Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
51. Yang Sebenarnya Terjadi


__ADS_3

Kembali ke masa lalu tentang ingatan dari anak gadisnya saat Keila terbangun di kamar hotelnya dengan busana yang tersobek-sobek, lelaki itu ingat sekali dengan kemarahan menyobek seluruh kertas foto itu.


Kemarahan Ayah Keila masih bisa dibendung sampai lelaki itu mencari tau semua dalang di balik kejadian ini bahkan lelaki yang merusak putrinya tersebut.


Emosinya semakin memuncak ketika mengetahui bahwa apa yang dikatakan oleh menantunya benar adanya.


Serangan jantung ayah Keila kambuh kembali dan jatuh pingsan.


"Maafkan aku sayang, maafkan aku yang tidak mempercayai anak kita dan membuangnya begitu saja." Mengingat wajah mendiang istrinya.


Beberapa bulan selama perawatan Ayah Keila di rumah sakitnya membuat Arya menunda perceraian mereka sampai ayah Keila sembuh total dan dia merasa aman dan damai meninggalkan keluarga Mantan kekasihnya tersebut.


Ayah Keila sekaligus Lily itu terbangun dari koma akibat serangan jantungnya. Dia menatap istri, anak dan cucunya.


Istrinya mendekatinya dan mengelap tangannya dengan handuk hangat setengah basa.


"Sayang apa yang terjadi? Bagaimana keadaanmu?" Tanyanya.


Lelaki tua itu melepaskan tangannya dari istrinya tersebut dan menatap sinis ke arah Lily. Lalu mencoba mendudukkan dirinya di atas kasur.


"Biar aku bantu." Ucap wanita itu.


Tangan lelaki itu menepisnya tak ingin wanita itu membantunya.


"Aku bisa sendiri. Kalian keluarlah ada yang ingin aku bicarakan dengan Arya." Ucap Lelaki itu.


"Tapi sayang." Bantah istrinya.


"Keluar sekarang." Sedikit meninggikan suara dan membuat dadanya sakit.


"Oke. Oke baiklah kami akan keluar, tenanglah. Ayo Lily." Ucapnya.


Arya mendekati lelaki itu dan menunduk.


"Maafkan aku ayah, maafkan aku." Ucap lelaki itu penuh penyesalan.


"Ini bukan salahmu. Sekarang kalau kau ingin terbebas dari Lily silahkan aku mengijinkanmu. Tapi kewajibanmu sebagai seorang Ayah harus terpenuhi, kau mengerti. Dan."


"Baik ayah." Mengangguk.


"Dan … dan kau tetap menjadi Direktur sekaligus kepala bedah disini. Aku takkan pernah menyuruhmu untuk mundur atau apapun itu. Jadi laksanakan saja tugasmu." Ucap Lelaki itu.


"Tapi Ayah." Kaget dengan apa yang ia dengar.


"Kau sudah lama bersama Keila dari kalian masih kanak-kanak, pada akhirnya pernikahan kalian gagal namun kau tetap menantuku. Walaupun kau tetap bercerai dengan Lily kau tetap anakku." Ucap Lelaki itu.


Arya langsung memeluk lelaki itu.

__ADS_1


"Terima kasih ayah, tenang saja aku akan menjagamu, anakku dan perusahaan ini." Memeluk lelaki itu.


Percakapan itu terdengar oleh Lily yang kembali ke ruangan VIP ayahnya karena tasnya tertinggal membuatnya geram akibat percakapan tersebut.


"Dia ingin menceraikanku? Setelah susah payah aku membujuknya untuk memiliki anak bersama dia tetap ingin menceraikan aku." Gerutu Lily meninggalkan pintu itu.


Beberapa saat setelah kepulangan Ayah Keila kerumah dan pertikaian kembali terjadi di keluarga besar itu.


Lily yang bersujud memohon ampun atas apa yang terjadi pada saat itu. Memohon agar menyelamatkan pernikahannya dengan Arya.


Kau Ingat kejadian 6 tahun yang lalu saat hari H pernikahan Keila dengan Arya namun Lily yang menjadi pengantinnya, membuat kemurkaan Ayah Keila.


"Jangan main-main dengan pernikahan." Teriaknya kepada Istrinya ibu Lily beberapa jam sebelum acara akad sekaligus resepsi.


"Kau lihat apa yang dilakukan putrimu??" Melemparkan fotonya yang sedang di hotel dengan pakaian tercabik-cabik.


"Dimana Keila, dimana?" Teriaknya.


Kemurkaan sesaat tanpa bukti jelas membawa malapetaka bagiku, dan keluarga ini.


"Saat itu aku membunuh anakku karena ulah kalian. Dan sekarang kau mencoba aku untuk menyelamatkan pernikahanmu? Karena merebut suami kakakmu?" Menyepak Lily yang memegangi kaki Ayahnya.


