Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
23. Aku mulai mencintainya?


__ADS_3

Apa yang akan terjadi jika saat itu aku tak bertemu dengan gadis itu? Akankah parasnya akan sebahagia ini? Aku tak mengetahui apapun tapi aku juga tak menginginkan apapun kecuali dia dan anakku.


Sesampainya di Mall.


"Kenapa harus makan di Mall gak langsung ke Restoran saja." Ucap Leon.


"Ye, inikan urusan perempuan kenapa kakak sewot main ikutan aja tadi? Hmmm." Bantah Icha.


Hal itu membuat Keila tertawa. Kakak dan adik yang akur. Icha dan Leon saling menatap dan menggeleng kepala.


"Haduw jangan lagi. Eh kakak Direktur yang lama aku rasa melakukan sesuatu hal yang korup di perusahaan kita. Nanti aku akan selidiki hasilnya." Ucap Icha sambil membaca menu.


"Benarkah? Coba meminta bantuan Ken saja." Ucap Leon santai.


"Baiklah. Jawab ke Leon. Keil mau pesan ini?" Menunjuk.


"Boleh juga." Jawabnya.


Leon terus memandangi sekretaris barunya itu, tampilannya sangat polos namun terlihat modis, rambut pirang panjangnya membuatnya tanpa cantik. Apalagi saat dia menopang lehernya dengan tangannya sebagai penyanggah di meja.


"Bagaimana kabar anakmu?" Tanya Leon.


"Astaga iya, aku mau bilang itu kak. Maaf ya kakak ku malah mengantar Keyran karena aku mabuk ketinggian." Ucap Icha memegang tangan Keila.


"Tidak apa, berkat pak Leon, Keyran sampai di rumah dengan selamat." Sambil memperbaiki rambutnya.


"Wah baguslah, oh iya bagaimana dengan tempat les pianonya? Sudah menemukan guru untuknya?" Tanya Icha.


Hidangan disiapkan oleh pelayan.


Leon menaikkan alisnya dan mendapatkan kesempatan.


"Bagaimana dengan temanku, kakak kelasku dulu Cha." Memastikan Icha mengingatnya.


"Ahh benar sekali, bagaimana Keil?" Tanya Icha.


"Saya bisa lihat dahulu tempat lesnya dimana?" Tanya Keila.


"Boleh saja. Nanti aku temani, ayo makan." Ucap Icha.


Mereka menyantap makanannya dengan berbincang santai.


Telepon Icha berdering.


"Kalian, deluanlah. Aku masih ada urusan di Mall ini. Tidak apa kan?" Bertanya Pada Leon.


"Tidak masalah." Ucapnya.

__ADS_1


Keila hanya mengangguk dan mengikuti pria tinggi itu dari belakang.


Pemandangan di Mall seakan menjadi tempat mereka berkencan. Banyak pasang mata yang menatap mereka berdua yang amat serasi.


"Kau berjalanlah di sampingku." Ucap Leon tegas.


"Baiklah pak. Mempercepat langkah kakinya memgimbangi Leon. Astaga tanpa dari belakang dia mirip dengan lelaki malam itu. Apa mungkin?" Batinnya yang semakin lama membuat jantungnya berdegup kencang.


"Jam berapa anakmu pulang?" Tanya Leon basa basi.


"Ahh, jam dua pak." Ucapnya. 


"Ah sebentar lagi?" Mengecek jam.


"Iya. Unclenya yang menjemputnya." Ucap Keila.


"Ah iya begitukah. Ayo masuk mobil. Banyak pekerjaan yang menanti." Ucapnya.


"Siap Pak. Kecanggungan apa ini, baru kali ini aku bersama dengan lelaki lain selain Arfandy selama 5 tahun terakhir." Batinnya berdegup kencang.


Sama halnya dengan Keila, jantung Leon seakan mau copot berada berdua dengan gadis itu. Leon kerap sekali menahan diri untuk tidak menerkamnya.


"Astaga, gadis ini membuat pikiranku tak karuan." Gerutunya dalam hati.


Mobil mereka melaju kencang menuju ke Perusahaannya. Ken dari jauh sudah melambai menyapa mobil bosnya tersebut.


Leon berjalan hanya melewati Ken dan memberikan kunci mobilnya.


Keila yang berjalan mengikuti Leon menghampiri Ken.


"Maaf pak tapi tadi saya dan pak Leon makan siang bertiga atas undangan Direktur kita." Pungkasnya meninggalkan Ken.


