
Lelaki itu menatap seseorang yang datang menjemput mantan kekasihnya tersebut.
"Dah Alya." Keyran melambai ke gadis kecil itu.
"Dah Keyran, hati-hati ya." Ucap gadis kecil itu.
Leon menghampiri mereka berdua dan membukakan pintu mobilnya agar mereka masuk.
Leon mengendarai mobilnya dan masih melihat lelaki itu dari kaca spion.
"Siapa itu sayang?" Tanya lelaki itu.
"Orang tua murid teman Keyran." Jawab cepat gadis cantik itu.
"Ah iya benarlah?" Menatap Keyran.
"Benar ayah, kapan-kapan aku boleh mengajaknya ke galeri?" Tanya kepada kedua orang tuanya.
"Hmmm tentu saja sayang, bagaimana?" Tatap Keila ke Leon.
Leon mengangguk.
"Baiklah tentu saja boleh. Besok kita berbelanja ke beberapa toko ya. Kelihatannya ibumu ini sangat menghemat uang bulananku." Pungkasnya.
"Wah mama sangat terampil dalam hal itu, ayah harus lebih mengenalnya lagi." Ucap Keyran yang membuat lelaki itu tertawa.
"Anak ayah bisa saja." Gerutunya.
"Hmm gadis kecil itu terlihat muram sekali, aku akan buat sesuatu agar membuatnya senang." Sambil menatap kaca mobilnya memandangi jalanan ibu kota.
Tibalah mereka di sebuah restoran yang sudah direservasi oleh Leon. Terlihat seorang pria tua sudah duduk di dalam sana dan membuat Keila kaget dan hampir terjatuh.
Tubuh gadis itu berhasil ditangkap oleh Leon dan terlihat Keyran memandangi wajah ibunya dengan pria tua itu.
Keila menatap Leon tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
"Ayah … Leon kau?!" Menatap Suaminya itu.
Lelaki itu langsung hendak bersujud di kaki gadis itu karena mengabaikannya dan tak mencarinya selama 6 tahun terakhir ini.
__ADS_1
Setahun yang lalu saat Leon berada di rumah sakit, lelaki tua itu pemilik rumah sakit itu menghampirinya.
Lelaki tua itu duduk tepat di samping ranjang Leon menatapnya tertidur.
"Ternyata kau adalah lelaki waktu itu tak ku sangka sama sekali." Ucap lelaki tua itu.
Leon tersadar menatap punggung lelaki itu.
"Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu tapi tolong jaga anakku." Lelaki itu menggenggam tangan Leon dan tak sadar jika lelaki itu sudah terbangun.
"Tenang saja, bukan hanya anakmu bahkan cucumu pun akan aku jaga dengan baik." Pungkasnya.
Membuat lelaki itu kaget. Lelaki itu sama seperti dirinya memakai baju pasien menjadi pasien yang terkena serangan jantung pada saat mengetahui semua kebenaran yang terjadi pada putrinya.
"Kelihatannya kau cukup berani untuk melakukan apapun." Tawa Lelaki itu.
"Bapak tenang saja, apapun itu tentang Keila adalah tanggung jawabku." Gerutunya.
Mendadak mereka menjadi mertua dan menantu yang sangat akrab. Tiba saatnya lelaki itu bertemu dengan putri yang ia pantau selama setahun terakhir.
Keila hendak berlari dan ditahan oleh Leon. Posisi mereka saling berhadapan dan sangat rapat. Gadis itu gemetar tanda ia belum siap menerima apa yang ada di depan matanya.
Keyran menatap lelaki tua itu lelaki yang pernah ia temui di parkiran saat acara pertunangan Lana dan Icha. Dan anak kecil itu menyadarinya, mengingat-ingat jelas paras wajah lelaki itu.
Leon berbisik, "sayang setidaknya dengar penjelasannya. Kau lihat dia sudah tua dan hendak bersujud di depanmu, apakah kau tega." Ucap lelaki itu sambil mengelus dada istrinya.
Leon yang bersikap dingin kepada semua orang termasuk kedua orang tuanya namun ia masih memiliki empati dan rasa kepada setiap orang di sekitarnya semenjak Keila memenuhi hidupnya.
Keyran yang tak kuasa memeluk lelaki itu yang bersujud ayah dan mamanya.
"Kakek apa yang kau lakukan berdirilah, celanamu akan kotor dan punggungmu akan sakit." Ucap Keyran mencoba mencari tahu keadaan apa yang sedang terjadi saat itu.
