Anak Genius : Ayah Anakku CEO

Anak Genius : Ayah Anakku CEO
58. Semua bermula


__ADS_3

Gadis itu datang menggebrak meja di bagian divisi keuangan dan melemparkan banyak berkas dan proposal yang bertebaran dimana-mana.


"Bagaimana sih ini? Kenapa laporan keuangannya tidak bagus. Selama 1 tahun terakhir aku memperbaikinya mengapa masih ada banyak kendala. Sebaiknya segera bereskan dalam waktu kurang dari seminggu." Gertak cha di divisi Keuangan.


"Baik bu." Teriak para staf dan karyawan tersebut serentak menjawab.


"Astaga buat sakit kepala saja." Ucap Icha.


"Ini lemon tea anda nona." Ucap Asisten gadis itu.


Gadis itu mengambilnya dan menaruhnya di atas meja begitu pula dengan kedua tangannya.


"Kau, kau dan kau. Gadis itu menunjuk satu persatu orang. Kerjakan sebaik-baiknya, aku akan memantau kinerja kalian sampai jam 8 malam hari ini dan … " gadis itu menatap salah satu orang yang membantah nya.


"Tapi bu." Langsung menunduk.


"Jika kau tak disini kau bisa keluar. Dan kalian bisa bebas bekerja sambil makan disini asalkan semua data beres dalam.minggu ini, aku akan tetap disini untuk memantau kalian." Ucap Gadis itu duduk di salah satu meja memantau para karyawan dan staf nya.


"Nona." Berbisik.


"Baiklah. Mengangguk kepada asistennya dan mengetuk pulpen di meja nya. Kau." Tunjuk Icha pada seorang gadis muda yang ada di hadapannya.


"Saya bu." Menunjuk dirinya dan melihat sekeliling.


"Iya kamu, hitung berapa orang yang ada disini pastikan semuanya tetap disini sampai jam 8 malam nanti dan beritahu berapa jumlahnya, saya akan membelikan makan siang dan malam kalian." Ucap gadis itu memberikan black card ke asistennya sambil menatap layar monitor besar.


"Baiklah bu." Mengangguk.


Semua karyawan dan staff di ruangan itu berbisik. "Luar biasa, kita lembur sekalian dapat bonus makanan. Ayo semangat bekerja." Ucap salah satu rekan.


Leon yang tak sengaja melewati divisi keuangan yang dipimpin adiknya itu tersenyum melihat kerja kerasnya.


"Diluar dugaan, gadis kecil yang ku manjakan itu lebih memiliki jiwa kepemimpinan di bidang ini. Haha, bagaimana dengan jiwa seninya ya. Hmm." Berjalan melewati divisi adik perempuannya itu.


Dilly yang tak sengaja melihat abang lelakinya itu tersenyum manis menatap divisi keuangan tempat adik perempuannya itu pun ikut mengintip setelah Leon pergi.


"Hmm ternyata dia tak mau menyerahkan posisinya kepadaku. Kita lihat saja nanti siapa yang akan berada di posisi itu." Gerutu Dilly.


"Ayo tuan kita harus segera ke pabrik." Ucap Sekretarisnya. 


"Ah iya baiklah." Menatap Icha yang berdiri kesana kemari memegang berkas dan spidol di tangannya dan sebuah papan tulis yang ia corat coret mengarahkan karyawannya.


"Manusia itu sedang apa dia disini." Icha mendadak terdiam dan tak melanjutkan menjelaskan arahannya sedang membatin.


"Ah maaf bu. Bisa dilanjutkan." Ucap salah satu staff.


"Ah iya baiklah sampai dimana tadi?" Tanyanya sambil memegang kepalanya yang ada spidol.

__ADS_1


Waktu berlalu semakin lama semakin memberikan tantangan kepada banyak orang, bukannya kita akan menjadi seseorang yang kuat bila bisa melewatinya dengan baik. 


Icha masih menatap lelaki itu pergi dan menghilang di depan lorong kantornya.


Ada banyak hal yang tak bisa dibekukan, hanya bisa dirasakan dan dinikmati lewat mata dan hati. Kurasa kau bisa berjalan maju dengan sendirian namun kau juga bisa berjalan maju dengan seseorang yang menginginkanmu dan kamu inginkan.


Pandangan mata Icha semakin mengecil, tepat sasaran dan menyadari suatu hal. Sambil memainkan jarinya dan mengetuk meja dengan kukunya.


"Astaga kenapa tidak terpikirkan." Gadis itu berdiri melipat tangannya sambil tersenyum.


Seorang staff pegawai memberikannya dokumen yang terkait. "Nona ini dia, ada bahan yang menyangkut diproduksi dan ternyata oleh manajer keuangan sebelumnya telah ada penggelapan." Ucapnya.


