Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
34. Hanya Mimpi,Tes DNA?!


__ADS_3

Mata gadis itu berbinar dan terkejut menatap pria Itu melamarnya. Tangan gadis itu berhasil diulurkan ke arah Leon. Terdengar suara anak Kecil itu.


"Ma. Mama. Ma." Panggil anak itu.


Keila terbangun dari tidurnya dan menatap plafonnya  lalu menyadari dirinya berada di kamar apartemennya.


"Astaga hanya mimpi." Keluar kamarnya dan minum air putih ke dapur lalu duduk dan melihat ada ayam goreng di atas meja lalu sama dengan mimpinya ada sepucuk surat dari Keyra.


"Ma aku dan Ayah bos beda di lapangan Golf ya. Tadi aku mau bangunin mama ketiduran hehe. Oh iya tadi Ayah bos yang gendong mama ke kamar. So sweet banget. Salam Keyran." Tulis anak itu.


"Astaga ku kira semuanya mimpi ternyata benar. Mengingat ingat lagi. Astaga benar aku ketiduran di ruangan tamu." Bergegas menuju lapangan Golf.


Satu pukulan masuk dan satu pukulan lagi melesat.


"Astaga Ayah Bos. Kau kehilangan satu poin." Ucap anak itu mengikuti instruksi dari pelatihnya.


"Haha tidak apa-apa ini hanya permainan" Ucapnya.


Seperti biasa Ken selalu duduk di bangku panjang dengan segelas jus jeruknya.


"Keyran, Keyran." Mendadak Ken menjadi pemandu soraknya.


"Berisik." Ucap Leon dengan tatapan sinis.


Terlihat gadis cantik mendekati mereka dengan rambut terikat.


"Keyran sayang, jangan senang sekali membuat mama jantungan." Ucapnya dengan ngos-ngosan berlari mendekati mereka sambil memegangi lututnya.


Leon memanggil pelayan menyuruhnya mengambil sebotol air, pelayan itu membawakan dan menaruhnya di pipi gadis itu yang masih  memegang lututnya.


Gadis itu terkaget.


"Pak … Pak Leon, anda seharusnya memberitahu saya dahulu ketika ingin membawa anak saya." Ucap gadis itu mulai kesal dengan lelaki itu.


Lelaki itu dengan tongkat golfnya memukul satu pukulan dan telat masuk ke dalam lubang bola tersebut.


"Wah sangat bagus. Ucapnya lalu memberikan tongkatnya kepada seorang pelayan yang ada di sampingnya dan mendekati Keila. Coba cek hp mu ada berapa banyak panggilan di sana dan chat dariku." Bisik Leon.


Gadis itu sedikit mundur dan mengaktifkan ponselnya. Terdenagr banyak bunyi di hpnya dan banyak chat beserta panggilan masuk dari Leon ke hp nya.


Lelaki itu mendekat kembali dan berbisik. 


"Pekerjaanmu 24 jam sekali harus tuntas, tolong hp jangan sampai mati." Menepuk gadis tersebut.


Keila tidak berkutik dengan apa yang dikatakan Leon.


Terlihat anaknya tersenyum melihat ibunya di kerjain ayahnya.


Leon mentos Keyran dan Ken hanya menggeleng.


"Sudahlah duduk disampingku dan menikmati permainan mereka." Ucap Ken yang masih sibuk melihat beberapa berkas yang ia kerjakan dikala akhir pekannya.


Keila hanya duduk memandangi anaknya sangat senang mencoba hal baru dan mencoba menikmati situasi saat ini.


Terdengar telepon dari Arfandy dan gadis itu berdiri langsung mengangkatnya. Terlihat Leon sedang mencuri pandang dari gadis itu.


"Iya Fandy ada apa?" Tanya Keila.


"Lagi dimana? Mau makan siang bareng?" Tanya lelaki itu.


"Lagi bermain golf bersama Key." Ucapnya.

__ADS_1


"Ha? Golf?!" Kaget.


"Iya Golf." Tawa Keila.


"Bersama siapa?" Tanyanya lagi.


"Bersama Pak Leon dan Ken. Mereka mengajak Keyran bermain karena membantu acara tadi malam." Ucap gadis itu polos.


"Oh begitu, ya udah lanjut saja. Nanti kabari aku jika selesai ya." Ucap lelaki itu agak melemas.


"Ah iya pasti. Dah." Ucapnya.


"Dah." Mematikan telepon.


Gadis itu berbalik dan melihat Leon menghadangnya.


"Mck. Pak Leon jangan bercanda deh." Mendorong tubuh lelaki itu.


"Maafkan aku tadi malam." Ucapnya.


"Tidak usah dibahas lagi." Meninggalkan lelaki itu namun ditahan oleh nya.


"Tapi aku ingin bahas." Ucapnya.


Gadis itu mengangkat tangannya dan menaikinya.


"Baiklah pak, mungkin hal itu adalah kesalahan jadi saya memaafkan bapak. Saya kesana dulu." Tunjuk ke arah Keyran dan Ken.


