
Banyak kabar yang menyatakan aku dan mereka perang dingin dan itu berlaku hingga aku dewasa dan menduduki jabatan yang aku miliki saat ini dan semuanya mulai berubah ketika aku memiliki wanita cantik ini dan seorang anak yang pintar dan tampan sepertiku.
Leon memandangi Ibu tirinya dengan istrinya yang bercengkrama dengan anaknya juga sambil bersandar di dinding kaca saat ini.
Pelayan menghampirinya.
"Tuan mau pesan apa?" Tanya pelayan itu memberikan menu kepada Leon.
Leon menarik kursi tepat di ujung sudut restoran, tempat yang strategis memandangi mereka dari mejanya.
"Ah aku pesan kopi saja." Ucapnya memberikan menu tersebut.
"Baik tuan mohon di tunggu." Ucap pelayan itu pergi membawa buku menunya.
Leon menelepon Keila dan menatap gadis itu mengambil ponselnya dan mengangkatnya.
"Permisi bu. Menyapa mertuanya. Iya sayang, aku berada di restoran B." Ucap Keila.
"Iya sayang aku tau coba lihat ke belakang sebelah kanan." Ucap Leon.
Gadis itu menatapnya duduk di belakang dan di suguhkan kopi oleh pelayan.
"Ah sayang." Ucapnya.
"Sttsss. Lanjutkan saja pembicaraan kalian aku akan menunggu kalian disini. Have fun ya sayang." Ucap Leon.
"Baiklah." Mematikan teleponnya.
Wanita itu menatapnya. "Ada apa?"
"Tak apa bu. Ibu pulang dengan siapa biar kami antar?" Tanya Keila.
"Akan ada supir yang menjemputku. Berkunjunglah ke rumah dan bawa Keyran. Kalian sudah lama tak ke rumah." Ucap wanita itu.
'Baiklah ibu, kami akan segera mengunjungimu. Yakan sayang?" Tanya Pada Keyran.
"Benar sekali, nenekku memang terhebat dalam melukis. Ibu tahu tidak nenek sangat cantik di usianya yang seperti ini. Ibu harus tanyakan resep perawatan menjaga kecantikannya." Ucap Keyran merayu wanita tua yang masih sangat cantik itu.
"Ah Key, kamu bisa saja." Ucapnya.
"Yang dikatakannya benar sekali bu." Ucap Keila membenarkan kata-kata Keyran.
"Kena kau. Batin Keyran. Akhirnya hubungan nenek dan ibuku menjadi baik." Keyran menatap Leon dari belakang.
Lelaki itu melambai lalu mengedipkan matanya.
"Ah dasar, ayah juga mengetahui maksudku." Batin nya kembali.
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu." Ucap wanita itu mengambil tasnya.
__ADS_1
"Baiklah ibu terima kasih." Ucap Keila.
"Key jaga ibumu baik-baik ya." Mengelus kepala anak itu.
"Baiklah nek." Tersenyum manis.
Wanita itu keluar dari restoran dari pintu utama dengan elegannya. Mungkin banyak orang yang tak menyangkah bahwa umurnya sudah menjejaki hampir 55 tahun.
Kulit yang masih super ketat dan sedikit kerutan nyaris tak terlihat.
"Wah wanita itu selalu bergaya elegan dan membuat semua mata memandangnya sangat terpukau." Bisik Leon mendekati Keila dari belakang.
"Ayah … kenapa tidak bergabung dengan kami?" Tanya anak kecil itu.
"Apa yang kalian bicarakan sayang?" Menyentuh hidung anaknya.
"Hampir saja kekacauan terjadi di galeri Ayah. Para wanita sosialita itu menyinggung nenek dan hampir membuatnya marah. Kau taukan nenek sama sepertimu memiliki temperamen yang sedikit tidak stabil " Ejek anak itu.
"Sayang apa katamu?" Leon menggerutu.
Keial tertawa menyentuh pipi suaminya.
"Sayang lalu apa yang terjadi?" Tanya Keila kepada anaknya.
"Aku membawa pengawal menggiring mereka ke dalam ruangan pianoku. Untung saja ayah mendengarkanku dan mendesain ulang ruangan tersebut. Kau tau fotoku sangat membuat mereka terpukau." Anak itu memegang dagunya dan merasakan kesombongannya.
"Lalu apa yang kau lakukan sayang?" Tanya Keila masih penasaran.