Lelaki tua itu mengelus kepala anak itu.
"Astaga, cucu kakek sudah sangat besar ya. Maaf waktu itu tidak menyapamu dengan baik." Ucapnya.
Keila yang tak kuasa memeluk lelaki tua itu dan menangis sesenggukkan dalam pelukkannya.
"Ayah ... ayah. Menangis dalam derasnya air mata. Aku tak pernah menyangka bahwa aku memeluk ayahku kembali, sudah 6 tahun saja." Batinnya mengeluarkan tangis rindu hingga amarah dan meluapkan nya.
__ADS_1
"Ah jadi benar, lelaki tua ini kakekku pantas saja mobilnya sangat aku kenali. Sudah dipastikan itu pasti mobil untuk mama darinya. Apa selama ini mama menghilang atau bagaimana ya?" Anak kecil itu bertanya dalam hati namun tak mempertanyakannya kepada mereka.
Suasana sangat haru, bahagia dan sedih. Leon mengelus bahu istrinya itu begitu juga Keyran yang memeluk kedua orang tersebut.
"Sebaiknya kita makan dan berbincang. Ucap Leon. Sepertinya banyak cerita lama yang harus diselesaikan pada hari ini atau pertemuan selanjutnya." Leon dan Keyran saling tatap
Mereka yang terhanyut dalam pelukkan dan kata maaf, maaf dan maaf yang terus dilontarkan oleh lelaki tua itu kepada Keila.
"Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang membuat mama tidak kepikiran lagi, semoga mama bahagia setelah bertemu kakek." Ucap anak kecil itu mengelus rambut panjang ibunya.
Leon menatap anaknya dan anak kecil itu berbisik.
"Apakah sekarang aku punya kakek lagi?" Tanyanya sambil tertawa kecil.
"Tentu sayang. Kau tau beberapa orang yang mencurigakan dan selalu memantaumu dari jauh? Dia adalah suruhan kakekmu." Ucapnya.
"Wah luar biasa, bagaimana bisa?" Tanyanya.
"Tentu saja sayang, kau berikan tisu kepada dua orang itu. Mereka sudah sangat lama menangis." Ejek Leon yang membuat istrinya memukulnya.
"Aduhh." Leon kaget dengan pukulan Keila.
Gadis itu tertawa tak menyangka Leon bisa bercanda seperti itu.
"Astaga sayang, mewek banget lihat tu make up mu luntur." Tawa Leon.
Gadis Itu lalu memeluknya. Dan membuat lelaki tua itu yang melihatnya percaya. "Ternyata putri ku tidak salah pilih. Sambil membandingkan dengan Arya, mungkin dia akan bahagia juga bila bersama Arya tapi sepertinya Leon lebih baik darinya." Membatin.
Malam itu terlewati begitu saja, terlihat canda tawa mulai merekah di bibir mereka. Makan malam hari ini menjadi makan malam terbaik setelah 6 tahun pertemuan mereka.
"Jika dahulu aku tau lelaki mana yang tak sengaja membuat putri ku hamil dan langsung menikahkan nya apakah mungkin aku akan sebahagia ini dan Keila tidak merasa kehilanganku?" Batin lelaki tua itu sambil menatap anaknya, cucunya dan menantunya.
Bahagia? Bahagia? Bahagia? Itulah yang dirasakan keluarga kecil ini, keluarga yang sudah menempuh jarak dan merasakan rindu akan perkumpulan, kedatangan dan akhirnya dapat diwujudkan.
"Sebaiknya aku harus tahu setelah ini apa yang akan mama lakukan dengan keluarga kakek. Dan bagaimana mama bisa bersama paman Arfandy yang berhasil membawa kami berada di London. Tapi apa jadinya kami tanpa paman, sebaiknya aku harus mencari tahu sendiri setelah ini." Batin Keyran sambil menyantap makanan nya.
"Mulai saat ini, kebahagiaan mama adalah nomor satu di hidupku, takkan ku biarkan orang-orang baik siapapun itu menyakitinya." Batin anak kecil itu.
Keila menatap senang anaknya menerima kakeknya dan dirinya juga telah memaafkannya.
__ADS_1
"Akankah kebahagiaan ini berjalan terus? Bagaimana dengan Lily dan ibunya? Keila hanya menggeleng. Sudahlah kita hanya harus menikmati kebahagiaan yang ada saat ini." Batin gadis itu.