Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
75. Kecemasan


__ADS_3

Gadis itu masih menangis dalam pelukku, akuntan mengetahui hal apa yang ia rasakan saat ini, bisa saja sedih atau rasa takut yang karena hampir mati tertabrak truk.


"Sudah-sudah tenanglah, aku disini." Ucap Ken sambil menepuk-nepuk pundak gadis itu.


Tiba-tiba saja darah mengalir dari paha gadis itu dan mendadak wajah gadis itu pucat.


"Ken, perutku sakit." Ucapnya dan melihat darah sudah ada di antara lututnya.


"Astaga kamu kenapa?" Ken yang kaget mengalungkan jas nya ke pinggang gadis itu dan mengangkatnya memasuki mobilnya menuju rumah sakit.


"Aduh ken perutku." Pungkasnya.


"Sabar, dan bertahanlah Prilly." Pungkas lelaki itu.


Gadis itu keringat dingin dan penglihatan mendadak kabur.


"Tetap sadar ya, aku akan segera membawamu ke rumah sakit." Pungkas Ken sangat khawatir.


Sambil membawa gadis itu menuju rumah sakit dan langsung membopongnya ke sebuah tempat tidur beroda dan mendorongnya ke pintu IGD, perasaan Ken tak karuan melihat gadis itu tersungkur kaku.


"Astaga kau kenapa Prilly?" Gumamnya duduk di ruang tunggu sambil mengacak-acak rambutnya.


Terdengar suara dering telepon sekali lagi dari Leon. Lelaki itu langsung mengangkatnya, "Iya hallo Leon." Jawab Ken.


"Kau dimana saat ini?" Tanyanya.


Sambil melihat sekeliling dan menarik nafas panjang. 


"Aku baik, aku aman saat ini. Hanya butuh waktu sendiri, besok pagi aku akan kembali ke kamar hotel." Gumamnya membuat sahabatnya tersebut sedikit legah.


"Benarkah? Baiklah kalau begitu." Pungkas Leon.


"Bagaimana acaranya, lancar?" Tanya Ken basa basi mengurangi kekhawatiran sahabatnya itu.


"Lancar. Kabari aku jika butuh apapun." Ucap Leon sembari mematikan teleponnya.


"Baiklah." Tangan Ken terjatuh dari telinganya ke bawah sambil menggenggam ponselnya.


Seorang pria keluar dari ruangan itu dan menghampiri Ken yang duduk di ruangan tunggu.


"Apakah anda walinya tuan?" Tanya dokter tersebut.

__ADS_1


"Benar sekali pak." Ucap Ken spontan berdiri.


"Ah syukurlah keadaannya tidak buruk, anda harus menjaga makannya dan tingkat stresnya ya. Sekalian selamat untuk anda tuan." Ucapnya.


"Maksudnya selamat untuk apa pak?" Mendadak alis mata Ken menaik dan bertanya-tanya.


"Iya selamat anda menjadi orang tua, anda bisa urus administrasinya disana ." Ucap dokter tersebut sambil menepuk pundak Ken dan pergi.


"Ayah? Ha … Ayah?" Pungkasnya.


Suasana malam itu sangat menegangkan dan mencekam untuk Ken dan gadis yang tertidur pulas di kasur tersebut. Beribu pertanyaan yang ingin diutarakan oleh Ken namun ia bungkam dan hanya menggenggam tangan gadis itu dan terus menatapnya.


Gadis itu tertidur pulas akibat biusan operasi tersebut. "Bagaimana mungkin dia hamil? Astaga Ken. Sambil memukul kepalanya. Dan bagaimana bisa dia ada disini? Itu tidak penting saat ini Ken." Gerutunya sampai tertidur.


Gadis itu terbangun melihat lelaki itu tertidur sambil menggenggam tangannya. Mendadak dia ingin mendudukkan dirinya dan membuat Ken terbangun.


Ken terbangun dan menatap Prilly, "kau mau kemana?" Tanyanya.


"Hanya merenggangkan badanku, kenapa kau masih disini?" Tanyanya.


"Kau dasar! Mendadak Ken meninggikan suara. Hampir saja anak itu mati, mulai besok kau gak boleh lagi minum alkohol dan merokok." Tegas Ken.