"Hmm. Menarik, biasanya banyak gadis yang tak mau menolakku." Gerutu Leon mengikuti gadis itu.


"Ayo pulang." Ucap Keila menggandeng anaknya.


Ken menyelah. "Hmm. Aku dah terlanjut reparasi tempat di restoran, sekalian ikut ya. Ah sekalian titip Leon ya aku duluan dulu." Pergi meninggalkan mereka.


Saat Di mobil Leon duduk di kursi samping sopir yang membuat gadis itu menggeleng.


Keyran duduk di pangkuan Loen dan gadis itu menghidupkan mesin mobilnya.


"Kukira CEO ku ini yang akan membawa mobilku." Menghembuskan nafas.


Terlihat Loen menoleh ke arah kaca dan luas ngerjain gadis itu.


Mobil melesat sangat cepat menyalip beberapa mobil dan berhasil menerobos lampu hijau yang menguning tersebut.


Gadis itu berpikir bahwa lelaki itu akan ketakutan namun sangat santai.


"Ma jangan terlalu cepat, kamu bukan Uncle Lana dan kamu belum menikah dan aku belum punya Ayah." Ucap anak kecil itu.


Mendadak Keila memarkirkan kekiri mobilnya dan mengerem dadakan mobil tersebut.


"Key. Mama tidak pernah mengajari kamu untuk berbicara tidak sopan seperti itu." Ucap gadis itu kesal.


Lelaki itu keluar dari mobil dan membuka pintu mobil Keila.


"Keluarlah, biar aku yang menyetir. Pungkasnya. Jika aku yang menyetir dan terjadi sesuatu pada kalian semua itu tanggung jawabku. Setidaknya aku langsung mendapatkan anak dan istri sekaligus." Pungkas Leon dna bergos dengan Keyran yang hampir menangis.


Saat di mobil sudah bergantian menyetir. Keyla menyadari bahwa dirinya tahu betul anaknya tak sengaja mengatakan itu, tapi lelaki ini yang menjadi Boss di perusahaannya. 


"Bisa-bisanya lelaki ini mengatakan hal itu." Batin Keila.


Mobil sampai pada restoran Prancis yang ada di tengah kota. Mendadak Keila merasakan mimpinya itu seperti nyata.

__ADS_1


"Ayo keluar." Ucap Leon.


"Ma, ayo." Tatap anak itu.


"Iya sayang." Membuka pintu dan turun.


Terlihat Icha sudah bersama Ken di dalam ruangan tersebut dan beberapa hidangan sudah tersajikan diatas meja.


"Kakak Icha?" Peluk anak kecil itu.


"Hallo sayang." Ucap gadis cantik itu.


"Dimana uncle?" Tanya nya.


"Hmmm." Ken memberikan Isyarat.


"Baiklah-baiklah." Ucap anak itu.


Keila dan Leon duduk di meja bersama mereka.


"Kalian kenapa bisa bersama?" Tanya Icha.


"Boss dan sekretaris kan memang harus bersama. Apalagi asistenku sedang bersamamu." Gerutu Leon pada adiknya.


"Haha. Maaf, saya pinjam sementara asisten anda tuan untuk mengecek beberapa pekerjaan." Meminum airnya.


"Bagaimana pekerjaanmu, cha?" Tanya Keila.


"Bagus hanya ada beberapa hal yang harus aku perbaiki dengan bantuan asisten ini." Menunjuk Ken sambil mengejek.


Ken hanya menggeleng dan Leon tertawa kecil. Hidangan semua telah disajikan diatas meja.


"Mari makan semuanya." 


"Ma aku mau itu." Menunjuk.


Gadis itu memakaikan celemek untuk anaknya secara perlahan.


"Sedikit saja ya jangan terlalu berminyak." Ucapnya.


Icha menatap Keila dan Keyran yang ada di sampingnya. Lalu tak sengaja kancing tangan Icha tersangkut di kepala Keyran.


"Aduh sayang maafkan kakak." Langsung mencabutnya.


"Aww. Ahh. Sakit." Teriaknya.


"Kamu gapapa sayang?" Tanya Keila sedikit cemas.


"Iya maaf sayang, gapapa sayang?" Ucap Icha.


"Gapapa Mama, kakak. Kak Icha hati-hati donk." Pungkasnya melanjutkan makannya.


"Syukurlah." Ucap Keila.


"Aku permisi ke toilet sebentar." Icha langsung berdiri dan berjalan ke toilet menaruh sehelai rambut itu di dalam plastik klip. Dan memberikannya pada seorang pelayan.


"Ini langsung bawa ke Lap dan kabari aku." Memberikan sampel rambut tersebut.


"Baiklah nona, akan saya laksanakan." Dan pergi.


Di dalam kamar mandi sambil menatap cermin.

__ADS_1


"Benarkah Keyran adalah keponakan kandungku? Seperti kata mereka berdua?! Mengingat kejadian tadi malam di parkiran kantor. Kita akan tau jika sudah di tes DNa. Sebaiknya aku kembali." Pungkasnya merapikan pakaiannya dan kembali ke meja makan itu.


__ADS_2