"Sayang kumohon ini salahku. Maafkan aku." Ikut bersujud di samping Lily.


"Ibu macam apa kau? Kepada anakmu sendiri walaupun bukan anak kandungmu?" Menunjuk dengan marah.


"Mau apa lagi kalian?!! Bagaimana bisa Keilaku menjadi sasaran anakku sendiri dan istriku." Teriaknya dan teralihkan melihat Arya menggenggam Alya seorang anak berumur 5 tahunan.


Lily menarik Alya. "Ayo Alya katakan pada kakek mu kamu gak mau papa mama pisah." Dengan pandangan memohon.


Arya perlahan melepaskan tangan lily dari Alya.


"Ayah aku mohon izin membawa Alya dan untuk Aryo aku akan meninggalkannya di sini karena dia masih dua tahun dan lebih membutuhkan asuhan ibunya. Alya salam kakek sebelum pergi."Ucap Arya.


"Baik papa. Anak kecil itu menghampiri kakeknya dan menyalamnya. Kakek aku akan sering berkunjung bersama papa tolong jaga dirimu." Ucap gadis kecil itu.


"Baiklah sayang hati-hati. Mengelus kepalanya lembut. Arya jangan lupa titip salam kepada orang tuamu ya." Tersenyum manis.


Arya dan Alya meninggalkan rumah itu.


Arya menghela nafas dan tersenyum. "Akhirnya aku bebas." Batinnya.


Masih terdengar teriakan Lily dari dalam rumah. Gadis kecil itu menatap ke arah pintu rumah tersebut.


"Ada apa sayang?" Memasangkan sabuk pengamannya.


"Apakah mama tidak apa-apa jika kita tinggalkan di rumah kakek pa?" Tatap gadis itu kepada papanya.

__ADS_1


"Tak apa. Itukan rumah kakek Alya juga. Kita pergi saja ya?" Ucap Arya melaju dengan mobilnya.


Di acara pertunangan Lana dan Icha, lelaki tua itu terus memperhatikan mereka dan sangat bersyukur menghela nafas legah.


"Syukurlah putri kecil kesayanganku baik-baik saja. Aku jadi ingin memeluk cucu lelaki ku itu, sabar ini belum saatnya." Lelaki itu pergi dari pesta perjamuan di pertunangan tersebut yang digelar cukup mewah.


 


Dalam tawa haru bersama mereka semua, Keila terus menyadari ada yang menatapnya dari kejauhan tapi dia tidak tahu itu siapa.


"Ada apa. Bisik Leon lembut. Apakah ada sesuatu yang mengganggumu disini?" Tanyanya lagi.


"Ah tidak, sepertinya aku kelelahan dan berhalusinasi saja." Ucapnya.


"Sebaiknya kau istirahat saja. Membawa Keila duduk di kursi. Mau aku ambilkan air?" Ucap Leon.


"Baiklah, kapan lagi aku akan dilayani pria tampan." Ejek Keila dengan senyumannya.


Lelaki itu pergi meninggalkannya di acara puncak pertunangan Icha dan Lana.


Keyran yang sedari tadi bermain dengan Arfandy sampai ke parkiran mobil dan melihat mobil hitam seperti mobil yang sangat disukai ibunya tersebut.


Keyran terus memperhatikan mobil itu sangat detail.


"Mobil ini seperti mobil yang sangat mama inginin, katanya sebelum mama menikah mama minta mobil seperti ini kepada kakek." Membatin masih menatap mobil hitam tersebut.


"Apa yang kau lakukan nak?" Ucap seorang lelaki yang sudah agak tua.


"Hmm. Maaf tuan mobil anda sangat unik." Ucapnya.


Arfandy yang memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil hitam itu menggeleng kepalanya.


"Mobil apa itu sayang?" Tanya Arfandy.


Arfandy dan lelaki tua itu saling.


"Ini paman, mirip dengan mobil yang akan diberikan kakek kepada mama." Menunjuk mobil hitam itu menatap Arfandy.


"Benarkah?" Tanya Arfandy menatap anak kecil itu dan menatap lelaki tua itu dengan senyuman.


Lelaki tua itu mengelus kepala Keyran.


"Cucuku sangat pintar. Membatin. Benarkah? Ternyata ibumu memiliki mata yang bagus sepertimu. Saya permisi dahulu." Memasuki mobil.


"Baiklah tuan silahkan." Ucap Arfandy.


Mobil itu melaju dan menelekson mereka.

__ADS_1


"Akhirnya aku bisa menyentuh kepala cucuku." Batin lelaki tua itu yang tak lain adalah ayah Keila.


__ADS_2