"Ha anak?" Pungkasnya.


"Astaga, kukira sudah berhasil digugurkan." Pungals Prilly menepuk kepalanya.


"Kau?! Maksudmu apa?" Ken memegang kedua lengan gadis itu dengan keras.


"Aduh sakit." Dengan ekspresi menahan sakit.


"Ah maaf." Ken melepaskan genggamannya.


"Ku kira kau menghilang dan tak menginginkannya jadi aku … jadi." Belum menghabiskan katanya bibir mungil Prilly di tutup dengan jari Ken.


"Ssttttss… dia sudah ada, jangan membuangnya. Aku akan menjadi ayah yang baik untuknya." Ucap Ken sambil memegang perut gadis itu.


Mendadak air mata gadis itu terjatuh dan menetes dengan derasnya.


"Hei kenapa menangis?" Tanya Ken sambil memeluknya.


"Aku … aku … aku terharu." Dalam tangisan yang mendalam.

__ADS_1


"Astaga dasar bodoh." Sambil mengelus rambut gadis itu.


"Boleh aku berkata "Aku mencintaimu?" Jika boleh izinkan aku membuka mata dan juga hatiku untuk selalu mengarah kepada dirimu?" Batin Ken masih memeluk gadis itu.


Indah memanglah indah, getaran ini terasa sangat kencang, degupan nya seakan ingin meruntuhkan diriku. Astaga aku berhasil.mencintai seseorang yang tak pernah kuanggap menjadi rumah ataupun sesuatu yang berarti dihidupku.


"Apakah sebuah kesalahan tersebut adalah sebuah takdir?" Batin Prilly tertidur di pelukan Ken.


Suasana malam kota ini sangat membahagiakan, terlihat jelas bagaimana semesta menaburkan keindahan dan kelap kelip bintang yang tersusun dengan rapi dan indahnya.


"Bagaimana kalau kita menaiki puncak menara tersebut ayah. Apakah kau bisa membawa kami ke atas sana? Kau kan kaya." Ucap anaknitu di samping jok mobil yang diduduki Leon.


Keila tertawa lebih kuat dari biasanya. "Astaga sayang, menara itu tidak ada jalan untuk menaikinya. Sebaik Nya minta permintaan lain." Ucap wanita itu menenangkan anaknya.


"Ah kukira ayahku ini serba bisa." Menyombongkan diri dengan mencubit hidungnya sendiri.


"Aku memang kaya, maka dari itu akan ku bangun menara indah untuk ibumu. Besok pagi kita akan liat-liat villa di sini, siapa tau kau tertarik untuk bersekolah disini." Pungkas Leon.


"Wah aku sangat beruntung ya, memiliki ayah super kaya." Sambil menguap dan menyandarkan diri di kursi.


Keila menoleh kebelakang. "Sepertinya anak ini sangat kelelahan dan kekenyangan." Sembari menyelimuti anak tersebut.


"Ada yang ingin kau lihat?" Tanya Leon.


"Apakah kita ke pinggiran kota saja melihat danau?" Sambil menatap Leon.


"Ah baiklah. Kita atur GPS nya terlebih dahulu." Sambil menyalakan maps dan memutar lagu klasik menemani perjalanan mereka.


 


Suara musik yang sangat khas tersebut berpadu sangat merdu terdengar di telinga. Pasangan suami istri muda itu menikmatinya. 


Ternyata kekhawatiran yang menyelimuti diri terkadang tidak bisa tersebut membuat manusia tersebut lebih terbiasa.


Telepon Leon terus berdering namun tak satupun dari mereka yang mendengar panggilan masuk tersebut sebanyak 10x.


Seorang lelaki menatap layar ponselnya dan menggerutu. "Kemana Keila dan Leon saat ini? Kenapa mereka tak mengangkat teleponku." Pungkas lelaki itu dan terjatuh dari tangga.


Tetesan darah mengalir dari balik kepala tersebut.


Kecemasan demi kecemasan itu datang dan senyuman Keila mendadak mengerut saat menatap wajah Leon.

__ADS_1


"Dadaku sakit." Ucap Keila


"Kenapa denganmu?" Tanya Leon menangkap tubuh istrinya tersebut.


__ADS_2