
Gadis itu terlihat cantik dan sangat menggemaskan untuk usia 5 tahunan. Gaun yang di bawah lutut dan sepatu pansus ala princes.
"Hei gadis kecil kau menyukainya?" Tanya Arfandy sedikit menunduk menatap gadis kecil itu.
"Iya aku mau itu untuk adikku. Bolehkah kue itu untukku paman?" Memohon.
"Ah tentu saja. Mba tolong bungkus untuk adik ini." Ucap Arfandy.
"Terima kasih pak." Ucap gadis itu dan membayar dengan black card.
Arfandy agak menggeleng dan tersnyum.
"Hei adik kecil kau bersama siapa?" Gadis itu menunjuk seorang lelaki yang duduk di meja sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ayahku pak." Bisiknya.
"Ah iya hati-hati kartumu." Tersenyum.
"Baiklah dah pak." Ucap anak itu mendatangi Ayahnya.
"Maaf pak mau pesan kue yang mana?" Tanya pelayan toko itu.
"Saya mau seperti yang tadi ada lagi gak?" Tanya nya.
"Ada tapi mau menunggu 10 menit?" Ucap pelayan tersebut.
"Baiklah boleh. Saya pesan coklat panasnya ya di meja 5." Arfandy langsung duduk ke meja tersebut dan menatap anak kecil itu dengan ayahnya.
"Wah senangnya jika mengajak Keyran kemari." Batin Arfandy Sambil menghabiskan coklatnya.
"Maaf pak ini pesanan kue anda." Seorang pelayan toko menghampiri lelaki itu memberikan kue tersebut.
"Ah iya terima kasih." Ucapnya dengan senyuman dan pergi meninggalkan toko roti tersebut.
Di dalam toko roti tempat anak perempuan itu bersama ayahnya.
"Sayang sudah malam haruskah kita pulang sekarang?" Tanyanya pada gadis kecilnya yang menghabiskan kue itu.
"Boleh sebentar lagi? Aku belum menghabiskan makananku." Pungkas gadis kecil itu.
Lelaki itu menatap anaknya dan memperhatikan anak itu memakan kuenya.
"Enak?" Tanyanya.
Gadis itu hanya mengangguk.
"Mau ayah ambilkan lagi?" Sambil mengusap pipi anak itu akibat makan belepotan.
Anak itu menggeleng. "Tidak nanti ibu marah." Ekspresi ketakutan.
"Jangan takut, ada ayah. Mari kita pulang." Menggandeng tangan anak itu keluar toko roti.
Terlihat mobil Arfandy dan mobil Arya bersama anak gadisnya berada disampingnya. Gadis itu tersenyum menatap Arfandy yang mobilnya sama-sama berhenti karena lampu merah lalu lintas.
Arya menatap anaknya. "Siapa sayang?" Tanya Arya penasaran.
"Ah paman itu yang memberikan kue ini." Menunjukkan sekotak kuenya.
__ADS_1
"Ah benarkah?"pastikan jawaban anaknya tersebut.
"Iya Ayah. Ayo pulang segera lampunya sudah hijau." Menunjuk lampu lalu lintas.
"Baiklah sayang." Menggas kemudinya dan melaju.
Perjalanan malam ini bersama putri kecilnya sangat menyenangkan. Tibalah mereka di rumah yang seperti neraka menurut Arya. Lelaki itu melepaskan sabuk pengamannya dan melihat putri kecilnya sudah tertidur pulas di bangku sebelahnya.
"Gadis kecilku sudah tertidur." Perlahan membuka sabuk pengamannya dan mengangkat anak itu perlahan.
Seorang penjaga di rumahnya membantu membukakan pintu di rumahnya, terlihat seorang gadis cantik melipat tangannya didada menatap laki-laki itu tanpa menyapanya. Seolah amarah sudah memenuhi wajahnya.
Lelaki itu meletakkan anak kecil itu di tempat tidurnya dengan perlahan dan gadis itu masih saja menatapnya di belakang pintu.
Arya keluar begitu saja tanpa menyapa istrinya itu dan kembali ke kamar mereka. Gadis itu merapikan selimut putri kecil mereka.
Arya yang kelelahan merebahkan diri di kamarnya dan langsung tidur tanpa menatap gadis itu. Gadis itu naik ke kasur tepat di samping lelaki itu dan menghela nafas panjang.
"Kamu masih marah?" Tanya gadis itu sedikit meredam emosi yang memuncak kepalanya.
Lelaki itu masih tidak menjawabnya. Gadis itu memeluk lelaki itu dari belakang. "Maaf ya maaf." Ucap lily kala itu.
…
Sesampainya Arfandy ke apartemen Lana, terlihat kedua gadis itu sudah menyiapkan makan malam yang tak terlalu besar. Arfandy tersenyum memasuki rumah adik lelakinya itu yang selalu sibuk dengan komputernya.
