Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
56. Perasaan Baru


__ADS_3

Terlihat Medical Center mengadakan pengalihan ahli waris kepada Lily. Sekian berita saat ini.


Terlihat Keyran sedang berada dirumah menonton televisinya sambil menggambar karya nya untuk di post di sosial medianya.


"Sepertinya aku harus mengubah beberapa gvar lagi." Sambil membidik dengan garisnya bagai teropong menatap gambarnya.


"Sayang, tolong ambilkan telepon mama ya di kamar." Ucap Keila sambil memasak di dapur.


"Baiklah ma. Teriaknya. Hmmm, gambar ini tidak terlalu buruk tapi harus diperbaiki." Keyran berdiri berlari melihat ponsel ibunya di kamar.


Terlihat beberapa chat masuk nomor tidak di kenal dengan tulisan memaki. Keyran menaikkan alisnya dan satu panggilan masuk, anak kecil itu mengangkatnya.


"Dasar perempuan ******, berani-beraninya kau mengambil Leon dariku." Teriak seorang perempuan dari ujung telepon.


"Maaf aku tidak mengenalmu." Ucap Keyran mematikan teleponnya lalu menghapus semua chat yang masuk ke hp ibunya beserta panggilan tersebut. Lalu memblokir nomornya.


"Ini ma." Memberikan teleponnya ke Ibunya.


"Siapa sayang?" Tanya wanita itu.


"Entahlah ma, aku mau lanjut gambar." Gerutu anak itu.


Keila hanya menggeleng dan menatap layar ponselnya tak ada satupun panggilan, kecuali chat dari suaminya yang membuat senyuman tersimpul di wajahnya.


"Sayang aku pulang sedikit terlambat." Ucap Leon.


Keila langsung membalasnya. "Baiklah tidak boleh lebih dari 30 menit ya, kalau lewat kamu tidur diluar." Balas Keila sambil tertawa.


Keyran menyadarinya. "Ma ada apa?" Sambil menggambar gambarnya.


"Tidak apa-apa sayang, lanjutkan saja pekerjaanmu." Ucap wanita itu.


"Baiklah ma baiklah." Ucap anak itu.


Tak berapa lama terdengar suara bel pintu berbunyi.


"Iya sebentar." Ucap Keila.


"Biar aku saja ma." Keyran langsung bergegas kepintu.


"Hmm dasar anak ini." Gerutu Keila dengan senyuman.


Keyran melihat di kamera pemantau terlihat seorang gadis yang cukup familiar. Keyran sedikit berfikir dan mengangguk.


"Hallo keamanan. Memencet keamanan bawa. Saya dari kamar 1221 tolong singkirkan orang mabuk yang ada di depan pintu saya dia cukup mengganggu dan menakuti ku." Ucap Keyran dengan tertawa kecil.


"Ah baiklah." Ucap Keamanan Apartemen tersebut.


Bel pintu terus ia bunyikan namun pengaturan bunyi di matikan oleh Keyran. Sambil Menggoyangkan kakinya selama 5 menit dan membuka pintunya.


Keyran melihat wanita gila itu berteriak.


"Maaf tante ada yang bisa saya bantu?" Ucap Keyran.


"Hei anak kecil siapa kau? Siapa? Tanya Prilly. Biarkan aku masuk." Wanita itu ingin menerobos masuk.

__ADS_1


"Opss. Keyran langsung menutup pintunya. Maaf tante sebelumnya perkenalkan nama anda telebih dahulu." Ucap anak kecil itu.


Prilly berteriak kepada Keyran dan hal itu dilihat oleh Ken yang terlebih dahulu berjalan ke apartemen Leon. Bersamaan dengan tim keamanan di belakangnya.


Tangan Prilly hendak menampar Keyran dan dihalangi oleh Ken.


"Astaga Prilly." Teriak Ken.


"Paman. Keyran memeluk Ken. Tante ini menyakitiku aku takut. Paman tolong singkirkan wanita gila ini." Ucapnya sambil berakting.


"Kau …?" Sebelum sempat berkata-kata dan setengah mabuk.


"Pak tolong singkirkan gadis ini. Ucap Ken. Sayang masuklah paman akan urus." Mengelus kepala anak itu.


"Baik paman." Ucapan nya memasuki rumah.


"Ayo kita bawa dia turun. Dua orang menyeret gadis itu. Masukkan saja ke mobilku." Ucap Ken.


"Baik tuan." Memasukkannya ke mobil Ken.


"Jika kalian melihat wanita ini memasuki apartemen ini tolong usir saja. Mengerti?" Ucap Ken.


"Baiklah tuan." Tim keamanan pergi.


Ken membawa Prilly pergi dari apartemen Leon dan melewati mobil Leon yang baru saja memasuki parkiran.


 


Leon menyadari hal itu dan menelepon Ken.


"Aku ada urusan. Nanti aku kembali lagi." Ucapnya.


