Astaga mobil sialan." Gerutu Icha.
"Kalian gapapa?" Ucap Keila menatap Icha dan anaknya dan menghela nafas.
"Aku gapapa ma." Ucap Keyran.
Icha terlihat sangat marah.
"Sebentar aku keluar duluan." Ucap Icha menggedor mobil hitam yang ada di hadapannya.
Keila sedikit terkejut melihat mobil tersebut sangat dia kenali mobil berplat B 7171 K.
"Hei gadis bodoh mau cari mati ya." Gerutu Icha.
Gadis yang ada di dalam mobil hitam itu keluar dan menatap Icha.
"Apa kau bilang?" Menatap Icha dan tersadar dengan sosok gadis yang di belakang gadis yang menyenggaknya itu.
"He kok malah ciut." Pungkas Icha.
Gadis itu hanya terdiam dan masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja. Keila yang melipat kedua tangannya menatap gadis itu. Dan gadis itu menyadari menatapnya dan mendadak takut melihatnya pergi begitu saja.
"Astaga dia takut dengan amukkanku." Ucap Icha.
"Sudahlah Ayo kita pergi. Menarik tangan Icha dan memasuki mobil lalu memasang sabuk pengaman. Lili itu lili, ada apa dengannya?" Batin Keila.
Icha menarik nafas dan menoleh kebelakang.
"Sayang kau tak apa kan?" Tanya Icha Khawatir.
"Aman kakak, sepertinya kakak tak perlu membuang energi seperti itu di pagi yang cerah ini." Ucap anak itu dengan senyuman.
"Baiklah-baiklah." Menarik nafas.
Keila hanya tersenyum menatap Icha.
"Kau begitu bersemangat sekali ya." Ucap Keil.
"Mungkin terbawa suasana dari rumah." Gerutunya.
"Hmmm untuk keluarga seperti mereka mungkin memiliki masalah yang cukup pelik sebagai orang kaya." Batin Keila.
Sesampainya di sekolah Keyran. Anak itu menyalam mama dan tantenya.
"Keyran semangat belajarnya ya sayang jangan lupa tante disini." Melambai.
"Kau selalu bersemangat ya.melihat jam. Mau sarapan dulu?" Ucapnya.
"Boleh." Icha mengiyakan.
Di kedai pagi, suasana sangat ramai karena banyak pekerja, anak sekolah membeli sarapan disini.
__ADS_1
"Wah ramai sekali ya, aku baru tahu ada warung makan di pinggir jalan sini." Ucap Icha yang tak pernah memakan makanan kaki lima.
"Ayo duduk. Disini makanannya enak banget loh, sebentar lagi Arfandy juga datang." Ucap Keila.
"Ah benarkah kakak juga kemari." Bersemangat.
"Mau pesen apa neng?" Tanya penjual itu.
"Nasi soto satu pak, bubur igha satu dan kamu mau makan apa Cha?" Tanya Fandy yang tiba-tiba duduk di samping Keila.
"Eh sudah datang?" Tanya Keila.
"Yaelah main nyosor aja ya duduk di samping kakak ipar." Gerutunya.
"Yaudah mau pesan apa? Pak maman dah nungguin tu." Menunjuk penjual tersebut.
"Eh bubur ayam aja pak." Ucap Icha.
"Oke neng, pesanan segera datang." Ucapnya.
"Wah bisa di bilang tempat ini lumayan ya." Menatap sekeliling.
"Iya." Keila menatap Arfandy dan melihat lingkar matanya yang mulai menghitam.
"Matamu kenapa?" Tanyanya spontan mengeluarkan cream mata dan mengoleskannya ke bawa mata Fandy.
"Ah iya sering begadang. Terimakasih." Ucapnya.
"Kemesraan ini. Eakkk." Ejek Icha.
"Ih sok tau." Menurunkan tangan nya dan agak malu.
"Tumben sekali kalian bisa bersama? Bagaimana Keyran sudah sekolah?" Tanya Fandy.
"Rumah kita tentanggan jadi wajar bersama, Keyran sudah aku antar sekolah bersama Icha. Mulai hari ini setelah pulang sekolah dia akan les piano." Ucapnya.
"Dia pulang jam berapa? Biar aku jemput, aku sudah rindu ingin mengajaknya bermain." Ucap Fandy.
"Pesanan datang." Ucap Kang maman.