"Astaga, kesalahpahaman apa ini." Menghela nafas dan memindahkan mobil Leon ke parkiran, tepat saat itu dia melihat mobil Icha masuk dan menatap cermin memperbaiki jasnya dan tampilan rambutnya.


Terlihat Icha keluar mobil dan berjalan memasuki kantor bersamaan dengan Ken. 


"Ah hallo." Ucap Icha sambil menaiki lift.


"Ah iya hallo." Balas Ken.


Gadis itu menoleh ke arah Ken yang terlihat seolah sok cool.


"Maaf pak Ken." Ucap Gadis itu.


"Iya ibu Direktur." Pungkasnya sambil memperbaiki rambutnya.


Icha sempat kaget melihat kelakuan Ken yang saban hari semakin aneh, namun dia hanya menggeleng saja melihat tingkah mantan kekasihnya itu. lelaki itu menoleh ke arahnya.

__ADS_1


“Kau tambah cantik saja berpenampilan seperti ini.” Puji Ken.


“Terima kasih. ah ya aku akan membutuhkan bantuanmu tentang manajemen distributor produk yang sedang dirilis kali ini.” Pungkasnya keluar dari lift.


“Ah baiklah, kau tau dimana mencari aku.” Mengikuti keluar dari lift.


Sesampai di kantor Icha.


“Sampai ketemu lagi. Kak.” Pungkas Icha.


“Baiklah bu Direktur.” Meninggalkan gadis itu dengan senyuman.


"Sepertinya kali ini Kakak memang sudah move on dariku. Baguslah jadi aku bisa fokus dengan Lana. Batinnya sambil melihat cincin yang melingkar di jarinya dan mengingat kejadian kala itu saat Lana melamarnya. Enak saja dia, tempatnya kurang romantis bisa-bisanya dia melamarku tanpa ada bunga. Gerutu Icha memasuki ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya. Baiklah kita mulai." Merentangkan tangan kaki dan badannya lalu memulai pekerjaan barunya.


Kelihatannya pekerjaannya di hari pertama berjalan cukup lancar, tepat jam 5 sore, Keila bergegas membereskan meja kantornya dan sudah terlihat sangat rapi. Gadis itu mengumpulkan beberapa berkas yang harus direvisi CEOnya.


Ketukan pintu dari luar, gadis itu memasuki ruangan tersebut.


"Maaf pak ini berkas yang sudah selesai saya kerjakan hari ini. Mendekati meja Leon dan meletakkan berkasnya. Saya Izin pulang pak." Ucap gadis itu masih berdiri menunggu jawaban Leon.


Leon hanya melihat berkas membacanya sekilas dan memasukkannya ke dalam mejanya.


"Baiklah, ada beberapa pekerjaan yang akan saya kirim lewat email. Kamu bisa kerjakan dirumah, sekarang kamu bisa pergi." Ucapnya.


"Terima kasih pak. Merunduk dan berbalik pergi lalu berpapasan dengan Ken di pintu. Permisi pak." Ucap Keila pada Ken.


"Ah baiklah, hati-hati. Melambai. Hei Pak CEO mau lembur?" Sapa Ken.


"Aku baru menyelesaikan satu proyek. Kita revisi di rumah saja." Ucapnya mematikan komputernya dan membawa Pad nya di dalam tas.


"Kau mau makan malam dimana kali ini?" Tanya Ken.


"Sebaiknya aku pulang kerumah untuk makan malam bersama keluargaku. Kau taukan adikku yang ada di Australia akan pulang besok." Ucapnya.


"Ah benarkan. Aku baru tahu." Menggeleng kepalanya.


"Mau minum dulu sebelum pulang?" Ucap Leon sedikit sakit kepala.


"Baiklah, aku tau kau kesal. Berita baiknya aku akan buat jadwal mu sebulan kedepan dengan rapi." Memukul bahu Leon.


"Kita lewat dari sekolah anak itu ya. Aku merindukannya." Ucap Leon.


"Wah sungguh luar biasa, apakah didalam dirimu sudah timbul sifat dari seorang ayah." Mengejeknya.


Mobil sampai di sekolah tempat Keyran bersekolah, terlihat Keila dengan Lana sedang bermain di taman itu.


"Melihat tawa Keila dan Keyran sangat membuat mood ku naik. Gumamnya. Ken. Menurutmu apa yang harus ku lakukan untuk mendapatkan hati ibu dan anak itu?" Tanya Leon dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Sepertinya aku mulai jatuh cinta dengan gadis itu. Bagaimana dengannya ya?" Batin Leon menggebuh.


__ADS_2