Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
11. Jejak Tak Beraturan


__ADS_3

Bagaimana jika kau menemukan seseorang yang telah lama kau cari namun kau tak menyadari orang itu adalah orang yang selama ini ada di hadapanmu dan tepat berada di sampingmu.


"Sayang, ingatnya nanti di sekolah jangan nakal dan berbuat yang tidak seharusnya. Saat makan siang uncle akan menjemputmu. Jangan katakan kalau kakak Icha ada disini. Paham?" Memberi isyarat mengunci mulutnya dengan jari.


"Baiklah ma baik, siap pada perintah mama. Gerutunya. Asik semalam aku tidak jadi ke toko Elektronik. Aku akan menghabiskan uang di kartu ini bersama uncle." Tertawa kecil menutup mulutnya.


"Ada apa sayang? Ada yang kamu sembunyikan dari mama?" Tanya wanita itu penasaran.


"Ah tidak ma tidak ada." Tersenyum sangat manis.


"Sepertinya anak ini menyembunyikan sesuatu di belakangku. Hanya membatin dan menggeleng kepalanya. Baiklah sudah sampai di sekolah ayo turun." Membuka pintunya dan mengantar anak kecil itu tepat di depan gerbang sekolah.


"Mama aku belajar sekarang ya." Melambai memasuki sekolah.


"Semangat sayang mama. Nanti jangan lupa mengabari mama kalau sudah bersama uncle." Melambai.


"Baik mama. Dahh." Masih melambai tanpa menoleh kebelakang.


"Baiklah mari bekerja. Memasukan gigi dan menggas mobilnya perlahan. Semoga hari ini menjadi hari yang baik." Mengemudi dengan santai dengan menyetel lagu yang bersemangat.


Dering telepon masuk.


"Iya hallo. Bagaimana kabarmu?" Tanya wanita itu dengan penuh semangat.


"Maaf tidak bisa mengantar Key ke sekolah di hari pertamanya. Aku sedang di perusahaan, nanti siang kita bisa makan bersama?" Tanya lelaki itu.


"Baiklah. Kabari saja tempatnya. Aku juga sedang ke menuju tempat interview ku." Sambil menatap jalanan yang terlihat sangat ramai.


"Baiklah, tetap semangat dan hati-hati mengemudinya." Menutup teleponnya.


Semenjak kembali ke negara asalku aku lebih bisa mengemudi dan berpergian kemanapun lebih cepat tanpa perlu supir pribadi di tahun-tahun kepindahanku ke inggris.


Awal-awal berpindah kala itu memang sangat membuatku tertekan dan bingung akan keadaan yang menurutku, aku tak bisa dan lihatlah saat ini dirimu sendiri Keil, kau menjadi wanita yang mandiri, punya prinsip dan tegas akan hal apapun.


Bersemangat dengan kehidupan, memiliki impian dan rencana hidup jangka panjang dan mencoba lebih bahagia.


Laju mobilku berhenti ketika lampu lalu lintas memerah. Tanganku mengambil kaca mata hitam di dalam tasku dan mengecek kembali berkas di map bangku belakang mobil dan ku pindah tepat disampingku.


Wanita itu tak menyadari suatu hal, mobil yang ada di samping mobilnya adalah mobil Papanya. Pandangan lelaki tua itu tegas dan hanya menatap ke depan. Mobil keluaran terbaru berwarna hitam, mobil yang dulunya sangat diinginkan Keil.


Lampu berganti hijau, kendaraan melaju perlahan termasuk mobil hitam tersebut. Keil melihatnya dan tersenyum menatap mobil hitam tersebut dengan Plat Nomor B 713 K.

__ADS_1


"Astaga. Sambil menggas mobilnya dengan perlahan. Ya ampun mobil itu mirip sekali dengan mobil yang aku inginkan." Menghela nafas panjang.


Sampailah Keil di depan perusahaan dan memasuki ruangan interview. Banyak para wanita cantik menunggu untuk memulai interview mereka secara bergantian di panggil sesuai nomornya.


"Kelihatannya aku yang terakhir." Ucapnya santai tanpa rasa tegang sedikitpun dan menyilang kakinya sambil mendengarkan musik.


Di dalam ruangan Interview yang dipimpin langsung Oleh CEO nya. 


"Kelihatannya dari semua berkas ini tak ada yang bagus. Membaca setiap biodata calon Sekretarisnya. Kau gagal silahkan keluar. Mengusir pelamar wanita tersebut. Hmmm. Membolak balik map satu demi satu dan mengonyaknya. Lalu melihat dua map pelamar yang menurutnya bagus. Suruh mereka datang jam 2 siang ini." Memberikan berkasnya ke tangan kanannya.


"Baik tuan. Menunduk dan keluar dari ruangan. Semua yang disini boleh pergi kecuali nona Hana dan Keila, kita akan berbincang langsung dengan CEO kita jam 2 siang. Terimakasih." Kembali memasuki ruangan.