"Oh begitu. Baiklah, kita bahas besok saja di kantor. Dah." Ucap Leon.


"Iya, dah. Mematikan teleponnya dan menatap gadis di jok kirinya. Gadis bodoh." Gerutu Ken.


Keyran yang memasuki rumah tanpa seseorang yang berada di belakangnya membuat pertanyaan untuk Keila.


"Sayang tadi siapa?" Tanyanya lembut memberikan cemilan di dekat meja belajar anaknya.


"Hanya orang iseng ma. Masih melukis gambarnya. Benar-benar gadis gila." Gerutu Keyran.


Bel berbunyi dan Leon memasuki rumah.


"Malam semuanya, kalian sehat." Sambil membawa sebuah bingkisan.


"Apa itu?" Tanya Keila.


"Hadiah dari Klien. Meletakkannya dekat Keyran. Ini." Leon duduk di samping anak kecil itu dan melihat beberapa gambarnya.


"Apa ini ayah?" Tanyanya dan menghentikan menggambarnya.


"Ayah … ayah. Menatap Leon dan memeluknya hingga Leon terjatuh di lantai. Ma, ma. Berteriak senang. Ye … ye." Melambaikan 3 kertas.


"Apa itu sayang?" Tanya Keila melihat kertas tersebut dengan mata kaget.

__ADS_1


"Tiket ke paris, pagelaran musik dunia bersama Emily tiket konser itu." Teriak Keyran berlari kekanan dan kekiri kegirangan.


"Wah, benarkah ini sayang?" Bertanya kepada Leon yang terlentang di lantai.


"Tentu saja, aku akan melakukan perjalanan bisnis dan kalian bisa ikut denganku. Bagaimana?" Tanya Leon dan langsung menarik dua orang itu di pelukannya.


"Wah ini adalah hal yang paling bagus. Mama sudah lama ingin ke paris." Ucap Keyran.


"Benarkah itu sayang?" Menoleh ke Keila.


Gadis itu hanya mengangguk.


"Bagus kalau begitu, wah semuanya luar biasa. Terima kasih ayah."memeluknya dan mencium pipinya lalu memeluknya lagi dengan erat.


Malam itu seperti malam bahagia lainnya kecuali untuk Ken.


Lelaki itu menggendong wanita mabuk itu kembali ke apartemennya.


"Gila, wanita gila ini. Gerutunya memasukkannya ke kamarnya dan menjatuhkanmu begitu saja. Astaga kenapa aku harus berurusan dengan orang-orang gila ini." Pungkas Ken.


"Jangan pergi." Wanita itu menariknya dan membuat lelaki itu tidak bisa kemana-mana.


"Astaga lepaskan aku. Pacarku akan marah." Gerutu Ken.


Ken menatap gadis itu dan mendekatinya lalu menyentil dahinya.


"Andai saja kau memiliki sedikit kesadaran dan sifat baik pasti banyak orang akan menyukaimu." Bisik Ken meninggalkan gadis tersebut.


Lelaki itu keluar dari apartemen gadis itu sambil menghela nafas dan terlihat Lana ada di hadapannya, lalu menggeleng kepalanya.


"Bagaimana kamu bisa kesini? Pacarmu memiliki apartemen disini?" Ucap Lana.


"Astaga, tidak. Aku hanya mengantarkan temanku." Ucap Ken dengan stel cool.


"Oh begitu baiklah." Keluar dari Lift.


"Mau kemana kau di jam 12 malam ini?" Tanya Ken mengejar Lana ke parkiran mobil.


"Aku mau pulang kerumah orang tuaku. Bye." Menggas mobilnya dengan kencangnya.


"Astaga, dia kenapa?" Ken menggeleng kepalanya dan pergi pulang kembali ke apartemennya.


Kadang kala kita akan lupa sam melupakan hal yang sama sekali tidak penting dan takkan pernah menjadikannya penting. Bagaimana bisa perasaan itu tumbuh begitu saja dari balik dada manusia? Bukankah sesuatu hal wajar jika kita tetap bisa mengendalikan rasa, namun otak dan hati terkadang tidak bisa berkompromi dengan baik.


Ken terbangun dari mimpinya tadi malam, ingatan tentang gadis itu yang menariknya dan hampir menciumnya.


Ia kegirangan bak cacing kepanasan.


"Astaga ada apa denganku? Dia itu gadis gila Ken dan temperamen jangan coba-coba ya." Ucapnya.


Semua hal sirna ketika sebuah pesan waktu memasuki teleponnya.


"Yah. Kau yang mengantarku pulang tadi malam? Jika benar temui aku nanti siang di Restoran A, aku tunggu." Tulis pesan Prilly.


Ken kembali seperti cacing kepanasan dan melempar hpnya. "Dasar wanita gila." Teriaknya.

__ADS_1


Kadang kala cinta bisa datang dengan sendirinya atau kita sendiri yang menyingkirkannya. 


__ADS_2