"Mama ingatkan saat aku meminta pelatihku untuk mengajariku permainan nada rumit. Aku hanya memainkan nada itu seperti berada di orkestra dan sekalian mempromosikan diri dengan brosurku yang ada di majalah Vogue inggris. Aku keren kan ma?" Anak itu tersenyum dengan kemenangannya.
Selain memenangkan suara hati mis sosialita teman neneknya termasuk memenangkan hati neneknya dan membuat hubungan ibunya dengan neneknya membaik.
"Astaga anak mama sangat pintar. Anak siapa ini?" Tanya Keila.
"Anak ayah dan mama donk." Memeluk kedua orang tuanya.
"Bagaimana aku tidak bersyukur kepada tuhan karena diberikan istri dan anak yang pengertian. Jika diberi pilihan lain aku takkan mau menggantikan mereka dengan siapapun." Batin Leon memeluk mereka.
Perjalanan pulang wanita tua itu membuat dirinya sangat senang.
"Nyonya apakah ada yang membuat harimu sangat baik?" Tanya supir pribadinya yang sangat mengenal nyonya besarnya itu.
"Haha. Apakah terlihat jelas diraut wajahku?" Tanya wanita itu kembali lalu memandangi jalanan Jakarta yang sangat padat itu.
"Iya sangat jelas nyonya. Syukurlah jika harimu menyenangkan." Ucap Supir itu.
"Iya benar sekali, menyenangkan ya. Ucapnya lalu menghela nafas panjang. Benar sekali, kapan ya terakhir kali aku sesenang ini." Batin wanita itu.
Teringat kembali pada saat dia berusaha untuk membesarkan anak sambungnya yang bernama Leon. Segala upaya telah ia lakukan namun anak itu kerap menolak keberadaannya dan tak menyukainya, mendekatinya apalagi masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Beribu cara juga dan menyamakan kasih sayangnya kepada anak kandungnya teknmembuat Leon menghargainya ataupun patuh terhadapnya.
Kejadian kala itu pada saat dimeja makan saat sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
Wanita itu menyiapkan hidangan untuk keluarga kecilnya itu satu persatu. Tibalah Leon, Diy bersama dengan Icha.
Wanita itu menaruh makanan di piring Leon dan dia berteriak. "Pelayan ganti makananku." Ucapnya.
Hal Itu Membuat ayah Leon marah.
"Leon tak seharusnya kau begitu kepada ibumu." Ucap Lelaki itu.
Leon menenggak habis susunya yang ada di meja makan dan berdiri memakai tas ranselnya lalu berhenti di antara Ayah dan ibu tirinya.
"Ayah lupa ya ibuku sudah lama mati." Ucapnya pergi begitu saja.
Membuat wanita itu melemparkan piringnya. Hal itu membuat Dily sangat membenci kakak tertuanya karena perlakuannya yang tidak baik terhadap Ibunya.
"Astaga tanganmu. Ucap suaminya. Payan segera bereskan." Ucap lelaki itu.
"Baik tuan." Pelayan membereskan kekacauan yang ada.
"Maafkan dia ya. Dia masih remaja yang labil. Ucap laki itu. Yang lain silahkan makan dan habiskan makanan kalian."
Pada saat itu amarah Dily memuncak sambil memegang sendok garpunya yang di gertak di meja makan.
Icha yang berbeda beberapa tahun dengan kakak lelakinya itu menyenggol sikunya dan berbisik.
"Jangan membuat suasana menjadi kacau." Ucap gadis kecil itu.
"Diam saja kau." Gerutu kakak lelakinya.
Suasana sarapan pagi itu begitu riuh. Leon yang meninggalkan rumah pagi itu sangat senang menguji emosional ibu tirinya dan menatap rumah besarnya.
"Masih belum apa-apa, lihat saja banyak hal yang akan membuatmu menyikir dengan sendirinya." Ucapan memasuki mobilnya.
Tangan seorang gadis kecil memegang tas sandangnya.
"Kau begitu gila ya untuk ukuran anak yang mencoba membuat ibuku menjadi gila." Ucap Icha kecil kala itu.
"Haha. Anak kecil sepertimu tau apa sih." Melepaskan tasnya dari tangan anak
Icha ikut memasuki mobil Leon dan duduk di sampingnya.
"Kau!!" Gertaknya.
"Setidaknya biarkan aku menumpang mobilmu. Yakan pak supir." Sapa Icha kepada supir pribadi Leon.
Lelaki itu hanya menggeleng kepalanya, dan saat itulah awal kedekatannya dengan Icha adik tirinya.
__ADS_1