
Jika diberi kesempatan untuk melakukan yang terbaik mungkin aku akan melakukan segala sesuatunya dengan sangat baik. Jika diberikan satu kesempatan itu, maukah kau membantuku untuk melakukan hal baik dan lebih baik lagi bersama-sama?
"Jadi dimana anak itu sekarang?" Tanya Leon sambil menelpon Ken.
"Anak itu ada di taman bermain bersama Icha dan kekasihnya. Kau mau melihatnya?" Tanya Ken.
"Kau sudah melakukan apa yang ku pinta?" Tanya Leon perlahan sambil melihat-lihat pemandangan lewat jendela apartemennya.
"Ya, tinggal menunggu hasilnya saja. Kelihatannya besok hasilnya akan keluar. Jadi kau tertarik untuk pergi melihat anak itu lagi?" Tanya Ken kembali.
"Baiklah. Sekarang sewa semua taman bermain itu. Aku akan siap segera kesana." Jawabnya langsung mematikan telepon.
"Baiklah aku akan. Melihat teleponnya sudah mati dan menggeleng kepala. Ni anak kalo sudah melakukan hal yang dia ingin dan dia mau pasti melakukan segalanya sesuka hatinya." Gerutu Ken.
Tibalah mereka di depan taman bermain. Banyaknya wahana yang ada disana membuat anak kecil itu sangat bahagia. Tatapan matanya yang sangat berseri itu dan kekagumannya.
"Uncle. Memanggil paman nya dengan mata berbinar. Wah banyak permainan." Ucapnya.
"Eh tunggu-tunggu. Ucap Icha membawa 3 pasang sepatu dan memakaikan satunya kepada Keyran. Kamu pakai ini sayang biar kita leluasa berjalan ke kanan dan kekiri." Memakaikannya secara perlahan.
"Baiklah kakak. Wah sepatunya bagus, terimakasih ya." Ucapnya.
"Sama-sama sayang." Mengelus lembut kepala anak itu.
"Kalian sudah selesai ayo. Menatap sepatunya dan mencobanya. Wah sayangku ini bagus sekali di kakiku. Ayo." Menggandeng anak itu.
"Ayo naik kereta api disana?" Menunjuk.
"Ya kakak, Key gak cukup tinggi untuk naik wahana itu." Memanyunkan wajahnya.
"Ah iya juga." Melemas.
"Ayo kesana aja naik bombom car. Menunjuk wahana lain. Masih banyak permainan di tempat ini ayolah." Bujuk Lana kepada mereka berdua.
"Ah iya mobil-mobilan listrik itu paman?" Tanyanya.
"Iya sayang ayo." Berlari bertiga menuju wahana dan bermain.
"Kakak ayo tabrak uncle." Berusaha mengejar mobil listrik pamannya itu.
"Ye ye gak kena. Mengejek dari kejauhan. Kalian gak tau ya aku itu pengemudi yang handal." Ucapnya sambil memancungkan hidungnya sendiri.
Mereka tertawa bahagia menikmati segalanya disini, sampai mereka menyadari bahwa banyak orang yang ada di wahana ini menghilang dan terlihat sepi.
"Aduh aku haus paman." Ucap Keyran.
__ADS_1
"Sebentar tunggu disini, paman akan beli es cream." Berlari ke toko es cream di seberang.
"Panas ya sayang." Ngipasin anak lelaki itu.
"Iya kak. Kak yok ngadem disana." Menunjuk ke bawah pohon yang rindang untuk berteduh.
"Iya ayo kesana." Ucapnya.
Terlihat semua orang yang mendatangi wahana hanya Lana, Icha dan anak kecil itu bernama Keyran.
Lelaki itu memasuki wahana dan terlihat puas bisa menyewa seluruh wahana itu. Keluar dari mobilnya sambil merapikan rambutnya dan melepaskan kacamata hitamnya lalu menaruhnya di atas kepala.
Tak lama lelaki itu mendatanginya dan menyapanya.
"Kelihatannya tuan muda Leon sangat-sangat menyukai anak kecil itu. Sindirnya. Wah sudah jam 2 siang. Melihat jam nya. Ayo apa yang bisa kita lakukan di jam segini." Pungkasnya memasuki wahana.
Leon hanya menarik nafas dan duduk di gedung memantau dengan teropong menatap anak itu dan adik kandungnya sedang berteduh di bawah pohon tersebut. Terlihat seorang lelaki itu memberikan es cream untuk mereka.
"Astaga." Ucap Leon.
