
Beginikah rasanya menikmati BBQ an sambil memantau anak bermain bersama paman dan bibi nya di bibir pantai?
Perasaan bahagia yang tak pernah kudapatkan setelah kepergian ibuku. Ingatan masa lalu yang sepotong demi sepotong itu menggangguku.
Ken mendekati Leon dan memberikan Vitamin yang ada di dalam tasnya.
"Kau lupa meminum ini lagi. Ucap Ken. Seharusnya kau harus bisa lebih menjaga kesehatanmu, kau lihat anak itu harus tumbuh dalam pengawasan kali ini." Menunjuk Keyran sedang bermain rumah pasir bersama Lana Dan Icha.
Leon menatap obat yang diberikan Ken dan menenggaknya.
"Kau benar. Aku gak boleh kalah dengan penyakit ini." Tersenyum agak kecut.
Suatu ketakutan melanda dada Leon, seakan satu pukulan yang sangat menyakitkan itu menamparnya. Matanya menjadi sayu, ekspresinya menjadi ketakutan.
"Apakah aku mulai takut kehilangan momen seperti ini." Batin Leon.
…
Terlihat 3 troli penuh itu dibawa ke parkiran dekat mobil Fandy lalu bersamaan memindahkan tumpukkan makanan dan beberapa jenis barang lainnya ke dalam bagasi mobil.
"Astaga, lihatlah banyak sekali. Gerutu Keil. Seharusnya kau tak belanja sebanyak ini." Ucap Keil memarahi lelaki itu sambil tertawa.
"Haha. Biar bisa stok sebulan lebih." Ucapnya menutup bagasi.
Mereka menaiki mobil.
"Mana bisa dua orang bisa menghabiskan semua stok ini selama sebulan." Pungkasnya.
"Kalau begitu, buatkan sarapan untukku setiap paginya dan aku akan makan malam gratis juha di rumahmu." Tawa Fandy.
"Haha kau bisa saja." Tawa Keil.
Sesampainya di apartemennya. Keil menyusun makanannya di dalam kulkas 4 pintu itu.
"Wah pas sekali dan tersusun rapi, jadi mau makan malam sekalian disini atau bagaimana?" Sambil menata piring-piring dan peralatan dapurnya ke lemari.
"Boleh saja." Sambil membantu Keila memasak.
"Wah kamu pandai juga memotong bawang itu." Menunjuk sambil mengoseng udang gorengnya.
"Benarkah. Begini ya." Tanya Fandy.
"Ya benar seperti itu. Ucap Keil menatap lelaki itu dari samping. Benarkah pria ini terbaik untukku dan Keyran, sebelum itu aku harus mencari tahu siapa ayah kandungnya. Walaupun aku harus kembali ke masa lalu." Batinnya.
Hal itu membuat Keil terdiam dalam lamunan, Fandi melihat wajan yang mulai panas.
"Key. Menyapanya. Kau melamun." Tawa Fandy.
"Astaga masakanku. Langsung mematikan kompor. Hampir saja gosong." Menatap udang tersebut dan mereka tertawa bersama.
Atmosfer malam itu sangat indah. Makan malam rumahan berdua ala-ala restoran di Eropa pun menjadi sangat menyenangkan.
__ADS_1
Suara bel berbunyi, Keil langsung membuka celemeknya dan menuju ke pintu.
Fandy masih mencuci piringnya habis mereka makan.
"Iya sayang sabar, Key kelelahan main ya." Ucap gadis itu membuka pintu dan kaget yang di hadapannya ada Leon sekaligus bos di tempatnya bekerja sedang menggendong anaknya.
"Maaf, Icha dan Lana sedikit mabuk perjalanan jadi Ken mengantarkan mereka pulang." Ucapnya memberikan anak lelaki itu yang tidur terlelap di pelukannya.
Terlihat Fandy mendatangi mereka dan ikut kaget melihat Leon. Begitu juga Leon agak kaget melihat Arfandy ada di apartemen gadis itu.
"Eh pak Leon." Sapa Fandy.
"Halo selamat malam pak Fandy." Ucapnya.
Gadis itu sambil memeluk anaknya berbalik dan menyuruh masuk Leon.
"Ayo masuk saja pak." Ucapnya membawa anaknya masuk ke kamar.
Dan Fandy mempersilahkan duduk.
"Baiklah ini barang-barang Keyran." Memberikannya ke Fandy.
"Ah iya, terimakasih pak. Duduk saja pak, silahkan sesantainya saja." Ucap Fandy.
Gadis itu keluar dari kamar anaknya kelihatannya dia sangat kelelahan. Dan langsung menyiapkan teh untuk tamunya.
