Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
27. Perasaan Apa ini? #2


__ADS_3

Gadis itu masih mengingat kejadian sebulan lalu saat dia hampir menyerempet mobil kakaknya sendiri. Sampai saat ini dia menyimpan rahasia itu dari ibu, papa dan suaminya.


"Aku baru saja baikan dengan mas Arya, jangan sampai hal ini mempengaruhinya." Gurunya kekanan dan kekiri.


"Ibu. Ucap anak perempuan itu yang berumur 5 tahun. Sudah bisa aku bersekolah untuk semester depan?" Tanyanya.


"Ah tentu saja sayang, ibu akan mengantarkanmu mendaftar sekolah bersama papa pekan depan." Ucapnya mengelus kepala anaknya.


"Ah … baiklah ibu. Aku pergi dulu." Ucap anak perempuan itu.


"Benar juga, aku harus fokus dengan keluargaku dan anak-anakku." Membatin.



Kelihatannya usaha kali ini berjalan lancar, perusahaan Arfandy berjalan cukup mulus bahkan dia bisa menjalankannya dengan baik dan bekerjasama dengan perusahaan Leon dan menjadi Direktur di rumah sakit milik keluarganya.


"Sebaiknya aku menelpon Lana untuk mengadakan makan malam keluarga." Pungkasnya menelpon.


Lana yang sedang bermain Game Online tak menghiraukan panggilan tersebut sampai ke 3 panggilan tersebut baru mengangkatnya.


"Iya kakak ada apa?" Ucap Arfandy dari ujung telepon.


"Aku sedang ikut liga champion, ada apa kak?" Tanyanya sambil memainkan Keybordnya.


"Ayo makan malam bersama, sudah lama kan kita tidak kumpul keluarga." Ucapnya.


"Baiklah kabari saja jam dan waktunya. Bye." Mematikan teleponnya langsung.


"Hmm … anak ini kenapa si? Batinnya. Sebaiknya aku menyiapkan hadiah untuk ulang tahun Keyran pekan depan." Pergi menaiki mobilnya ke pusat perbelanjaan.



"Akhirnya semua pekerjaan ini selesai." Batin Keila merapikan meja kerjanya dan segera mendatangi kantor CEO nya itu dengan membawa berkas.


Ketukan pintu terdengar, gadis itu masuk membawa beberapa berkas yang ada di tangannya.


"Permisi pak, saya sudah menyelesaikan berkas ini. Saya letak disini ya pak, kalau begitu saya permisi dahulu." Ucapnya kabur begitu saja.


Ken yang memasuki pintu pun kaget melihat Keila sekretaris bos nya itu pergi dengan tergesah-gesah.


"Dia kenapa Leon?" Tanya Ken menunjuk gadis itu yang pergi begitu saja.


"Entahlah, padahal aku tak melakukan apapun." Pungkasnya.


"Kelihatannya dia malu dengan apa yang kau lakukan waktu itu, mangkannya dia menghindarimu." Pungkasnya.


"Ah benarkah masa sih. Tersenyum senang. Baiklah persiapkan saja kejutan untuk dirinya." Ucap Leon.


"Hei anakmu akan berulang tahun pekan depan, apa yang akan kau berikan padanya?" Ucap Ken.


"Benarkah. Terdiam sejenak. Apa aku harus menghadiahinya sertifikat pernikahanku dengan Keila atau surat tes DNA dirinya adalah anakku." Batinnya.

__ADS_1


"Kau melamun saja, kau kenapa si?" Ken mendadak sebal.


Tak sengaja kedua orang itu di hampiri Icha yang memiliki mood yang sangat tidak baik hari itu. Gadis itu marah-marah dengan teleponnya dan memakinya.


Ken berbisik pada Leon. 


"Adikmu sedang datang bulan ya. Kenapa dia?" Tanya pada Leon.


Leon hanya menghampirinya dan memegang kepalanya.


"Ada apa adik." Ucap Leon sambil merangkulnya berjalan ke arah parkiran mobil.


"Astaga aku ditinggalkan lagi." Menggerutu di belakang mereka berdua.


"Memangnya kamu kenapa?" Ucap Leon membawa Icha ke bar tempatnya minum biasa.


Gadis itu hanya memandangi gelasnya tak karuan membendung air matanya. Ken yang berada disana memilih meja sendiri jauh dari mereka berdua.


Gadis itu menangis dan Leon memeluk lembutnya serta mengelus kepalanya.


"Kau kenapa?" Tanya Leon.


Suasana malam itu agak sepi membuat gadis itu meluangkan dan mengeluarkan isi hatinya kepada kakak laki-lakinya itu.