"Ada apa?" Tanya Ken merasa ketinggalan berita.
"Lihat itu, kekasihnya Icha. Anak lelaki itu yang membawa anak kecil yang waktu di mall, yang tak sengaja menabrakku. Ini pertemuan ke 3 kami." Ucapnya.
"Wah sungguh luar biasa. Ucap Ken membolak balik brosur tentang wahana ini. Hei Pak Leon, kau tak tertarik membeli saham wahana ini, lihat ini sangat menguntungkan." Ucapnya memberikan beberapa data.
"Wah wah wah. Ayah yang hebat. Menepuk tangannya lalu memanggil pelayan. Panggilkan Direktur kalian cepat." Ucap Ken sekali perintah.
"Baiklah Pak." Ucap pekerja itu dan membalik badan.
"Eh tunggu dulu, disini ada layanan Bbq?" Tanya Leon.
"Ah. Ah. Ada pak di Restoran sebelah sana." Ucapnya.
"Siapkan 5 porsi jumbo ya dan beberapa makanan lainnya. Aku ingin di sana. Menunjuk ke arah pantai. Aku mau makan disana." Ucapnya.
"Baik pak." Ucapnya.
"Waw Leon. Ken menaikkan alisnya. Hadiah kelulusan Icha, kau disini saja selesaikan pekerjaanmu dengan Direktur disini. Aku akan menyapa mereka." Berdiri dan berjalan ke arah adik dan mungkin saja anaknya.
"Baiklah. Aku akan menyusul." Ucapnya.
Lelaki itu berjalan perlahan menuruni tangga. Menggunakan kacamata hitam nya, mengenakan baju kemeja putih lengan pendek santai dengan sepatu catsnya, dan celana cargo panjangnya berwarna coklat.
Cuaca kali ini sangat terik namun pemandangan yang disuguhkan sangat indah. Tangan lelaki itu menghalangi cahaya yang menyilaukan membuat bayangan di wajahnya.
__ADS_1
"Langitnya sangat indah, bahkan aku lupa terakhir kali aku bermain di wahana ini. Berdiri tepat di toko yang menjual topi lalu mengambil dan memakainya. Setidaknya dengan ini tidak terlalu panas." Membuka bajunya dan terlihat dalaman kaos putihnya itu.
Lelaki itu semakin dekat dengan 3 orang itu, terlihat mereka sedang bercengkrama dan istirahat sejenak dibawah pohon.
"Uncle dan bibi kapan menikah?" Tanya anak itu sambil tersipu malu.
Mendengar perkataan anak kecil itu wajah Icha memerah dan menatap Lana.
"Kami akan menikah dan kau harus menjadi wali tante eh kakak mu ya. Tapi siap egak dia dipanggil tante olehmu." Tawa Lana mengejek Icha.
Icha memukul-mukul Lana karena malu dan berhasil di tahan olehnya.
"Astaga kau ini kenapa si." Tanya Lana.
"Dasar tidak pernah serius." Ucap Icha memalingkan wajahnya.
"Aduh-aduh sakit tau di pukulin terus sama calon istri. Gimana sudah menikah bakalan di gebukin terus ni." Ejeknya sekali lagi.
"Lanaa. Nada sedikit tinggi.
Hal itu membuat Keyran tertawa melihat tante yang tak mau dipanggil tante itu.
Lana memberi Kode Kepada Keyran agar pergi. Dan anak itu mengangguk.
Teleponnya berdering dan terlihat Ken memanggilnya.
"Halo kamu dimana?" Tanya Ken dari balik hpnya.
"Aku sudah dekat dengan Icha, kenapa?" Tanyanya kembali.
"Anak itu. Anak itu. Leon anak itu." Berbicara dengan terbata-bata.
"Iya memangnya kenapa anak itu?" Tanya Leon sedikit sebal.
"Hasil dari tes DNA menunjukkan memang dia anak kandungmu. Dan Ibunya adalah wanita waktu itu." Ucap Ken.
Mata Leon terbelalak dan dia menjatuhkan telepon genggamnya yang iya remas jatuh ke bawah. Menatap anak itu berjalan ke arahnya.
"Hallo Leon, hallo Leon." Ucap Ken dari panggilan tersebut.
Leon hanya mematikan teleponnya dan memasukkannya ke saku celananya.
Anak itu menatap kaget Leon yang ada di hadapannya.
"Ayah disini." Batinnya mendekati lelaki itu.
__ADS_1
Leon menghampirinya dan memeluk anak tersebut dengan sangat erat.