Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
53. Tak terduga


__ADS_3

Persiapan untuk memulai kembali hari, aku terbangun di sambut oleh seseorang yang tertidur lelap disampingku. Lelaki dengan pandangan sangat tegas, lukas, dan manusia kaku sedunia.


"Sudah pagi ayo bangun." Ucapku.


Tangan lelaki itu kembali memelukku dan mencium keningku.


"Lima menit lagi, aku masih mau memelukmu." Ucapnya.


"Hei, ini sudah pukul 6. Aku harus bersiap-siap membuat sarapan Keyran." Ucapnya dalam dekapan lelaki itu.


"Setahun ini kau sibuk sekali. Bahkan pembantu saja cuma satu. Padahal rumah ini sangat besar dan megah." Gerutunya.


"Memang benar. Tapi aku sudah terbiasa bekerja sendiri. Jika kau mau terus tidur silahkan tidur." Gadis itu melepaskan pelukkan dari lelaki itu.


"Baiklah-baiklah. Leon melepaskannya. Padahal aku masih nyaman seranjang dan bermalas-malasan bersamamu." Ucap lelaki itu.


"Jika kau ingin jadi pengangguran silahkan." Ucap Gadis itu.


"Aku punya istri yang tidak pengertian." Gerutu Leon.


"Aku tidak dengar." Ejek Keila keluar dari kamar itu. Yang benar saja, memangnya aku ratu Diana segala sesuatunya harus dilayani." Ucapnya.


Terlihat seorang pembantu sedang menyiapkan makanan untuk mereka.


"Nyonya saya sudah menyiapkan ini." Terlihat beberapa bahan makanan sudah tertata rapi di dapur.


"Baiklah bi, kau bisa bangunkan Keyran sekarang." Ucapnya, kembali memasak makanan untuk mereka.


"Baiklah nyonya." Pergi ke kamar Keyran.


Keila memegang kepalanya. "Padahal sudah aku katakan jangan memanggilku nyonya." Gerutunya dan melanjutkan memasak.


Gelengan kepala Keila menarik perhatian Leon dan memeluknya. 


"Kau mengganggu ku bekerja saja." Ucap Gadis itu.


"Ada apa? Kenapa kesal?" Tanya lelaki itu.


"Bukan apa-apa. Pergilah mandi tuan muda, aku sedang sibuk susah bergerak jika di peluk begini." Ucap Keila.


"Sebentar saja. Jangan marah-marah." Ucapnya melepaskan pelukannya menyetel lagu santai nan merdu. Lalu kembali mengganggu gadis itu.


Pagi itu sangat indah, sarapan bersama dengan keluarga kecil dan mengantar anak kesayanganku bersekolah bersama suami yang tampan.


"Sepertinya tuhan sudah memulai mengabulkan keinginanku melalui ibu yang berada di dekatnya." Gumamnya menikmati angin pagi itu.


Mobil yang dikendarai Leon melesat tidak terlalu kencang, lelaki itu menatap wanitanya yang sedang tersenyum manis pagi ini. Membantunya menaikkan mood kerja kali ini.


"Bagaimana harimu sayang? Sepertinya kau sangat senang sekali pagi ini." Ucap lelaki itu menggodanya.


"Baiklah bapak CEO kami sebaiknya anda bekerja dengan baik hari ini karena saya sudah tidak menjadi sekretaris anda lagi." Pungkasnya.


Seseorang yang sangat familiar membuka pintu mobil Leon. Ya orang itu Ken, sekretaris sekaligus asisten Leon. Sahabat sekaligus orang kepercayaannya.


"Sebaiknya kau tunggu dirumah tentang kejutan apa yang akan kulakukan bersamamu." Ucap Lelaki itu keluar mobilnya.


Ken memasuki mobil dan menoleh ke Keila.


"Jadi nyonya Leon ingin ikut saya ke parkiran." Tawanya.

__ADS_1


"Hmm. Pak asisten bisa saja." Keluar dari mobil tersebut.


Ken menepuk jidatnya dan menggelang.


"Astaga, dalam beberapa malam harga diriku terjatuh menjadi pak Asisten." Menggerutu.


Lelaki itu langsung membawa mobil itu ke parkiran mobil karyawan.


 


Dengan elegan Keila berjalan di belakang Leon. Ya tentu saja banyak mata memandangnya, gadis muda berambut panjang, badan yang ramping dan kaki jenjang putih yang cantik. Seolah seluruh dunia iri dan berharap menjadi dirinya.


Entah bagaimana caranya Ken sudah berada di samping Leon yang sedang berbincang dari klien besar di US yang sedikit sombong tersebut.


Keila menggeleng dan tersenyum menatap Ken.


"Anak itu sangat cepat dan cekatan dalam hal ini, sepertinya aku harus membantu mereka. Keila melangkah ke arah mereka. Hallo mr. Jo, perkenalkan saya Keila Fay." Sambil menggandeng Leon.


"Astaga itu kamu nona Fay." Memberi salam hormat dan mencium telapak tangan gadis itu.


"Perkenalkan." Sambil menggandeng Leon dan memperlihatkan cincinnya.


Tamu itu mengerti bahwa gadis itu sudah menikah.


"Hallo pak Leon. Maafkan kekurangajaran saya." Ucap Klien tersebut.


"Ah tidak apa-apa, mari ikut saya ke Kantor Pak CEO." Ucapnya menggiring mereka ke kantor.


Duduklah mereka di meja tamu kantor CEO, Keila menaruh beberapa minuman ke meja dengan perlahan dan tak sengaja menjatuhkan rambutnya dan seolah berkibar dengan cantiknya lalu memasukannya ke belakang telinga.