"Terimakasih kang." Serentak Icha da Keila.
"Jam tengah 5. Nanti aku akan hubungi guru lesnya jika kamu yang menjemputnya." Sambil menyantap makanannya.
"Baiklah." Ucap Fandy memakan makanannya.
"Astaga. Teriak Icha mengejutkan semua yang ada disana. Enak banget." Gerutunya.
"Astaga Icha kirain apaan." Ucap Fandy.
"Haha maaf, baru kali ini aku makan disini." Pungkasnya.
"Yaudah abisin gi, waktu kita 15 menit lagi." Ucap Keila.
__ADS_1
"Tenang aja, saya bosnya telat gapapa." Penyalahgunaan kekuasaan.
"Dasar bos." Ejek Fandy dan tertawa bersama.
Perjalanan hidup terkadang menyakitkan kadang kala juga sangat membuat bahagia, tertawa bersama orang-orang yang kita sayangi ini terkadang membuat kita lebih mudah tersenyum.
Hari kedua bekerja di kantor ini membuatku mulai terbiasa dengan orang-orangnya dan suasana baru semenjak lima tahun terakhir, sepertinya aku dan anakku mulai menikmatinya tak terasa sudah satu bulan saja aku bekerja menjadi sekretaris lelaki tampan itu.
Di Umurnya yang mau menginjak 30 tahun di tahun ini tak mempengaruhi dirinya untuk menikah cepat. Memang kebanyakan lelaki jikalau berfokus kerja akan melupakan apa itu pernikahan.
Jika dilihat dari banyaknya gadis yang mendekatinya dari berbagai macam kalangan tak membuatnya luluh atau semacamnya.
Pagi ini di kantor semua pegawai tanpa sangat sibuk untuk peluncuran sebuah baju fashion keluaran terbaru perusahaan kami. Beberapa lagi juga memiliki banyak kegiatan seperti pembangunan kantor cabang baru di luar kota.
Dari pagi hingga malam jadwal sangat padat aku harus menemani CEO ku lembur di kantor hingga larut. Beberapa barang yang harus meluncur itu bertabrakan dengan jadwal klien rapat penting.
Lelaki itu menghela nafas dan merenggangkan kursinya dan mulai tertidur.
Terkadang aku menatapnya sangat kasihan karena dirinya terlalu lelah.
"Pak mau menyeduh teh?" Ucapku memanggilnya.
Setelah malam itu dia menginap dirumah dan tertidur dengan Keyran, mereka pun mulai dekat.
Lelaki itu menarikku dan memeluk pinggangku dan mendekatkan kepalanya ke dadaku membuatku kaget.
"Boleh seperti ini sebentar saja." Ucapnya.
"Ah iya." Aku mengangkat kedua tanganku dan tak melakukan apapun.
30 menit berlalu, kau menatap wajah lelaki itu dari atas dan tak sengaja mengelus rambutnya. Tanganku ditangkapnya dan diarahkan ke pipinya.
"Tanganmu sungguh lembut." Ucapnya.
"Ah pak, tidakkah anda pulang. Ini sudah larut?" Ucap Keil.
Ken yang tak sengaja memasuki ruangan dan berbicara seenaknya kaget.
"Leon ini sudah jam berapa."Ucapnya kaget melihat Leon memeluk Keil.
Leon terbangun dan kaget langsung melepaskan Keila. Begitu pula dengan gadis itu mengambil tasnya dan izin permisi pulang.
"Ah. Ah. Ejek Ken. Hayo apa yang mau kalian lakukan?" Tanya Ken.
"Kau mengganggu saja." Gerutunya melanjutkan tidur.
"Hei sudah malam ayo pulang." Ajak Ken.
"Iya iya." Memakai Jasnya dan berjalan keluar kantor.
Dengan cepat Keila mengendarai mobilnya dan pulang, di pinggir jalan dia menyingkirkan mobilnya.
"Astaga membuatku jantungan saja. Memegangi dadanya. Kenapa ekspresinya begitu ketat sekali ada apa dengannya? Mengingat wajah Leon yang tertidur memeluknya tadi. Apa aku mulai menyukainya?" Batinnya.
__ADS_1
Mengingat tentang bayangan Arfandy.
"Astaga aku sudah gila, bagaimana bisa aku mencintai dua lelaki sekaligus. Menggeleng-geleng kepalanya. Jadi siapa yang aku sukai?" Batin nya kembali.