"Sudah aku duga. Sambil memutar kursinya dan menatap layar komputer. Cari tau sumber penggelapan keuangan perusahaan, dana mengalir kemana saja dan hubungi perusahaan partner artikel swasta kita." Mata menatap kesana dan kemari.


"Baik bu." Ucap staff tersebut.


"Kemarin kau sempat lolos, sekarang tidak lagi." Ucap Icha.


"Gawat bu, sistemnya eror tidak bisa ditembus harus hacker yang melakukannya." Ucap salah satu karyawannya.


Gadis itu masih mengetuk-ketuk mejanya.


"Hubungi hacker kita, kita pasti memiliki hacker  yang dipekerjakan di perusahaan ini." Ucapnya.


"Maaf bu. Saya sudah coba namun masalah ini sangat komplek." Ucap Lelaki itu.


Tangan Icha menahan lelaki itu bicara.


"Baiklah semuanya berhenti. Ucap wanita itu sambil menyilang kedua kakinya. Sebaiknya kalian memakan makan siang kalian dahulu, ini sudah jam 4 sore." Ucap Gadis itu melihat jam tangannya.


Terlihat asisten tersebut dan beberapa pelayan membawa makanan ke ruangan divisi keuangan tersebut.


"Baiklah kita Rehat selama 30 menit." Ucap wanita itu.


Semua perjuangan para staf dan pegawai terbayar melihat makanan dan kopi bahkan berbagai cemilan lainnya, seolah mengenyangkan mereka dan menambah banyak tenaga yang terkuras tersebut.


Icha menyadari seseorang yang bisa memecahkan kode tersebut dan tersenyum sangat gembira.


"Astaga kenapa aku tidak kepikiran sama sekali tentang hal ini. Sebaiknya aku akan cepat memastikannya. Menelepon seseorang. Hallo, bisakah kau membantuku?" Tanya gadis itu.


Kembali ke sebuah restoran kecil di dekat sekolahan Keyran dan Alya. Lelaki itu menatap Keila dengan sangat hangat, seakan sudah sangat lama tak menatap gadis itu.


Gadis itu membolak balik menunya.


"Sayang, kita makan ini saja ya Key sayang." Ucap gadis itu.


Pandangan Arya mendadak merindukkan sosok lama yang ada di hadapannya. Ternyata seseorang itu masih ada hanya saja perasaan telah lama berubah.

__ADS_1


"Ma aku mau es krim saja sama spagetti boleh?" Tanya anak kecil itu.


"Hmm tentu saja sayang. Menatap Keila lalu menatap gadis kecil yang ada di hadapannya tersebut. Kamu mau makan apa gadis kecil?" Tanya Keila.


"Ayah, boleh aku makan es krim?" Bertanya sedikit takut.


Arya menyadari pola asuh Lily terhadap Alya membuatnya menjadi anak penakut. Padahal anak ini sangat patuh dan cerdas.


"Tentu saja, Alya mau makan apapun Ayah belikan asalkan tidak berlebihan ya." Ucap Lelaki itu.


Keila tersenyum menatap mantan kekasihnya itu sudah menjadi seorang ayah yang cukup baik untuk anaknya.


"Pesanan datang." Ucap Pelayan.


"Mari dimakan." Ucap Arya.


"Anakmu sudah berapa?" Tanya Keila.


"Dua." Sambil memakan makanannya.


Keadaan terlihat canggung sampai Keyran dan Alya bermain di taman bermain sekolahnya.


"Sejak kapan kau kembali?" Tanya Arya perlahan.


Gadis itu menatap lelaki itu lalu menatap kedua anak itu yang sedang bermain.


"Tahun lalu, baru satu tahun setengah aku disini. Ucap Gadis itu. Alya bukan anakmu bersama lily kan?" Tanya Keila menatap lelaki itu.


"Bukan. Dia anak kak Liana, kedua orang tuanya kecelakaan dan meninggal." Arya menghela nafas panjang.


"Astaga, benarkah?" Keila sontak kaget dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Iya, dia cuma punya aku. Lagi pula dia sudah kami asuh seperti anak sendiri." Ucapnya.


"Aku turut berduka cita atas hal ini. Menatap Alya yang sedang bermain dengan Keyran. Gadis yang malang." Batinnya.


"Bagaimana denganmu? Kau sudah menikah?" Tanya Arya terbatah-batah dan menghela nafas.


"Aku sudah menikah sama sepertimu." Tersenyum menatap lelaki itu


"Aku …  aku sudah bercerai dengan Lily beberapa bulan lalu." Tersenyum kecut.


Keila yang tadinya bersandar di tiang ayunan mendadak berdiri mendengar perkataan lelaki itu.


"Apa! Bagaimana bisa?" Kedua kalinya kaget di buat Arya.


Lelaki itu tertawa dengan kelakuan gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2