"Silahkan diminum." Ucapnya pergi.


Leon tersenyum kepada Istrinya tersebut dan Keila membalasnya.


Mata Keila dan Leon saling menatap.


"Ah baiklah." Keila menyerah kan tanpan na kepada sekretaris pembantu Leon.


Gadis itu duduk tepat di samping Leon di hadapan Kedua Klien tersebut. Terlihat Klien tersebut membawa anak perempuannya.


Mulailah Ken membagikan beberapa keunggulan perusahaan dan kontrak kerja sama bersama mereka dan menjelaskannya satu persatu.


"Mr Fay. Bolehkah kamu yang menjelaskannya lagi." Ucapnya menatap Keila.


Leon yang terbiasa temperamen dan ingin marah saat itu juga dihentikan Keila dengan memegang tangan lelaki itu dan memeras kepalan tangannya.


"Baiklah jadi begini, mengenai proyek ini kami melakukan peluncuran brand perusahaan bersama kalian agar kalian juga memiliki perusahaan bersama kami, disini perusahaan kami akan sangat menguntungkan perusahaan kalian. Saya mewakili CEO saya akan secara langsung membantu proyek ini." Ucap Gadis itu.


Ken berbisik kepada Leon.


"Dimana aku dapat gadis seperti dia baru sekilas membaca proposalku dan dia sudah mudah dan mengerti arahnya kemana." Menjauhi Leon.


Leon hanya tersenyum menatap gadisnya tersebut.


"Baiklah saya akan tanda tangan disini dan maukah kamu mengajak saya ke galeri seni yang ada di kota ini." Ucapnya.


"Oh tentu mr. Jo saya saya tahu pasti kau merindukan temanmu kan." Menyentuh lembut hidung anak Perempuan itu.


Mata anak kecil itu berbinar menatap Keila.

__ADS_1


Ken dan Leon tidak mengerti apalagi memahami situasi disini.


Mr. Jo terlihat senang karena anaknya Ana terlihat bahagia.


"Pak Ken tolong ambil mobil kita akan segera berangkat. Tatap gadis itu kepada Ken sambil menggeleng kepalanya. Mari Mr. Jo and Mis Ana bisa ikuti Pak Ken, saya akan mengambil beberapa barang." Ucap gadis itu.


Dengan cepat Ken menggiring mereka keluar kantor.


Mr. Jo menjabat tanga Leon.


"Saya beruntung bisa bekerja sama dengan anda karena Ms. Keila." Senyumnya.


Keila mengelus kepala anak kecil itu.


Setelah semuanya keluar, Leon menarik tangan Keila dan menatapnya.


"Siapa dia?" Tanya Leon.


Keila melepaskan pelukkan Leon.


"Ah, anak Mr. Jo sangat menyukai Keyran saat bermain Piano dan Melukis. Mereka satu sekolah dulunya. Pelukkan Leon semakin merapat. Sebaiknya aku pergi." Melepaskan tangan Leon.


"Ah begitu. Gadis itu memperbaiki bajunya dan rambutnya dan mengejar Ken dan Kliennya. Ternyata Istriku memiliki banyak kemampuan dan selalu cekatan menghadapi segala hal, aku sangat beruntung." Bersandar di pintu kantornya dan kembali masuk ke kantornya.



Pagi ini Lily menerima surat pengadilan setelah setahun ini melakukan pengunduran sidang perceraiannya dengan Arya.


Seorang gadis yang terbiasa manja dan mendapatkan segala sesuatunya dengan mudah, sekarang harus benar-benar belajar bagaimana cara menjadi seorang yang mandiri.


"Karena kalian satu-satunya keluargaku aku akan memaafkan kalian dan anakmu bersama Arya biarkan di besar di rumahku dan kau kembali kesini. Jika tidak silahkan kembali ke rumahmu dan angkat kaki dari sini tanpa anakmu." Teriak Lelaki itu sambil memegangi jantungnya.


"Ayah kumohon. Masih bersujud di kaki lelaki itu. Tolong aku tolong maafkan aku." Gerutunya tanpa membantah.


"Sekarang cepat bereskan barang-barangmu dan pindah." Ucap lelaki itu.


"Ini bukan salahnya tapi salahku. Kumohon maafkan aku." Ucap Wanita itu.


"Sepertinya kau harus intropeksi untuk 6 tahun terakhir ini." Ucapnya.


Seorang pelayan mendatangi Lelaki itu dan berbisik.


"Baiklah, persiapkan mobil untukku." Perintah lelaki itu dan pergi menaiki mobilnya.


Kedua wanita itu hanya tersungkur di dalam ruangan kerja lelaki itu.


"Setidaknya kau masih muda dan bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik lagi." Ucap ibunya menenangkannya.


"Tapi ibu." Bantahnya.


"Besok masuk ke perusahaan dan menjadi paling tidak manager di sana, lalu berkinerja yang baik menjadi Direktur. Ibu akan menjaga anakmu." Meremas tangan anaknya.


Gadis itu mengangguk.


"Aku akn jual rumah kami dan membeli apartemen ibu." Mengangguk.


"Baiklah terserah padamu. Pergilah." Wanita itu menatap anaknya.


"Ibu aku titip anakku." Memeluknya lalu pergi.

__ADS_1


Gadis itu menoleh ke arah rumahnya lagi sebelum dia pergi dan membuat tekat dalam hatinya.


"Lihat saja aku akan memiliki apa yang pantas aku miliki. Aku takkan membiarkan gadis bodoh itu merebut milikku." Batinnya dan pergi mengendarai mobilnya.


__ADS_2