"Wah tatanan rumah ini sangat bagus. Gaya Italianya sangat terasa. Ucap Leon. Wah ini foto masa kecil anak itu ya. Menatapnya sangat lama. Sangat mirip denganku." Batinnya.
"Kenapa pak? Ah iya. Itu foto Keyran saat masih kecil." Ucap Keil membawakan Teh untuk dua orang itu.
"Iya Pak." Meletakkan perlahan minuman di meja.
"Ah iya, mereka pulang dengan amankan?" Tanya Fandy.
"Maksudnya adikku dengan kekasihnya." Menyeduh sedikit tehnya, tercium aroma khas melati.
"Iya, bagaimana dengan mereka pak. Kenapa kalian bisa bersama?" Tanya gadis itu.
"Apa gadis cantik ini tidak mengenal aku sama sekali ya? Batinnya masih menyeduh teh nya perlahan. Iya tadi saya ada urusan bersama direktur taman hiburan." Ucap Leon menatap gadis itu.
"Benarkah. Wah sayang sekali kami tidak ikut menemani mereka dan bersama anda juga pak." Membalas perkataan Leon.
"Iya benar juga. Melirik Jam tangannya. Sepertinya saya harus pergi sudah mulai larut." Berdiri dan bergegas pamit.
Tak lama Fandy menenggak tehnya.
"Ah saya juga mau pulang pak. Mau bareng turunnya?" Tanyanya.
"Boleh." Tersenyum.
"Kami pulang dulu ya." Serentak.
__ADS_1
"Baiklah. Terimakasih pak Leon sekali lagi. Hati-hati di jalan kalian." Mengantar keluar pintu.
Leon merasa kaku berjalan dengan Fandy. Dengan gaya cool nya dia melirik lelaki itu.
"Seperti berjalan dengan saingan saja." Batinnya dan menghela nafas sambil bersamaan memasuki lift.
"Anda kenapa Tuan?" Tanya Fandy.
"Tidak apa, hanya sedikit lelah saja." Tersenyum sambil menaruh tangannya di saku celana.
"Haha, anda harus memanfaatkan waktu luangmu tuan." Menepuk pundak Leon seolah mereka sudah sangat dekat.
Ting. Lift terbuka.
"Mari Pak." Ucap Leon.
"Iya Mari." Memasuki mobil masing-masing dan melambai.
Mobil Fandy duluan keluar parkiran dan menelekson Leon tanda sapaan rama.
"Sainganku sangat-sangat lumayan." Pungkasnya dalam hati. Sambil menyetir kembali ke apartemennya.
Menelpon Ken.
"Hallo Ken, kau sudah antar adikku pulang ke rumah?" Tanya Leon.
"Sudah, saat ini aku sedang mengantarkan kekasihnya. Sepertinya aku akan lama." Ucapnya.
"Kau langsung pulang saja dan beristirahat." Ucapnya langsung mematikan telepon.
"Baiklah. Kebiasaan banget nih anak manusia selalu mematikan telepon sebelum aku selesai berbicara." Ngedumel sendiri sambil berusaha mengangkat badan anak lelaki itu ke kasur namun terlalu jauh.
Terlihat tatanan ruangan rapi dengan banyak komputer di ruangan tengahnya.
"Wah aku tak sanggup menggendongnya menaiki tangga. Wah anak ini trader sekaligus, youtuber Gaming ya. Hanya meletakkan lelaki itu di sofanya. Baiklah tugasku sudah selesai ini kunci mobilmu." Meletakkannya di meja samping sofanya.
"Icha, aku disini." Gumam ngelindur Lana menangkap tangan Ken.
Spontan Ken terkaget karena tangannya digenggam.
"Aduh, tangan aku jangan di pegang. Aku masih suci." Ucapnya spontan lalu tertawa dan melepaskan tangan tersebut lalu pergi.
Di Apartemen Keila, gadis itu memeriksa anaknya dan melihatnya terlihat tidur sangat nyenyak lalu mencium keningnya.
"Wah main seharian capek ya." Sambil mengelus kepala anak itu dan hendak pergi.
"Ayah. Ayah." Mengigau.
Keila sontak kaget dan mendekatkan telinganya ke dekat bibir anaknya.
"Ayah aku mau kesana, ayah ayo main lagi, ayah ayo kesana." Ngigaunya kembali.
__ADS_1
Gadis itu hanya berbisik. "Maafkan mama ya sayang, mama akan cari ayahmu." Bisiknya dan menyelimuti anaknya lagi lalu pergi menutup pintu.
Gadis itu sedikit menangis dan bersandar di pintu kamar anaknya.