Lana menyapanya dan membantu mengangkat 2 Krat air mineral itu. Untungnya kakak Lelakinya itu selalu membawa troli kecil dan menarik barang belanjaannya.
"Cha tarok ini di meja." Pinta Keila.
Seusai makan malam dan menunggu 5 menit lagi untuk menyalakan lilin. Anak kecil itu sudah menantikan kue ulang tahun pertamanya yang dirayakan di Indonesia.
Pukul menunjukkan nol nol dini hari.
"Ayo embus." Serentak mereka.
Anak itu menghembus lilinnya dan berdoa. "Semoga aku mendapatkan Ayah. Batinnya dan menatap Arfandy. Maafkan aku paman." Ucapnya.
Arfandy memberikan hadiah kepadanya, sebuah sepatu edisi terbatas.
"Maaf untuk apa sayang." Mendekatinya dan mencium pipinya.
"Maaf tidak menjadi anak yang baik. Lalu mengusap pipinya. Terimakasih semuanya, aku sayang kalian. Mama juga." Tangisnya.
Gadis itu memeluk anak tersebut.
"Kado kaka besok sore ya." Ucap Icha.
Sorak gembira malam itu mewarnai apartemen Lana.
"Sudah lama sekali tidak seperti ini. Terakhir kita kumpul bersama di London." Tawa Keila sambil meminum soda nya.
"Benar sekali. Ucap Icha. Kita harus sering-sering berkumpul paling tidak sebulan dua kali." Tawanya sedikit mabuk.
"Astaga gadis ini sudah kubilang jangan minum alkohol." Gerutunya.
__ADS_1
Jam sudah pukul satu dini hari.
"Sebaiknya dia tidur di rumahku saja. Ucap Keila. Apartemen kami berdekatan. Besok aku akan membuatkannya sup pereda mabuk." Sambil tertawa.
"Bagus sekali. Sebaiknya seperti itu saja. Aku akan mengantar kalian pulang. Kakak langsung pulang saja atau mau ikut mengantar mereka?" Tanya Lana.
Arfandy menatap Keila yang menunduk mengangkat Keyran.
"Aku ikut saja." Ucapnya.
"Sebaiknya Tidak Usah. Jadwal Mu besok pagi padat kau bisa kesiangan." Bantah Keila.
"Benar juga kak. Kalau aku besok pagi bisa molor ke jam 11." Ucap Lana.
"Hmm. Baiklah, aku akan menggendong Keyran ke mobil." Lelaki itu langsung mengambil anak kecil itu dari pelukkan Keila.
Keila hanya mengikuti lelaki itu dari belakang. Dan Lana menggendong Icha ke mobilnya.
"Sebaiknya pakai mobilku saja. Besok aku akan suruh supir mengantar mobilmu kak pagi-pagi sekali." Ucap Lana.
"Baiklah." Keila menaiki mobilnya. Dan duduk di bangku depan samping Lana sambil menggendong Keyran.
Lana melihat lagi Icha yang tertidur pulas di bangku belakang.
"Astaga anak gadis ini seperti mayat saja." Memperbaiki sabuk pengamannya.
Arfandy mengintip dari kaca jendela mobilnya.
"Hati-hati kalian ya." Ucap Lelaki itu.
Lana hanya menelekson mobilnya dan pergi mendahului Arfandy.
Kecepatan mobil Lana tidak secepat biasanya walaupun jalanan Jakarta sangat-sangat sepi dini hari itu.
Lelaki itu memarkirkan mobilnya dan mengangkat gadis itu ke Kamar Keila.
"Astaga bayi besar." Gerutu Lana sambil menghela nafas.
"Haha kamu ini." Ucap Keila yang selesai memindahkan Keyran ke kamarnya.
"Besok katakan padanya aku akan menjemputnya, karena kalau sudah masuk babak final aku takkan bisa berfokus padanya lagi." Masih duduk di atas kasur memandangi kekasihnya.
Keila yang bersandar di bibir pintu itu tertawa lagi.
"Kenapa tidak kau saja yang katakan." Menaikkan alisnya.
"Benar juga. Sudahlah." Bangkit dan keluar kamar melewati gadis itu.
"Mau pulang langsung? Hati-hati ya dan terima kasih." Keila melambai.
"Harusnya aku yang berterima kasih kau mau mengurusnya kak." Menggaruk kepalanya.
"Lagi pula kau ada pertandingan penting. Terima kasih juga sudah menjadi Uncle Keyran yang terbaik setelah Kakak mu." Melambai.
"Kau bisa saja. Aku pergi ya." Berjalan meninggalkan apartemen Keila.
__ADS_1
"Hmm semuanya sudah pergi. Kembali ke kamar Keyran. Malam ini ibu menemanimu bermimpi ya nak, besok kita ambil kado ulang tahunmu." Memeluk anak itu.