"Astaga kukira kau kesulitan dalam bekerja di kantor ternyata masalah laki-laki. Hmmm." Leon sedikit berfikir dan mengambil siasat untuk adik kecilnya itu.


"Aku harus bagaimana kak?" Sambil memegang cincin yang ada di jari manisnya.


Gadis itu memberikannya, Leon mencari kontak kekasih adiknya dan meneleponnya.


"Iya hallo." Jawaban Lana langsung mengangkat panggilan dari Icha.


Icha hanya terdiam dan menangis, Leon hanya memberikan teleponnya agar Icha bicara namun tak bicara juga.


"Hallo."


"Hallo."


Lana tak mendengar jawaban Icha.


"Hallo Icha dimana?" Tanyanya.


"Kau ke Bar A sekarang kalau tak mau gadismu kenapa-napa." Ucap Lelaki itu dan terdengar Icha menangis.


Lana berusaha memanggil Icha kembali dan beberapa dering telepon meneleponnya.


"Jangan diangkat sampai dia datang." Ucap Leon mengambil Jasnya dan pergi ke arah Ken.


"Kakak." Tangis Icha.


Ken kebingungan ditarik oleh Leon.

__ADS_1


"Kabari kakak jika dia datang, dan dia pasti datang jika tidak langsung telepon kakak. Mengerti." Tegas Leon pada adiknya dan menarik Ken pergi dari bar tersebut.


Lana yang kebingungan mendengar suara lelaki dari telepon Icha dan tangisnya meninggalkan permainannya dan pergi menyusul Icha ke bar tersebut.


"Astaga Icha angkat donk. Menyetir dengan kecepatan tinggi dan menelpon Icha masih tidak diangkatnya. Ayolah Icha kau membuatku khawatir saja." Gerutu Lana di mobilnya mengemudi seperti orang gila.


Lampu kelap kelip malam itu sangat cantik, gelap malam yang dingin itu tak mencegah sepasang kekasih untuk bertemu. Sesampainya di Bar tersebut lelaki itu memarkirkan mobilnya dan berlari menuju Bar tersebut.


Sontak saja seorang gadis cantik sedang meminum banyak minuman sendirian di meja Bar sambil tertidur dan berlinangan air mata.


Lelaki itu menghampiri dan memeluknya, memandangi wajahnya.


"Cha lu kenapa Cha? Tanya Lana histeris dan menghela nafas mengetahui bahwa kekasihnya baik-baik saja. Mas. Mas. Memanggil pramusaji Bar. Berapa totalnya?" Tanya Lana.


"Ah maaf mas. Udah di bayar sama Kakak lelaki mbak ini." Menunjuk.


"Astaga itu pasti suara Leon." Batin Lana.


Telepon Icha berbunyi dan terlihat panggilan masuk dari Leon, Lana mengangkatnya sambil masih memeluk Icha yang tertidur.


"Hallo." Ucap Lana sedikit panas dingin.


"Kau jangan membuat dia menangis, bawa dia pulang dengan selamat malam ini. Kalau tidak kau akan tau akibatnya." Ucap Leon berada di Lantai 2 VIP menatap adiknya bersama Kekasihnya itu.


"Siap baiklah kak, saya akan menjaganya." Ucap Lana.


Telepon dimatikan oleh Leon.


"Wah, pasangan kekasih yang luar biasa." Ucap Ken mendekati Leon.


"Hmm entah sampai dimana hubungan mereka akan berhasil." Menatap kearah jendela.


"Langit malam ini sangat bagus ya, sepertinya tengah malam nanti akan turun hujan." Ucap Ken.


"Dasar peramal cuaca." Ejek Leon masih menatap mereka berdua dari jendela.


Terlihat Lana menggendong Icha masuk ke mobilnya.


"Cha, icha sayang bangun. Memberikan wewangian minyak kayu putih. Kita pulang ya." Ucapnya.


Icha yang setengah sadar itu memeluknya dan menangis sambil memukulnya.


"Enak saja kamu dasar lelaki kurang ajar. Bisa-bisanya kau mengabaikan aku selama sebulan." Tangis Icha mulai meredah saat lelaki itu memeluknya.


"Sudah-sudah. Aku ada disini kok jangan menangis lagi ya." Memeluk erat dan gadis itu menghentikan pukulannya.


"Huhuhu. Kamu itu punyaku dasar bodoh. Dalam keadaan mabuk bertingkah aneh. Ini kamu lihat aku pakai cincinnya setiap hari." Kembali memeluk lelakinya.


Lelaki itu hanya tertawa.


"Hahaha. Dasar anak gadis kecil yang manis. Mencium keningnya dan memeluknya. Maafkan aku ya. Maafkan. Memeluk erat. Mari kita pulang." Ucapnya menggas mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2