Semua pelamar mendadak berekspresi  hati kecewa dan sedih mendengar perkataan manager personalia.


Keil yang menyadari namanya dipanggil dan melihat jam tepat pukul 11 menyadari 3 jam lagi baru ada pertemuan bergegas pergi keluar perusahaan itu.


"Astaga 3 jam lagi. Sebaiknya aku menelpon fandy." Menelpon sambil berjalan ke arah lift.


Dring. Dring. Sambil memasuki lift dan 2 orang lelaki ikut mengikutinya masuk di lift.


"Hallo Fan, dimana?" Tanya wanita itu dengan nada lembut.


Lelaki itu mendadak menatap gadis yang ada sedikit di depannya tersebut. Gadis itu terlihat sangat modis dan cukup cantik menurutnya.


Lift terbuka, Keil langsung keluar lift dan berjalan sangat elegan memakai rok biru muda diatas lutut dengan belahan di paha sebelah kanan menampakkan kaki jenjang yang putihnya dengan kemeja putih polos dan menggenggam map di tangannya menuju ke dalam mobil sport putihnya.


Caranya masuk ke mobil dengan mengangkat pintu mobil sportnya ke atas membuat kaki jenjangnya itu sangat cantik dengan heels tinggi berwarna hitam kekinian lalu pergi dari parkiran menggunakan mobilnya.


Leon yang sedari tadi di lift memperhatikan gadis itu dan tertarik dengan tampilan gadis tersebut.


"Dia siapa? Sambil memasuki mobil berwarna silvernya. Kenapa tak asing?" Tanya CEO muda tersebut.


Ken menjawab Leon.


"Dia Keila. Memberikan tab ke Leon yang berisikan biodata gadis tersebut. Calon sekertaris, sayangnya dia single parents." Ucap Ken memutar kemudinya.


Ken adalah manajer sekaligus asisten pribadi Leon, mereka adalah sahabat yang menjadi rekan kerja.


"Oh begitu, kualifikasinya sangat bagus. Ah iya kita ada janji makan bersama pak Arfandy malam minggu besok., jangan sampai jadwalku bertabrakan." Ucapnya sedikit mengingatkan dengan nada tegas dan sedikit kasar.


"Siap tuan muda, pelayan selalu disini melayani." Ejek Ken kepada Leon.

__ADS_1


"Kau ini." Sama-sama tertawa.


"Jangan tegang-tegang bos, senyum sikit biar gak kaku." Gerutu Ken mengencangkan gas mobilnya.



Tibalah Keila di sebuah Mall dan berjalan menuju restoran tempat Fandy berada.


"Hei." Lambai Fandy dari dalam restoran dengan senyuman yang menawan.


"Ah itu dia. Keila berjalan ke arahnya dan duduk tepat di hadapannya. Udah lama?" Tanya gadis cantik itu.


"Belum kok. Kita makan BBQ ya udah lama gak makan ini. Ah iya bagaimana dengan Keyran?" Tanyanya memastikan sambil membakar daging yang ada di hadapannya.


"Sudah dijemput Lana. Sebentar aku telpon dahulu. Menelpon Lana. Ah masuk." Ucap Keila.


"Hallo Lana, sudah jemput Key?" Tanyanya.


"Sudah, kami lagi di Mall B." Ucapnya.


"Ah benarkah. Ke Restoran lantai 5 kami disini." Ucapnya senang.


"Baiklah nona. Kami akan segera datang. Mematikan telponnya. Sudah pilih tab nya?" Tanya lelaki itu ke anak kecil yang ada di depannya.


"Aku mau ini om, aku juga yang bayar dengan ini." Menunjukan kartu Card hitamnya.


"Yee dasar anak kolong melarat eh konglomerat." Gerutunya.


"Hehe." Tawa anak itu senang.


"Cepat bayar. Kita ke lantai 5 ibumu ada disana." Memberi tahu.


"Ah benarkah. Hallo kakak pegawai saya mau bayar yang ini tolong cepat." Ucap anak itu dengan mata berbinar.


"Baiklah adik kecil yang manis." Ucap wanita yang menjaga kasir tersebut.


"Ini bingkisan anda. Dan ini kartu anda. Terima Kasih, ditunggu kedatangannya kembali." Ucapan pegawai wanita tersebut.


"Baik kakak. Uncle ayo." Memeluk ipad nya dengan erat.


"Hayo ayo. Menggenggam erat tangan anak itu dan melihat sosok wanita yang ia kenali dan berlari. Hei kamu tunggu aku." Teriak Lana.

__ADS_1


Dan gadis itu berlari memasuki toko.


"Astaga aku ketahuan." Sambil bersembunyi di balik rak baju besar.


__ADS_2